
Elisa mulai menggeliatkan tubuh. Tidurnya terusik. Ia menggerakkan tangan mencoba mencari sesuatu di atas ranjang. Matanya terbuka dan menoleh ke samping. Jendra tidak ada di sampingnya.
Jam menunjukkan tengah malam. Tidak biasanya ia terbangun saat waktu seperti itu.
"Ah, sepertinya aku lupa meminum obat tidurnya," ucap Elisa sembari memijat keningnya.
Ia memang tidak bisa tidur nyenyak tanpa mengkonsumsi obat rutin yang Adrian berikan.
Elisa turun dari ranjang mengenakan sandal selop yang disediakan hotel.
"Sayang, Sayang ...." ia berusaha memanggil sang suami.
Elisa berjalan ke arah kamar mandi, mengira suaminya ada di sana. Setelah dicek, tidak ada siapa-siapa. Ia beralih ke ruang kerja, Jendra juga tidak ada di sana.
Pintu penghubung ke arah balkon juga dalam kondisi terkunci. Ia heran kemana Jendra pergi tengah malam seperti ini. Ia akan sulit untuk tidur lagi.
"Kemana, ya? Apa dia sedang cari angin sebentar di luar?" tebaknya.
Elisa memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Koridor depan pintu kamar hotel terlihat sunyi, tak ada suara apapun di sana. Ia menaiki lift untuk turun ke bawah.
Di area lobi, masih ada beberapa orang yang terjaga. Bahkan ada tamu hotel yang baru mau check in.
"Selamat malam, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya sang resepsionis yang tengah bertugas dengan ramah.
"Ah, iya. Saya mau menanyakan tentang suami saya. Apa dia turun ke bawah atau menyampaikan pesan untukku? Kami dari kamar 201, atas nama Jendra," kata Elisa.
"Maaf, Nyonya. Sepertinya saya tidak melihat siapapun turun dari lantai atas malam ini. Apalagi saya hafal dengan suami Anda, saya tidak meliharnya," jawab sang resepsionis.
"Oh, begitu. Baiklah, terima kasih," ucap Elisa.
Kini, ia kebingungan untuk menemukan keberadaan suaminya. Ia heran kenapa Jendra meninggalkannya begitu saja ketika tidur.
"Jendra kemana, sih!" keluhnya.
Tidak menemukan sang suami di lantai bawah, ia memutuskan untuk kembali ke lantai atas. Ia berjalan dengan langkah yang lunglai melewati koridor yang sepi itu.
Saat ia hendak masuk ke dalam kamarnya, ia melirik sebuah kamar yang ada tepat di samping kamarnya. Ia sempat beberapa kali tanpa sengaja melihat Jendra keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Apa Jendra ada di kamar sebelah? Apa dia memesan dua kamar? Tapi, untuk apa?" gumamnya heran.
Ia mulai berpikir bahwa mungkin Jendra tidak bisa fokus bekerja di kamarnya sendiri sehingga menyewa kamar lainnya.
"Apa aku coba masuk saja?" tanyanya pada diri sendiri.
Elisa memberanikan diri berjalan mendekat ke arah pintu kamar sebelah. Pintu itu menggunakan kode pin untuk membukanya. Ia terlihat ragu untuk memasukkan kode yang sama dengan kamarnya.
"Apa aku coba saja, ya?" gumamnya.
Elisa mencoba memasukkan kode nomor kamarnya.
Klik!
Elisa kaget mengetahui kodenya tepat. Pintu kamar itu bisa terbuka. Ia tertegun sejenak.
Perlahan, Elisa membuka pintu kamar itu. Ia takut salah orang.
"Bagaimana? Apa enak kalau seperti ini?"
Elisa melebarkan mata saat mendengar suara yang sangat mirip dengan suaminya.
Tubuh Elisa menegang saat mendengar suara wanita yang terdengar tidak biasa. Pikirannya menjadi panik, takut ada hal buruk yang akan ia lihat.
"Oh, enak sekali. Aku bisa ketagihan kalau begini. Kamu tidak boleh cepat tidur malam ini."
"Aduh, Mas ... Kamu nakal ...."
"Ahh, enaknya ... Aku akan semakin rajin menjenguk anak kita."
