
Syahnaz masih membuka mata sembari berbaring di atas ranjangnya. Ia belum bisa tidur. Kejadian hari ini benar-benar membuatnya terpukul. Rasanya tidak ada orang lagi yang bisa ia percaya. Baik Jendra dan Aditya, keduanya melakukan sesuatu di belakangnya. Ia merasa dipermainkan.
Ingin rasanya ia pergi dari sana, melarikan diri dan hidup tenang di suatu tempa yang tidak diketahui orang lain. Tapi, ia juga bingung memikirkan nasib ibunya yang sebentar lagi akan pulang dari rumah sakit.
Lagipula, Syahnaz tak memiliki apapun. Ia akan hidup sengsara jika nekad pergi tanpa persiapan. Ia juga tidak ingin menyusahkan ibunya yang baru sembuh dan masih proses pemulihan.
Aditya satu-satunya harapan. Tapi, ia tidak bisa lagi mempercayai seutuhnya. Memang mungkin saja lelaki itu menjual rumah demi kemajuan perusahaan yang tengah dirintis. Apalagi Aditya kini berhasil menjadi seorang CEO.
Syahnaz mengambil kartu nama yang sempat Aditya berikan kepadanya. Ia memandangi foto suaminya itu dan tulisan nama perusahaan serta jabatannya. Ia turut bangga dengan pencapaian Aditya. Namun, ada hal mengganjal dalam pikirannya. Aditya tidak pernah meminta pendapat atau setidaknya memberi tahu apa yang akan dilakukan. Aditya melakukan semua hal semaunya sendiri. Hingga Syahnaz harus mengetahui segalanya dari orang lain.
Klek klek
Terdengar suara pintu kamar tengah dibuka dari arah luar. Syahnaz menebak itu adalah Jendra. Ia buru-buru menyembunyikan kartu nama Aditya di dalam laci, lalu memejamkan mata dan berpura-pura tidur.
Suara Jendra menutup kembali pintu dan menguncinya bisa ia dengar. Bahkan langkah kaki yang semakin mendekat. Lelaki itu duduk di ranjang, lalu mengusap wajahnya.
"Sayang, apa kamu sudah tidur?" tanya Jendra dengan suara yang lembut.
Syahnaz menggeliatkan badannya, seakan terusik oleh kehadiran Jendra. Perlahan ia membuka mata dan menatap Jendra yang ada di hadapannya.
"Tuan ... Anda sudah pulang?" ucap Syahnaz. Ia berusaha bersikap seperti biasa.
Terlihat Jendra tersenyum kepadanya. "Tentu saja aku akan pulang. Sebanyak apapun pekerjaan, aku akan pulang untuk menemuimu," katanya.
Syahnaz membalas senyuman itu dengan senyumannya. Ia menutupi luka hati dan kekecewaan terhadap lelaki itu.
Awalnya ia merasa Jendra bersikap seenaknya karena merasa telah membelinya. Ia masih bisa bersabar meskipun dijadikan pembantu di sana. Ternyata, Jendra lebih kejam dari yang ia bayangkan. Mentang-mentang banyak uang, lelaki itu memperlakukannya sebagai budak hasrat dan gairahnya.
"Anda pasti lelah setelah bekerja. Apa perlu saya persiapkan air mandi supaya badan Anda menjadi segar sebelum tidur."
__ADS_1
"Tentu saja." Jendra terlihat senang mendengar tawaran itu.
"Anda mau mandi dimana?" tanya Syahnaz.
"Di kamarku. Dan aku mau malam ini kamu tidur bersamaku di sana," pintanya.
Syahnaz mengangguk paham. Ketika Jendra mengucapkan hal seperti itu, ia tahu jika lelaki itu akan mengajaknya bercinta sepanjang malam. Tatapan yang Jendra arahkan kepadanya sangat tajam seolah bersiap memangsanya.
"Baik, Tuan, tunggu sebentar saya akan bersiap-siap lebih dulu," ucap Syahnaz seraya bangkit dari tidurnya.
Saat ia hendak beranjak turun dari ranjang, Jendra memegangi tangannya.
"Itu tidak perlu," katanya.
Syahnaz memperhatikan penampilannya sendiri. Ia masih mengenakan daster murahan yang biasa digunakan untuk tidur.
Jendra meletakkan jari telunjuknya di bibir Syahnaz, memberi isyarat agar wanita itu diam.
"Pakaian itu tidak penting karena kita akan telan jang semalaman," ucap lelaki itu dengan entengnya.
