Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Keputusan


__ADS_3

Elisa memandangi perut Syahnaz yang kini sudah besar. Di dalam sana, ada calon anak Jendra yang kelak akan lahir. Ia merasa iri karena itulah harapannya. Ia ingin mengandung darah daging Jendra. Akan tetapi, berhubungan saja mereka tidak bisa, apalagi berharap bisa mengandung.


Syahnaz seorang wanita yang cantik. Tubuhnya juga bagus, kandungannya pun subur. Tidak mungkin Jendra tidak tertarik kepada wanita seperti itu.


Meskipun merasa sakit hati, Elisa sadar diri bahwa ia tidak sempurna dan tidak bisa bersama dengan Jendra. Sebagai seorang pewaris tunggal, Jendra lebih membutuhkan istri yang berguna, tidak seperti dirinya.


"Apa kamu mencintai suamiku?" tanya Elisa tiba-tiba.


"Apa?" Syahnaz tentu saja terkejut mendengar pertanyaan itu.


"Katakan saja dengan jujur, apa selama kalian bersama, ada rasa cinta yang tumbuh di hatimu terhadapnya? Kalian bukan sekali dua kali kan tidur bersama?" cecar Elisa.


Syahnaz kembali terdiam. "Kami hanya berhubungan sesuai dengan perjanjian," kilahnya.


Elisa tertawa kecil. "Jangan memungkiri, tadi aku sempat melihat perbuatan kalian," ucapnya sembari menahan luka di hatinya.


Suasana berubah canggung, keduanya terdiam.


"Tolong, bersabarlah sebentar sampai anak ini lahir, Elisa. Aku berjanji akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan kalian. Aku akan menepati perjanjian untuk menyerahkan anak yang kelak aku lahirkan. Tolong rawat dan sayangi dia seperti anakmu sendiri," pinta Syahnaz.


"Kamu kira aku mau merawat anakmu?" tanya Elisa dengan ekspresi wajahnya yang dingin.


Syahnaz kembali terdiam. Masuk akal rasanya wanita yang sudah ia lukai mana mungkin mau merawat anak yang akan ia lahirkan.


"Apa kamu yakin bisa melepaskan anakmu?" tanya Elisa.


"Semua ibu pasti akan merasa berat berpisah dengan anaknya. Tapi, apa yang kini tengah aku jalani merupakan sebuah kesepakatan yang harus dipatuhi." Syahnaz berusaha tegar.


"Ya sudah! Keluar dari sini dan ajak Jendra ke kamarmu. Sampaikan padanya kalau aku butuh waktu untuk sendiri," pinta Elisa.


Syahnaz berjalan dengan lunglai keluar dari kamar itu. Di depan pintu sudah ada Jendra yang menunggunya.


"Bagaimana?" tanya Jendra.


"Elisa ingin waktu sendiri, Mas. Katanya dia tidak mau diganggu," jawab Syahnaz.


"Aduh!" tiba-tiba Syahnaz merasa kepalanya pusing.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" untung saja ada Jendra yang menahan tubuh Syahnaz yang hampir limbung. Dengan telaten, ia menuntun wanita itu menuju ke kamar sebelah.


Keduanya saling duduk berdampingan di atas ranjang. Mereka tidak kalah syok seperti Elisa karena kejadian hari ini.


"Apa yang selanjutnya harus kita lakukan, Mas?" tanya Syahnaz bingung.


"Kamu tidak perlu memikirkan apapun. Ini akan menjadi urusanku. Aku akan membujuknya agar tidak pergi," kata Jendra.


Syahnaz mengelus-elus perutnya. Ia merasa bayi di dalam kandungannya bergerak seolah ikut merasakan kesulitan yang dialami ibunya.


"Kenapa? Apa bayinya bergerak lagi?" tanya Jendra.


"Iya, Mas. Sekarang dia sedang menendang-nendang," jawab Syahnaz. Ia meminta tangan Jendra dan menaruh di atas perutnya.


Jendra turut senang ketika merasakan gerakan bayi itu. "Aku jadi semakin tidak sabae untuk bertemu denganmu, Sayang," katanya.


***


"Nyonya Muda, apa yang terjadi?" tanya Tomo cemas.


Secara mendadak, Elisa menghubungi Tomo yang tengah mengambil cuti kerjanya. Terpaksa bodyguard pribadi keluarga Jendra itu langsung bergegas menuju ke tempat Elisa berada. Untung saja jarak kota Tomo tidak terlalu jauh dengan tempat liburan Elisa.


"Apa semua yang aku minta sudah kamu lakukan?" tanya Elisa memastikan.


"Ah, iya, Nyonya. Sudah saya lakukan."


Tomo turut memasang wajah muramnya. Sebelum datang ke sana, ia sudah menghubungi seorang pengacara pilihan Elisa yang ditunjuk untuk mengurusi perceraian.


