
"Sekarang, Elisa sudah pergi dari sini. Jadi, kamu tidak perlu bingung untuk menjadikan Syahnaz sebagai istrimu, Jendra!" kata Rania.
Baik Jendra dan Syahnaz yang mendengarnya sama-sama terkejut. Mereka tidak menyangka Rania bisa berkata seperti itu.
"Mama bicara apa sih?" Jendra masih belum bisa menerima kehilangan Elisa. Ia tidak ada pikiran untuk menjadikan Syahnaz sebagai istrinya di saat seperti itu.
"Sebentar lagi anak yang Syahnaz kandung akan lahir. Dia perlu kejelasan identitas. Apa kamu tega membiarkan anakmu nanti bingung untuk mengurus status hukumnya?" tanya Rania.
"Itu masalah gampang, Ma. Aku bisa menyuruh orang untuk mengurusinya." Jendra tampak tidak ambil pusing dengan hal itu.
"Mumpung anakmu belum lahir, nikahi Syahnaz. Nanti kamu bisa mengenalkan Syahnaz dan anaknya sebagai keluarga kecilmu di hadapan semua orang. Itu juga penting untuk kelangsungan bisnis," bujuk Rania.
Jendra tertawa. Ia rasanya seperti akan gila dengan kemauan Rania. Bukannya ia tidak mau menerima kehadiran Syahnaz dan anaknya, ia hanya masih belum bisa untuk melepaskan Elisa.
"Ma, jangan paksa Mas Jendra. Aku tidak apa-apa seperti ini. Kalau Mas Jendra memang ingin aku pergi setelah melahirkan juga tidak apa-apa," ucap Syahnaz lirih. Ia sudah sangat merasa bersalah dengan kepergian Elisa, kalau sampai terjadi pertengkaran ibu dan anak, ia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri.
"Kamu tidak perlu merasa tidak enak hati! Kamu ini sedang mengandung darah daging Jendra. Kamu berhak mendapatkan pengakuan, Syahnaz! Aku tidak akan membela putraku sendiri kalau keterlaluan seperti ini!" tegas Rania.
Jendra memijit keningnya. Permasalahan yang dihadapi saat ini memang sangat menguras emosi.
"Beri aku waktu untuk memikirkannya, Ma. Otakku rasanya mau meledak," keluh Jendra.
"Beri waktu beri waktu ... Keburu anak itu lahir, Jendra! Dia itu anakmu, sadar! Urusan Elisa itu masalah lain!" desak Rania.
__ADS_1
Jendra menatap Syahnaz yang sejak tadi kebingungan dengan perdebatan anak dan ibu itu. Ia memandangi perut besar Syahnaz, memikirkan anak yang akan segera dilahirkan. Membayangkan masa depan anak itu kelak, membuat hatinya sedikit tergerak. Ia sendiri sudah merasakan susahnya kehidupan tanpa sosok seorang ayah. Mana mungkin ia membiarkan hal yang sama menimpa calon anaknya.
***
Jendra tak punya banyak pertimbangan. Atas dorongan dari Rania, akhirnya ia menyetujui untuk menikahi Syahnaz. Tentu saja pernikahan itu tidak dirayakan, hanya sebatas formalitas mencantumkan nama Syahnaz dalam daftar keluarga dan membuat surat keterangan pernikahan.
Jendra terpaksa menyetujui gugatan perceraian yang dilayangkan Elisa kepadanya demi bisa menikahi Syahnaz secara sah. Meskipun ada rasa terpaksa, ia tidak bisa menyalahkan posisi Syahnaz. Apalagi sejak awal ia sendiri yang memang sengaja memperlama Syahnaz berada di sana. Bahkan ia pernah berencana membuat Syahnaz tak kunjung hamil agar ia bisa memakainya sesuka hati.
"Oh, akhirnya Mama tidak bingung lagi kalau ada saudara yang bertanya tentang istri putraku. Apalagi sebentar lagi aku akan memiliki cucu," kata Rania dengan raut wajah bahagiannya.
Syahnaz hanya bisa tersenyum canggung. Ia sendiri asal menyetujui pernikahan itu tanpa berpikir ulang. Apalagi berkaitan dengan identitas calon anaknya yang butuh kepastian kelak. Seorang ibu pasti rela berkorban meskipun menyakitkan.
Rencana untuk pergi yang sudah lama ia susun terpaksa dilupakan. Ia akan mencoba bertahan sedikit lagi di sana, setidaknya sampai menunggu putranya lahir. Sekiranya ia tidak sanggup, mungkin ia akan memikirkan ulang.
"Iya, Ma. Aku juga niatnya mau mengajak Syahnaz pulang sebentar," kata Jendra dengan ekspresi wajah datar.
"Ya sudah, berangkat sekarang saja supaya pulangnya nanti tidak kemalaman!" pinta Rania.
"Ayo!" Jendra mengajak Syahnaz.
"Mama, aku pamit dulu," ucap Syahnaz dengan nada yang santun. Ia menyalami dan mencium tangan wanita yang kini menjadi ibu mertuanya.
"Iya, Sayang. Semoga ibumu nanti bisa paham dengan situasi ini. Hati-hati di jalan." Rania memeluk Syahnaz sebelum menantunya itu pergi.
__ADS_1
Jendra menuntun tangan Syahnaz mengajaknya berjalan menuju ke arah mobil yang akan mereka naiki. Meskipun sikapnya dingin, Jendra tetap bersikap baik kepada Syahnaz. Ia sampai membantu membukakan pintu mobil dan memasangkan sabuk pengaman.
"Mas, kamu tidak perlu melakukan sejauh ini hanya karena permintaan Mama," ujar Syahnaz ketika mobil mulai melaju. Dilihatnya Jendra tengah fokus menyetir.
"Aku malas berdebat dengannya. Semua sudah jadi begini, mau apa lagi?" gumam Jendra pasrah.
Syahnaz tertunduk. Ia berusaha merenung tentang keputusannya kali ini sembari mengelus perut buncitnya. Ia rasakan pernikahan yang tidak didasari cinta ternyata sangat menyakitkan. Apalagi suaminya masih belum bisa melepaskan bayang-bayang istri pertamanya.
Ia membayangkan sebuah keluarga harmonis yang bisa membuat putranya akan merasa bahagia memiliki keluarga yang lengkap. Akan tetapi, entah mereka bisa menjalankan peran sebagai orang tua yang baik atau tidak ketika anak itu lahir.
"Kamu pasti sangat menyesal akhirnya harus menikah denganku," celetuk Jendra.
Syahnaz mengangkat kembali kepalanya karena terkejut. Ia memandang ke arah Jendra.
"Maksudmu apa?" tanya Syahnaz tidak mengerti.
"Bukannya kamu selalu ingin kabur dariku? Kamu sangat ingin cepat-cepat terlepas dariku, kan?" sindir Jendra.
Syahnaz terdiam sesaat mendengar ucapan Jendra. Apa yang ia katakan memang benar. Ia sudah lama merencanakan untuk kabur dari lelaki dingin itu.
"Setelah kamu menjadi istriku, mungkin aku tidak akan melepaskanmu pergi sekalipun kamu merasa tersiksa denganku," kata Jendra.
Syahnaz tak menanggapinya.
__ADS_1