Dada Elisa terasa sesak. Suara berat percakapan antara pria dan wanita disertai erangan mesra itu terdengar begitu jelas saat Elisa berdiri di depan pintu. Ada tembok sekat yang menghalangi pemansangannya sehingga ia tidak bisa melihat secara langsung perbuatan kedua insan itu.
Wajah Elisa memucat, ia berharap suara itu bukanlah suaminya. Jendra orang baik, tidak mungkin lelaki itu bermain di belakangnya. Namun, ia tidak bisa mengelak bahwa ingin sekali ia memastikannya sendiri meskipun takut akan kecewa.
Suara erangan kedua insan itu semakin terdengar keras menggambarkan situasi yang panas. Perlahan Elisa berjalan melawan ketakutannya untuk mendekati arah suara itu.
Elisa mematung. Napasnya seakan berhenti saat menyaksikan sendiri suaminya yang tengah dengan bercinta dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Syahnaz, salah seorang pelayan di rumahnya yang tengah hamil. Tubuhnya gemetaran hebat. Ia merasa hari ini adalah mimpi terburuknya.
__ADS_1
Sementara, Jendra dan Syahnaz masih melanjutkan percintaannya seperti orang yang telah lupa segalanya tanpa mengetahui kehadiran Elisa. Keduanya sampai menikmati puncak bersamaan ditandai dengan napas yang terengah-engah dan badan terkulai lemas saking puasnya.
"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Jendra kepada Syahnaz yang masih kelelahan. Wanita itu tampak menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Jendra seraya mencium bibir Syahnaz mesra.
"Ah! Elisa! Nyonya!" tiba-tiba Syahnaz panik dan menjerit saat sorot matanya menemukan sosok Elisa berdiri tak jauh dari tempatnya. Ia langsung mendorong Jendra menjauh darinya dan menutupi tubuh polosnya.
Jendra ikut terkejut melihat istrinya ada di sana, menyaksikan perbuatan terlarang yang selama ini berusaha ia tutupi. "Elisa," panggilnya lirih penuh rasa bersalah.
Elisa tampak lemas menyaksikan semuanya. Air matanya berderai dengan suara isakan yang tertahan. Ia benar-benar ingin mati menyaksikan hal memalukan semacam itu.
Ia menahan amarahnya yang telah memuncak. Ia tak bisa berkata-kata maupun melemparkan umpatannya. Elisa memilih berbalik dan hendak pergi meninggalkan kamar itu.
"Elisa!" teriak Jendra.
Dengan sigap ia melompat turun dari ranjangnya mengejar Elisa. Langkah kakinya yang cepat mampu mendahului dan berhasil menutup pintu kamar itu sebelum Elisa pergi. Ia menahan Elisa di dalam sana.
"Minggir! Aku mau keluar!" teriak Elisa memerintah. Air matanya berderai. Ia merasa kecewa dengan suaminya sendiri.
Jendra memasang wajah sendu. "Sayang," sapanya mesra sembari memegang pundak Elisa. Namun wanita itu menepis tangannya kasar.
"Jangan sentuh aku!" pinta Elisa.
Jendra kebingungan untuk berkata-kata. Ia memang mengakui telah bersalah terhadap Elisa.
"Menyingkir! Aku mau pergi!" pinta Elisa sekali lagi.
Jendra menjadi panik. Seketika ia takut Elisa akan meninggalkanya. Dengan mata berkaca-kaca, ia berlutut di hadapan istrinya.
"Sayang, maafkan aku. Aku tahu ini salah. Tapi, aku mohon dengarkan penjelasanku," katanya penuh harap.
Jendra tidak pernah mengira hari ini akan tiba. Ia selalu mengulur-ulur waktu agar Elisa mampu menerima penjelasannya tentang keberadaan Syahnaz dan calon anaknya. Ternyata, sang istri justru lebih dulu memergokinya. Bahkan saat mereka tengah melakukan hal yang tidak pantas disaksikan oleh orang lain.
"Aku rasa tidak perlu lagi aku dengarkan apapun darimu. Semuanya sudah sangat jelas, apa kamu mau berusaha menyangkalnya?" tanya Elisa dengan nada kesal.
"Kumohon, dengarkan aku, Elisa," rengek Jendra.
__ADS_1
"Berani sekali kamu memohon dengan kondisi seperti ini di hadapanku, Jendra! Kamu sangat menjijikan!" maki Elisa meluapkan kekesalannya.