
"Selamat datang, Tuan. Nyonya Muda menunggu Anda di atas," kata Mamita menyambut kedatangan Jendra dan Syahnaz yang baru tiba dari Jepang.
"Mamita, antar Syahnaz ke kamar belakang. Kamu tahu kan, apa yang harus dilakukan?" kata Jendra memastikan.
"Iya, Tuan."
Lelaki itu memasang wajah serius. Tanpa menoleh kepada Syahnaz, ia berjalan begitu saja meninggalkannya dan fokus pada tujuannya untuk menemui istrinya yang baru saja terbangun dari koma.
Syahnaz tertegun sembari menunduk. Kesenangan sesaat yang ia rasakan di Jepang bagaikan mimpi yang kini harus berakhir. Sikap perhatian Jendra menghilang setelah kabar Elisa sadar.
"Syahnaz, ayo ikut aku," pinta Mamita menyadarkan lamunan Syahnaz.
"Ah, iya, Mamita," kata Syahnaz.
Ia berjalan membuntuti Mamita menuju ke arah paviliun belakang yang sempat ia gunakan. Seperti biasa, ia harus melewati kamar-kamar pelayan lain. Mereka memandanginya dengan senyuman mengejek, seolah ingin menertawakan bahwa ia hanyalah mainan Tuan pemilik rumah.
Demi bertahan, Syahnaz berusaha menepis tanggapan orang tentang dirinya. Meskipun semua orang menghujatnya, ia harus tetap tegar berdiri di atas kakinya sendiri.
Sesampainya di dalam kamar, Mamita ikut masuk untuk berbicara sebentar. Ia menutup pintu kamar agar tidak ada orang yang berani masuk ke dalam atau menguping pembicaraan mereka.
"Tuan pasti sudah memberitahumu apa yang terjadi, kan?" tanya Mamita.
Syahnaz mengangguk. "Mamita sudah tahu kalau aku ini wanita simpanannya Tuan Jendra. Mamita juga sangat menyayangi Elisa. Sekarang dia sudah sadar, apa Mamita tidak ingin mengusirku dari sini?"
Mamita menghela napas. "Kalau boleh jujur dari dalam lubuk hati, ingin sekali aku menyingkirkanmu jangan sampai Nyonya Muda tahu. Tapi aku hanyalah seorang pelayan yang harus patuh kepada majikannya sampai akhir hayat."
Syahnaz terdiam sesaat mendengar perkataan Mamita. Ia tidak berbeda dengan wanita tua itu. Keberadaannya di sana merupakan sebuah kesepakatan dan ia sudah mendapatkan bayarannya.
"Kamu tenang saja, semua lidah orang-orang yang ada di sini, sudah tertata. Tinggal jalani saja apa yang Tuan Jendra perintahkan," kata Mamita.
Ucapannya mengisyaratkan bahwa keberadaannya di sana tidak akan diketahui oleh Elisa sebagai seorang wanita pemuas hasrat suaminya asalkan ia bisa berpura-pura bekerja sebagai pelayan dengan baik.
__ADS_1
"Aku rasa hanya itu yang mau aku sampaikan. Cepat berganti pakaian dan temui aku lagi di dapur!" perintah Mamita.
"Baik, Mamita."
***
Jendra membuka pintu kamar yang biasa digunakan sebagai ruang perawatan istrinya. Saat pintu terbuka, ia melihat Elisa tengah terduduk di ranjang sementara dua orang perawat tengah mengecek tekanan darahnya.
Wanita itu tersenyum kepada Jendra, membuatnya seakan ingin pingsan. Sudah lama ia tidak melihat senyuman itu. Rasanya seperti mimpi di siang bolong.
Jendra berjalan cepat menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat. Air mata haru hampir saja mengalir, namun ia tahan karena tidak ingin terlihat lemah.
"Tuan, kami permisi dulu," pamit sang perawat setelah selesai memeriksa kondisi Elisa. Agaknya mereka tahu diri tidak ingin mengganggu kebersamaan keduanya.
"Sayang, bagaimana keadaanmu?" tanya Jendra dengan ekspresi khawatirnya. Lelaki itu mengusap wajah Elisa yang kini sudah kembali bersinar cerah. Sebelumnya, wajah Elisa sangat pucat seperti manusia beku.
Elisa menyunggingkan senyumannya. "Entahlah, Sayang. Rasanya seperti aku baru saja bangun tidur, tapi seluruh tubuhku menjadi pegal-pegal. Aku kira hanya tidur sebentar. Waktu pelayan bilang aku koma selama tiga tahu, aku sangat kaget."
