
"Kamu mau sarapan?" tanya Jendra.
Syahnaz menggeleng. Ia belum merasa lapar.
"Ayolah, kamu harus makan supaya cepat sehat dan juga anak kita nanti juga tumbuh sehat," rayu Jendra.
Ia membawakan nampan berisi sarapan yang dikhususkan untuk pasien. Ia bawa ke arah ranjang di dekat Syahnaz. Dengan romantisnya, ia duduk di belakang wanita itu seraya memberikan pelukan hangat.
"Makan, ya, biar aku suapi," rayunya lagi.
Mendapat perlakuan yang romantis, tentu saja Syahnaz menjadi tersipu malu. Ia merasa senang diperhatikan. Mungkin karena bawaan dari kehamilannya. Apalagi Jendra memberikan suapan demi suapan kepada Syahnaz dengan telaten.
"Tuan, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Syahnaz.
"Kalau tidak ada orang, panggil saja aku seperti biasa. Kamu bisa memanggilku 'Mas Jendra'," kata Jendra.
Syahnaz semakin merasa senang mendengar hal itu. Artinya, Jendra memang sedang menyayanginya.
"Iya, Mas ... Ini aku sekarang kondisinya seperti ini. Aku sedang hamil, apa tidak sebaiknya aku tinggal di tempat lain dulu?" tanyanya.
Ada banyak kekhawatiran yang Syahnaz pikirkan mengenai kondisinya. Ia takut hal-hal tidak menyenangkan akan terjadi.
Jendra mengecup pipi Syahnaz. "Tentu saja kamu harus tetap di rumah. Aku tidak bisa jauh-jauh darimu," ucapnya.
"Bagaimana kalau Elisa sampai tahu, Mas? Aku tidak mau membuatnya sedih," kata Syahnaz.
Ia senang bisa sedekat ini dengan Jendra. Mendapatkan perhatiannya, membuat ia bahagia. Di lain sisi, ia juga tidak enak hati harus diam-diam mencuri perhatian suami orang.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," kata Jendra meyakinkan.
***
Aditya menghabiskan beberapa botol minuman keras malam ini. Satu bungkus rokok juga sudah habis ia hisap. Ia mengalami frustasi setelah diberhentikan menjadi CEO perusahaan. Sekarang, ia resmi menjadi pengangguran.
"Hari ini kamu sepertinya kacau sekali, Sayang," kata Sonya yang menemaninya di sana.
Seperti biasa, jika ada Aditya datang ke sana, Sonya pasti akan menemaninya.
"Apa Jarwis benar-benar telah memecatmu?" tanya Sonya memastikan.
__ADS_1
Aditya tertawa kecil mengingat kejadian yang menyebalkan itu. "Dia memang luar biasa bisa menendang orang yang sudah mengangkatnya. Dasar Jarwis sialan!"
Ia masih kesal dengan keputusan sepihak perusahaan untuk memberhentikannya. Ia sama sekali tidak membuat kesalahan. Hanya karena hobinya bermain judi online, ia diberhentikan.
"Sejak awal aku memang kurang percaya dengan lelaki itu. Kita sudah bersusah payah saat perusahaannya kesusahan, tapi dia malah memperlakukanmu seperti ini," Sonya menimpali. Ia juga sependapat dengan Aditya.
Padahal ia sudah sangat bangga punya teman dekat yang memiliki jabatan tinggi. Ia sudah memamerkannya pada teman-temannya. Tapi, Aditya justru dipecat.
"Bagaimana menurutmu malau aku akan membalasnya?" tanya Aditya sembari menenggak minumannya.
Sonya memeluk tubuh lelaki di sampingnya. "Tentu saja, Sayang. Kamu harus membalasnya. Buat Jarwis menyesal sudah membuangmu," katanya mengompori.
Merasa mendapat dukungan, tekad Aditya semakin bulat. Ia bukanlah orang bodoh yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Ia pastikan untuk menghancurkan Jarwis yang sudah berani membuangnya.
Tok tok tok
Seorang pelayan lelaki mengetuk pintu ruangan mereka.
"Ada apa, Han?" tanya Sonya.
"Ada orang yang mencari Pak Aditya di bawah, seorang wanita cantik dan pengawalnya," kata Handi.
"Pak Aditya mau menemuinya di bawah atau saya suruh naik ke atas saja?" tanya Handi.
"Suruh dia naik ke atas saja!" seru Sonya menyerobot. Ia ingin tahu siapa wanita yang berani mencari kekasihnya.
