Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Perasaan Syahnaz


__ADS_3

Syahnaz membawa sebuah bak kecil berisi air hangat dari arah kamar mandi. Ia membawanya ke arah ranjang Elisa terbaring. Ia mengajukan diri untuk membantu membersihkan tubuh istri sah Jendra itu saat Mamita bertanya kesediaan para pelayan.


Para pelayan terlihat enggan untuk mengurus Elisa. Memang biasanya ada perawat khusus yang bertugas membersihkan badan Elisa dan tubuhnya.


"Hai, Elisa. Aku datang lagi. Aku minta ijin untuk membersihkan tubuhmu, ya," sapanya.


Meskipun Elisa tak bisa memberikan respon, Syahnaz tetap mengajaknya bicara.


Selama berada di rumah itu, Syahnaz sering mengunjungi kamar Elisa secara diam-diam. Terkadang ia hanya sekedar menyapa atau menceritakan apa yang dialami di rumah itu. Ia berharap wanita itu bisa kembali menunjukkan tanda-tanda kesadarannya seperti waktu itu.


Syahnaz menyibakkan tirai jendela agar sinar matahari bisa masuk ke dalam kamar. Ia menarik selimut yang menutupi tubuh Elisa. Pertama, ia mengusapkan kain lap yang telah dicelupkan pada air hangat untuk membersihkan wajah wanita cantik itu.


Elisa seperti seorang putri yang tertidur. Kulitnya sangat putih dan bersih. Syahnaz mengusapnya secara hati-hati dan perlahan.


"Terima kasih kamu sudah mau membantuku mengurus Nyonya Muda," ucap Mamita.


Ia datang ke kamar membawa pakaian ganti untuk Elisa.


"Tidak apa-apa, Mamita. Aku juga pernah menyeka ibuku saat dia sakit," ucap Syahnaz.


Ia jadi teringat kembali pada ibunya yang masih terbaring di rumah sakit. Ia belum sempat kembali mengunjunginya. Untuk meminta ijin kepada Jendra sangat sulit, apalagi dalam kondisi mereka bertengkar.


Mamita melihat ketulusan dari cara Syahnaz memperlakukan Elisa. Sebagai wanita yang membersamai seorang pria yang sama, seharusnya Syahnaz membenci Elisa dan berusaha untuk menguasai Jendra sepenuhnya.


"Jujur aku sangat membencimu saat pertama kali tahu Tuan akan membawa wanita lain ke rumah ini," kata Mamita secara terang-terangan. Ia membantu Syahnaz mengusapkan kain setengah basah ke tubuh Elisa.


Syahnaz agaknya kaget mendengar tiba-tiba Mamita mengatakan hal seperti itu.


"Aku sangat menyayangi Nyonya Muda, dia sudah kuanggap seperti putriku sendiri. Tuan juga sangat mencintainya. Sayangnya, Nyonya Rania terlalu egois untuk menuntut sesuatu yang tidak bisa Nyonya Muda lakukan."


"Tuan Jendra sudah mengatakan alasannya untuk membawamu ke sini. Tapi, aku tetap tidak bisa menerimanya. Kamu sangat cantik dan aku takut Tuan akan tergoda dan melupakan Nyonya Muda. Aku juga takut kamu akan berbuat jahat kepada Nyonya Muda."

__ADS_1


Syahnaz tercengang mendengar penuturan Mamita. Ia tidak mengira wanita paruh baya itu akan mencurigainya bersikap sekejam itu.


"Itu kedengaran sangat menyeramkan, Mamita. Aku sama sekali tidak pernah berpikir sampai sejauh itu," kilah Syahnaz.


"Siapa yang akan percaya kata-kata seperti itu? Tuan seorang lelaki tampan dan kaya raya. Banyak wanita yang menginginkannya," ujar Mamita.


Syahnaz menganggukkan kepalanya. "Itu benar. Dia memang tampan dan menawan. Tapi, aku lebih membutuhkan uangnya karena alasan pribadi. Itu juga yang membuatku sampai bisa berada di sini." Ia berpindah menyeka bagian tangan dan lengan Elisa.


"Apa kamu tidak mencintai Tuan?" telisik Mamita.


Syahnaz menggeleng. Ia tak memikirkan lagi apa yang namanya cinta. Ia hanya berharap bisa hidup dengan tenang dan punya cukup uang.


