Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Ide Gila Aditya


__ADS_3

"Naz, jangan salah paham dulu. Aku bisa menjelaskannya."


Aditya memegangi kedua bahu Syahnaz, lagi-lagi wanita itu menepis kasar tangannya seolah tak ingin tersentuh olehnya. Syahnaz membuang pandangannya, tak sudi bertatapan dengan Aditya.


"Naz, aku minta maaf. Setelah kita berpisah, aku memang sangat sibuk bekerja sampai ... Ya, aku jadi jarang mengunjungi ibu. Tapi, itu bukan berarti aku tidak peduli pada ibu." Aditya berusaha memberi penjelasan agar Syahnaz bisa memakluminya.


Syahnaz hanya terdiam menahan emosinya. Kekecewaannya sudah sampai pada batas.


Masih ia ingat saat-saat sulitnya harus berhadapan dengan seorang lelaki asing yang mendadak punya kuasa setelah membayarkan sejumlah uang. Saat itu ia sangat takut sekalipun lelaki itu tidak kasar. Bahkan sampai saat ini ketakutannya belum juga hilang. Ia merasa Jendra bisa murka kapan saja dan menghancurkan dirinya jika berani melawan.


"Naz, jangan marah dong ...." rayu Aditya.


Syahnaz kembali menyingkirkan tangan Aditya darinya dengan kasar. "Kamu minta aku tidak marah? Ibuku ditelantarkan seperti itu aku harus senang? Aku susah payah mendapatkan uang sampai tidak punya harga diri lagi, melayani lelaki lain seperti pelacvr dan kamu seenaknya menggunakan uang hasil jerih payahmu untuk kepentinganmu sendiri!" Syahnaz meluapkan emisinya. Ini pertama kalinya ia memaki-maki Aditya, lelaki yang selama ini sangat dicintainya.


"Apa? Kamu berpikir aku seperti itu?" tanya Aditya.


Sejauh ini ia sama sekali tidak merasa bersalah. Ia juga merasa Syahnaz tidak memahaminya. Ia mengalami banyak kesulitan yang juga terasa berat.


"Oke, aku minta maaf untuk soal ibu yang dirawat di ruangan biasa. Tapi, menurutku kamar perawatan tidak terlalu penting, yang lebih utama adalah pengobatan," kilah Aditya.


Syahnaz ingin tertawa mendengar alasan itu. Menurutnya, orang sakit akan semakin bertambah sakit kalau tidak bisa istirahat dengan baik di kamar yang ramai dengan pasien lain. Padahal uang yang ia hasilkan cukup banyak dan tidak akan habis hanya untuk membayar biaya perawatan.


"Jujur, memang aku gunakan uangmu untuk suatu hal, tapi bukan untuk kepentinganku sendiri, Naz. Aku menggunakannya untuk rencana masa depan kita nanti. Dan sekarang aku mulai menikmati hasilnya. Aku sekarang sudah menjadi seorang CEO perusahaan, Naz! Kamu pasti tidak percaya, kan? Ini, lihatlah!"


Aditya dengan antusias mengeluarkan sebuah kartu nama yang mencantumkan fotonya. Di sana tertera jabatannya sebagai seorang CEO. Syahnaz mulai termakan oleh ucapan Aditya.

__ADS_1


"Sayang, sekarang posisiku sudah sama seperti Pak Jendra. Jadi, kamu harus tetap percaya padaku dan bersabar. Ini aku lakukan untuk kita, Naz. Kamu harus percaya," ucap Aditya.


Syahnaz masih terdiam. Rasanya tidak bisa dipercaya jika Aditya bisa secepat itu berhasil dalam usahanya.


Aditya berani membelai rambut Syahnaz. Wanita itu terlihat mulai luluh. "Aku akan berusaha keras untuk menghasilkan banyak uang. Nanti kalau perjanjian dengan Pak Jendra sudah selesai, kembalilah! Aku akan memberikan kehidupan yanh penuh kebahagiaan kepadamu," katanya.


