Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Liburan di Pantai


__ADS_3

"Hmm ... Enaknya punya bos kaya bisa ikut jalan-jalan gratis terus," guman Ida yang sedari tadi terus tersenyum-senyum sembari menghirup segarnya udara di pantai.


Ia membawa keranjang berisi bekal makanan yang dibawa dari rumah. Di sampingnya, ada Syahnaz yang kebagian tugas membawa tikar dan bantal. Sementara, kedua majikan mereka berjalan dengan mesra sambil bergandengan tangan.


"Kelihatannya kamu bahagia sekali. Padahal bulan lalu sepertinya ada yang semangat untuk berhenti bekerja karena sudah dapat lelaki kaya," sindir Syahnaz dengan ekspresi wajah datarnya.


Ida berdecih dengan ledekan yang rekannya berikan. "Namanya juga baru rencana, kan ... Kalau gagal ya sudah!" tukasnya.


Syahnaz tertawa kecil. Masih ia ingat kata-kata setinggi langit yang pernah Ida katakan padanya. Rekannya itu mengatakan sudah mendapatkan pasangan lelaki kaya dari sebuah situs kencan dan kayanya akan segera menikah.


Ida sudah sempat pamitan kepada Mamita untuk berhenti kerja. Beberapa pelayan memintanya untuk memikirkan lagi keputusannya, namun Ida sepertinya sudah bertekad bulat sehingga Mamita mengabulkan kemauan wanita itu.


Berselang satu minggu kemudian, Ida kembali dengan menangis sesenggukkan. Katanya lelaki yang ia kenal lewat aplikasi kencan itu ternyata seorang penipu. Bukannya dinikahi, ia hanya ditiduri selama beberapa hari lalu seluruh uang yang akan digunakan untuk mengurus pernikahan dibawa lari.


Bukan hanya kehilangan kegadisannya, Ida juga kehilangan uang ratusan juta hasil menabung selama bekerja di kediaman keluarga Jendra.


Beruntung Mamita orang yang baik hati, belum mengkonfirmasi pengunduran diri Ida kepada Jendra, sehingga ia bisa kembali mempekerjakan Ida di sana.


"Lain kali hati-hati kalau kenal lekaki," nasihat Syahnaz.


"Iya, iya ... Cerewet! Seperti kamu tidak pernah bertemu orang yang salah saja," ketus Ida.


Syahnaz termenung, mengingat kebodohannya menikah dengan Aditnya sehingga bisa terjebak di kediaman keluarga Jendra hingga saat ini. Ia akui saat itu dia sangat bodoh.


"Aku memberitahumu karena aku sudah pernah merasakannya. Bertemu dengan orang yang salah itu sangat menyakitkan," kata Syahnaz.


"Kamu benar. Maafkan aku yang waktu itu sok tahu dengan kehidupanmu. Aku sendiri tidak lebih baik darimu," ucap Ida yang merasa bersalah dengan perkataan menyakitkan waktu itu terhadap Syahnaz.


Setelah mengalami sendiri kejadian yang menyakitkan, Ida tak lagi peduli dengan kehidupan Syahnaz. Ia begitu dibutakan oleh cinta kepada lelaki yang baru saja dikenalnya.


Lelaki yang ia temui memang memiliki paras yang tampan. Cara berbicaranya terlihat begitu cerdas dan berwibawa. Perhatian yang ditujukan kepadanya membuat mabuk kepayang.

__ADS_1


Selama ia bersama lelaki itu, ia diajak tinggal di apartemen yang lumayan keren karena terletak di pusat kota. Lelaki itu mengakui jika apartemen itu merupakan miliknya. Tentu saja Ida merasa bahagia telah menemukan lelaki yang tepat.


Malamnya, lelaki itu merayu mengajaknya bercinta dengan janji manis akan menikahinya dengan segera. Ida yang awalnya menolak, akhirnya luluh juga dan merelakan kegadisannya kepada lelaki itu.


Selama beberapa hari, waktunya dihabiskan di apartemen itu dengan bercinta. Lelaki itu mengajarkannya sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya sampai lupa diri. Ia menjadi sangat terbuka tentang dirinya, tentang segala hal karena merasa lelaki itu bisa dipercaya.


