
Syahnaz kini berdiri di depan sebuah gedung dengan ornamen lampu berwarna-warni yang mencolok. Area parkir dipenuhi dengan kendaraan roda empat berbagai merk. Baru sampai pelataran saja sudah tampak banyak orang.
Di bagian atas gedung tampak jelas papan nama yang terpampang dengan ukuran besar. "Blue Ocean", sebuah tempat hiburan malam yang cukup terkenal meskipun Syahnaz baru kali ini tahu ada tempat seperti itu.
Ia sangat penasaran dengan omongan orang yang didengarnya di restoran dekat perusahaan Aditya tadi sore. Ia bahkan sampai nekad tidak pulang, menunggu malam datang untuk bisa ke sana. Tidak peduli lagi ia jika Jendra akan memarahinya. Ia hanya ingin bertemu dengan Aditya.
Membuang rasa ragunya, Syahnaz melangkah menuju ke arah pintu masuk. Dengan pakaiannya yang terlihat berbeda dengan kebanyakan orang, tentu saja ia jadi pusat perhatian beberapa orang.
Syahnaz melihat penampilannya sendiri. Ia memakai kaos polos dan celana jeans panjang. Sementara, para wanita yang masuk ke sana rata-rata berpakaian se ksi dengan dandanan tebal. Ia berusaha mengabaikan tatapan orang-orang terhadapnya. Fokus Syahnaz sekarang adalah mencari keberadaan Aditya.
Suara bisingnya musik keras cukup mengganggu. Syahnaz sedikit merasa pusing apalagi ditambah dengan lampu warna-warni yang berkelip-kelip. Asap rokok juga menyeruak ke segala arah bercampur dengan aroma keringat semua orang.
Ia memutuskan untuk duduk di bagian pojok yang agak sepi sambil memperhatikan para pengunjung, berharap bisa melihat Aditya di sana.
"Apa kamu mau pesan minum?" tanya seorang karyawan lelaki yang bekerja di sana.
Syahnaz menoleh ke arah suara. Lelaki itu tengah sibuk mengocok gelas minuman di tangan. Dari papan nama yang tersemat di kemeja, Syahnaz bisa tahu lelaki itu bernama Bian.
"Tidak," jawabnya singkat.
Lelaki itu tersenyum. "Sepertinya kamu baru pertama kali ke tempat seperti ini, ya? Aku tidak pernah melihatmu," ucap Bian.
"Memangnya kamu bisa kenal dengan semua pengunjung di sini?"
"Ya, tidak juga. Tapi, kalau orangnya sering ke sini pasti paling tidak pernah memesan minuman kepadaku. Jadi biasanya aku tahu."
Bian menuangkan hasil racikan minumannya ke dalam gelas. Sudah ada karyawan lain yang siap mengantarkan minuman itu kepada pelanggan.
"Lagi pula dari penampilanmu, sudah bisa ditebak kalau kamu tidak nyaman berada di tempat seperti ini. Pasti ini pertama kalinya, kan?" tebak Bian.
Syahnaz diam, tebakan lelaki itu memang benar. Kalau bukan karena Aditya, dia tidak akan pergi ke sana.
__ADS_1
"Ini, aku buatkan minuman untukmu. Tenang saja, ini tidak memabukkan," kata Bian seraya memyodorkan segelas moctail kepada Syahnaz. "Karena ini pertama kali kamu ke sini, aku berikan gratis. Anggap saja sebagai welcome drink," imbuhnya.
"Terima kasih."
Syahnaz yang merasa haus, menerima dengan senang minuman itu. Ia meminumnya dan rasanya cukup segar, ada perpaduan antara manis dan masam serta pedasnya daun mint.
"Kalau boleh tahu, apa kamu sedang janjian dengan seseorang di sini?" telisik Bian.
Syahnaz menggeleng. "Tidak. Aku hanya ingin mencari seseorang di sini."
"Siapa namanya? Siapa tahu aku bisa membantumu."
"Namanya Aditya."
Bian mengernyitkan dahi. "Aditya? Apa itu Aditya Saputra dari perusahaan XXX?" tanyanya memastikan.
Syahnaz sampai tertegun mengetahui Bian menyebutkan secara jelas nama lengkap dan perusahaan suaminya itu. "Kamu kenal dia?" kuliknya.
"Kayaknya hampir semua orang di sini mengenal dia. Tempat ini bukan sekedar sering dia datangi, tapi bisa dikatakan ini rumah keduanya, saking seringnya dia datang ke sini," tutur Bian.
