Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Kewaspadaan


__ADS_3

"Hari ini ada orang yang mengatakan kalau Elisa mulai curiga dengan Syahnaz. Apa kamu tahu sesuatu?" tanya Jendra kepada Tomo.


Ia mengintrogasi salah seorang bodyguard yang sangat dipercayanya. Ia bahkan meminta Tomo untuk menjaga kemanapun Elisa pergi.


Tomo menunduk, seakan tahu Jendra sudah bisa menebaknya.


"Apa kamu ikut saat Elisa mendatangi mantan suami Syahnaz?" telisik Jendra.


"Maafkan saya, Tuan," jawab Tomo.


Jendra tampak menghela napas. "Bukan itu jawaban yang aku harapkan darimu. Aku tanya sekali lagi, apa kamu tahu tentang hal itu?" tanyanya memastikan.


Tomo hanya sanggup mengangguk.


Ingin rasanya Jendra menghajar anak buahnya itu yang tidak bisa mencegah tindakan Elisa.


"Tuan, tidak ada satu orang pun yang memberitahu Nyonya Muda tentang masalah ini. Dia menemukan surat nikah milik Nona Syahnaz dan mencari tahu semuanya sendiri. Saya dan orang-orang rumah tidak ada yang bicara. Dan sepertinya Nyonya masih belum tahu yang sebenarnya," tutur Tomo.


"Itu bagus! Jangan sampai Elisa tahu. Pokoknya kalian harus menjaganya!" perintah Jendra.


"Tapi, Tuan. Rahasia tidak selamanya bisa disembunyikan. Bisa jadi lambat laun Nyonya Muda akan tahu," kata Tomo mencurahkan rasa khawatirnya.


Jendra terdiam sesaat. "Kalau kalian pandai menjaga lisan, Elisa tidak akan tahu!" katanya dengan kekeh.


Ia menoleh, melihat Elisa yang datang dari arah dalam berjalan mendekat. Seketika ia akhiri perbincangannya dengan Tomo.


"Sayang, kamu sudah pulang."


Elisa menyambut kehadiran Jendra dengan penuh kehangatan. Ia memberikan pelukan dan bermanja sejenak. Tampak Jendra mengulaskan senyuman.


"Maaf, ya. Hari ini aku sedikit sibuk di kantor jadi pulang lebih telat," katanya.


"Tidak apa-apa. Ayo ke kamar, aku sudah mengantuk," ajak Elisa dengan nada memanjanya.


Tanpa disangka, Jendra langsung mengangkat tubuh Elisa dengan mudah dalam gendongannya. Elisa sampai membelalakkan mata saking terkejutnya. Ia reflek mengalungkan kedua tangan ke leher Jendra. Kedua mata mereka saling bertatapan mesra. Rasanya sudah lama mereka tidak semesra itu.

__ADS_1


"Ayo ke kamar," ajak Elisa malu-malu. Wajahnya tampak memerah.


Jendra segera melangkah memasuki rumah dengan Elisa dalam gendongannya. Tanpa rasa sungkan dilihat beberapa pelayan yang masih bekerja, ia terus berjalan menuju ke arah kamar.


"Kamu tidak lupa minum obat kan, hari ini?" tanya Jendra mengingatkan.


"Tentu saja. Aku kan ingin terus sehat demi selalu bisa bersamamu," ucap Elisa seraya menyandarkan kepalanya di bahu sang suami.


Ia terlihat sangat nyaman bermanja seperti itu kepada Jendra. Sudah lama mereka tidak melakukan hal seperti itu tampa harus peduli dengan sekitar.


Ketika hendak menaiki tangga menuju lantai dua, sudut mata Jendra tanpa sengaja menangkap sosok Syahnaz tengah berdiri di area ruang tengah membawa sebuah piring berisi makanan. Sekilas tatapan mereka bertemu. Ada rasa sungkan dalam diri Jendra memperlihatkan kejadian itu kepada wanita yang tengah mengandung anaknya.


Jendra mengalihkan pandangan, berusaha tidak peduli dengan Syahnaz meskipun hatinya terasa gundah.


Setibanya di dalam kamar, ia merebahkan Elisa secara perlahan. Keduanya saling bertatapan menyampaikan cinta satu sama lain dalam kelembutan.


Bibir mereka perpagutan secara perlahan menghadirakan suasana kemesraan yang telah sekian lama tidak hadir di ranjang mereka.


