Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Kehangatan Jendra


__ADS_3

"Aduh ... Tubuhku ...," keluh Syahnaz.


Ia memijiti badannya sendiri yang terasa pegal. Rasanya seluruh tubuhnya remuk. Ia kira setelah seharian menemani majikan berbelanja, ia bisa beristirahat dengan tenang. Kenyataannya, Mamita kembali menugaskan dirinya untuk membantu pelayan di bagian laundry. Ia membantu untuk menjemur pakaian-pakaian yang telah dicuci di ruang laundry.


Bruk!


Syahnaz menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Ia merasa sedikit nyaman akhirnya bisa beristirahat dengan tenang.


Tok tok tok


Pintu kamarnya diketuk. Perasaannya kembali kesal. Baru saja ia merebahkan diri di kasur, sudah ada lagi yang memanggilnya.


"Mamita mau apa lagi, sih? Apa mau menyuruhmu membantu membangun candi?" keluhnya.


Meskipun kesal, ia tetap bangkit dari ranjang dan menghampiri arah pintu.


"Ah, Tuan Jendra," lirihnya.


Ia terkejut melihat tiba-tiba lelaki itu ada di depan pintu kamar. Rasanya sudah sangat lama lelaki itu tidak mendatanginya di sana.


"Ada perlu apa, Tuan?" tanyanya.


Jendra tak menjawab. Ia justu maju dan mendorong Syahnaz masuk ke dalam. Lalu, ia mengunci pintunya.


"Tuan, Anda mau apa?" tanya Syahnaz dengan memasang sikap waspada. Ia penasaran apa yang sampai bisa membawa lelaki itu datang ke tempatnya.


Tanpa berkata apa-apa, Jendra langsung memagut bibir Syahnaz dengan agresifnya sampai membuat Syahnaz terkejut.


"Tuan, tolong hentikan," pinta Syahnaz berusaha melepaskan diri dari lelaki itu.


Namun, Jendra seperti tak ada keinginan untuk melepaskannya. Jendra terus menahan pinggang Syahnaz agar tidak menjauh darinya. Ia memandu wanita itu hingga ke arah ranjang dan meneruskan cumbuannya di sana.


Syahnaz hanya merasakan takut. Ia ingin lelaki itu segera keluar dari kamarnya. Ia kira setelah Elisa sembuh, Jendra tak akan menyentuhnya lagi.

__ADS_1


"Tuan, jangan seperti ini. Bagaimana kalau Nyonya Muda sampai tahu," kata Syahnaz. Ia tetap berusaha menghindari cumbuan Jendra meskipun usahanya sia-sia. Ia membayangkan jika tiba-tiba Elisa datang memergoki mereka dan sangat marah kepadanya.


"Kamu tenang saja, Elisa sudah tidur di kamarnya," ucap Jendra dengan santai.


"Tuan, jangan seperti ini ... Ini salah ...." Syahnaz masih berusaha membujuk Jendra menghentikan perbuatannya. Meskipun ada rasa senang lelaki itu masih perhatian kepadanya, namun ia tetap merasa tidak benar jika hubungan mereka tetap dilakukan.


Jendra berhenti menciuminya. Namun. Tatapan matanya memperhatikan Syahnaz secara mendalam. "Apa yang salah, hm?" tanyanya.


Syahnaz menjadi sedikit takut, melihat rasa kesal yang Jendra tunjukkan kepadanya. "Maksud saya, tidak sepatutnya kita seperti ini lagi karena Nyonya Muda sudah sembuh. Anda seharusnya bersama dengan Nyonya Muda," kilahnya.


"Memangnya selama ini aku tidak menemani istriku dengan baik, hm? Kenapa kamu mau mencoba untuk mengajariku? Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Jadi, lakukan saja tugasmu dengan baik," kata Jendra.


"Iya, Tuan. Saya mengerti. Tapi, kalau sampai Nyonya Muda tahu, saya rasa dia akan sangat kecewa."


Syahnaz masih memikirkan perasaan Elisa. Ia tidak ingin menyakitinya.


"Itu bukan urusanmu, aku yang akan mengaturnya. Tugasmu hanya untuk patuh padaku," ucap Jendra sembari mengelus wajah Syahnaz dengan lembut.


Selama satu bulan terakhir, ia tidak bisa berduaan dengan wanita di bawahnya. Ia sibuk mengurusi Elisa yang baru sembuh dari sakit dan butuh banyak perhatian. Sebenarnya sejak lama ia sangat ingin mendekati Syahnaz, namun momennya tidak ada momen yang tepat. Elisa selalu ingin dia berada di sampingnya.


