
"Kenapa wajahmu cemberut begitu? Aku sengaja mengosongkan waktu untuk bisa liburan denganmu," kata Jendra.
Selama satu minggu ini, Jendra menyerahkan urusan perusahaan kepada asistennya. Ia berencana mengajak istrinya jalan-jalan.
Sejak hasil pemeriksaan yang disampaikan oleh Adrian, Elisa terlihat seperti tidak bersemangat menjalani hari-harinya. Jendra sebisa mungkin menghibur dan mengatakan semua akan baik-baik saja. Akan tetapi, Elisa memiliki keresahan yang berbeda.
Elisa tersenyum getir. Meskipun sangat ingin menunjukkan sisi cerianya di depan Jendra, namun tidak bisa dipungkiri kenyataan pahit itu begitu mengganggu pikirannya.
"Bagaimana kalau ternyata aku tidak akan pernah bisa hamil, ya, Sayang?" tanya Elisa dengan raut wajah murungnya.
Jendra turut merasakan kesedihan itu. Ia menarik Elisa ke dalam pelukannya. "Apa kamu lupa, kenapa kita bisa bersama? Kenapa kita akhirnya menikah? Dan kenapa aku sangat mencintaimu sampai detik ini? Itu semua karena aku ingin hidup bersamamu, terlepas dari segala apapun yang terjadi, aku ingin kita tetap bersama," ucapnya.
"Tapi, aku tidak bisa menjadi wanita yang sempurna."
Elisa berkata dengan nada bicara yang berat. Matanya berkaca-kaca menunjukkan kesedihannya.
Jendra mengusap lembut rambut wanita itu. "Kita menjadi sempurna karena bersama. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku masih tetap mencintaimu seperti dulu."
Perasaan Elisa menjadi lebih tenang. Ia akhirnya mau pergi liburan bersama Jendra. Mereka hendak pergi ke area pegunungan yang ada di luar kota. Beberapa koper sudah dipersiapkan, dimasukkan oleh para bodyguard ke dalam bagasi mobil.
Sepanjang perjalanan, Jendra dan Elisa saling berpelukan sembari menikmati pemandangan dari jalur yang mereka lewati.
"Apa kamu masih ingat, dulu kita sering sekali berkemah di alam bebas. Rasanya kangen masa-masa itu," kata Jendra membuka pembicaraan.
Ucapan Jendra membuat Elisa mengenang kembali kenangan lama mereka. Masa-masa yang penuh dengan kebahagiaan saat masih muda tersimpan baik dalam memorinya.
Mereka sudah mengenal sejak jaman kuliah. Jendra merupakan senior di kampusnya. Klub memanah menjadi awal mula perkenalan mereka.
__ADS_1
"Tempat yang akan kita datangi nanti ada area berkuda dan memanah. Kamu pasti akan suka," ucap Jendra dengan yakin.
Untuk mempersiapkan liburan kali ini, Jendra sudah sangat memikirkannya. Ia benar-benar ingin membuat Elisa merasa bahagia dan berharga bagi dirinya.
"Terima kasih, ya. Kamu sudah menyiapkan semua ini. Pasti sangat merepotkan," kata Elisa senang.
"Kenapa harus berterima kasih? Ini adalah kewajibanku kepadamu, Sayang." Jendra mengecup kening Elisa dengan mesra.
"Selama aku koma, kamu sudah kerepotan merawatku. Setelah aku sembuh, aku masih saja merepotkanmu," ucap Elisa menyesal.
"Sstt! Kamu tidak boleh bicara seperti itu!" cegah Jendra. "Melihatmu bisa kembali sembuh seperti ini saja sudah membuatku bahagia, Elisa. Hentikan semua pikiran burukmu. Aku tetap akan berada di sisimu," katanya meyakinkan.
"Aku tahu, Sayang. Aku tidak pernah meragukan cintamu. Tapi, pasangan yang telah menikah dan tak kunjung punya anak pasti akan mendatangkan masalah di masa depan. Apalagi kamu seorang anak tunggal yang menjadi harapan bagi keluarga besar." Tiba-tiba Elisa merasa kecil hati mengingat betapa kayanya keluarga Jendra.
