Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Restu Ibu


__ADS_3

Sumi tengah menyapu halaman depan rumahnya. Membersihkan halaman dan rumah sudah menjadi rutinitasnya sehari-hari di rumah kecil yang ia tinggali sendiri. Syahnaz, putri semata wayangnya terhitung sangat jarang datang. Apalagi lima bulan terakhir. Syahnaz bilang sedang sibuk dengan pekerjaan. Ia mencoba memaklumi kondisi putrinya. Meskipun terkadang ia merasa kesepian, ia berusaha mencari kesibukan, salah satunya dengan bersih-bersih.


Terlihat sebuah mobil berwarna putih melintas. Mobil tersebut berhenti tepat di depan rumah Sumi. Melihat hal tersebut, Sumi jadi penasaran. Ia menghentikan aktivitas bersih-bersihnya.


Tak berselang lama, keluar seorang wanita dari dalam mobil.


"Syahnaz?" guman Sumi.


Ia merasa tidak yakin jika memang yang datang adalah putrinya. Biasanya Syahnaz akan memberitahu jika ingin datang. Sumi terus memperhatikan wanita yang ia kira putrinya.


Diperhatikan secara lebih teliti, Syahnaz terlihat lebih gemuk dengan perut yang sangat besar seperti sedang hamil. Sumi semakin ragu kalau itu putrinya. Apalagi kemudian muncul seorang lelaki tampan yang menuntun wanita itu berjalan ke arah pintu pagar rumah Sumi.


Melihat kedua orang itu berjalan masuk ke halaman rumah, Sumi kembali yakin kalau itu putrinya.


"Syahnaz ...," panggil Sumi seraya berlari kecil menghampiri putrinya.


"Ibu ...." Syahnaz terlihat senang melihat keberadaan ibunya yang tampak sehat.


Keduanya saling berpelukan melepas kerinduan.


"Nak, siapa dia?" tanya Sumi penasaran.


Rasanya aneh melihat putrinya tiba-tiba sudah hamil besar lalu datang ke rumah ditemani oleh lelaki yang bukan Aditya.


Syahnaz terlihat kesulitan untuk menjelaskannya. "Em, Ibu, boleh kita masuk dulu ke dalam? Nanti akan aku ceritakan semuanya," pintanya.

__ADS_1


"Oh, iya, ayo masuk! Kenapa kamu tidak memberitahu ibu kalau mau datang?" protes Sumi.


Ketiganya berjalan beriringan menuju ke dalam rumah. Sumi mempersilakan mereka duduk di ruang tamu. Ia pergi ke dapur mengambilkan minuman dingin dan beberapa camilan yang kebetulan ada di rumah.


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu pulang-pulang sudah hamil besar seperti ini?" tanya Sumi cemas.


Terakhir kali ia berjumpa dengan putrinya, sepertinya tidak ada tanda-tanda hamil. Syahnaz bersikap biasa, tidak pernah bercerita kalau putrinya sedang punga masalah.


"Selamat siang, Ibu. Pasti kedatangan kami yang mendadak sangat mengejutkan Anda." Jendra mulai membuka suara.


Sumi memperhatikan lelaki muda yang tampan itu secara seksama. Dilihat berkali-kali, tetap saja ia sepertinya belum pernah bertemu denngannya.


"Sebelumnya, perkenalkan nama saya Jendra. Saya adalah suami dari Syahnaz, putri Anda."


"Apa?" Sumi merasa sangat kaget mendengarnya. Menoleh ke arah Syahnaz.


"Ibu, aku minta maaf. Sebenarnya aku dan Mas Aditya sudah sangat lama sekali bercerai. Kami bahkan sudah berpisah sejak awal pernikahan," tutur Syahnaz dengan mata berkaca-kaca. Ia sangat berat menceritakan semuanya. Ia berniat menutupi segala kepahitan yang dialami termasuk fakta bahwa ia telah dijual oleh suami pertamanya sendiri.


