Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Sesuatu yang Tidak Diharapkan


__ADS_3

Jendra terlihat panik melihat kondisi Syahnaz di hadapannya. Apalagi melihat bercak merah yang sangat banyak pada pakaian yang dikenakan. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkat Syahnaz dalam gendongannya.


Elisa turut terkejut dengan perlakuan Jendra kepada Syahnaz yang hanya seorang pelayan. Sisi sensitifnya seperti merasa bahwa Jendra sangat peduli kepada wanita itu.


"Nyonya, ayo kita ikut pergi juga!" ajak Ida.


"Ah, iya!"


Elisa berhenti melamun. Ia terpaksa berjalan cepat bersama Ida untuk mengimbangi langkah Jendra yang sangat cepat seperti orang kesetanan. Mereka meninggalkan pantai tanpa sempat mengemasi barang-barang.


"Syahnaz ... Bangun kamu! Sebenarnya kenapa jadi begini?" kata Jendra dengan nada paniknya.


Ia terus berlari membawa Syahnaz menuju ke area parkir. Ia tak bisa lagi memikirkan apapun selain wanita yang ada dalam gendongannya. Bahkan ia tidak peduli dengan penampilannya yang hanya mengenakan celana karena berencana akan berenang di sekitaran pantai bersama Elisa. Semua rencana mendadak berubah akibat kejadian yang tidak terduga.


Sementara, Syahnaz sudah tidak sadarkan diri. Wajahnya tampak pucat dan tubuhnya terlihat lemas.


"Sopir! Bukakan pintu!" perintah Jendra dengan nada berteriak.


Sontak sang sopir yang tengah bersantai di bawah pohon langsung sigap berdiri, begitu pula dengan seorang bodyguard yang ikut dengan mereka.


"Tuan, apa yang terjadi?" tanya sang sopir panik melihat kondisi Syahnaz.


"Jangan banyak tanya! Cepat buka pintu mobil dan antar ke rumah sakit!" perintah Jendra sambil memaki.


Segera pintu mobil terbuka, Jendra masuk ke dalam sambil rerus membawa Syahnaz dalam gendongannya.


"Cepat jalankan mobilnya!" perintah Jendra.


"Tapi, Tuan ... Bagaimana dengan Nyonya?" tanya sang sopir bingung.


Tak jauh dari sana, tampak Elisa dan Ida yang masih berusaha berjalan cepat untuk menyusul.


Jendra hampir lupa terhadap istrinya sendiri. Rasa panik akan kondisi Syahnaz membuatnya tak bisa memikirkan hal lain.


"Tomo, kamu temani Nyonya di sini dan panggil sopir lain untuk menjemput. Biar aku membawa Syahnaz ke rumah sakit lebih dulu, nanti kalian menyusul," pinta Jendra kepada bodyguard-nya.


Tomo mengangguk. "Baik, Tuan," jawabnya.

__ADS_1


Sang sopir akhirnya menaiki mobil dan duduk di belakang kemudi, sementara Jendra bersama Syahnaz di bangku belakang.


"Tuan, kita berangkat sekarang," kata sang sopir.


"Iya, jalan!" perintah Jendra. Ia tak berani menatap istrinya yang masih berusaha mengejar. Yang ia khawatirkan saat ini adalah kondisi Syahnaz.


Hanya tersisa kepulan asap saat Elisa dan Ida sampai di tempat parkiran. Mereka tampak kebingungan karena Jendra meninggalkan keduanya begitu saja. Terlebih Elisa yang memasang wajah sendunya.


"Nyonya, pakai dulu ini supaya Anda tidak kedinginan," ucap Tomo seraya memberikan sebuah handuk kimono untuk menutupi tubuh Elisa yang terekspose.


Elisa menerima dan mengenakannya sehingga pakaian pantainya tidak kelihatan. Ia masih merasa bersedih sudah ditinggalkan oleh suaminya.


"Nyonya, kondisi Syahnaz sepertinya sangat mengkhawatirkan. Dia tidak sadarkan diri, makanya Tuan tadi buru-buru membawanya ke rumah sakit." Tomo mencoba memberi penjelasan, ia tidak ingin terjadi kesalahpahaman antara Elisa dan tuannya.


"Saya sudah menghubungi sopir untuk datang, Nyonya. Nanti kita sama-sama pergi menyusul ke rumah sakit. Sebaiknya Anda duduk dulu di sebelah sini."


Tomo menunjuk ke bangku yang ada di bawah pohon, tempatnya tadi bersantai dengan sang sopir.


"Nyonya, ayo!" ajak Ida. Ia menuntun Elisa yang masih tampak syok agar mau duduk di sana.


