
Aditya menyeringai. "Sudah aku duga, pasti kamu akan tertarik kalau aku menyebut Syahnaz di sini," ucapnya puas. Seakan ia bisa membaca isi pikiran lelaki itu.
Jendra mengarahkan tatapan tajamnya kepada Aditya. Rasanya ia ingin kembali menghajar orang itu.
"Kamu baru menerima 150 juta dariku, kan? Apa itu masih kurang sampai kamu ingin menemuiku di sini?" tanya Jendra.
"Tentu ... Itu sangat kurang untukku," jawab Aditya. Ia tidak mengelak jika memang saat ini ia sedang sangat membutuhkan uang.
Jendra tidak percaya lelaki itu menjadi semakin serakah. Orang miskin yang tiba-tiba punya banyak uang memang mengerikan.
"Kamu pasti belum lupa kan, kalau Syahnaz masih istriku. Yah ... Walaupun anggap saja untuk sementara waktu aku meminjamkannya padamu," ucap Aditya dengan sombongnya.
"Dia itu wanita yang sangat baik, bahkan aku merasa sayang untuk melepaskannya. Apalagi dia punya tubuh yang bagus. Kamu pasti sudah kecanduan oleh kemolekannya, kan?" ujar Aditya.
Jendra merasa kesal. Ia menghampiri Aditya dan mencengkeram erat lehernya. Tatapan matanya menyala seolah ingin mencabik-cabik orang di hadapannya.
"Apa yang sebenarnya kamu mau, bang sat!" ucap Jendra dengan penuh emosi.
Aditya masih bisa tersenyum menatap Jendra. "Seperti yang aku bilang tadi, aku akan menceraikan Syahnaz dan sisanya terserah padamu mau diapakan dia. Tapi, berikan aku 10 milyar tunai. Setelah itu, urusan kita selesai," ucapnya.
Jendra mendorong kasar Aditya. Ia tidak habis pikir dengan lelaki itu. Bisa-bisanya Syahnaz memilih lekaki semacam itu sebagai suami.
"Bagaimana? Aku rasa uang sejumlah itu tidak menyulitkanmu. Tapi, kalau kamu tidak mau, ya sudah. Terserah saja. Berarti Syahnaz itu masih istriku sampai kapanpun," kata Aditya.
"Kamu tidak perlu munafik, Jendra. Dari raut wajahmu, aku tahu kamu sangat tertarik dengan istriku. Setelah aku menceraikannya, bukankah kamu jadi lebih mudah jika ingin menjadikannya istri kedua?" bujuk Aditya.
Apa yang Aditya katakan ada benarnya. Jendra memang sudah malas berurusan dengan lelaki itu. Ia juga setidaknya bisa menghindarkan Syahnaz dari lelaki sialan seperti Aditya.
"Baiklah, aku akan memberikan 10 milyar kepadamu," kata Jendra.
Aditya mengembangkan senyuman lebar. "Kalau kamu juga mau investasi di perusahaanku, pintu masih terbuka lebar."
"Cih! Aku tidak sudi berurusan denganmu," ucap Jendra.
Ia lantas berjalan menuju ke mejanya, mengambil selembar cek kosong dari dalam lacinya. Ia menuliskan nominal yang Aditya inginkan lalu membubuhkan stempel dan tanda tangannya.
"Ini!" kata Jendra seraya menyerahkan cek itu kepada Aditya.
Mata Aditya berbinar-binar saat melihat nominal yang tertera pada cek. Ia tersenyum senang.
__ADS_1
"Jangan senang dulu. Cek itu hanya bisa dicairkan setelah kamu mendapatkan surat cerai dari pengadilan. Berikan berkas perceraiannya dan aku akan menyuruh orang untuk segera mengurusnya," kata Jendra.
"Baiklah, besok akan aku kirimkan berkas-berkas yang dibutuhkan. Aku harap kamu bisa mengurus proses perceraiannya secepat mungkin supaya aku bisa cepat menarik uang ini."
Setelah mendapatkan cek itu, Aditya melenggang santai keluar dari ruangan itu. Jendra hanya menatapnya dengan tatapan tajam. Ia heran ada lelaki semacam itu tapi masih dipercaya oleh istrinya. Jika ia mengatakan hal itu kepada Syahnaz, wanita itu juga tidak akan percaya.
"Habis ngapain dia? Aku lihat tadi dia keluar ruangan sambil tersenyum-senyum seperti orang gila," ucap Regi yang baru kembali masuk ruangan Jendra setelah kepergian Aditya.
Dia hanya heran dengan tingkah mantan karyawannya yang mendadak menjadi belagu. Bahkan sama sekali tidak mau menyapa seolah mereka tidak pernah saling kenal. Padahal dia yang mengenalkannya pada Jendra.
"Dia menawarkan aku untuk berinvestasi di perusahaannya," kata Jendra.
Regi terkekeh mendengar hal itu. "Sepertinya dia benar-benar gila. Berani sekali menawarkan kerjasama pada sahabat mantan atasannya. Luar biasa," gumamnya tidak percaya.
"Dia juga minta 10 milyar. Katanya dia mau menceraikan Syahnaz dan tidak akan mengganggunya lagi."
Regi melebarkan matanya, tertegun mendengar penuturan Jendra. "Lalu, kamu memberikannya?" tanyanya memastikan.
Jendra mengangguk.
