
"Halo, Syahnaz, kita bertemu lagi," sapa Adrian dengan seulas senyumnya saat menjumpai Syahnaz di ruang perawatan.
"Halo, Dokter Adrian," balas Syahnaz dengan suara yang masih terdengar lemas.
Ia masih mengingat lelaki itu. Dokter Adrian pernah memeriksanya untuk mengecek kesuburan organ reproduksinya.
"Permisi, ya, saya cek tensinya dulu," kata sang perawat seraya memasang alat pengecekan tekanan darah pada lengan Syahnaz.
"Bagaimana kondisimu saat ini? Apa ada keluhan?" tanya Adrian.
"Saya merasa lemas dan sedikit pusing, Dok," jawab Syahnaz.
"Oh, itu efek yang wajar karena kamu baru saja kehilangan banyak darah. Tapi, jangan khawatir, setelah beristirahat beberapa hari, kondisimu akan segera pulih seperti sebelumnya," kata Adrian dengan nada ramah dan tak lupa senyumannya.
Syahnaz mengerutkan dahi. "Saya tidak bisa langsung pulang, Dok?" tanyanya heran. Ia kira hanya merasa lemas saja sampai ia pingsan.
Adrian menggeleng. "Kamu perlu istirahat beberapa hari di sini sampai kondisimu pulih kembali. Apalagi kondisimu saat ini tengah hamil dan baru saja mengalami pendarahan," nasihatnya.
"Apa? Saya hamil, Dok?" Syahnaz terkejut mendengar hal yang terjadi pada dirinya.
"Wah, Dok, Ibu Syahnaz ternyata belum tahu kalau dia sedang hamil," sahut si perawat yang tengah ikut memeriksa kondisi Syahnaz di sana.
"Iya, Syahnaz, kamu sedang hamil. Selamat, ya," ucap Adrian.
Syahnaz tidak tahu harus bagaimana. Satu sisi ia bahagia dengan kehamilan itu, di sisi lain ia merasa sedih membayangkan nasib bayinya kelak. Tapi, salahnya juga berhenti mengkonsumsi obat yang Jendra berikan.
"Ke depannya, tolong kamu jaga kesehatan dan asupan makanan, juga pastikan untuk cukup istirahat. Karena sekarang, kamu tidak sendirian lagi, ada calon bayi yang akan terus tumbuh dalam rahimmu," nasihat Dokter Adrian.
"Iya, Dok. Terima kasih nasihatnya," jawab Syahnaz dengan nada lemas.
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Jendra, Elisa, dan Ida masuk ke dalam. Syahnaz sama sekali tidak berani untuk menatap Jendra.
__ADS_1
"Adrian, jadi bagaimana dengan Syahnaz?" tanya Elisa.
"Dia sudah baik-baik saja. Namun, perlu beberapa hari rawat inap di sini," kata Adrian.
"Semuanya aman, kan?" tanya Elisa memastikan.
"Iya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Bayinya juga sangat sehat di dalam kandungannya. Kalau begitu, aku mau kembali ke ruangan dulu. Silakan kalau kalian masih ingin bicara dengan Syahnaz," ucap Adrian.
Ia pamit dari sana bersama asisten perawatnya. Ia sempat bertatapan mata dengan Jendra untuk mengingatkan kata-katanya.
"Syahnaz, kalau kamu kurang enak badan, seharusnya bilang. Kamu tidak harus ikut bersama kami, apalagi kamu sedang hamil," kata Elisa dengan raut wajah khawatirnya.
"Iya, Nyonya. Maaf, saya sudah merepotkan banyak orang," kata Syahnaz. Ia juga tidak berani menatap mata Elisa.
"Jangan bilang seperti itu, kita semua di sini menghawatirkanmu," ucap Elisa.
Selama beberapa saat mereka mengobrol membahas seputar kondisi Syahnaz. Lalu, Jendra mengajak Elisa untuk pulang dan membiarkan Isa tetap di sana untuk menemani Syahnaz.
"Keadaannya sudah seperti ini, Naz. Apa yang mau kamu lakukan?" tanya Ida.
"Aku juga belum tahu, Da. Semua terserah kepada Tuan Jendra saja," kata Syahnaz pasrah.
Ia memang awalnya sangat ingin segera hamil agar perjanjian antara dirinya dan Jendra segera berhasil. Namun, kini kondisinya sudah berbeda. Ada Elisa yang belum tahu nantinya bisa menerima keberadaan anaknya atau tidak. Apalagi selama Elisa koma, Syahnaz telah melakukan hubungan terlarang dengan Jendra.