"Masuk! Duduk!"


Adrian berkata dengan ketus memerintah Jendra. Ia terlihat kesal setelah melakukan pemeriksaan terhadap Syahnaz.


Jendra masih tampak lemas, wajahnya pucat mengingat kondisi Syahnaz yang mengkhawatirkan saat tiba di rumah sakit.


Adrian duduk berhadapan dengan Jendra sambil melipat kedua tangannya. Tatapan matanya menyiratkan kekesalan.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan nada galak.


"Aku juga tidak tahu. Tadi dia ikut ke pantai dan tiba-tiba dia mengeluh sakit perut lalu pingsan," jawab Jendra.


Adrian menghela napas menahan marahnya. "Kamu tidak tahu ya, kalau dia sedang hamil?"


"Apa?" Jendra syok mendengar ucapan Adrian. Ia mematung sejenak meresapi perkataan yang barusan didengar.


Adrian ingin tertawa sekaligus kesal dengan lelaki di hadapannya itu. "Dia itu sedang hamil 12 minggu tapi kamu sampai tidak tahu. Untung saja pendarahannya bisa dihentikan dan kondis janinnya masih baik-baik saja. Telat sedikit aku rasa bayimu akan keguguran."

__ADS_1


Jendra memegangi kepalanya sendiri. Ia benar-benar tidak tahu kalau ternyata Syahnaz tengah hamil.


"Katamu obatnya bisa mencegah kehamilan, lalu kenapa Syahnaz bisa hamil?" tanya Jendra heran.


Ia selalu memastikan wanita itu untuk mengkonsumsi obat yang diberikan agar bisa memcegah kehamilan.


"Aku kan sudah bilang, sebagus-bagusnya obat, masih ada celahnya untuk tetap bisa terjadi kehamilan. Apalagi kalau kalian terus berhubungan badan secara aktif. Katakan dengan jujur, Jendra ... Apa kamu terlalu sering melakukan hubungan badan belakangan ini?" tanya Adrian dengan tatapan mata seriusnya.


Jendra terdiam, ia tidak berani menjawab pertanyaan yang Adrian berikan.


"Aku rasa kamu memang melakukannya, kan?" tebak Adrian. Ia sangat yakin jika Jendra terus melakukan hubungan tersebut bersama Syahnaz, terlihat dari hasil pemeriksaanya.


"Asal kamu tahu, aku menemukan sisa cairanmu di milik Syahnaz. Kamu benar-benar hampir membunuh anakmu sendiri!" sambung Adrian dengan kata yang tegas.


Jendra ingin tertawa dengan apa yang barusan Adrian katakan tentangnya. "Kenapa kamu menuduh aku mau membunuhnya? Aku hanya melakukan hubungan seperti biasa."


Adrian masih berusaha bersabar menghadapi sahabatnya. "Katakan, berapa kali kamu biasa melakukannya?"


"Tiga kali," jawab Jendra.


"Tiga kali seminggu?" tanya Adrian memastikan.


Jendra menggeleng. "Tiga kali sehari."


Adrian langsung tercengang. "Kamu memang benar-benar gila, Jendra! Itu sudah tidak normal, kamu memang ...." Ia sampai tak bisa berkata-kata lagi. Sabahatnya itu memang luar biasa mengesalkan.


"Apa sih, salahnya?" Jendra masih tidak merasa bersalah.


Adrian menghela napas. "Jendra, dengarkan aku! Kebiasaanmu itu sudah di luar kewajaran. Apalagi kondisi Syahnaz sedang hamil. Paling banyak juga maksimal hanya tiga kali seminggu, itu saja dengan durasi yang tidak terlalu lama. Perbuatanmu itu bisa menimbulkan kontraksi dan menyebabkan keguguran!" omelnya.


"Aku juga tidak tahu kalau dia sedang hamil. Dia juga tidak kelihatan sedang hamil seperti mual muntah, dia tidak mengalaminya." Jendra kelihatan bingung sendiri. Seandainya tahu Syahnaz sedang hamil, mungkin juga ia akan menahan diri.


Adrian berdecak kesal dengan kebodohan Jendra. "Jadi bagaimana, sekarang dia sudah hamil dan Elisa juga sudah sembuh. Apa yang mau kamu lakukan?" tanyanya.


Jendra kembali teringat pada Elisa. Ia kembali lupa jika sekarang istrinya sudah pulih.


"Aku sudah mengingatkanmu jauh-jauh hari, lepaskan Syahnaz sebelum semuanya semakin rumit. Tapi, kamu memilih untuk tetap mempertahankannya. Dan sekarang, dia tengah mengandung anakmu!"

__ADS_1


__ADS_2