
Syahnaz kira pernikahan bisa membuat Jendra lebih perhatian kepadanya. Ternyata, lelaki itu masih sama saja bersikap dingin terhadapnya.
Setelah menikah, mereka tidur di kamar yang sama. Namun, sudah seminggu berlalu sejak mereka resmi menikah, Jendra seperti tidak mau menyentuhnya.
Syahnaz merasakan perbedaan yang sangat jauh, sebelumnya lelaki itu selalu bergairah setiap waktu. Bahkan rela curi-curi waktu demi melampiaskan hasrat kepadanya.
Syahnaz berdiri di depan cermin, memandangi tubuhnya yang tampak sedikit berisi. Ukuran perutnya sudah sangat besar seperti hampir meledak. Ia merasa Jendra tak lagi berminat kepadanya karena sudah tidak menarik akibat kehamilannya.
"Pantas saja dia tidak ingin aku hamil," gumam Syahnaz sembari mengelus perutnya.
Selama satu minggu, Jendra sibuk dengan pekerjaan. Keduanya hanya tidur masing-masing karena tampaknya Jendra sangat kelelahan.
Syahnaz tahu sebenarnya Jendra masih berusaha menemukan keberadaan Elisa.
"Apa aku salah kalau aku ingin berusaha dicintai oleh lelaki yang sudah menjadi suamiku?" tanya Syahnaz pada bayangannya sendiri di cermin.
Ia memang belum bisa memastikan tentang perasaannya. Namun, ia mencoba mencintai apa yang sudah dimilikinya. Ia ingin selali mengajak Jendra untuk berusaha menerima keadaan dan belajar mencintai satu sama lain.
Syahnaz menoleh ke arah pintu ketika terdengar suara pintu terbuka. Ternyata Jendra baru pulang.
"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Jendra dengan wajahnya yang terlihat lusuh dan kelelahan.
"Aku belum mengantuk," jawab Syahnya.
"Oh," ucap Jendra sembari menganggukkan kepalanya.
Selepas itu Jendra berjalan ke arah kamar mandi tanpa mengajak Syahnaz bicara lebih banyak. Seperti biasa, hal itu terulang lagi. Syahnaz menunduk, merasa dirinya tak diinginkan lagi.
Saat Jendra kembali keluar dari kamar mandi, ia telah mengganti pakaian kerjanya dengan kaos dan celana pendek. Tatapan mata mereka sekilas bertemu. Namun, Jendra mengabaikan dan berjalan ke arah sisi lain ranjang. Tanpa sepatah katapun, lelaki itu merebahkan diri di ranjang memunggungi Syahnaz.
Syahnaz ikut berbaring, memandangi punggung lekaki dingin itu. Ia masih tidak menyangka jika pernikahan justru membuat jarak di antara mereka semakin renggang.
"Mas," panggil Syahnaz.
Ia mengumpulkan keberanian untuk memanggil lelaki itu.
__ADS_1
"Hm, ada apa?" tanya Jendra tanpa membalikkan tubuhnya meskipun tahu Syahnaz memanggilnya.
"Apa kamu membenciku? Atau karena aku sekarang menjadi jelek?"
Sebenarnya Syahnaz sangat takut untuk berbicara. Namun, ia tidak tahan menyimpan beban di hatinya apalagi dengan kondisi kehamilan yang terasa semakin berat untuknya.
Jendra kembali membuka matanya yang baru saja terpejam. Pertanyaan Syahnaz membuatnya terkejut. Belakangan ini ia memang sangat sibuk sampai tidak ada waktu untuk menanyakan kondisi istrinya.
Ia berbalik badan, lalu menatap wanita dengan wajah sendu itu tengah menatap padanya. Mereka memang tampak asing satu sama lain sejak kepergian Elisa.
"Apa aku seburuk itu, Mas, sampai kamu tidak mau lagi menyentuhku? Kita bahkan sekarang sudah menikah, Mas. Apa kamu lupa?" tanya Syahnaz dengan mata berkaca-kaca.
Jendra menelan ludahnya. Ia memang masih tidak percaya jika kini Syahnaz adalah istrinya. Ia masih merasa jika Elisa itu istrinya. Bahkan kepergian Elisa rasanya hampir membuatku gila.
"Aku salah apa, Mas, sampai kamu mengabaikanku terus? Selama ini aku selalu berusaha mematuhi kemauanmu, juga mama. Aku juga akhirnya mau menikah denganmu. Tapi kamu seperti tidak menganggap aku ini ada."
Air mata Syahnaz akhirnya meleleh.