Syahnaz syok. Aditya, lelaki yang selama ini dianggap sebagai suami idaman, suami baik hati, ternyata sangat akrab dengan dunia malam seperti itu. Padahal selama ini Aditya tak pernah memunculkan gelagat lelaki nakal atau brengsek. Ia kira Aditya seorang yang tulus dan bertanggung jawab.
Buktinya, selama mereka pacaran, Aditya tidak pernah menuntutnya melakukan macam-macam, terutama menjurus pada ranah se ksual. Aditya mencitrakan dirinya sebagai sosok lelaki yang mampu melindungi kehormatan wanita.
"Aku terkejut wanita sepertimu bisa mengenalnya. Kalau memang belum terlalu jauh hubungan kalian, aku sarankan jangan diteruskan dari pada nanti kamu kecewa," saran Bian.
"Memangnya dia separah apa?" tanya Syahnaz. Ia semakin ingin tahu sisi lain yang tidak diketahui tentang Aditya.
Bian menyunggingkan senyum. "Wajahmu itu seperti wanita polos yang gampang dibodohi lelaki. Hati-hatilah, terutama pada Aditya. Dia itu player."
Bian mengajak Syahnaz berbicara sembari terus melakukan pekerjaannya. Ia tidak henti-hentinya mengocok minuman berdasarkan list pesanan pelanggan.
__ADS_1
"Sejak tempat ini dibuka, lima tahun lalu, dia merupakan pelanggan setia di sini. Aku tahu karena termasuk karyawan lama juga. Dia bukan orang asing di sini, hampir setiap malam pasti datang dengan wanita yang berbeda-beda. Tentu salah satunya bukan kamu. Entah setelah malam ini, mungkin kamu yang akan jadi giliran jadi teman kencannya."
Syahnaz semakin tidak percaya Aditya bisa seperti itu. Ia kira Aditya hanya mencintainya.
"Apa malam ini dia ada di sini?" tanya Syahnaz dengan nada lemas.
Bian mengarahkan pandangannya ke sekitar, mencari keberadaan Aditya di sana. "Ah, sepertinya dia belum datang," ucapnya.
Syahnaz hanya bisa tertegun sembari menikmati minumannya.
"Coba kamu lihat wanita di sebelah sana!" pinta Bian.
Syahnaz mengikuti arah telunjuk lelaki itu. Ia melihat seorang wanita dengan pakaian se ksi tengah duduk di pangkuan seorang lelaki. Wanita itu tampak berani bergelayut manja dengan pakaiannya yang hanya rok mini dan kemben berwarna merah menyala.
"Itu namanya Sonya, dia primadona di klab malam ini. Dia sangat dekat dengan Aditya. Bahkan kalau Aditya datang, dia tidak akan menanggapi lelaki manapun. Aditya sangat suka mem-bookingnya."
Mata Syahnaz membelalak. Ia memandangi wanita cantik dan se ksi dengan tubuh mo ntok yang menggoda. Ia tidak ingin percaya jika Aditya tega tidur dengan wanita seperti itu.
"Maksudmu ... Apa dia seorang pel acur?" tanya Syahnaz.
"Oh, bahasamu kasar sekali." Bian tertawa kecil mendengar perkataan Syahnaz.
"Kalau bukan, memangnya harus disebut apa?" tanya Syahnaz.
"Ya, terserah saja mau dipanggil apa. Memang pekerjaannya seperti itu," jawab Bian.
Syahnaz kembali memfokuskan pandangannya kepada wanita itu. Ia melihat senyuman lebar wanita itu kala seorang lelaki menyelipkan banyak lembaran uang ke dalam kemben yang melilit dadanya.
"Oh, lihat itu siapa yang datang!" seru Bian.
Reflek Syahnaz mengarahkan pandangan ke arah yang lelaki itu tunjuk. Ia mematung saat melihat Aditya benar-benar datang ke sana. Dandanannya sangat rapi dan menawan. Dengan langkah percaya diri, ia berjalan sambil membalas sapaan beberapa orang yang mengenalnya.
__ADS_1
Syahnaz juga menyaksikan sendiri betapa antusiasnya wanita se ksi bernama Sonya itu saat suaminya datang. Wanita itu langsung pergi begitu saja meninggalkan kumpulan lelaki yang sebelumnya ditemani. Lalu, ia berlari menghampiri Aditya dan memeluknya.