Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Kepulangan Rania


__ADS_3

"Selamat datang, Nyonya Besar," sambut Mamita saat Rania baru keluar dari mobil.


"Syahnaz dimana?"


Pertanyaan itu yang pertama kali muncul ketika Rania sampai di rumah. Raut wajahnya terlihat tegang.


"Ada di kamarnya, Nyonya," jawab Mamita.


Rania tanpa menunggu lama langsung berjalan dengan langkah cepat memasuki rumah seolah tengah terburu-buru.


"Maaf, Nyonya! Dia tidak ada di kamar atas!" seru Mamita saat Rania hendak naik ke lantai dua.


Rania menghentikan langkah, ia berbalik dan memandangi Mamita.


"Kalau bukan di kamar atas, lalu dia dimana?" tanya Rania penasaran.


Mamita tampak ragu untuk menjawabnya. Rania memang belum tahu apa yang terjadi di sana, termasuk Syahnaz yang kini haruz tinggal di kamar pelayan.


"Ada di paviliun belakang, Nyonya," ucap Mamita dengan nada ragu.


"Apa?" pekik Rania tidak menyangka. "Bisa-bisanya dia ada di belakang bersama pelayan? Siapa yang sudah melakukan hal ini?"


Rania tidak terima Syahnaz ditempatkan di kamar belakang. Meskipun bukan istri Jendra, namun Syahnaz tengah mengandung keturunan yang sangat ia nanti-nantikan.


"Maaf, Nyonya, itu kemauan Tuan Jendra sendiri," jawab Mamita.


"Hah? Apa putraku sudah gila? Bisa-bisanya dia melakukan hal itu pada wanita yang akan melahirkan anaknya!" kesal Rania.


Rania memang menghabiskan waktu yang lama di luar negeri untuk membantu saudaranya yang tengah terkena musibah. Ia berencana untuk pulang ketika Syahnaz melahirkan nanti. Sayangnya, ia lebih dulu mendapatkan kabar yang kurang menyenangkan.


Orang kepercayaan Rania mengabari bahwa Elisa meminta bercerai dan Jendra tampaknya tidak bisa fokus dengan perusahaan. Ia buru-buru pulang untuk melihat kondisi rumah dan putranya. Ternyata ada banyak hal yang di luar dugaan yang terjadi.

__ADS_1


"Antar aku ke sana!" perintah Rania.


Mamita mengangguk. Ia mendampingi Rania menuju ke arah paviliun belakang. Semua pelayan yang berpapasan menunduk menyambut kepulangan Rania. Beberapa di antaranya tampak berbisik-bisik karena tidak menyangka jika wanita paruh baya itu akhirnya kembali.


Mamita mengetuk pintu kamar Syahnaz. Tak berselang lama, pintu itu terbuka memperlihatkan Syahnaz dengan perut besarnya.


"Mama!" seru Syahnaz kaget. Ia sampai tertegun, tidak menyangka dengan kedatangan Rania.


Rania secara tiba-tiba memeluk Syahnaz. Ia merasa antara senang dan sedih melihat Syahnaz kembali. Ia senang mengetahui bahwa wanita itu benar-benar tengah mengandung calon cucunya. Ia juga sedih melihat penampilan Syahnaz yang tampak lusuh dan kurang terurus. Apalagi Syahnaz harus hidup di rumah belakang yang notabene diperuntukkan bagi pelayan.


"Bagaimana kondisimu, apa kamu baik-baik saja? Keterlaluan sekali Jendra menyuruhmu tinggal di sini," protes Rania dengan nada suara yang bergetar menahan kekesalan terhadap putranya sendiri.


"Mama, aku baik-baik saja. Kapan Mama pulang?"


Syahnaz merasa senang dengan perhatian yang Rania berikan padanya. Namun, ia tidak ingin membuat permasalahan terus berlarut-larut. Ia berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Aku baru saja pulang dan buru-buru ingin melihat kondisimu. Kamu pasti sangat kesulitan menghadapi dua orang keras kepala seperti Jendra dan Elisa. Bisa-bisanya kamu tinggal di sini, Sayang!" keluh Rania yang masih tidak percaya Jendra tega membiarkan Syahnaz berada paviliun.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Aku baik-baik saja. Di sini juga nyaman," kilah Syahnaz. Sedapat mungkin ia menyembunyikan perasaannya.