"Aku ingin segera hamil dan melahirkan anak untuknya, lalu pergi dengan tenang dari rumah ini," kata Syahanz.


"Aku juga berharap Elisa bisa segera sadar dari koma. Dia sudah melewati banyak waktu yang menyakitkan. Seharusnya dia juga bisa bahagia," sambungnya.


Mata Syahnaz berkaca-kaca. Memandangi wanita yang tengah terbaring itu membuatnya kasihan. Apalagi ia sering mendengar Rania yang mengumpat di depan Elisa.


Syahnaz menyunggingkan senyum. "Itu benar. Aku sudah punya suami."


"Kedengarannya sangat aneh. Tidak mungkin ada seorang suami yang merelakan istrinya bersama lelaki lain," ujar Mamita.


"Di dunia ini segalanya tidak ada yang tidak mungkin, Mamita. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan uang."


Terkadang Syahnaz menyesali keputusannya. Ia merasa bodoh bisa terjerat dengan hubungan yag sangat rumit. Ia juga merasa tidak terlalu bisa mempercayai suaminya sekarang. Apalagi tentang masalah uang yang jelas-jelas dipakai seenak hati oleh Aditya.


"Aku harap kamu tetap bisa bersikap baik kepada Nyonya Muda. Tolong jangan rusak cinta antara mereka," kata Mamita dengan nada memelas.


Syahnaz kembali menyunggingkan senyum. "Aku akan menepati kata-kataku. Setelah tugasku selesai, aku akan pergi, Mamita. Sebelum aku pergi, aku juga berharap Elisa bisa sembuh. Dia harus hidup bahagia bersama Mas Jendra dan anak yang nantinya akan aku lahirkan."


Syahnaz mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan. Ia seakan mampu untuk menepis perasaan samar yang terkadang singgah di hatinya.

__ADS_1


***


"Sayang, lain kali kamu nggak usah deh berurusan dengan orang kaya. Urusannya jadi repot, kan? Kamu juga terluka begini," kata Sonya dengan nada khawatirnya.


Hari ini ia mengantar Aditya berobat ke rumah sakit. Wajah lelaki itu tampak babak belur dan lengannya hampir patah akibat peristiwa malam itu.


Dokter telah mengobati lukanya dan memasang perban di area lengan. Sementara waktu, Aditya dilarang menggunakan tangan kirinya untuk mengurangi cedera.


Aditya masih merasa kesal dengan kejadian malam itu. Seharusnya ia bisa melewati malam yang indah dengan Syahnaz, istri yang belum pernah disentuhnya. Bayangan sang istri kini memenuhi pikirannya bahkan membuat ia tidak terlalu berselera pada Sonya. Ia benar-benar iri kepada Jendra yang bisa memiliki istrinya.


"Sayang, kok kamu sekarang jadi lebih cuek sama aku? Padahal aku sangat peduli padamu," protes Sonya yang kesal sambil memanyunkan bibirnya.


"Sebentar! Aku harus mengecek sesuatu!" kata Aditya saat ia melewati bagian informasi.


Aditnya mendekat kepada seorang pegawai wanita yang berjaga di sana.


"Permisi, boleh aku tahu, dimana pasien bernama Sumi dirawat yang beralamat di XXX?" tanya Aditya.


Saat tadi ia ke rumah sakit, ia sempat berkunjung sebentar ke ruang perawatan ibu Syahnaz sebelumnya. Namun, di ruang kamar yang ia persiapkan ternyata tidak ada Sumi. Sehingga ia ingin memastikan di bagian informasi.


"Maaf, Pak. Di sini tidak ada nama pasien yang dimaksud. Mungkin sudah pulang," kata si petugas.


"Itu tidak mungkin, dia merupakan salah satu pasien jantung dan perlu perawatan cukup lama kata dokter," kilah Aditya.


"Maaf, Pak. Data yang Anda sebutkan benar-benar tidak ada. Mungkin Anda salah."


Aditya merasa bingung. Padahal ia ingin menggunakan Sumi agar Syahnaz bisa kembali tunduk kepadanya. Akibat kejadian kemarin, mungkin ia benar-benar akan kehilangan sumber dana bulanannya.


"Kalau begitu, ya sudah! Terima kasih!" ucap Aditya.


"Sayang ... Sumi itu siapa? kenapa kamu mencarinya?" tanya Sonya penasaran.

__ADS_1


"Dia ibuku," jawab Aditya singkat.


__ADS_2