
Ardi membuka pintu rumahnya dengan gusar. Setelah menyetir dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah, akhirnya pria itu tiba di kota tempatnya tinggal.
Ardi langsung disodori tangisan Mbok Tini begitu ia sampai. Mbok Tini menangis sesenggukan di depan Ardi dan mencoba memberikan penjelasan mengenai hilangnya Bu Dewi.
"Mbok!" panggil Ardi dengan panik pada asisten rumah tangga yang bekerja di rumahnya.
"Akhirnya Tuan pulang juga!" sambut Mbok Tini dengan derai air mata tanpa henti.
Ardi membuka pintu kamar ibunya. Kamar Bu Dewi kini sudah kosong. Tidak ada siapa pun di sana.
"Mama di mana, Mbok? Kenapa Mama bisa sampai hilang begini?" tanya Ardi dengan wajah frustasi.
Mbok Tini pun mencoba memberikan penjelasan pelan-pelan mengenai hilangnya Bu Dewi. Mbok Tini sudah berusaha mencari Bu Dewi di sekitar rumah, tapi sayangnya wanita itu tidak dapat menemukan Bu Dewi di mana pun. Hingga akhirnya, terpaksa Mbok Tini harus menghubungi Ardi dan mengatakan semuanya mengenai Bu Dewi
"Maaf, Tuan! Saya tidak bisa menjaga Nyonya dengan baik!" ucap Mbok Tini merasa bersalah.
"Jadi, tadi saya meninggalkan Nyonya di rumah untuk pergi berbelanja. Saya pergi belanja sebentar di pasar. Saat saya pulang, tiba-tiba Nyonya sudah tidak ada di kamarnya lagi. Saya sudah mencoba mencari ke sekitar rumah, tapi saya tidak menemukan Nyonya. Saya juga sempat bertanya ke beberapa tetangga, tapi tidak ada yang melihat Nyonya keluar. Saya benar-benar tidak tahu ke mana Nyonya pergi," terang Mbok Tini panjang lebar.
Ardi memijat pelipisnya yang mulai dibuat pusing. Belum juga pria itu berhasil menemukan Diah, kini justru ibunya ikut menghilang entah ke mana.
"Apa Mama tidak meninggalkan pesan? Ponsel Mama bagaimana? Apa ponsel Mama bisa dihubungi? Tidak mungkin Mama kabur begitu saja, kan?" tanya Ardi dibuat makin gelisah. Bu Dewi bahkan tak bisa bergerak seorang diri, mana mungkin wanita berubah yaitu bisa bepergian ke tempat yang jauh seorang diri.
"Nyonya tidak meninggalkan pesan apa pun. Ponselnya juga ada di rumah, Tuan. Nyonya juga tidak membawa ponsel dan dompet. Saya benar-benar tidak tahu ke mana Nyonya pergi. Sampai sore begini, Nyonya belum juga pulang," ujar Mbok Tini.
Ardi mengacak rambutnya dengan kasar. Pria itu juga mulai kebingungan dari mana ia harus mencari sang ibu. Di tengah kekacauan yang terjadi di rumahnya, Mila tiba-tiba datang berkunjung dengan wajah tidak bersalah.
"Sepertinya ada tamu, Tuan!" ungkap Mbok Tini pada Ardi.
Mbok Tini segera membukakan pintu dan melihat Mila yang sudah berdiri di depan rumah Ardi dengan senyum sumringah tanpa dosa. "Ardi ada di rumah kan, Mbok?" tanya Mila pada Mbok Tini.
__ADS_1
"Silakan masuk, Nona!" ucap Mbok Tini harus tetap menyambut kedatangan Mila dengan sopan, meskipun wanita paruh baya itu tak suka.
Mbok Tini segera memanggilkan Ardi dan memberitahu kalau tamu yang datang ternyata tak lain ialah kekasih dari Ardi, yaitu Mila. "Tuan, ada tamu yang datang mencari Tuan. Nona Mila ada di ruang tamu sekarang," ujar Mbok Tini pada majikannya.
Ardi pun melangkah dengan lesu menuju ke ruang tamu. Pria itu melihat Mila yang sudah duduk di bangku ruang tamu sembari melempar senyum manis padanya.
"Sayang! Aku sengaja datang untuk meminta maaf padamu," ucap Mila dengan wajah memelas. "Kamu sudah tidak marah padaku, kan?" tanya Mila dengan wajah sedih yang dibuat-buat.
Ardi benar-benar tak mempunyai tenaga untuk membahas hal-hal yang kurang penting. Yang ada di pikiran pria itu saat ini adalah bagaimana cara ia bisa menemukan Bu Dewi secepatnya.
