
Jendra menghentikan mobilnya tepat di depan rumah. Ia lantas keluar dan membukakan pintu mobil untuk Syahnaz. Bukan untuk bersikap romantis, tapi ia justru menarik paksa wanita itu agar cepat keluar dari mobilnya.
Ia menggandeng erat-erat tangan Syahnaz sembari membawanya berjalan masuk ke dalam rumah. Sapaaan para pelayan yang berpapasan dengannya diabaikan. Ia terus membawa wanita itu berjalan dengan langkah cepat.
Sejak kejadian di hotel, Jendra tak mengucapkan sepatah katapun. Raut wajahnya yang dingin sudah cukup menjelaskan bahwa ia sedang marah. Syahnaz juga tak berani membantah.
"Ah!" pekik Syahnaz.
Secara kasar Jendra mendorong wanitanya hingga jatuh ke atas ranjang. Jiwanya masih dipenuhi amarah. Tatapannya syarat kebencian saat berhadapan dengan Syahnaz.
Ia mencengkeram leher Syahnaz dan menatapnya dengan tajam. "Apa kamu sedang mencoba untuk bermain-main denganku?" tanyanya dengan nada intimidatif.
Syahnaz berusaha menahan tangan Jendra. Lelaki itu benar-benar tidak main-main ingin mencekiknya.
"Mas, aku tidak bermaksud melakukan hal yang seperti itu. Mas Aditya yang memaksaku," kata Syahnaz berusaha membela diri.
"Jangan menyebutkan nama bajingan itu di hadapanku!" bentak Jendra. Ia semakin murka saat nama Aditya disebut.
Seketika Syahnaz mematung. Ia tidak mengira jika seorang Jendra yang biasanya bersikap lembut seperti malaikat bisa berubah seperti seorang yang kejam.
"Aku bersumpah tidak ada niatan seperti itu!"
Syahnaz mulai menitihkan air matanya. Jendra benar-benar menyeramkan. Apalagi cengkraman tangannya membuat ia semakin kesusahan bernapas.
Jendra menyeringai. Rasa dikecewakan membuatnya tak memiliki belas kasihan. "Seharusnya aku tidak mudah percaya pada pelacvr sepertimu. Kamu pasti sudah merencanakan untuk segera kembali pada suami bang satmu itu. Kalian memang cocok, lelaki licik dan wanita bodoh. Tapi, aku tidak akan semudah itu melepaskanmu. Akan aku buat hari-harimu lebih buruk selama bersamaku!" ancamnya.
Syahnaz hanya bisa menangis. Ia tak bisa lagi berkata-kata untuk membela diri. Ucapan Jendra terdengar menyakitkan.
Tok tok tok
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat Jendra terdiam.
"Jendra ... Buka pintunya sebentar!"
__ADS_1
Terdengar samar-samar suara Rania dari arah luar. Wanita itu terus menggedor pintu kamar mereka. Syahnaz merasa lebih lega mendengar kehadiran Rania.
Jendra melepaskan tangannya. Ia masih menatap Syahnaz dengan kebencian. Ia berbalik badan dan berjalan menuju ke arah pintu.
"Jendra ... Buka pintunya! Kamu kenapa!"
Suara Rania masih terdengar. Wanita itu pasti curiga karena Jendra masuk ke dalam rumah dengan raut wajah kesal. Apalagi ia membawa Syahnaz dengan kasar.
Jendra menghela napas. Ia melepaskan dengan kasar jas yang dikenakannya lalu melemparkan sembarang. Ia juga melepaskan kemeja dan celana menyisakan boxer.
"Jendra ... Buka ...."
Akhirnya, Jendra membuka pintu itu untuk ibunya. Ia dengan santai menghadapi Rania yang tertegun di depan pintu kamar melihat penampilannya.
Rania terdiam melihat anaknya setengah tel anjang. Ia yang awalnya khawatir menjadi malu sendiri.
"Ada apa, Ma?" tanya Jendra yang berpura-pura bersikap tenang dan tidak ada masalah apa-apa.
"Ah, tidak. Itu ... Syahnaz dimana? Mama mau bicara sebentar," kilah Rania untuk menepis rasa malunya.
"Ah, begitu, ya ... Mama tidak tahu kalau kalian ingin bersenang-senang. Tadi pelayan bilang kalau kalian sedang bertengkar jadi Mama khawatir," ujar Rania.