"Maaf sudah membuatmu salah paham. Nanti aku akan mengurus ibu dengan lebih baik lagi, kamu jangan khawatir," imbuhnya.


Aditya kembali memeluk Syahnaz. Kali ini ia tidak mendapat penolakan. Bahkan sang istri membalas pelukannya. Aditya merasa lega. Menghirup aroma wangi dari ceruk leher wanitanya, membuat ia tergoda. Ia menjadi semakin tidak sabar untuk membelai wanita itu.


"Ah, Mas, jangan!" pinta Syahnaz.


Syahnaz menepis tangan Aditya saat mulai nakal menyentuh dadanya.


"Apa sekarang kamu sudah hamil?" tanyanya.


"Belum," jawab Syahnaz singkat.


"Apa? Kamu sudah hampir tiga bulan bersama dengannya, Sayang. Masa kamu belum hamil? Apa jangan-jangan dia tidak menyentuhmu sama sekali?"


Syahnaz heran mendengar suaminya bertanya hal semacam itu dengan mudah dan tanpa beban. Kalau diceritakan bahkan ia akan malu sendiri. Jendra tak pernah melewatkan hari-harinya untuk meminta hal itu kepadanya. Apalagi dia tak lagi mendapatkan siklus bulanannya sejak bersama lelaki itu.


"Memangnya siapa yang bisa mengatur kapan bisa hamil, Mas? Pak Jendra tentu melakukannya karena memang itu tujuannya membayarku," jawab Syahnaz dengan nada kesal.


"Apa mungkin dia lelaki yang lemah? Masa menghamili wanita saja tidak bisa," ejek Aditya.

__ADS_1


Sebagai seorang lelaki yang merasa perkasa dan sudah merasakan tidur dengan beberapa wanita, ia bangga bisa lebih unggul dari pada Jendra. Penampilan maskulin dan gagah Jendra ternyata tidak ada apa-apanya terbukti sampai sekarang istrinya belum juga berhasil dihamili.


"Jangan bicara seperti itu, Mas!" tegur Syahnaz.


"Aku cuma kasihan sama kamu, Sayang. Memangnya dia tidak memberikan suplemen kesuburan atau semacamnya? Dia kan kaya," ujar Aditya.


"Sudah, Mas. Dari periksa rutin sampai obat-obatan sudah dapatkan," tepis Syahnaz.


"Nyatanya sampai sekarang kamu belum hamil. Padahal aku sudah sangat merindukanmu. Kalau begini terus, kapan kita bisa bersama?" ucap Aditya seraya membelai pipi Syahnaz.


"Mau bagaimana lagi? Kita sendiri yang sudah setuju dengan perjanjian itu. Pak Jendra tidak akan melepaskan aku sebelum bisa melahirkan anak untuknya," kata Syahnaz.


Aditya berpikir sejenak. "Mumpung kita bertemu, bagaimana kalau kita melakukannya? Aku bisa langsung membuatmu hamil," katanya.


Syahnaz ternganga mendengar ucapan suaminya. Ia tidak habis pikir lelaki itu bisa memberikan ide gila yang tak masuk akal kepadanya.


"Bisa-bisanya kamu bicara seperti ini, Mas!" bentak Syahnaz.


"Memangnya kenapa? Ini justru akan menguntungkan kita semua. Pak Jendra juga akan senang kalau kamu cepat hamil," kilah Aditya.


"Tapi, dia menginginkan anak darinya sendiri, bukan orang lain!"


"Dia tidak akan tahu ... Kenapa kamu begitu khawatir?" rayu Aditya. "Lagipula, sejak menikah kita belum sempat tidur bersama. Apa kamu tidak mau memberikan tubuhmu pada suamimu?"


Syahnaz benar-benar pusing. Suaminya sendiri yang sudah tega menjualnya dan sekarang seolah dirinya yang bersalah karena tidak mau menyerahkan diri kepada suaminya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2