Begitu romantisnya mereka berpagutan sampai akhirnya tak sadar satu per satu pakaian mereka terlepas dan berserakan di lantai. Keduanya bagaikan pengantin baru yang sama-sama canggung dan malu. Namun, naluri cinta di antara mereka seakan menjadi penuntun alami kemesraan itu.


"Kamu yakin?" tanya Jendra memastikan.


Hari ini Elisa terlihat sangat manja dan begitu menggoda. Sebagai seorang lelaki, Jendra tentu saja tak bisa menolaknya. Apalagi Elisa wanita yang sangat dicintainya.


Elisa melingkarkan kedua tangan di leher Jendra, menatapnya dengan sendu. "Ini yang sudah lama aku nantikan bersamamu, Sayang. Aku sangat merindukanmu," ucapnya dengan penuh ketulusan.


Mendengar perkataan semacam itu, hati Jendra semakin meleleh. Ia kembali memagut bibir manis cinta pertamanya dengan penuh kasih. Tubuh mereka saling bersentuhan, bertukar kehangatan tanpa penghalang.


Bagi Jendra, Elisa masih secantik dulu. Lekukan tubuh yang ia kenali tak ada yang berubah. Seakan hari ini kembali menjadi malam pertamanya.


Kamar besar itu tampak sunyi, hanya suara helaan napas dan erangan yang sesekali mereka buat yang membuat suasana di dalamnya seakan panas. Keduanya bagaikan melampiaskan kerinduan yang selama ini terpendam lewat sentuhan.


"Ah! Sakit!" pekik Elisa.


Kemesraan di antara mereka terhenti mendengar jeritan keras Elisa. Jendra terlihat ikut khawatir karena dia juga merasakan hal yang tidak biasa. Ia kesulitan masuk.

__ADS_1


"Apa kamu baik-baik saja? Atau kita hentikan saja?" tanya Jendra. Meski hasratnya sudah di ubun-ubun, ia tetap khawatir.


Dengan buliran air mata di kedua sudut mata, serta tatapan memelasnya, Elisa menggeleng tak mau menyerah. Ia sendiri tak tahu dengan keanehan pada dirinya. Tapi, ia tidak mau melewatkan momen yang seharusnya membahagiakan itu.


Jendra memeluk Elisa. Ia kembali membangun mood yang sempat terganggu. Ia merasa telah memulainya dengan baik sampai sekiranya Elisa mampu memerima dirinya. Namun, ia tetap saja kesulitan melakukan aktivitas puncak kemesraan mereka.


Bahkan ia hanya bisa sampai setengah jalan sudah membuat Elisa merintih dan menangis kesakitan. Dengan berat hati, Jendra memutuskan untuk mengakhiri semuanya.


"Darah?"


Jendra terkejut melihat ranjang yang dipenuhi dengan bercak darah. Sementara, Elisa tampak masih merintih kesakitan dan lemas. Jendra panik.


Tanpa berpikir panjang, ia menuju ke arah lemari, mengambil pakaian dan mengenakannya. Ia juga mengambil pakaian untuk Elisa dan mengenakannya dengan buru-buru.


"Sayang, sakit," rintih Elisa.


"Iya, Sayang. Tahan sebentar, kita akan ke rumah sakit," ucap Jendra yang semakin panik.


Mereka tidak pernah mengira kemesraan keduanya akan berakhir seperti itu.


Jendra menggendong Elisa dan membawanya keluar kamar dengan panik. Ia berlari menuju ke arah luar.


"Tomo ... Cepat siapkan mobil! Kita ke rumah sakit!" teriaknya.


Tomo yang tengah bersantai di depan halaman bersama Enji langsung panik mendengar suara Jendra. Apalagi melihat majikannya itu membawa Elisa yang tampak lemas.


"Cepat siapkan mobil!" perintah Jendra.


"Baik, Tuan!"


Tomo dan Enji segera berlari ke arah garasi dan mengambil satu mobil yang biasa digunakan untuk antar jemput.


Tomo yang mengemudikannya sendiri. Ia melajukan mobil dan menghentikan di depan Jendra. Mereka membantu Jendra membawa Elisa masuk ke dalam mobil secara hati-hati.


"Ada apa dengan Nyonya Muda, Tuan?" tanya Tomo khawatir.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu banyak tanya! Cepat antar ke rumah sakit!" perintah Jendra.


Tomo berhenti bicara, sepertinya Jendra sedang malas menjawab pertanyaannya. Ia kembali ke dalam mobil dan mengemudikan menuju rumah sakit yang dituju.


__ADS_2