"Ayo ikut Mama, aku juga ingin bertemu dengan Jendra. Apa yang sebenarnya dia mau sampai membiarkanmu seperti ini!" ajak Rania.


"Ma, tidak usah diperpanjang. Lagipula, aku tidak ada masalah tinggal di sini," kilah Syahnaz. Ia tidak mau Jendra kena marah gara-gara dirinya.


"Sudah, ayo ikut!"


Rania meraih tangan Syahnaz dan memaksanya agar ikut dengannya. Mereka kembali menuju rumah utama bersama dengan Mamita juga.


"Tuan ada di ruang kerjanya, Nyonya," ucap Mamita.


Ruang kerja berada di lantai bawah. Rania melangkahkan kaki menuju ke tempat itu dengan masih menggandeng tangan Syahnaz. Saat pintu ruangan dibuka, tampak Jendra yang tengah merokok sembari menghadapi tumpukan berkas yang memenuhi meja. Bahkan raut wajah Jendra yang biasa rapi kini tidak terawat dengan kumis dan jambang yang tumbuh memanjang.

__ADS_1


"Mama!"


Jendra terkejut melihat kehadiran ibunya. Ia langsung mematikan rokok di tangannya dan berjalan meninggalkan meja kerja menghampiri ibunya di depan pintu.


"Apa aku perlu membawamu ke rumah sakit jiwa?" tanya Rania dengan nada sinis. Ia kesal melihat kondisi putranya kembali berantakan seperti tiga tahun lalu. Jendra seperti seorang lelaki yang tidak punya semangat hidup lagi.


Jendra menunduk. "Kenapa Mama tidak mengabariku kalau mau pulang?"


"Kalau aku mengabari kepulanganku, aku tidak akan pernah tahu kalau Syahnaz tinggal di belakang selama aku pergi," sindir Rania.


Jendra terdiam. Akhirnya perbuatannya ketahuan sendiri oleh ibunya.


"Elisa memang sangat keterlaluan. Aku bahkan belum melihatnya setelah sadar dari koma. Tapi dia lebih dulu meninggalkanmu seperti ini," gumam Rania.


"Elisa tidak salah apa-apa, Ma. Jangan menyalahkannya," tepis Jendra.


"Lalu, aku yang patut disalahkan karena menuntut anak kepadamu?" Rania menimpali.


"Mama!" seru Jendra. Ia tidak ingin mendengarkan pembahasan semacam itu lagi.


"Elisa benar-benar tidak bijaksana. Kamu masih setia padanya selama tiga tahu saja seharusnya dia bisa bermurah hati. Bukan malah pergi tanpa kabar dan membuat kamu seperti ini," protes Rania.


"Ma, sudah aku bilang jangan salahkan Elisa!" Jendra tidak terima setiap kali ibunya menjelekkan wanita yang dicintainya.


"Kamu juga sama saja, Jendra! Lihat ini!" Rania menarik tangan Syahnaz membawa wanita itu ke hadapan Jendra.


"Lihat! Syahnaz sudah hamil besar, tidak lama lagi dia akan melahirkan. Apa kamu tidak ada rasa kasihan kepadanya? Kamu membiarkannya tinggal di belakang? Kamu membuat wanita yang akan melahirkan anakmu sebagai pembantu?" Rania tal berhenti bicara memprotes kelakuan anaknya.


"Dia salah apa? Bukankah dia sudah menjadi wanita penurut untukmu? Sudah kewajibanmu memperhatikan dia. Kamu sendiri kan yang membuatnya hamil?" cecar Rania.


Jendra sampai tidak ada kesempatan untuk membalas ucapan ibunya. Ia memang melupakan Syahnaz akhir-akhir ini. Pikirannya kosong akibat kepergian Elisa sampai ia kehilangan semangat hidup.

__ADS_1


"Maaf, Ma. Aku sibuk mencari kabar tentang Elisa," kata Jendra memberi alasan.


"Kalau dia pergi tanpa kabar, itu artinya dia tidak mau dicari lagi. Untuk apa kamu masih mencari-cari dia? Buktinya dia juga minta bercerai darimu. Lebih baik kamu fokus saja dengan apa yang ada di depan mata. Syahnaz lebih membutuhkan perhatianmu dibandingkan Elisa. Apa kamu tidak mau melihat anakmu terlahir dengan sehat?"


__ADS_2