Ketika memutuskan untuk masuk dalam kehidupan keluarga Jendra, Elisa sudah merasakan sesuatu yang tidak mudah. Ia memang juga berasal dari keluarga yang cukup berada seperti Jendra, namun kedua orang tuanya telah lama meninggal. Ia tak punya lagi sandaran, apalagi keluarga saudaranya yang masih ada memilih tinggal di luar negeri.
"Aku hanya khawatir. Keberhasilannya juga tidak pasti. Bisa saja gagal," kata Elisa cemas.
Jendra tertawa kecil. "Elisa Sayang, kenapa kamu harus mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi? Semua akan baik-baik saja, percayalah kepadaku. Tidak akan ada yang membahas masalah keturunan di hadapan kita."
Elisa masih belum bisa menemukan semangatnya. Jendra mengarahkan pandangan wanita itu agar menatap dirinya.
"Sayang, kita akan berlibur kali ini. Aku ingin kita menikmatinya seperti saat masa-masa pacaran dulu. Lupakan hal itu dulu, ya, kamu bisa, kan?" pinta Jendra dengan serius.
Elisa mengangguk setuju. Keduanya kembali berpelukan mesra di dalam mobil yang masih melaju kencang melewati jalanan hutan yang berkelok-kelok.
Beberapa jam kemudian, akhirnya mereka tiba di sebuah hotel yang terletak di wilayah pegunungan. Pemandangan dari sana terlihat indah dengan suhu udara yang sejuk.
__ADS_1
Jendra membawa Elisa masuk ke dalam kamar hotel yang telah ia sewa. Kamar tersebut memiliki jendela kaca yang lebar sehingga bisa menikmati keindahan suasana hutan yang masig asri. Balkon kamar mereka tepat menghadap ke arah sungai kecil yang airnya jernih. Pepohonan rindang mengelilingi area hotel, menambah suasana yang asri.
"Bagaimana? Apa kamu suka tempat ini?" tanya Jendra sembari memeluk pinggang Elisa.
Terlihat Elisa menampakkan senyuman lebarnya. "Tempat ini sangat indah, aku sangat menyukainya," ucapnya.
Keduanya saling bertatapan. Tiba-tiba tercipta suasana romantis yang memandu mereka untuk saling mendekatkan bibir dan berpagutan mesra.
Jendra menggendong Elisa seperti seorang putri lalu membawanya masuk kembali ke dalam kamar. Mereka menuju ke arah ranjang dengan kasur yang empuk dan nyaman. Di atasnya, mereka tetap saling berciuman dan berpelukan membagi kehangatan satu sama lain.
"Elisa, aku mencintaimu," tutur Jendra seolah ia tak mau kehilangan wanitanya lagi.
***
Selama liburan, Jendra dan Elisa menghabiskan waktu untuk berkuda dan memanah. Terkadang mereka juga melakukan hiking ke bukit yang tak jauh dari hotel. Kebahagiaan terpancar dari senyum dan tawa yang mereka tunjukkan setiap hari.
Jendra merasa lega melihat kondisi Elisa semakin baik. Istrinya terlihat lebih bahagia dan melupakan permasalahan mereka sebelumnya. Mereka seperti kembali menikmati masa-masa indah saat dulu.
"Sayang, kejar aku! Siapa yang berhasil memanah tepat sasaran, dia yang menang!" tantang Elisa yang sudah bersiap duduk di atas kuda putihnya. Di punggungnya sudah tergantung tempat anak panah yang akan di gunakan. Salah satu tangannya memegangi busur panah.
"Ayo, siapa takut!" kata Jendra menerima tantangan istrinya.
Elisa lebih dulu memacu kudanya berlari mendekati papan sasaran yang akan dipanahnya. Jendra menyusul dengan kuda hitam yang ditungganginya.
Elisa melesatkan anak panahnya sembari menjaga keseimbangan tubuh di atas kuda. Lesatan pertama berhasil mengenai sasaran tepat di lingkaran merah. Ia tersenyum senang dan melanjutkan sasaran berikutnya.
Jendra tak mau kalah. Ia juga melesatkan anak panahnya dan berhasil mensejajari anak panah milik Elisa. Keduanya saling berkejaran dengan kuda masing-masing.
__ADS_1
Pada akhirnya, Elisa yang menjadi pemenang. Ia sangat senang dan bangga bisa mengalahkan suaminya sendiri. Sementara, Jendra turut tersenyum senang melihat kebahagiaan istrinya. Ia rela sedikit mengalah demi senyuman itu tetap ada di wajah Elisa.