Ia bercerita sembari bermanja, bersandar pada dada bidang Jendra yang saat tersadar sangat ingin didekap oleh lelaki itu.
Elisa menggeleng pelan.
Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Jendra menjalani masa duka dan kesepiannya selama itu. Bahkan Elisa mengalami kecelakaan di luar negeri. Terbangun di sebuah tempat yang masih asing, pastilah membuatnya butuh untuk beradaptasi.
"Waktu aku terbangun, aku kira aku sudah mati, Sayang. Aku tidak kenal siapapun di sini. Aku takut, aku menangis. Untung saja ada Mamita, jadi aku tenang. Aku memintanya untuk memanggilmu datang, ternyata kamu ada pekerjaan di luar negeri. Jadi, aku harus bersabar untuk bisa bertemu denganmu seperti saat ini."
Elisa menceritakan apa yang dirasakan dengan merajuk. Ia sangat ingin bermanja kepada lelaki yang tengah mendekapnya.
Sementara, Jendra justru teringat pada Syahnaz, wanita yang menemaninya selama perjalanan liburan di Jepang. Ia mulai bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Sayang, kenapa kamu banyak diam? Apa kamu tidak suka aku sembuh?" tanya Elisa sembari mengerutkan dahinya. Ia merengut, merasa sedih melihat respon Jendra yang terlihat biasa saja terhadapnya.
__ADS_1
Jendra melebarkan matanya. "Siapa yang bilang begitu? Selama tiga tahun aku terus menjagamu dan berharap kamu segera membuka mata, Elisa. Bahkan sekarang aku sangat ingin menangis saking bahagianya bisa melihatmu lagi seperti ini," tepisnya.
Ucapan Jendra membuat Elisa meleleh. Ia kembali memeluk lelaki itu dengan penuh cinta. Ia tahu jika Jendra tidak akan pernah mengecewakannya.
"Terima kasih, Mas. Sudah memberikan waktu tiga tahun yang berharga untuk tetap mencintaiku," kata Elisa.
Jendra kembali menghela napas. Entah kenapa napasnya menjadi terasa berat.
Tok tok tok
Pintu kamar diketuk. Mamita membuka pintu sembari membawa nampan berisi makanan. Di belakangnya ada Syahnaz yang membantunya.
Jendra terdiam melihat kehadiran Syahnaz di sana. Ia memilih membuang pandangan dan berpura-pura tidak kenal.
"Mamita, dia siapa? Kemarin sepertinya belum dikenalkan kepadaku," ujar Elisa.
Memang, setelah kondisi Elisa stabil, Mamita membawa seluruh pelayan agar bertemu dengan Elisa. Hanya Syahnaz yang belum Elisa lihat.
"Maafkan saya, Nyonya Muda. Kebetulan Syahnaz baru saja pulang dari kampung. Makanya sekalian saya mengajak dia untuk diperkenalkan kepada Anda,"
"Perkenalkan, Nyonya Muda. Nama saya Syahnaz. Jika ada yang perlu saya lakukan, jangan sungkan untuk memanggil saya," kata Syahnaz memperkenalkan diri.
Ia menundukkan wajah tak berani menatap dua insan pasangan sah yang tengah terlihat mesra di atas ranjang itu.
Elisa mengarahkan pandanga kepada Syahnaz. Seorang wanita berpakaian pelayan yang sedikit berbeda dengan paras yang menurutnya sangat cantik, masih muda, dan tidak terlihat seperti pembantu.
"Sebenarnya aku kurang nyaman dipanggil 'Nyonya'. Kesannya aku sudah sangat tua. Bagaimana kalau kamu memanggilku dengan sebutan nama saja, apalagi kita sepertinya tidak neda jauh usianya," tukas Elisa.
"Tapi itu sebuah penghormatan bagi seseorang yang kami hormati, Nyonya Muda," balas Syahnaz.
"Sudahlah, kenapa kamu malah mengajak mereka bicara? Lebih baik kamu cepat makan," kata Jendra sembari mencubit gemas pipi kekasihnya.
__ADS_1
"Syahnaz, letakkan makanannya di meja ini!" perintah Mamita seraya menunjuk pada sebuah meja dengan roda-roda pada kakinya.
Syahnaz mengikuti peritah Mamita. Setelah makanan tersaji, keduanya lantas ijin untuk meninggalkan ruangan tersebut.