Awalnya ia sangat terkejut mendengar Elisa ingin meminta cerai. Saat berangkat liburan, kedua majikannya terlihat baik-baik saja.


"Apa kamu sudah menyiapkan paspor dan visa juga seperti yang aku bilang?" tanya Elisa.


Tomo mengangguk. Ia semakin penasaran dengan apa yang ingin Elisa lakukan.


"Nyonya, bolehkah saya tahu, apa yang ingin Anda lakukan? Kenapa Anda seperti ini?" Tomo akhirnya tidak tahan untuk bertanya.


Elisa hanya tersenyum pilu. "Apa kamu sudah lama tahu yang sebenarnya?" tanyanya.

__ADS_1


"Maksud Nyonya apa?" Tomo tampak tidak mengerti.


"Kamu tidak mungkin tidak tahu tentang hubungan Jendra dan Syahnaz, kan?"


Tomo tertegun. Ia tidak menyangka jika Elisa akan membahasnya. Ia terdiam tak berani bicara.


Ia tahu jika suatu saat perbuatan Jendra pasti akan ketahuan. Ia juga sudah pernah mengingatkan agar Jendra berterus terang. Ia tidak menyangka Elisa bisa mengetahuinya lebih cepat dari perkiraan.


"Kamu diam? Artinya hanya aku yang selama ini tidak tahu tentang itu. Aku yakin semua orang rumah juga menutupinya. Kalian sangat jahat!" kata Elisa. Ia kembali mengusap buliran air mata yang mengalir. Rasanya menyakitkan terkhianati oleh semua orang.


"Nyonya ... maafkan saya," kata Tomo penuh penyesalan. Bukan maksudnya untuk merahasiakan. Hanya saja, ia tidak mau menyakiti wanita itu.


"Kenapa harus minta maaf? Kamu memang bekerja untuk Jendra. Wajar kalau kamu membelanya," sindir Elisa.


"Tidak, Nyonya. Saya tidak membela siapa-siapa. Saya hanya ingin menjaga perasaan Anda. Tidak ada yang bisa saya lakukan lebih dari itu," kilah Tomo.


Elisa kembali tersenyum getir. "Kalau aku meminta bantuanmu, apa kamu mau membantuku? Tapi kamu tidak boleh mengatakan percakapan kita hari ini kepada Jendra. Apa kamu sanggup?" tanya Elisa memastikan.


Tomo tampak berpikir sejenak. "Apa yang bisa saya lakukan, Nyonya?" tanyanya.


"Antar aku ke Amerika Serikat," pinta Elisa.


Tomo melebarkan matanya. "Nyonya ...."


"Kamu pasti mengerti kan, seperti apa perasaanku sekarang mengetahui suami sendiri menjalin hubungan dengan pelayan? Apa kamu mau aku tetap tersiksa di sisi majikanmu itu?" tanya Elisa dengan tatapan seriusnya.


Tomo merasa tidak tega. Sejak awal ia juga kasihan melihat nasib Elisa. Namun, ia juga ragu untuk membantah perintah Jendra.


"Aku sudah memutuskan untuk bercerai seperti yang kamu tahu dan aku tidak akan mengubah keputusanmu. Kalau kamu memang masih menganggapku sebagai Nyonya, temani aku ke Amerika. Setelah itu, terserah jika kamu mau mau kembali pada Jendra. Fisikku belum terlalu kuat untuk melakukan perjalanan jauh. Makanya aku menghubungimu, karena kamu satu-satunya yang aku yakin mau membantuku."


Tomo masih memikirkan tentang keputusan apa yang akan diambil. Jika ia membantu Elisa kabur, ia pasti akan dimarahi oleh Jendra. Tapi, ia tidak tega jika membiarkan Elisa pergi sendirian.


"Bagaimana kalau saya menghubungi Nyonya Besar? Anda tidak boleh pergi, Nyonya," bujuk Tomo.


"Hahaha ...." Elisa tertawa. "Mama Rania tidak pernah memikirkan aku. Yang dia pedulikan hanya bagaimana cara agar anaknya bisa punya keturunan. Dan aku tidak bisa melakukannya. Di keluarga mereka, aku hanya seorang istri yang tidak berguna."


Membahas kembali tentang anak seperti menyayat kembali hatinya dengan pisau tajam. Terasa sangat menyakitkan. Air matanya tak habis-habis mengalir merapati nasibnya. Ia hanya ingin pergi meninggalkan segala kepedihannya.

__ADS_1


"Baik, Nyonya. Saya akan mengantar Anda sampai tujuan," kata Tomo yang akhirnya memberikan jawaban.


Elisa tersenyum sambil mengusap air matanya. "Terima kasih, Tomo," ucapnya.


__ADS_2