
Jendra tengah berkutat dengan laptopnya sembari duduk bersandar pada kepala ranjang. Bekerja setelah melakukan percintaan menurutnya sangat bagus, ada banyak ide-ide baru yang muncul karena pikirannya menjadi rileks.
Syahnaz masih berbaring di sebelahnya dengan tubuh yang hanya berbalut selimut. Ia juga senang bekerja ditemani wanita di sebelahnya. Setidaknya ia tidak merasa sendiri dan bisa mengusap-usap kepalanya sesekali.
"Tuan, boleh aku minta tolong?"
Tiba-tiba Syahnaz berbicara. Jendra mengalihkan perhatian kepada wanita itu. Raut wajahnya terlihat imut dan polos. Ia jadi tambah suka.
"Minta tolong apa? Memandikanmu?" Goda Jendra.
Syahnaz menggeleng. "Bisa pinjamkan saya sejumlah uang? Atau berikan saya bayaran empat bulan di muka, saya sedang butuh uang," katanya.
Jendra mengernyitkan dahi. Perasaannya berubah kecewa. "Kamu mau memberikan uang lagi kepada lelaki itu?" Tanyanya. Nada bicara Jendra mengandung kemarahan apalagi saat berhubungan dengan Aditya.
"Tidak, bukan untuk Mas Aditya," kilah Syahnaz.
Jendra tak serta merta percaya. Wanita itu selalu saja memikirkan Aditya hingga membuatnya merasa jengkel.
"Lalu untuk apa?" Ketusnya.
"Besok ibuku pulang dari rumah sakit. Aku butuh menyewa tempat tinggal untuknya." Syahnaz mengatakan yang sejujurnya.
Jendra memicingkan sebelah alisnya. Ia sampai meletakkan laptop di atas meja agar bisa fokus menyimak pembicaraan.
"Bukannya kamu punya rumah? Pak sopir bilang beberapa waktu lalu kamu sempat mampir ke sana."
Syahnaz terkejut karena ternyata Jendra tahu akan hal itu. Artinya, sopir dan bodyguard yang mengikutinya tidak bisa dipercaya.
Syahnaz tersenyum getir. "Mas Aditya sudah menjual rumah itu kepada rentenir untuk melunasi hutangnya.
__ADS_1
Jendra sampai tercengang mendengarnya. "Dia punya hutang lagi?" Tanyanya heran.
Apalagi setahu dirinya, Aditya sudah membawa uang 10 milyar yang ia berikan.
"Itu masalah hutang yang dulu. Dia tidak membayar hutang, makanya rumah yang diambil preman-preman itu."
Raut wajah Syahnaz penuh kekecewaan. Padahal, ia rela dijual agar rumah itu tak terjual. Ternyata Aditya tetap melepaskan rumah itu bahkan tanpa sepengetahuannya.
"Bukannya dulu dia sudah melunasinya dengan uang satu milyar yang aku berikan?" Tanya Jendra memastikan.
Syahnaz hanya terdiam. Ia tidak tahu menahu apa yang Aditya lakukan dengan uang itu. Ia kira juga Aditya sudah membereskan semuanya. Pengorbanannya di sana terasa sia-sia.
"Ah ... Aku sudah menduganya. Lelaki itu memang tidak bisa dipercaya. Dan kamu masih saja mengkhawatirkannya? Kamu suka dibodohi terus-terusan olehhnya, hm?" sindir Jendra dengan nada kesalnya.
Syahnaz balas menatap Jendra dengan tatapan tajamnya. Bukan hanya kepada Aditya ia kecewa, tetapi juga kepada Jendra. Lelaki yang sok bijaksana bicara di depannya itu tidak ada bedanya dengan Aditya yang suka membodohinya. Ia juga ingin memakinya sepuas hati.
"Jadi, apa Anda bisa membantu saya?" tanya Syahnaz memastikan. Ia tak mau berkomentar terhadap perkataan Jendra.
