
"Jika mama pergi, jangan tangisi mama ya, Di. Impian mama sudah tercapai. Kamu menikah dan mempunyai seorang putri yang cantik. Tolong, jaga cucu dan memantu mama."
Wanita paruh baya itu tersenyum damai di sisi Ardi yang sedang duduk di samping brankar Bu Dewi terbaring. Ardi ingin berucap, namun mulutnya terkunci hingga ia tak mampu bersuara. Tangan, kaki bahkan tubuh Ardi tak bisa di gerakan. Ia sangat ingin mencegah sang mama pergi menjauh. Ia tak ingin di tinggalkan begitu saja oleh orang tua yang tinggal satu-satunya itu.
Lidah Ardi sangat kelu, sekedar bergerak aja tak bisa. Ia sangat marah atas ketidakberdayaan nya kali ini. Namun di ujung jalan sana yang tampak terang oleh seberkas cahaya, Ardi melihat sang papa. Pria yang sudah 10tahun yang lalu meninggalkan dirinya dan sang mama dari dunia.
Bu Dewi menoleh sesaat dan tersenyum, lalu ia melanjutkan lagi langkahnya dan berkumpul dengan sang papa. Kedua orang tuanya, kemudian melangkah bersama.
"Mama! Mama!"
Ardi akhirnya dapat bersuara, keringat sebiji jagung menetes dari wajahnya. Mata Ardi tampak merah dan mengedar ke seluruh ruangan. Ia baru tersadar, saat ini sedang menunggu sang mama menjalani operasi. Ia melihat di ujung lorong, mbok Tini berjalan mendekat.
"Tuan Ardi, sudah magrib, solat dulu gih. Minta sama Alloh, untuk kesembuhan nyonyah."
Ardi menatap wanita tua yang sudah ia anggap keluarga itu. Lalu pandangan mata Ardi berpindah ke pintu ruang oprasi. Ia memandang lagi mbok Tini yang berdiri disisi yang lainnya.
"Iya, mbok. Makasih. Saya ke musholla dulu. Mbok Tini di sini saja, ya?" Pinta Ardi dengan wajah yang cukup lelah. Setelah ia bermimpi tentang hal yang menakutkan itu.
"Yang kuat dan yang tenang ya, tuan. Minta yang terbaik dan iklas." Mbok Tini menepuk lengan Ardi sebelum anak dari majikannya itu melangkah pergi menuju mushola.
Di dalam musholla rumah sakit, Ardi melaksanakan kewajiban nya dengan khusyuk dan doa yang sangat panjang teruntuk Bu Dewi. Memohon agar ia masih di beri kesempatan untuk lebih membaktikan diri pada sang mama.
Seusai melaksanakan solat nya, Ardi melangkah kembali ke ruang sang mama menjalani operasi. Tak lupa Ia memberi info perkembangan sang mama pada istrinya. Agar Diah tak terlalu cemas dan khawatir, meski tak dipungkiri, dirinya sendiri merasa sangat gelisah.
Ardi melangkah kaki dengan hati yang lebih tenang seusai melaksanakan magrib nya. Langkah Ardi yang teratur, tiba-tiba terhenti melihat tubuh mbok Tini berguncang. Pak Joko pun terlihat menyeka sudut matanya. Merasa ada yang janggal dan firasatnya terlalu kuat, Ardi berlari mendekat.
"A-ada apa, mbok? Kenapa mbok Tini menangis?" Tanya Ardi sedikit terbata dan semakin gelisah. Mbok Tini menatap tuan mudanya dengan mata yang terus memproduksi kristal bening.
"Nyonya, nyonya, tuan..." Mbok Tini tersedu, "nyonya sudah tiada." Sambungnya setelah cukup menenangkan diri meski suaranya bergetar ditengah Isak tangis.
Wajah Ardi pias seketika. Merasa dunia nya telah runtuh seketika mendengar sang mama telah tiada. Pria itu mundur dua langkah karena tubuhnya hampir limbung.
__ADS_1
"Nggak mungkin," tolak Ardi menggeleng,"dimana dokter yang bertanggung jawab?"
"Dokter baru saja keluar tuan, mereka masih harus menangani Bu Dewi lebih lanjut." Terang pak Joko."Tadi pas tuan sholat ke mushola, tak lama dokter keluar dan menyatakan jika nyonya tiada."
"Aaaarrrrrgggggg.... Mama!"
"Yang sabar tuan," pak Joko mencoba membesarkan hati tuannya,"mungkin nyonya sengaja menunggu anda pergi untuk berpulang pada sang Khalik."
Ardi menangis, bahu pria itu terus berguncang pelan. Pak Joko menepuk punggung tuan mudanya untuk memberi kekuatan.