Jendra tertawa. "Mungkin pelayan salah lihat, Ma. Aku sengaja cepat-cepat mau masuk kamar karena mau melakukan sesuatu. Mama nggak perlu tahu kan, kita mau ngapain," ucapnya.
Mendengar hal itu, Rania bertambah malu. Putranya benar-benar terbuka tentang masalah seperti itu.
"Oh, begitu, ya ... Sepertinya Mama malah mengganggu kalian. Ya sudah, lanjutkan saja, Mama juga mau tidur," pamit Rania sembari menahan rasa kikuknya.
Setelah Rania pergi, Jendra lantas mengunci kembali pintu itu. Wajahnya kembali masam. Ia berbalik badan memandang ke arah ranjang.
Syahnaz masih terduduk di sana. Ia melangkahkan kaki mendekat, membuat keresahan wanita itu kembali meningkat.
"Jangan kamu kira urusan kita sudah selesai hanya karena Mama," tegas Jendra.
__ADS_1
"Kami bertemu tidak sengaja saat di pesta, Mas. Percayalah." Syahnaz masih mencoba menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi.
"Kamu kira aku sebodoh itu untuk percaya padamu? Mana ada orang kebetulan bertemu tapi sampai sama-sama telan jang di kamar hotel?"
Mengingat kembali kejadian itu masih menorehkan kekesalan di hati Jendra. Bahkan ia sangat ingin membunuh Aditya yang sudah berani menyentuh wanitanya. Ia tidak peduli apa hubungan mereka. Ia merasa sudah membayarnya dan berhak memiliki Syahnaz selama perjanjian itu belum berakhir. Dan tidak ada satupun orang yang boleh menyentuh miliknya.
"Aku sudah berusaha menolak, tapi dia memaksaku masuk ke kamar hotel itu."
Syahnaz menundukkan pandangannya. Ia tak berani menatap mata penuh amarah di hadapannya.
"Lepas pakaianmu!" perintah Jendra dengan nada yang tegas.
Syahnaz mengangkat kepalanya, memastikan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku bilang lepas. Kamu tidak mau?" tanya Jendra dengan nada yang ketus.
Buru-buru Syahnaz membuka pakaian yang dikenakannya. Setelah gaun merah itu terlepas, Jendra tetap memandanginya seolah menginginkan ia untuk melepaskan semuanya. Akhirnya ia menuruti juga hingga semua terlepas tanpa tersisa.
"Turun!" perintah Jendra.
Syahnaz kembali menurut. Sembari menahan malu, ia turun perlahan dari atas ranjang dan berdiri tepat di hadapan lelaki itu.
Jendra memandanginya dengan tajam. Ia singkirkan tangan Syahnaz yang berusaha menutupi tubuhnya sendiri. Ia ingin melihat semuanya, melihat apa yang seharusnya jadi miliknya. Ia tak ingin orang lain meninggalkan jejak apapun di tubuh itu.
Setelah membolak-balikkan tubuh Syahnaz, Jendra tak menemukan bekas apapun di sana. Ia merasa sedikit lega.
Namun, ketika mengingat kembali ada lelaki lain yang juga sudah melihat tubuh indah wanitanya, rasa kesal itu kembali muncul.
"Mulai besok kamu ikut bekerja seperti pelayan di rumah ini. Aku juga akan memindahkan kamarmu ke gudang. Menyebalkan rasanya tidur satu ranjang dengan wanita bodoh yang tidak tahu diri sepertimu!" ucap Jendra.
Syahnaz terkejut dengan ucapan Jendra barusan.
"Jangan berharap Mama akan membelamu. Besok dia akan pergi ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama. Jadi, selama itu juga aku akan membuatmu menderita. Malam ini, nikmati saja tidur di kamar ini dengan nyaman. Besok kamu aman tidur di kamar yang penuh dengan tikus!" sambung Jendra.
__ADS_1
Lelaki itu pergi begitu saja dari kamar itu setelah mengambil kimono tidurnya. Sementara Syahnaz hanya bisa menangis sesenggukkan karena tertekan. Setelah disuruh telan jang, ia dipermalukan seperti wanita yang tidak ada harganya. Jendra tak mau mendengarkan alasannya barang sedikit saja.