Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Sebatas Pelayan


__ADS_3

Syahnaz menenteng barang belanjaan milik Elisa. Ia berjalan di belakang bersama Ida menjadi dua orang pelayan yang ditugasi untuk ikut ke mall bersama Jendra dan Elisa. Ia hanya bisa memandangi keromantisan yang ditunjukkan Jendra kepada wanita beruntung yang duduk di atas kursi roda itu.


Elisa memang belum sepenuhnya pulih. Ia tidak boleh terlalu lelah, namun sangat ingin pergi ke luar. Akhirnya Jendra menyanggupi dengan syarat Elisa mau naik kursi roda.


Sesekali Syahnaz memiliki perasaan yang tidak biasa. Entah mengapa ia menjadi melankolis, gampang sedih setiap menyaksikan kemesraan pasangan suami istri itu. Terkadang ia mengenang posisinya yang pernah menjadi spesial di samping Jendra. Kini, tempat itu kembali diisi oleh pemilik seharusnya.


"Apa kamu tidak mau berusaha?" tanya Ida dengan nada lirihnya.


"Hah? Berusaha?" Syahnaz bertanya balik. Ia tidak paham apa maksud perkataan Ida barusan.


Tampak Ida menyunggingkan senyum. "Jangan pura-pura nggak tahu," katanya.


"Aku memang tidak tahu," jawab Syahnaz. Ia tidak mengerti kenapa Ida sampai bertanya seperti itu.


"Kamu lihat di depan, ada Tuan Jendra. Tidak kangen seperti sebelumnya? Biasanya Tuan Jendra mengajakmu ke kamarnya. Sekarang tidak pernah lagi, kan?" sindir Ida.


Syahnaz menghela napas. Baru kali ini ada yang berani membahas hal itu dengannya. Selama tinggal di paviliun belakang, ia tidak pernah punya teman. Tidak ada pelayan yang mau akrab dengannya. Bahkan pekerja pria juga enggan berurusan dengannya, takut pasangannya cemburu.


Pelayan yang ada di rumah itu memang beberapa ada yang sudah berkeluarga dan masih sama-sama bekerja di sana. Bahkan, sudah ada yang sampai memiliki anak dan diajak tinggal pula di rumah belakang.


Semua berkat kebaikan Jendra yang tidak menuntut uang sewa dengan mereka tinggal di sana. Asalkan mereka mau patuh, maka semua akan aman. Apapun yang terjadi di dalam tembok rumah itu, tidak boleh ada yang bocor keluar.


"Kenapa kamu berani membahas hal seperti ini? Kamu pikir aku tidak akan melaporkannya pada Mamita?" Syahnaz memberikan sedikit gertakan agar Ida berhenti bicara macam-macam kepadanya. Tanpa membahas hal itu, ia juga sudah merasa tertekan sejak awal.


"Hahaha ... Adukan saja kalau memang kamu mau. Toh sebentar lagi juga aku akan berhenti kerja dari rumah itu. Aku mau menikah dan tinggal di luar kota," kata Ida dengan santainya.

__ADS_1


"Lebih baik kamu tidak mencampuri urusan orang supaya hidupmu lebih mudah," ujar Syahnaz.


Ida kembali menyunggingkan senyum seringai. "Setelah aku keluar dari rumah itu, aku juga akan menutup rapat mulutku dan menghilangkan semua yang pernah terjadi di sana dari kepalaku. Kalau dipikir-pikir, menggelikan sekali ada orang yang begitu tidak tahu diri menjadi pel acur seorang pria beristri. Bahkan setelah dibuang dan dijadikan pelayan, masih juga belum menyerah. Bukankah lebih baik kamu jadi pelakor sekalian? Goda saja lagi Tuan Jendra supaya bisa meninggalkan istrinya."


"Kalau tidak tahu apa-apa, jangan sok bijaksana menasihati orang!" ucap Syahnaz dengan nada geram. Ia sendiri tidak ingin di posisi seperti itu lalau bukan karena terpaksa. Tapi, semua orang selalu menyalahkannya.


"Syahnaz ... Ida ... Cepat ke sini!"


Suara panggilan Elisa menghentikan perdebatan di antara mereka berdua. Setelah bertatapan, keduanya memutuskan berhenti berdebat dan menghampiri Elisa yang teryata sudah cukup jauh di depan karena mereka sibuk adu mulut.