Hingga akhirnya, ia terbangun di suatu pagi tanpa mendapati lelaki itu di sampingnya. Ponsel dan perhiasannya raib begitu saja. Ia berusaha mencari-cari informasi lelaki itu kepada pihak pemilik apartemen, ternyata apartemen itu hanyalah apartemen yang disewa selama satu minggu. Saat ia mengecek uang di rekeningnya, semuanya sudah lenyap.


Ida sampai syok dan sempat akan gila menyadari lelaki kenalannya ternyata penipu. Dengan penampilan gembelnya kala itu, ia memberanikan diri kembali ke kediaman keluarga Jendra dan memohon kepada Mamita untuk menerimanya kembali.


"Oh, iya. Apa rencanamu selanjutnya?" tanya Ida.


"Rencanaku? Rencana apa?" Syahnaz bertanya balik.


"Apa kamu akan bertahan terus seperti ini dengan Tuan Jendra?"


Syahnaz terdiam sesaat. "Entahlah, aku juga masih memikirkan," katanya.


"Ida ... Aku mau kita beristirahat di sini!" seru Elisa memanggil pelayannya.


Syahnaz dan Ida menghentikan pembicaraan. Keduanya berjalan mendekat ke arah Elisa yang memilih tempat di bawah sebuah pohon rindang sehingga tidak panas meskipun di tepi pantai.


"Gelar tikarnya di sini saja!" pinta Elisa.


"Baik," jawab Syahnaz yang memang bertugas membawa tikar.


Ia dengan sigap melebarkan tikar yang dibawanya lalu menata dengan rapi. "Silakan, Tuan, Nyonya," ucapnya.


"Terima kasih," kata Elisa dengan senang. Ia menarik tangan Jendra agar duduk bersamanya di atas tikar.


Ida membuka keranjang yang dibawanya dan menghidangkan makanan serta minuman yang dibawa dari rumah di hadapan keduanya. Setelah selesai, ia menyingkir ke belakang duduk bersama Syahnaz di hamparan pasir sambil memandangi majikan mereka bersenang-senang.

__ADS_1


"Sayang, tutupi tubuhmu dengan selendang," pinta Jendra melihat istrinya yang memilih untuk mengenakan bikini ke pantai.


"Kenapa, Sayang? Ini kan di pantai. Semua orang juga mengenakan bikini. Apa kamu cemburu?" tanya Elisa sembari tertawa. Jendra terlihat tidak suka ia mengenakan bikininya.


"Sejak tadi banyak yang melihatmu," protes Jendra. Istrinya memang terlihat cantik, apalagi dengan bikini yang dikenakannya.


Elisa memeluk lengan Jendra dan bersandar manja pada lelaki itu. "Aku rasa juga banyak wanita yang memperhatikanmu. Itu pasti karena kamu sangat tampan," katanya.


Ida dan Syahnaz masih duduk tenang di belakang. Meskipun hanya sebagai pelayan, setidaknya mereka bisa turut menikmati keindahan pantai yang tidak sembarangan orang bisa mengunjunginya.


"Kenapa ya, kita nggak ikutan pakai bikini juga?" ujar Ida ketika melihat majikannya yang terlihat cantik dengan pakaian itu.


"Kita ke sini sebagai pelayan, bukan untuk liburan," kata Syahnaz.


Ida tersenyum. "Mumpung di pantainya orang-orang kaya, kan ... Sekalian bisa kenalan sama cowok keren di sini," katanya.


"Belum kapok setelah kemarin?" sindir Syahnaz.


"Em ... Nggak, sih! Aku cuma perlu lebih hati-hati saja kan, untuk memilih," jawab Ida.


"Uh, aduh ...."


Tiba-tiba Syahnaz merasakan perutnya yang sangat sakit melilit.


"Syahnaz kamu kenapa?" tanya Ida khawatir.


"Nggak tahu, perutku sakit sekali," keluh Syahnaz sambil memegangi perutnya. Ia sampai berguling ke pasir menahan rasa sakit yang dirasakannya.


"Hah, darah!" seru Ida terkejut melihat noda darah tercetak di bagian pan tat Syahnaz. Sementara, Syahnaz masih kelincutan menahan sakitnya.


"Tuan ... Nyonya ... Tolong! Syahnaz mengeluarkan darah!" teriak Ida.

__ADS_1


Jendra dan Elisa sontak kaget. Mereka menoleh dan berlari ke belakang menghampiri. Beberapa orang yang ada di sekitar juga keheranan dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.


__ADS_2