Hal itu membuat Regi kecewa. "Apa kamu juga ikutan jadi bodoh? Bisa-bisanya memberikan uang sebanyak itu untuk seorang bedebah seperti Aditya! Dia tidak bisa dipercaya, Jendra!"
"Ah, itu sama saja. Orang seperti dia tidak mungkin menepati ucapannya," ujar Regi.
"Biarlah, yang penting aku tidak mau berurusan dengannya lagi."
Jendra berucap dengan santai. Baginya, uang 10 milyar bukan apa-apa kalau memang bisa menyingkirkannya dari manusia parasit seperti Aditya.
"Aku rasa dia sedang kesulitan uang. Mungkin saja dia dimanfaatkan oleh Jarwis. Bodoh sekali dia," ujar Regi. Ia sangat menyayangkan kebodohan Aditya, padahal lelaki itu bisa bekerja dengan baik.
***
Syahnaz tengah merapikan tempat tidurnya. Malam telah larut dan sudah waktunya ia beristirahat setelah bekerja seharian. Meskipun tempatnya kecil, ia cukup nyaman berada di sana.
Ia merebahkan tubuh dan mulai memejamkan mata. Malam ini tidak ada panggilan dari Jendra untuk tidur di kamar rumah utama. Sepertinya lelaki itu juga belum pulang kerja. Setidaknya ia bisa memanfaatkan waktu untuk beristirahat dengan nyenyak malam ini.
Namun, pemikirannya ternyata salah. Baru saja ia hampir terlelap saat merasakan seseorang memegang kakinya. Ia sampai terkesiap kaget. Pelakunya tidak lain adalah Jendra. Ia tertegun beberapa saat menyadari lelaki itu ada di kamarnya menjelang tengah malam.
"Tuan, kenapa Anda di sini?" tanya Syahnaz yang masih bingung.
__ADS_1
"Tentu saja ingin menemuimu. Ternyata kamu belum tidur."
Kalau saja Jendra tidak datang, sudah pasti Syahnaz sudah terlelap tidur.
"Tuan membutuhkan apa? Kenapa tidak ada yang memberi tahuku kalau Tuan sudah pulang," ucap Syahnaz.
Jendra duduk di ranjang sehingga keduanya saling berhadapan. Ia mengusap wajah Syahnaz seraya menyelipkan helaian rambut yang tergerai menutupi wajah. "Aku sengaja tidak ingin memberitahu siapapun supaya bisa datang menemuimu ke sini sendiri."
"Ah, apa saya perlu bersiap-siap ke rumah utama?" tanya Syahnaz dengan nada kikuk.
Ia tidur mengenakan daster murahan dari pasar yang warnanya selalu luntur setiap kali dicuci. Ia yakin penampilannya saat ini sangat kacau. Biasanya jika Jendra memintanya datang, ia akan merapikan diri, paling tidak mengenakan pakaian pelayan yang bahannya lebih bagus dari pakaiannya yang lain.
"Tidak perlu. Kamu seperti ini juga kelihatan cantik," puji Jendra.
Syahnaz menelan ludahnya. Melihat gelagat Jendra seperti itu, ia merasa lelaki itu sepertinya tengah memberi kode untuk mengajaknya bercinta.
Benar saja, baru sebentar ia memikirkannya, Jendra sudah mendekatkan wajah dan memagut bibirnya.
"Em, Tuan, tunggu sebentar," pinta Syahnaz dengan lembut.
"Kenapa?" Jendra protes.
"Apa Anda yakin mau melakukannya di sini?" tanya Syahnaz memastikan.
Kamarnya tidaklah sangat nyaman. Tidak ada AC di sana, hanya ada kipas angin yang berputar pelan di atas. Tempatnya sempit, tak seluas kamar Jendra.
"Dimanapun tidak masalah, aku sedang ingin melakukannya," tutur Jendra.
Dalam waktu singkat, lelaki itu sudah menguasai Syahnaz dengan agresif. Ia memagut mesra bibir tipis wanita itu secara perlahan. Tangannya bergerilya menyusuri setiap lekukan indah yang selalu membuatnya mabuk kepayang.
Jendra tak peduli kini ia ada di mana. Meskipun harus mengunjungi kamar pembantu, ia seakan ingin melampiaskan hasratnya seraya meluapkan kebahagiaan. Ya, ia sangat bahagia akhirnya wanita itu akan segera diceraikan oleh Aditya.
Jendra semakin bersemangat menyentuh wanitanya. Membayangkan status Syahnaz yang nanti akan menjanda membuatnya senang. Ia seakan bisa leluasa memilikinya tanpa mengkhawatirkan apapun.
"Ah, Tuan, pelan-pelan!"
Syahnaz mengeluarkan protes saat Jendra begitu bersemangat menggerakkan miliknya. Lelaki itu selalu saja seperti itu meskipun ia sudah menjerit dan memintanya pelan-pelan. Seakan setiap erangan yang ia keluarkan justru semakin membuatnya bersemangat.
Seorang Jendra tak akan pernah puas melakukannya. Ia hanya akan berhenti setelah pasangannya lemas dan tak berdaya. Apalagi dengan kejadian menyenangkan hari ini. Ia semakin tidak ingin melepaskan tubuh indah itu darinya.
__ADS_1
'Syahnaz ... Aku pastikan tidak ada lagi tempat untukmu bergantung. Kamu hanya akan mengandalkanku,' ucap Jendra dalam hati.