
"Akhirnya Elisa sembuh, Honey. Aku nggak sabar buat bertemu dia," ucap Liana antusias.
Selama perjalanan, ia terus memeluk buket bunga yang ingin diberikan kepada sahabat baiknya. Regi hanya tersenyum melihat kelakuan istrinya.
Seperti biasa, sebelum memasuki halaman rumah Jendra, mobil yang Regi kendarai harus melewati pemeriksaan. Setelah itu, baru gerbang dibuka dan mereka bisa masuk.
Regi menggandeng tangan istrinya memasuki rumah Jendra. Pelayan sudah menunggu di depan pintu dan memandu mereka agar menuju ke lantai atas. Keduanya menatap heran saat melihat Syahnaz masih ada di sana mengenakan pakaian pelayan.
"Honey, itu Syahnaz, kan?" tanya Liana dengan nada lirih untuk memastikan.
"Iya, Sayang. Itu memang Syahnaz. Kamu tidak usah mengurusinya, kita ke sini untuk Elisa," tegur Regi.
Sebagai sahabat Jendra, ia juga tidak tahu apa yang lelaki itu mau. Elisa sudah sembuh, namun Syahnaz masih dipertahankan di sana. Ia tidak mau ikut campur dengan keputusan Jendra.
Regi mengeratkan genggaman tangannya, membawa Liana melangkah dan berharap wanita itu mau menurut kepadanya.
Pelayan membukakan pintu kamar dan mempersilakan mereka masuk.
"Elisa ...." seru Liana saat melihat keberadaan sahabatnya.
Elisa yang mendengar suara panggilan itu menoleh. Ia mengembangkan senyuman lebar saat melihat kehadiran Liana di sana.
"Liana ...." panggilnya balik. Ia menghentikan kedua perawat yang hendak membantunya mandi karena ada temannya yang datang.
Liana berlari dan memeluk Elisa dengan perasaan bahagia dan lega. Ia hampir menangis karena terharu saking senangnya.
"Akhirnya kamu sembuh juga ... Aku kangen jalan-jalan sama kamu," tutur Liana dengan nada sedikit manja.
Elisa kembali tersenyum. "Aku juga sama. Tidak disangka cukup lama sudah kita tidak pergi berdua."
"Ini untukmu!"
Liana menyerahkan buket bunga mawar merah yang dibawanya. Elisa menerima dan lantas mencium aroma bunga kesukaannya. Ia memberikan bunga itu kepada salah satu perawat agar meletakkannya di atas meja.
"Terima kasih, Liana. Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot. Padahal aku yang sudah merepotkanmu untuk datang," ujar Elisa.
"Tidak apa. Aku sangat senang melihatmu sembuh," ucap Liana. Ia sangat girang saat Elisa sendiri yang menghubunginya, mengatakan ingin bertemu dengannya. Ia akhirnya bisa percaya bahwa keajaiban itu benar-benar ada.
__ADS_1
"Oh, kalian sudah datang," sapa Jendra yang baru keluar dari arah kamar mandi. Ia menyapa kehadiran Liana dan Regi.
"Habis ngapain di dalam?" tanya Regi heran.
"Bantu menyiapkan air mandi untuk Elisa," jawab Jendra.
Regi tercengang dan ingin tertawa. Seorang Jendra mau menyiapkan air mandi untuk istrinya. Biasanya lelaki itu sukanya menyuruh-nyuruh seperti seorang raja.
Jendra menoleh ke arah Elisa yang masih berpelukan dengan Liana. "Sayang, kamu mandi dulu, ya! Nanti airnya keburu dingin," pintanya dengan nada lembut.
Elisa mengangguk. "Aku mau mandi dulu," pamitnya pada Liana.
"Iya, aku tunggu di sini," kata Liana.
Dua perawat itu membantu Elisa berjalan. Meskipun kondisinya sudah semakin membaik, keseimbangan Elisa belum begitu baik. Ia belum bisa berjalan dengan normal tanpa bantuan orang lain. Menurut dokter, itu merupakan efek yang dirasakan akibat tiga tahun berbaring, sehingga masih butuh penyesuaian.
"Kalian duduklah!" kata Jendra mempersilahkan.
Liana dan Regi lantas duduk di sofa yang ada di ruangan kamar tersebut.
"Tumben mau menyiapkan air mandi. Pasti ini pertama dalam hidupmu, ya?" sindir Regi.