"Baiklah, mari kita pergi ke kamar Anda," kata Syahnaz mengiyakan kemauan Jendra. Ia tak mau memperpanjang lagi urusan dengan banyak protes.
"Apa obatmu masih ada?" tanya Jendra.
Syahnaz terkejut mendengar Jendra menanyakannya. Lelaki itu memang tidak pernah lupa untuk mengingatkannya meminum obat itu selepas bercinta. Ia lantas mengulaskan senyum manis dan memberikan tatapan lembutnya.
"Obatnya masih lumayan banyak, Tuan. Sebentar, saya ambil dulu," kata Syahnaz.
Ia turun dari ranjang dan mengambil obat yang dimaksud dari dalam lemari dan menunjukkan kepada Jendra. Tampak lelaki itu tersenyum.
__ADS_1
Jendra menggandeng tangan Syahnaz, membawa wanita itu keluar dari dalam kamar pelayan. Suasana di luar sudah sepi. Ia tanpa sungkan mengajaknya berjalan beriringan melewati kamar-kamar pelayan yang lain. Dalam pikirannya toh semua orang di rumah itu sudah tahu hubungan mereka.
Ketika memasuki rumah utama, tampak beberapa pelayan yang masih bekerja membersihkan area dapur. Mereka hanya menunduk saat keduanya lewat.
Sesampainya di kamar, Syahnaz langsung menuju ke kamar mandi. Ia nyalakan kran air hangat untuk memenuhi bathtube yang akan digunakan Jendra berendam. Selama menunggu bathtube itu penuh, mereka saling bermesraan.
Syahnaz tetap bersikap seperti biasa melayani lelaki itu dengan baik. Ia tidak pernah protes dengan gaya-gaya yang Jendra inginkan saat mereka bercinta. Ia menyembunyikan rapat-rapat perasaan terlukanya. Sebagai seorang wanita biasa, tentu saja ia menginginkan cinta yang tulus dari laki-laki. Namun, mungkin jalan hidupnya memang harus menderita seperti itu, dipermainkan oleh dua orang lelaki.
"Ayo, ikut mandi bersamaku," ajak Jendra.
Ia membantu Syahnaz masuk ke dalam bathtube secara hati-hati. Di dalam sana mereka berendam bersama sembari tetap saling berpelukan mesra.
"Hah, nyamannya ... Untung ada kamu. Aku sangat lelah bekerja di kantor. Tapi berduaan denganmu seperti ini, rasanya seluruh rasa lelahku hilang," kata Jedra dengan nada bicara yang romantis. Lelaki itu bahkan memeluk sang wanita dengan hangat.
Syahnaz mematung. Biasanya ia akan risau dengan perasaannya setiap kali Jendra memperlakukannya dengan baik. Darahnnya berdesir setiap kali diperlakukan dengan hangat seperti itu. Kali ini terasa lain, ia bahkan muak kepada lelaki itu. Ia tahu Jendra hanya menginginkan tubuhnya.
Dari kamar mandi, Jendra masih mengajaknya bercinta di dalam kamar. Entah berapa kali lelaki itu memuaskan hasrat terhadapnya.
Syahnaz sangat lelah. Ia ingin cepat berhenti. Meskipun seribu kecupan diberikan oleh lelaki itu, hatinya tetap beku.
"Minum dulu obatmu sebelum tidur supaya kamu sehat," ucap Jendra seraya mencium kening Syahnaz.
Syahnaz meraih botol obatnya. Ia mengambil satu kapsul dan meminumnya di hadapan Jendra. Lelaki itu lalu memeluknya dan mengajaknya tidur sambil berpelukan.
Setelah Jendra tertidur, Syahnaz masih membuka matanya. Ia memandangi wajah tenang yang tengah tertidur di hadapannya. Dalam senyap, ia bertekad pada dirinya sendiri untuk mewujudkan apa yang tidak Jendra harapkan. Ia bersumpah akan berusaha segera hamil.
Obat yang baru saja ia minum hanyalah suplemen kesehatan biasa, bukan obat yang selama ini Jendra berikan untuknya. Ia sengaja membeli yang bentuk dan warnanya persis sama dengan obat yang dibuangnya. Jendra tidak akan tahu karena dia menggunakan wadah lama obatnya.
Syahnaz ingin membuktikan bahwa dia tidak sebodoh itu untuk sekedar menjadi pemuas Jendra. Ia akan berusaha cepat hamil dan terlepas darinya.
__ADS_1