"Aku tidak marah. Kamu kemari hanya untuk mengatakan hal itu?" tanya Ardi.
Mila dapat melihat dengan jelas wajah pucat dari Ardi. Wanita itu pun menduga pasti Ardi sudah tahu mengenai kabar hilangnya Bu Dewi.
'Ardi pasti sudah tahu kalau Tante Dewi menghilang,' batin Mila.
"Kamu terlihat lesu sekali. Apa sedang ada masalah?" tanya Mila dengan akting luar biasa di depan Ardi.
"Bagaimana bisa tante Dewi menghilang?" tanya Mila pura-pura terkejut, padahal wanita itulah tersangka yang membuat Bu Dewi menghilang.
"Aku juga tidak tahu. Aku pergi sejak kemarin dan baru pulang sore ini. Tiba-tiba saja aku mendapatkan kabar kalau Mama sudah menghilang," ungkap Ardi.
Dengan wajah tak tahu malu, Mila berusaha menghibur Ardi, dan bersikap seperti malaikat penolong di depan kekasihnya itu. "Sabar, Sayang. Siapa tahu Mama kamu hanya pergi keluar sebentar? Kita tunggu saja dulu di sini. Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu!" ujar Mila mencoba menghibur Ardi.
Wanita itu menepuk lembut pundak Ardi dan menemani kekasihnya meluapkan kesedihan di hati. Ardi masih belum menaruh curiga pada Mila yang ternyata terlibat dengan kepergian ibunya.
"Aku harus segera mencari Mama!" ujar Ardi.
"Kamu ingin mencari ke mana?" tanya Mila berpura-pura sok peduli pada Bu Dewi. "Mau aku temani mencari Tante Dewi?" tawar Mila.
__ADS_1
Ardi masih tersihir kebaikan palsu dari Mila. "Terima kasih banyak, Mila. Tapi aku masih bingung harus memulai pencarian dari mana," sahut Ardi.
"Mama sangat ingin Diah kembali. Sampai sekarang aku belum berhasil menemukan Diah. Tapi justru sekarang Mama ikut menghilang," cetus Ardi.
"Kamu mencari Diah?" tanya Mila.
"Mama ingin Diah kembali merawat Mama. Aku sedang berusaha mencari Diah demi Mama," ungkap Ardi.
Mila pun makin dibuat jengkel oleh Diah. Meskipun sudah pergi, nyatanya Diah masih saja berpotensi menjadi penghalang. Akhirnya, Mila pun mencoba menggiring opini Ardi dan menggunakan Diah sebagai kambing hitam.
"Apa mungkin Tante Dewi pergi mencari Diah?" celetuk Mila.
Ardi sama sekali tidak berpikir sampai ke sana. "Mana mungkin Mama pergi mencari Diah?" sahut Ardi.
"Mungkin saja, kan? Tante Dewi mempunyai urusan apa lagi di luar rumah? Tante Dewi sangat menginginkan Diah kembali, kan? Bisa jadi Tante Dewi pergi dari rumah untuk mencari Diah," ujar Mila."Aku jadi penasaran apa sih yang Diah kasih sampai mama begitu peduli padanya? jangan-jangan mama di guna-guna sama Diah."
"Jaman seperti ini kenapa masih percaya takhayul seperti itu? Sudahkah, jangan memikirkan yang tidak-tidak." sanggah Ardi.
'Semoga saja Ardi tidak curiga kalau akulah yang membawa Tante Dewi pergi!' batin Mila. Dengan menggunakan Diah sebagai kambing hitam, Mila berharap Ardi tidak akan pernah tahu kalau dirinya yang menculik dan membuang Bu Dewi ke tempat yang jauh.
"Yaah, jadi kemungkinannya hanya mama keluar sendiri untuk mencari Diah."
Ardi manggut-manggut. Rasanya masih masuk akal jika Bu Dewi pergi keluar rumah untuk mencari Diah, mengingat wanita paruh baya itu memang sangat menginginkan Diah kembali secepatnya.
"Mungkinkah Mama benar-benar pergi mencari Diah?" gumam Ardi terlihat percaya dengan perkataan Mila mengenai Diah.
Mila menyunggingkan senyum licik. Wanita itu benar-benar puas dapat mempengaruhi Ardi, sekaligus menyingkirkan penghalang-penghalang yang akan mengganggu hubungannya dengan Ardi.
'Wanita lumpuh, lebih baik kamu tidak perlu kembali untuk selamanya!' batin Mila.
__ADS_1
****