"Wajar, kan. Jendra pasti sangat bahagia sekarang Elisa sudah sembuh, Sayang," kata Liana.
"Tuh, dengarkan istrimu!" kata Jendra seraya tersenyum merasa ada yang membelanya.
"Tapi, kenapa kamu biarkan dia masih ada di sini? Elisa sudah sembuh loh, Jendra!" tegas Liana.
Senyuman Jendra kembali pudar dengan ucapan Liana.
"Sayang, sudah aku bilang jangan bahas itu," kata Regi mengingatkan. Apalagi melihat ekspresi wajah Jendra yang terlihat tidak senang. Ia tidak ingin melihat istri dan sahabatnya kembali bertengkar.
"Aku tidak bisa tinggal diam sekarang, Sayang! Kamu lihat sendiri kan, Elisa sudah pulih, dia kelihatan bahagia karena merasa tidak terjadi apa-apa selama dia koma. Kalau tahu apa yang suaminya lakukan selama koma, aku yakin Elisa akan lebih memilih untuk tidak akan bangun selamanya!" sindir Liana.
Sebagai seorang sahabat, ia tidak terima jika Elisa diduakan oleh Jendra.
"Sori, Jendra. Aku sudah briefing istriku dari rumah, tapi ya begitu ... Dia tidak bisa menyembunyikan isi hatinya," kata Regi angkat tangan. "Kamu tahu Liana seperti apa. Kalau aku sih tidak mau ikut campur urusanmu."
__ADS_1
"Maumu bagaimana, Liana? Syahnaz sekarang hanya pembantu di rumah ini. Nyonya rumah dan istriku sejak dulu hanya Elisa," kata Jendra membela diri.
Liana tertawa dengan pembelaan yang Jendra katakan. "Yakin cuma pembantu? Aku yakin kalau lagi napsu juga dipanggil ke kamar," sindirnya.
Wajah Jendra merah padam mendengar sindiran Liana.
Tok tok tok
"Permisi, saya ingin mengantarkan minuman."
Pintu kamar di ketuk, Syahnaz membukanya dan meminta ijin untuk masuk. Ia membawa nampan berisi minuman dan jamuan atas perintah Mamita.
Kedatangannya membuat suasana hening sesaat. Situasi menjadi terasa canggung. Syahnaz memberanikan diri mendekat dan menyajikan jamuan di hadapan mereka. Tampak Liana terus memandanginya dengan tajam.
"Syahnaz," panggil Liana.
"Iya, Nyonya. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Syahnaz dengan nada sopan.
Liana tidak percaya, ia terkekeh mendengar cara Syahnaz berbicara dengannya. "Sepertinya kamu sangat menjiwai peranmu sebagai pembantu," ucapnya secara terang-terangan.
Regi menggaruk-garuk kepalanya. Ia tidak tahu lagi harus melakukan apa kepada istrinya yang tidak bisa menyembunyikan perasaan.
Syahnaz hanya menunduk.
"Aku harap kamu tidak mengganggu rumah tangga orang lain. Sekarang Elisa sudah pulih, tugasmu berpura-pura jadi istri sudah selesai. Kalau mau jadi pembantu, jangan sembarangan ngangkang lagi dan menggoda suami orang," kata Liana dengan nada ketusnya.
Ucapan Liana benar-benar menyakitkan saat Syahnaz mendengarnya.
"Cukup, Liana! Jangan ganggu dia!" pinta Jendra dengan tegas.
"Awas kalau nanti kamu membuat Elisa sedih!" ancam Liana.
"Sayang, sudah ...." Regi turut mengingatkan istrinya.
"Kamu, kembali saja ke bawah sekarang!" perintah Jendra. Ia tidak setega itu membiarkan Syahnaz mendengar ucapan tajam Liana.
"Baik, saya permisi dulu."
__ADS_1
Syahnaz berbalik badan dan buru-buru pergi dari ruangan itu. Setelah keluar dari kamar, ia meringkuk di dekat tangga sembari menangis. Ia merasakan hidupnya yang terasa begitu sulit, bahkan bukan karena kehendaknya sendiri. Semua orang seakan hanya bisa menuntutnya tanpa mau tahu perasaannya.
Namun, ia tak mau berlama-lama menangis dan sedih. Dengan sisa-sisa ketegaran yang ada, ia mengusap air mata. Sekalipun ia menangis sampai membentuk lautan baru, takdir juga tidak akan berubah. Ia tetap harus bertahan dan tegar menjalani takdirnya.