Jendra langsung luluh melihat binar mata yang polos itu. Ia mendekat dan menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Uh ... Kasihan sekali anak kucingku," ucapnya untuk menggoda. Ia dengan gemas menciumi seluruh wajah Syahnaz berkali-kali.
"Kamu tidak perlu bingung selama berada di sampingku. Apa yang kamu mau, aku usahakan untuk memberikannya," ucap Jendra meyakinkan.
"Jadi, apa Anda mau memberikan saya bayaran di muka?" tanya Syahnaz penuh harap.
Ia sangat membutuhkan uang itu hari ini juga karena ia harus membayar jika memang tertarik dengan kontrakan yang sudah dipilihnya.
Jendra mengusap lembut pipinya. "Kenapa kamu bertanya begitu? Kamu kira aku sepelit itu untuk memanjakanmu?"
__ADS_1
Jendra tak mau diremehkan oleh Syahnaz. Ia bahkan rela mengeluarkan 10 milyar agar wanita itu menjadi seorang janda. Untuk memberikannya sebuah rumah baru hanyalah perkara yang mudah. Apalagi ia bisa lebih lama bersama dengannya, satu rumah tak ada artinya.
"Lihat di sini sebentar!" pinta Jendra.
Ia mengambil tablet yang tergeletak di meja. Ia ajak Syahnaz untuk melihat benda itu bersama.
Jendra mencarikan rumah yang mungkin akan Syahnaz sukai. Mulai dari rumah minimalis sampai bergaya klasik dengan ukuran yang besar.
"Maaf, Pak. Saya sudah memesan rumah kontrakan sederhana. Itu terlalu besar dan harga sewanya pasti mahal," ujar Syahnaz.
Sebagai orang yang sadar diri dengan kondisi keuangannya, tentu saja dia menolak. Deretan foto rumah yang Jendra perlihatkan pastilah sangat mahal.
"Siapa yang sedang mencarikanmu rumah sewa? Aku mau membelikan rumah untukmu," kata Jendra dengan entengnya.
Syahnaz tertegun mendengarnya. "Apa? Anda mau membelikan rumah untuk saya?" tanyanya dengan ekspresi tercengang.
"Jadi, kamu lebih suka tinggal di mana? Kawasan perumahan atau apartemen?" tanya Jendra lagi. Ia memperlihatkan gambar-gambar rumah dan apartemen yang lain.
"Em, itu terlalu berlebihan, Pak. Saya mau mengontrak saja," tolak Syahnaz.
"Anggap saja sebagai hadiah karena kamu sudah melayaniku selama ini dengan baik."
Ucapan Jendra barusan membuat Syahnaz sedikit tersinggung. Kesannya ia tidak sangat lemah dan hanya bisa bergantung padanya. Ia seperti seorang ani-ani yang merasa puas dengan fasilitas pemberian gadun.
"Perumahan punya sistem keamanan yang bagus di daerah ini. Tapi, aku rasa lebih aman dan esklusif jika tinggal di apartemen. Tidak perlu khawatir dengan tetangga. Jadi, kamu mau pilih yang mana?" tanya Jendra.
"Kalau bisa jangan keduanya, Tuan. Berikan saja perumahan sederhana supaya tidak terlalu mencolok dan mengundang pertanyaan ibu saya nantinya," pinta Syahnaz.
Ia memutuskan untuk mengikuti permainan Jendra. Jika memang lelaki itu ingin memberinya hadiah, akan ia terima dengan senang hati. Saat ini ia juga sedang membutuhkan rumah.
__ADS_1
"Oh, baiklah kalau itu maumu. Ayo kita cari lagi yang sekiranya kamu suka!"
Keduanya kembali mencari gambar-gambar perumahan sederhana yang terletak di daerah kota. Setelah mencari beberapa lama, akhirnya Syahnaz memutuskan untuk memilih rumah yang terletak di sebelah perumahannya sebelumnya. Ia tinggal menyusun cerita nanti untuk bisa diceritakan kepada ibunya. Selama ini ibunya hanya tahu ia bekerja di luar kota sehingga jarang pulang.