"Apa kalian mau crepes juga?" tanya Elisa yang tengah mengantre di depan stand penjual crepes yang ada di mall.


"Saya mau," jawab Ida cepat.


Syahnaz mengangguk. "Iya, saya juga mau," katanya.


"Pak, tambah dua lagi, ya!" pinta Elisa kepada pedagang crepes.


"Tidak tahu malu! Sudah merebut suaminya, sekarang mau traktiran gratisnya," sindir Ida dengan setengah berbisik.


Syahnaz sangat paham rekannya itu tengah menyindir dirinya. Elisa memang baik, makanya ia sungkan untuk menolak kemauan wanita itu.


Beberapa saat kemudian, crepes pesanan mereka selesai dibuat. Mereka manjutkan kembali jalan-jalan ke beberapa toko barang mewah untuk menambah belanjaan.


Tanpa disangka, seorang Elisa sangat suka belanja. Wanita itu begitu hapal dengan barang-barang bermerk dan berharga fantastis. Syahnaz dan Ida sampai kewalahan membawakan seluruh belanjaan yang Elisa inginkan.

__ADS_1


Belum sampai di sana saja kelelahan mereka, Jendra dan Elisa juga mengajak nonton film. Mau tidak mau mereka juga ikut menonton meskipun tidak suka dengan filmnya. Setelah menonton, akhirnya Elisa mau pulang.


Seharian sudah mereka menghabiskan waktu di mall. Elisa sampai tertidur di mobil saat pulang saking kelelahannya. Ia tertidur sembari memegang tangan Jendra dengan erat. Syahnaz lagi-lagi hanya bisa melihat di kursi belakang.


Ketika sampai di rumah, ia kembali menyaksikan keromantisan Jendra kepada Elisa. Lelaki itu menggendong sang istri yang masih tertidur dengan hati-hati.


Syahnaz meregangkan tangannya yang terasa pegal-pegal. Ia akan langsung ke paviliun belakang untuk beristirahat setelah seharian menjelajahi mall demi memenuhi kemauan Elisa.


"Jadi pelayan memang tidak enak. Kamu pasti merasakannya, kan?" ucap Ida yang ikut-ikutan berjalan di samping Syahnaz menuju ke area belakang.


"Aku tidak merasa seperti itu. Menurutku biasa saja kilah Syahnaz. Toh dalam hidupnya, ia sudah terbiasa merasakan kehidupan yang lebih susah.


"Ck! Tidak usah munafik, kamu sudah biasa dapat posisi yang enak, modal ngelonin suami orang bisa seperti ratu di rumah ini," ledek Ida.


"Maumu apa sih? Bisa nggak berhenti membahas itu? Bukan urusanmu juga, kan?" geram Syahnaz. Ida lagi-lagi menyenggol masalah pribadinya.


"Hahaha ... Aku kan hanya mengatakan fakta. Menurutku mending kamu keluar saja dari rumah ini, karena Tuan Jendra sepertinya sudah tidak peduli lagi kepadamu. Ayo sama-sama keluar bersamaku dan cari lelaki kaya di luar sana. Kebetulan aku sudah dapat satu, lelaki kaya dari aplikasi kencan. Nanti aku juga carikan lagi untukmu. Kita nggak perlu susah-susah kerja, pasangan kita nanti yang akan memanjakan kita."


Syahnaz hanya bisa tersenyum mendengar rasa optimis Ida. Wanita itu seperti sudah punya banyak pengalaman sampai bisa berkata demikian. Ida sepertinya tidak tahu jika lelaki itu sangat beebeda saat berkenalan dan setelah pernikahan. Ia yang baru sekali merasakan pernikahan saja bagaikan merasakan mimpi buruk dan seandainya bisa, ia tidak akan memilih untuk cepat-cepat menikah.


"Bagaimana? Apa kamu tertarik?" bujuk Ida.


"Mungkin sekarang tidak dulu. Aku masih butuh waktu berpikir untuk menentukan kehidupanku ke depannya," kata Syahnaz menolak dengan halus.


Ida terlihat kecewa dengan jawaban Syahnaz. "Baiklah, kamu memang wanita bodoh. Aku ajak untuk keluar dari kesengsaraan malah tidak mau. Jangan menyesal kalau nanti nasibmu lebih buruk dari hari ini," ucapnya.

__ADS_1


__ADS_2