
"Hah! Kamu pikir aku lemah? Meriyang? Apa itu meriyang? Sebenarnya aku sedang tidak berminat saja untuk minum-minum. Kalau bukan kamu yang memaksa, aku tidak mau ikut ke sini," gerutu Jendra.
Ia mengelap sisa-sisa air yang ada di wajahnya. Sejak awal datang ke sana, tubuhnya memang tidak terlalu sehat. Akhir-akhir ini ia sibuk mengurusi pekerjaan. Regi merayunya agar mau kumpul-kumpul di klab malam.
"Maksudku bukan meriyang penyakit, tapi me-ri-yang, merindukan kasih sayang," ledek Regi.
Jendra hanya tersenyum dengan ucapan konyol sahabatnya itu.
"Sudah dua minggu kan, kamu tidak pulang ke rumah? Apa tidak kangen dengan dua wanitamu di rumah? Terutama ... Syahnaz?"
Ucapan Regi membuat raut wajah Jendra berubah masam. Ia masih kesal terhadap wanita itu sehingga lebih memilih tinggal di apartemen dari pada pulang. Ia menyibukkan diri dengan pekerjaan dan lebih sering perjalanan bisnis ke luar kota. Hanya sesekali saja ia pulang untuk melihat kondisi Elisa, lalu ia akan pergi lagi.
"Badanmu ini hampir remuk, Jendra. Pulanglah dan suruh dia memijatmu supaya tidak kaku," ujar Regi sembari memijat pundak Jendra.
Jendra menyingkirkan tangan Regi darinya dengan kasar. "Kamu tidak usah bicara konyol. Aku hanya butuh istirahat karena kebanyakan kerja," kilahnya.
"Kerjamu juga kurang bagus, kamu sering nggak fokus. Pasti ada masalah di rumah, kan? Apa itu masalah dengan Syahnaz?" telisik Regi.
Ia penasaran dengan apa yang menimpa Jendra. Temannya itu tidak mau bercerita apapun. Ketika mereka bekerja ke luar kota, ia kira Jendra akan membawa serta Syahnaz, karena ia juga pergi dengan mengajak istrinya, Liana.
Jendra lebih bergairah dalam bekerja saat mengenal Syahnaz. Lelaki itu bahkan tidak mau Syahnaz cepat-cepat hamil karena ingin lebih lama bersenang-senang. Tapi, Jendra malah memilih tinggal di apartemen.
"Apa Syahnaz akhirnya hamil?" tebak Regi.
__ADS_1
"Hah! Kamu ini bicara apa? Kamu kan tahu kalau dia aku suruh meminum obat penunda kehamilan," kilah Jendra.
"Ya, aku kira kamu membencinya karena sedang hamil. Tapi, bisa saja kan, dia tidak meminum obat yang kamu berikan?"
"Itu tidak mungkin karena aku yang selalu membantunya meminum obat itu," tepis Jendra.
"Lalu ada masalah apa kamu dan dia?" Regi berusaha mengulik permasalahan Jendra.
"Sudahlah! Kenapa jadi membahasku? Ayo kita kembali dengan yanh lain!"
Jendra menyudahi pembicaraan mereka secara sepihak. Ia menggunakan rekan-rekan bisnis yang lain sebagai alasan untuk menghindar. Ia tidak ingin membahas masalah pribadinya.
Jendra melangkah keluar dari toilet, disusul oleh Regi yang setengah berlari agar bisa mengimbangi langkahnya.
Pertemuan mereka selain membahas urusan bisnis, tentu saja tidak akan lepas dari acara minum-minum. Mereka akan terus minum sampai mabuk atau pingsan. Padahal, Jendra baru minum sedikit tapi sudah muntah-muntah.
"Kamu pikir aku tidak bisa minum? Jangan meremehkan aku!" kata Jendra.
Langkah mereka tiba-tiba terhenti saat melihat wajah orang familiar baru saja keluar dari dalam sebuah kamar. Jendra dan Regi bersembunyi di balik tiang. Mereka melihat Aditya tengah merangkul seorang wanita berpakaian menggoda sambil menciuminya tanpa malu. Wanita itu sama seperti yang mereka lihat di parkiran perusahaan Regi saat itu.
"Dia Aditya, kan? Suaminya Syahnaz?" tanya Regi memastikan. Ia agak ragu dengan penglihatannya sendiri. Ia tidak menyangka mantan karyawan teladan di kantornya ternyata lebih parah dari yang ia kira saat di luar.
"Bukannya kamu yang lebih mengenal? Dia itu mantan karyawanmu," ledek Jendra.
__ADS_1
"Aku tahu, tapi kan aku tidak mengira dia sampai seperti itu. Kalau tidak salah ingat, wanita yang bersamanya salah satu wanita penghibur yang jadi primadona di sini. Dia sangat pemilih untuk melayani tamunya. Kelihatannya mereka sangat akrab, sampai di luar klab malam juga masih berhubungan," gumam Regi.
"Sejak awal dia berani menjual istri per awannya saja sudah ketahuan dia lelaki seperti apa," ujar Jendra. Entah mengapa ia juga semakin kesal saat melihat tampang lelaki itu. Ingin rasanya ia melanjutkan aksinya saat itu untuk menginjak burung perkutut Aditya.
"Jadi sungguhan ya, kalau Syahnaz itu masih ... Aku kira Aditya bohong soal itu," ujar Regi.
Jendra menyunggingkan senyum. "Wajar kan aku membayarnya dengan mahal. Masa mau diberi barang sisa."
"Dia pasti sangat menyesal sudah melepaskan Syahnaz padamu. Makanya waktu itu dia berusaha untuk ...." Regi tak berani melanjutkan kata-katanya melihat ekspresi menyeramkan dari Jendra.
"Ah, sudahlah! Kita kembali ke ruangan saja!" ajak Regi. Ia tidak mau membuat suasana hati Jendra lebih buruk.
"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Eriko, salah satu rekan bisnis mereka.
"Mungkin mampir dulu ke salah satu kamar wanita cantik di sini," seloroh Towa.
"Itu sih kamu, Towa ...." sahut Dandi.
Jendra dan Regi tak menggubris perkataan mereka. Keduanya dengan santai duduk kembali bergabung dengan mereka.
Acara kembali berlanjut dengan pembicaraan seputar bisnis dan hal-hal random yang biasa terjadi dalam keseharian mereka. Tentu saja pembicaraan itu disertai dengan kegiatan minum-minum yang tidak bisa dihindarkan.
Regi meneguk minumannya dengan santai. Ia tipe orang yang tidak mudah mabuk. Sesekali ia melirik ke arah Jendra dengan perasaan khawatir.
__ADS_1
Jendra seorang yang punya gengsi tinggi. Meskipun sempat muntah-muntah, ia tetap mencoba untuk kembali minum. Ia tidak mau dianggap lemah oleh orang lain.