"Benar, tuan." Mbok Tini mencoba menguatkan, "nyonyah sangat menyayangi tuan, sampai ia tak tega jika tuan mendengar sendiri saat tuan ada di sini, sehingga, nyonya menunggu tuan sholat dulu, baru nyonya menghembuskan nafas terakhir nya." Ucap mbok Tini sesengukan memeluk Ardi.
Ardi hanya bisa menangis, ia mengerti apa yang mbok Tini dan pak Joko utarakan. Pantas saja ia tadi bermimpi seperti itu, mungkin itu adalah momen saat sang mama pamit padanya. Ardi menangis sampai tersengal. Ia sangat merasa kehilangan, sosok mama yang sangat ia cintai dan hormati.
Terdengar suara dering gawai Ardi ditengah pilu yang mendera. Dengan gerak perlahan, Ardi mengambil gawainya dari saku jaket sport yang ia kenakan.
"Diah," gumamnya menyeka air mata. Tadi Ardi memang hanya sempat mengirim pesan dan tak mendapat balasan dari sang istri. Dan kini, istri nya menelpon. Mungkinkah diah juga memiliki firasat yang sama?
"Assalamualaikum," ucap Ardi setelah mengatur nafasnya yang sempat tersengal oleh tangis.
("Wa'alaikum salam, mas, gimana keadaan mama?") Tanya Diah dari seberang sana, suara tangis Dilla pun terdengar cukup dekat. Sepertinya gadis itu berada dalam gendongan sang bunda.
"Dila rewel?" Alih-alih menjawab, Ardi justru mempertanyakan Dila.
("Iya mas, sejak sebelum magrib tadi. Tiba-tiba Dila rewel dan nangis terus. Di kasih susu nggak mau, digendong nggak mau, di bobokin di kasur tambah nggak mau. Diah bingung, jadi Dila kugendong saja. Mas, gimana keadaan mama?")
Mendengar penuturan Diah, Ardi mengerti, sepertinya, Dila tau jika neneknya telah pergi. Mungkin juga gadis kecil itu bertemu dengan sang nenek, oleh karena itu ia menjadi rewel. Apalagi, waktunya yang sangat tepat. Tidak ada yang tau.
("Mas?")
"Diah, mama..." Tenggorokan Ardi tertekat, ia bahkan masih dalam kesedihan yang mendalam. Tapi ia juga harus memberitahukan pada Diah juga. Ardi tak dapat membayangkan bagaimana reaksi Diah jika tau, apalagi Ardi sangat tau jika Diah menyanyangi sang mama dengan tulus.
__ADS_1
"Mama, udah nggak ada, Diah." Ucap Ardi lirih.
Tak ada respon apapun dari seberang sana, dan itu cukup membuat Ardi khawatir dan cemas.
"Diah?"
"Diah!"
"Diah, kamu nggak apa-apa? Kamu masih di sana kan?"
"Diah?"
("Innalilahi wa innailaihi roojiun.") Terdengar suara Diah sangat lirih di antara suara tangisan Dila.
("Mas, apa aku kesana saja?") Suara Diah terdengar parau dan begetar,
"Nggak usah sayang. Kasihan Dila, dia juga lagi rewel. Kamu kasih tau pak Sugeng saja biar dia yang urus sampai jenazah mama datang." Titah Ardi, meski ia sedang tidak baik-baik saja sang sangat bersedih. Pikirannya tetap terbuka dan bisa bekerja untuk menginstruksikan pada pekerja dan sang istri.
("Mas, Diah boleh mensucikan mama?")
Ini adalah hal paling emosional dalam hidupnya, kematian sang mama dan permintaan Diah untuk memandikan Bu Dewi. Ardi melihat ke atas agar air matanya tak terlalu banyak menetes.
"Boleh,"
Terdengar suara isakan kecil ditengah tangisan Dila.
"Dua jam lagi jenazah mama akan di bawa ke rumah kita untuk di sucikan. Nanti kamu bisa ikut. Biar Dila mas yang jaga."
("Makasih mas,") suara parau Diah yang terisak menambah duka di hati Ardi.
Pukul sepuluh malam, jenazah Bu Dewi tiba di rumah duka yang sudah ramai para tetangga dan perangkat desa. Sesuai janjinya, Ardi menjaga Dila, sementara Diah ikut mensucikan sang mama mertua yang sangat baik padanya dan sangat ia cintai. Berulang kali Diah menyeka air matanya agar tak jatuh di atas jasad Bu Dewi.
__ADS_1
Dengan kitmad Diah dan Ardi membaca ayat-ayat cinta untuk orang terkasih, Bu Dewi. Dila yang sudah mulai tenang dan tertidur di jaga oleh mbok Tini. Seolah membari kesempatan bagi ayah dan bundanya untuk membaktikan diri untuk yang terakhir kalinya.