Sumi terdiam tak bisa berkata-kata saking syoknya.


"Aku tidak bisa mengatakan secara detil, Bu. Pokoknya aku dan Mas Aditya sudah tidak cocok. Tapi, aku sangat takut menyampaikan hal ini kepada Ibu."


Sumi menghela napas dalam-dalam mencoba memahami perkataan putrinya. "Kalaupun kamu menikah lagi, kenapa tidak mengabari Ibu, Nak? Bahkan kamu hamil sebesar ini saja Ibu sampai tidak tahu."


Sumi terlihat kecewa. Keberadaannya seperti tidak dianggap oleh Syahnaz sebagai ibu.

__ADS_1


"Tolong maafkan Syahnaz, Bu. Semua ini atas ide saya," sahut Jendra. Ia mencoba melindungi Syahnaz agar tidak menjadi sosok putri yang buruk di hadapan ibunya.


"Ada pertimbangan yang saya ambil, terutama tentang kesehatan Anda. Apalagi Syahnaz pernah bercerita jika Anda punya riwayat sakit jantung. Jadi, saya menyuruhnya untuk menunggu saat yang tepat. Apalagi Syahnaz juga tengah mengalami masa-masa yang sulit karena Aditya," tutur Jendra.


"Ibu, Mas Jendra ini yang banyak membantuku. Mas Aditya itu keterlaluan tidak membayar uang perawatan Ibu, jadi Mas Jendra yanv membiayainya. Mas Jendra juga yang membelikan rumah ini karena rumah lama kita dijual diam-diam oleh Mas Aditya," sambung Syahnaz.


"Apa? Aditya sampai melakukan hal sejauh itu?" tanya Sumi tidak percaya.


Sejak pertama bertemu, Sumi tidak pernah punya firasat buruk tentang Aditya. Apalagi lelaki itu telah membiayai kuliah putrinya. Baru pada saat pernikahan, mengetahui Aditya punya hutang besar, baru ia memikirkan jika memang Aditya orang yang bermasalah.


"Setelah lepas darinya, aku rasa bisa terbuka lagi dengan ibu. Apalagi sekarang ada Mas Jendra yang bisa melindungi aku, Bu. Dia memperlakukanku dengan sangat baik," puji Syahnaz.


Jendra menoleh ke arah Syahnaz. Ternyata wanita itu mau menutupi kejelekannya yang pernah bersikap tidak baik.


"Sekali lagi maafkan aku, Ibu. Selama ini aku tidak jujur. Sekarang aku sedang hamil anak Mas Jendra dan berharap Ibu mau merestui hubungan kami," kata Syahnaz.


Sumi tampak lesu. "Ibu bingung mau berkata apa kepada kalian. Semua sudah terjadi. Ibu hanya berharap kalian bisa bahagia selamanya. Jangan terulang lagi kegagalan yang sebelumnya," ucapnya.


Syahnaz tak kuasa menahan air matanya. Ia memeluk sang ibunda seraya meluapkan kesedihannya. "Ibu, terima kasih," katanya.


Sumi mengelus kepala Syahnaz dengan penuh kelembutan. Apapun hal buruk yang menimpa, Syahnaz tetaplah putrinya. Tidak ada hal yang mampu merubah kenyataan itu.


"Nak Jendra, satu permintaanku, tolong bahagiakan putriku. Jaga dia jangan sampai terluka. Sejak kecil dia sudah lama menderita sejak kepergian anaknya," pinta Sumi.


Jendra mengangguk. "Percayakan Syahnaz kepada saya, saya akan menjaga dan melindunginya sebaik-baiknya," ucapnya mantap.

__ADS_1


Ada rasa lega di hati Syahnaz dan Jendra ketika berhasil mendapatkan restu dari Sumi. Awalnya mereka pikir pasti akan sulit. Namun, Sumi memang seorang wanita baik hati yang mampu menerima dengan lapang dada. Sehingga ia bisa menyikapi apa yang menimpa mereka dengan bijaksana.


__ADS_2