
"Kamu memang sangat menyebalkan! Dasar pembuat masalah!" gerutu Adrian.
Akhir pekan ini rencananya Dokter Adrian ingin mengambil cuti. Tanpa disangka, Jendra menghubunginya malam ini untuk datang ke rumah sakit. Ia yang sudah bersiap akan pergi liburan terpaksa harus batal.
"Namanya juga teman, sudah sewajarnya saling membantu," kata Jendra dengan santainya.
Adrian berjalan memasuki ruang perawatan Elisa. Jendra membuntuti dari belakang.
Saat di perjalanan menuju ke rumah sakit, Jendra memang sudah menghubungi Adrian untuk datang memeriksa kondisi istrinya yang mengkhawatirkan. Ia lebih percaya istrinya ditangani oleh sahabatnya sendiri dari pada dokter lain.
"Halo, Elisa. Bagaimana keadaanmu?" tanya Adrian dengan ramahnya.
Elisa tampak tersenyum. "Aku sudah baik-baik saja," ucapnya.
Sebenarnya sangat memalukan untuk menceritakan apa yang terjadi pada Elisa sampai harus masuk rumah sakit. Namun, karena yang menangani sahabat mereka sendiri, rasanya lebih melegakan.
"Ada yang ingin aku sampaikan kepada kalian berdua. Aku harap kalian siap mendengarnya," ucap Adrian.
Jendra dan Elisa saling berpandangan, seakan mereka khawatir dengan apa yang akan didengar.
"Jadi, Elisa bagaimana? Kamu bilang tidak masalah kan, melakukan hubungan setelah lebih dari tiga bulan?" tanya Jendra memastikan.
Adrian memang pernah memberi saran agar kesehatan Elisa jadi prioritas utama untuk sembuh. Saat ini Elisa sudah bisa menjalani hari-harinya dengan baik dan normal meskipun masih perlu rutin mengkonsumsi obat.
"Iya, aku tahu. Tapi, aku juga tidak mengira akan ada efek samping sampai ke situ akibat kecelakaan waktu itu," kata Adrian dengan raut wajah menyesal.
Elisa semakin panik. "Apa ini parah?" tanyanya khawatir.
Adrian mencoba tersenyum dan menenangkan Elisa. "Tidak semengerikan yang kamu bayangkan juga, Elisa. Tapi, memang ada masalah dengan dirimu," ucapnya.
"Katakan saja, sebenarnya apa yang menimpaku?" tanya Elisa pasrah.
"Kamu terkena vaginismus, Elisa," tutur Adrian.
__ADS_1
"Jangan sembarangan kamu, kita bukan pertama kali ini melakukan hal seperti itu. Dulu tidak ada masalah apa-apa," kata Jendra menyangkal. Awal pernikahan mereka juga semua baik-baik saja.
Elisa juga merasa heran dengan diagnosis yang Adrian sampaikan.
"Aku tahu, Jendra. Itu kan dulu. Kecelakaan mungkin saja sudah mengubah Elisa. Hasil CT Scan dan pemeriksaan lainnya, menduga vaginismus yang dialami juga akibat endometriosis yang diderita Elisa." Adrian berusaha memberikan penjelasan.
Jendra mengusap kasar wajahnya. Ia tidak menyangka istrinya akan mengidap penyakit semacam itu.
"Elisa juga mengatakan dia sering merasakan nyeri panggul saat datang bulan, jadi itu mendukung diagnosis dan hasil pemeriksaannya," kata Adrian.
"Adrian, apa artinya aku ini akan mandul?" tanya Elisa.
"Sayang!" Jendra langsung mendekat dan memeluk istrinya yang masih terbaring di atas ranjang. Ia tak mau Elisa bersedih.
"Tidak sejauh itu juga, Elisa. Kamu masih bisa hamil. Hanya saja mungkin memang cukup sulit," kata Adrian.