"Mumpung Elisa sedang tidur, puaskan aku malam ini!" pinta Jendra.


Syahnaz tak bisa menolak lagi. Ia memang berada di sana untuk hal itu. Saat Jendra kembali memagutnya, ia turut membalasnya seperti biasa. Membiarkan tangan lelaki itu berkelana sesuka hati menjelajahi tubuhnya.


Percintaan dengan Jendra selalu bersemangat dan memanas, seperti hasrat yang lelaki itu lampiaskan kepadanya. Di dalam kamar sempit ber-AC itu, suasana menjadi panas. Jendra seperti seorang yang lupa terhadap istrinya, ia begitu berhasrat kepada wanita yang kini berada dalam dekapannya.


***


"Tuan, apa Anda mau kembali ke rumah utama sekarang?" tanya Syahnaz usai kegiatan percintaan mereka.


Ia masih berbaring di atas ranjang hanya dengan selembar selimut yang menutupi tubuh polosnya. Sementara, Jendra yang juga belum berpakaian tengah mencari-cari sesuatu di dalam kantong celananya.


"Apa kamu mengusirku? Aku masih ingin melakukannya lagi," kata Jendra.

__ADS_1


Syahnaz terdiam. Jendra memang tidak mungkin hanya puas sekali melakukannya. Padahal ia sudah sangat kelelahan seharian bekerja, kini ditambah lagi oleh Jendra yang sepertinya tidak akan membiarkan ia tidur malam ini.


Jendra kembali menghampiri Syahnaz di ranjang. Ia duduk di sebelahnya dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan kecil berwarna merah.


"Apa ini?" tanya Syahnaz terkejut ketika Jendra menyodorkan benda itu kepadanya.


"Ambil dan bukalah!" pinta Jendra.


Syahnaz menerimanya. Ia perlahan membuka kotak perhiasan itu, isinya sebuah gelang emas berbentuk lingkaran sempurna dengan taburan berlian di sekelilingnya. Benda itu tampak berkilau saat terkena cahaya lampu, menunjukkan kemewahannya.


"Apa kamu suka?" tanya Jendra.


Tentu saja Syahnaz suka, tidak ada wanita yang akan menolak mendapatkan hadiah seindah itu. Ia pastikan harganya juga pasti mahal.


"Biar aku bantu pakaikan," kata Jendra mengambil gelang itu dari tangan Syahnaz.


"Ah, apa tidak sebaiknya disimpan saja?" ujar Syahnaz. Ia tidak ingin membuat orang yang melihatnya menjadi bertanya-tanya. Apalagi sekarang ada Elisa.


Jendra mengerutkan dahinya. "Kenapa harus disimpan? Aku membelikannya agar kamu memakainya," ucapnya. Ia tetap memakaikan gelang itu pada tangan Syahnaz. "Jangan lepaskan gelang ini! Kamu mengerti?" pintanya.


Syahnaz mengangguk.


Jendra tersenyum dengan sikap penurut wanitanya. Ia kembali memandangi Syahnaz dengan bahagia. "Kamu semakin kelihatan cantik memakai gelang itu," pujinya.


Jendra kembali merengkuh wanitanya. Ia seakan belum puas melampiaskan hasrat terhadapnya. Sepanjang malam ini, ia akan menuntaskan gairah yang terpendam karena Elisa.


"Kenapa kamu jadi makin enak? Badanmu lebih padat dari biasanya. Bagian depan ... Bagian belakang ... Semuanya jadi lebih berisi. Aku jadi makin suka. Apa kamu sekarang berolahraga?" tanya Jendra.


Syahnaz menggeleng. "Saya tidak melakukan olahraga apapun. Hanya saja, saya lebih banyak bekerja akhir-akhir ini," katanya jujur. Ia sekaligus ingin mengeluh karena Mamita selalu menyuruhnya.


"Benarkah? Apa kamu kelelahan?" tanya Jendra perhatian.


Syahnaz mengangguk. "Seharian berjalan kaki di mall, membawa banyak barang, saya sangat lelah," katanya.

__ADS_1


"Oh. Kasihan sekali. Elisa memang sangat suka belanja. Lain kali, aku akan bilang kepada Mamita untuk menyuruh pelayan yang lain saja. Kamu tidak boleh kelelahan karena harus melayani aku juga," ucap Jendra.


__ADS_2