Jendra merasa bersalah. Ia mendekatkan diri lalu mengusap buliran air mata yang mengalir di pipi sang istri.
"Aku tidak pernah bermaksud untuk membuatmu merasa kesepian atau diabaikan karena kesibukanku. Maaf, ya," bujuk Jendra.
Air mata Syahnaz semakin deras mengalir. Suara tangisannya meninggi mendengar kata-kata Jendra.
Melihat hal itu, Jendra memberikan pelukan kepada istrinya. Seketika ia sadar bahwa dirinya sudah berbuat tidak adil kepada wanita itu. Ia terlalu sibuk dengan seseorang yang memutuskan untuk pergi meninggalkannya. Sementara, ia lupa jika ada seorang wanita yang berusaha untuk tetap berada di sisinya. Bahkan sebentar lagi akan melahirkan putra untuknya.
"Bagaimana, apa permintaan maafku diterima?" tanya Jendra sembari menatap mesra wanita di hadapannya yang telah berhenti menangis itu.
"Gampang banget cuma minta maaf!" protes Syahnaz sambil merengut. Ia memang senang Jendra jadi memberikan perhatian kepadanya. Namun, ia juga masih kesal karena Jendra mengabaikannya berhari-hari.
Jendra mengulaskan senyum. Ia mengusap lembut pipi Syahnaz dengan penuh kasih sayang.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu? Apa aku harus berlutut? Atau kamu mau menamparku?" tanyanya.
Lelaki yang biasanya garang itu seketika melembut.
__ADS_1
Syahnaz menggeleng. "Tolong, jangan abaikan aku lagi," pintanya.
Ia memang tidak menginginkan apa-apa. Ia hanya ingin memiliki orang-orang yang mau mendukungnya untuk bertahan di tempat yang ia rasa masih sulit, ia sendiri masih berusaha untuk terbiasa dengan status dan kehidupan barunya ini.
"Iya, Sayang. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji, tidak akan mengabaikanmu lagi," kata Jendra dengan penuh keyakinan.
Keduanya saling bertukar senyum. Wajah mereka saling mendekat dan saling memagutkan bibir sembari memejamkan mata. Seolah malam itu merupakan malam pertama mereka.
"Aduh, bagaimana ini? Kalau begini caranya, aku tidak bisa menahan diri," ucap Jendra saat merasakan ada desakan hasrat dalam dirinya.
Wajah Syahnaz terlihat memerah mendengar ucapan Jendra yang seperti memancing. Apalagi lelaki itu sengaja mempererat pelukan dan menggesekkan sesuatu yang mengeras di bawah sana.
"Mas Jendra mau?" tanya Syahnaz malu-malu.
"Siapa yang bisa menolak kalau ditawari istri secantik ini," goda Jendra.
Syahnaz semakin malu.
"Tapi, apa kita masih boleh melakukannya, ya? Kandunganmu sudah sangat besar. Takutnya nanti terjadi apa-apa padamu, Sayang," kata Jendra yang merasa cemas dengan kondisi istrinya. Apalagi ia pernah sekali dimarahi Adrian gara-gara hal itu.
"Boleh kok, Mas. Malah kalau jelang persalinan katanya sangat dianjurkan untuk mer angsang agar bayinya cepat lahir," kata Syahnaz.
Ia sebenarnya malu untuk mengucapkannya. Namun, tidak bisa dipungkiri jika ia menang menginginkannya juga.
"Wah, kalau seperti ini aku akan maju terus!" kata Jendra dengan penuh semangat. Ia berpindah dari samping Syahnaz ke atas.
"Eh, Mas ... Tunggu dulu! Tapi tidak boleh terlalu bar-bar, ya!" pinta Syahnaz yang kaget dengan keagresifan sang suami.
Jendra tersenyum. "Tenang saja, Sayang. Aku akan memperlakukanmu dengan lembut. Ini adalah malam pertama kita sebagai pasangan suami istri. Jadi, aku ingin sesuatu yang manis dan romantis malam ini."
Keduanya kembali berpagutan. Seperti yang Jendra katakan, malam ini terasa sangat romantis dan mendebarkan. Seolah menjadi kali pertama percintaan mereka. Sentuhan-sentuhan penuh kasih terus menghangatkan keduanya hingga seakan dunia milik mereka.
Dari sorot mata mereka menyiratkan bahwa keduanya ingin saling mencoba menerima. Masa lalu tidak bisa mereka ubah, namun masa depan bisa mereka ciptakan untuk mendapatkan kebahagiaan.
___ Tamat ___
__ADS_1