Elisa tersenyum getir. "Menderita endometriosis saja sudah membuatku sulit untuk hamil, kan? Apalagi kalau sampai tidak bisa berhubungan. Lantas bagaimana caranya aku bisa hamil?"
"Fokus kita bisa menyembuhkan vaginismus lebih dulu, Elisa. Jangan berpikir yang jauh dulu, kamu juga masih muda," nasihat Adrian.
"Memangnya siapa yang peduli dengan anak? Kita menikah memang ingin hidup bersama dan mencintai selamanya, Elisa. Jangan jadikan itu beban, hm?" Jendra berusaha menenangkan istrinya.
Elisa berusaha tersenyum meskipun jauh di lubuk hatinya, ia juga merasa kecewa.
"Jaman sekarang ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk memiliki anak, Elisa. Bisa dengan proses bayi tabung kalau memang kamu tertarik," usul Adrian.
"Kamu jangan mengatakan yang macam-macam! Elisa butuh menenangkan pikirannya. Itu menambah beban saja!" gerutu Jendra memarahi Adrian.
***
Elisa hanya dirawat selama dua hari di rumah sakit. Kondisinya sudah membaik. Namun, setelah pulang, ia kelihatan lebih banyak melamun atau termenung. Seakan ada banyak hal yang harus ia pikirkan.
Wanita mana yang bisa tenang setelah divonis mengalami vaginismus dan endometriosis secara bersamaan. Kemesraannya bersama pasangan tak bisa seleluasa dulu karena hal itu. Ia juga terancam akan sulit untuk memiliki anak.
__ADS_1
"Selamat sore, Nyonya. Kenapa Anda sendirian?"
Sapaan Syahnaz membuyarkan lamunan Elisa. Seketika ia menghela napas untuk menenangkan hatinya.
"Ah, aku tidak apa-apa. Hanya ingin bersantai sebentar saja di sini," tutur Elisa.
"Maaf, saya mengganggu. Ini waktunya memberi makan ikan-ikan di kolam ini," kata Syahnaz.
"Oh, kamu mau memberi makan ikan? Aku juga mau membantu!" seru Elisa antusias.
Syahnaz membiarkan Elisa ikut mengambil makanan ikan yang ada di keranjangnya. Mereka berdua berdiri di dekat kolam ikan dan menaburkan makanan itu ke kolam.
Tatapan Elisa berpindah ke arah perut Syahnaz yang semakin membesar. Kini, usia kandungan Syahnaz sudah memasuki akhir trimester kedua. Ia merasa iri.
"Syahnaz, bagaimana rasanya hamil? Apakah sangat menyenangkan?" tanya Elisa.
Syahnaz tampak sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. "Ah, hamil, ya ... Tentu saja ada rasa beratnya juga ada sisi menyenangkannya."
Ia mencoba menjawabnya dengan sehalus mungkin. Ia khawatir akan mrmbangkitkan luka lama di hati Elisa. Apalagi ia sudah tahu penyakit yang diidap oleh wanita itu.
"Meskipun berat, tapi setidaknya kamu bisa hamil. Dibandingkan dengan aku yang mungkin tidak akan pernah merasakannya," kata Elisa dengan nada sendu. Ia menyebarkan makanan ikan yang langsung disambar oleh ikan-ikan di kolam.
"Anda tidak boleh bicara seperti itu. Semua pasti ada penyelesaiannya." Syahnaz berusaha memberikan optimisme.
Elisa tersenyum getir.
"Syahnaz," panggilnya.
"Iya, Nyonya," sahut Elisa.
"Beberapa bulan lagi kamu akan melahirkan. Sementara, suamimu masih belum bisa mendampingi. Coba kamu usaha hubungi suamimu, masa kamu mau memutuskan semuanya sendiri?"
Syahnaz merasa kebingungan untuk menjawabnya. " Saya bukan tipe orang yang menggantungkan diri kepada orang lain. Jadi, karena suami saya memang sedang sibuk, saya akan memakluminya," katanya.
__ADS_1