"Bagaimana kalau kelak anak itu ditolak di keluarga itu, Naz?" tanya Ida.
"Kalau nanti Tuan Jendra juga tidak menginginkannya, aku akan membawanya pergi dan membesarkannya sendiri."
Syahnaz memegangi perutnya yang masih kempes. Setelah tahu dirinya hamil, ada rasa bahagia mengetahui di sana ada bayi yang sedang tumbuh.
"Kamu yakin? Membesarkan anak sendiri aku rasa bukan suatu hal yang mudah, Syahnaz. Lalu, bagaimana kamu akan menceritakannya kepada ibumu?"
__ADS_1
Ucapan Ida membuat Syahnaz kembali ragu. Ibunya memang tidak tahu apa-apa dan berharap tidak akan pernah tahu tentang hal itu.
***
"Apa? Kamu mau memecatku?"
Aditya terkejut mendengar perkataan Jarwiz yang tiba-tiba ingin membuatnya berhenti dari pekerjaan. Setelah banyak hal ia lakukan untuk perusahaan, ia hendak dibuang begitu saja oleh temannya. Bahkan menurutnya, perusahaan milik Jarwis menjadi semakin maju karena dirinya.
Selain sebagai penyumbang ide, ia mendedikasikan waktu, tenaga, dan materi untuk memajukan perusahaan. Ide yang ia bawa dari perusahaan sebelumnya ternyata berhasil di perusahaan barunya. Ia juga mati-matian mencari uang termasuk dengan menceraikan Syahnaz demi mendapatkan 10 milyar.
Setelah semua usaha yang dilakukan, tentu saja ia marah ketika Jarwis memintanya mundur dari jabatan sebagai CEO perusahaan.
"Banyak pemegang saham yang tidak setuju dengan kepemimpinanmu, Aditya," kilah Jarwis.
"Hahaha ... Benarkah? Apa itu bukan sekedar alasan? Jangan-jangan kamu sendiri yang memang iri denganku. Kamu ingin merebut posisiku, kan?" tebak Aditya.
Jarwis menghela napas. "Sepertinya tidak akan ada perusahaan yang mau mempertahankan orang yang hobi bermain judi online untuk memimpin perusahaan kedepannya."
Aditya tersenyum sinis kepada Jarwis. "Apa hubungannya dengan pekerjaanku? Selama ini aku bisa bekerja sangat baik dan meningkatkan nilai investasi perusahaan. Jangan bawa-bawa masalah pribadi terhadap pekerjaan, aku bisa menempatkan diriku!" tegasnya.
Aditya memang sangat gemar bermain judi slot secara online. Ia sudah bisa dikatakan dalam tingkat kecanduan. Tiada hari tanpa ia lewati dengan bertaruh. Ia berharap bisa menjadi orang kaya secara instan dengan berjudi. Namun, tentu saja ia tetap bertanggung jawab pada pekerjaannya.
"Mereka khawatir kamu akan menyelewengkan uang perusahaan untuk melakukan hobimu itu," kata Jarwiz.
"Aku orang yang punya batasan. Aku tahu apa yang harus aku lakukan dan tidak boleh aku lakukan," kilah Aditya.
"Tapi, tetap saja mereka ingin kamu mundur. Jadi, aku sarankan kamu mundur saja secara sukarela daripada diberhentikan paksa dalam rapat pemegang saham. Itu tidak menguntungkan untukmu. Kalau kamu mengundurkan diri, setidaknya portopolio milikmu masih bagus. Nanti kamu bisa merenungkan diri untuk berhenti dari kebiasaan burukmu itu lalu carilah pekerjaan lain," usul Jarwis bijak.
Aditya terkekeh dengan saran yang Jarwis berikan. "Apa kamu bermaksud ingin membuangku? Setelah semua yang aku lakukan, kamu mau menyingkirkan aku yang hanya sebagai batu loncatanmu?"
"Aku tidak begitu," kilah Jarwis.
__ADS_1
"Jangan mengelak! Kamu memang orang yang licik!" Aditya menatap penuh kemarahan kepada Jarwis.
"Oke, akan aku pertimbangkan untuk mengundurkan diri dengan alasan yang sama sekali tidak masuk akal. Tapi, aku jamin perusahaanmu tidak akan bertahan lama tanpa aku!" ancam Aditya.