"Baiklah," kata Handi seraya pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Kini, Sonya menatap Aditya dengan penuh curiga. "Kamu punya wanita lain, ya?" telisiknya dengan tatapan kesal.
Aditya menyeringai. "Mana ada waktu aku memikirkan wanita lain? Aku sudah pusing dengan semua masalah pekerjaan. Lagi pula, satu wanita cantik dan montok sepertimu sudah cukup untukku!" katanya sembari mencubit kecil pipi Sonya.
"Benar, ya! Awas kalau kamu tidak mengakuiku sebagai wanitamu!" ancam Sonya.
Beberapa saat kemudian, Handi kembali datang bersama seorang wanita yang benar-benar cantik datang dengan dua pengawalnya. Mata Aditya sampai tak berkedip melihatnya.
Sonya sampai merasa cemburu. Ia sengaja memeluk erat Aditya di hadapan wanita itu untuk menegaskan bahwa lelaki itu miliknya.
"Apa benar kamu Aditya Saputra?" tanya wanita yang tak lain adalah Elisa.
__ADS_1
Ia sangat penasaran dengan sosok suami Syahnaz sampai meminta orang untuk mencari informasi tentang lelaki itu. Awalnya ia heran karena menurut informasi, Aditya berada di kota yang sama, padahal pengakuan Syahnaz mengatakan suaminya bekerja di luar kota.
Keanehan berikutnya, ia mendatangi perusahaan tempat Aditya bekerja, namun katanya sudah dipecat. Seseorang mengatakan Aditya sering mendatangi sebuah klab malam, sehingga ia datang ke sana untuk menemuinya. Ia lebih syok lagi saat melihat Aditya tengah bermesraan dengan wanita lain.
"Iya, benar, aku Aditya Saputra. Ada urusan apa kamu mencariku?" tanya Aditya. Ia benar-benar tidak mengenal wanita itu.
"Apa kamu suaminya Syahnaz?" tanya Elisa memastikan.
"Dia sudah bu ...."
Sebelum Sonya selesai bicara, Aditya membungkam mulut wanita itu. Ia merasa ada sesuatu yang menarik karena wanita itu menyebutkan nama Syahnaz.
Aditya menyunggingkan senyuman manisnya. "Kamu benar, aku suaminya Syahnaz. Apa ada sesuatu yang terjadi padanya?" tanyanya.
Elisa ingin tertawa. Ternyata ekspektasinya terhadap lelaki itu salah besar. Ia kira Aditya orang yang baik-baik, ternyata Aditya lelaki gila yang hobi main wanita.
"Apa istrimu tahu kelakuanmu seperti ini? Istrimu bekerja mati-matian, tapi kamu malah sibuk bersenang-senang dengan wanita lain," sindir Elisa.
Aditya mengerutkan dahinya. Sonya hendak kembali berbicara, namun Aditya kembali membungkam mulutnya. Ia tak mau Sonya ikut campur.
"Sepertinya kamu sangat mengenal istriku. Memangnya kamu siapa? Syahnaz tak pernah cerita punya teman sepertimu," pancing Aditya.
"Syahnaz bekerja di rumahku. Sekarang dia sedang hamil, kamu juga pasti tidak tahu!" kata Elisa dengan ketus.
Wajah Aditya seketika menjadi berseri. Ia merasa semua semakin menarik. "Apa kamu istrinya Jendra? Ah, maksudku, Tuan Jendra?" tanyanya.
Elisa kaget bahwa Aditya mengenal suaminya. "Kenapa kamu bisa tahu?" tanyanya penasaran.
Aditya memasang senyuman manisnya. "Tentu saja aku mengenalnya. Dia lelaki baik yang sudah mau memberikan pekerjaan kepada istriku. Dia juga menjaganya dengan sangat baik di rumahnya. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan istri dari Tuan Jendra."
Aditnya memiliki rencana lain. Ia merasa punya jalan untuk mengatasi segala masalahnya dengan masuk kembali dalam keluarga itu.
"Jadi, kamu sudah tahu kalau Syahnaz bekerja di rumahku, tapi kamu melakukan hal ini di belakangnya?" guman Elisa.
"Aku hanya iseng saja, Nyonya. Lelaki memang terkadang butuh hiburan di luar. Mungkin suamimu juga pernah melakukannya," kata Aditya.
"Hah! Suamiku bukan tipe lelaki sepertimu!" kilah Elisa.
Aditya hanya tersenyum. Keluguan wanita itu bisa ia manfaatkan untuk keuntungannya.
__ADS_1