Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Dari Ratu Menjadi Babu


__ADS_3

"Syahnaz, Mama pergi dulu, ya! Kamu jaga diri baik-baik di rumah. Juga jangan lupa urus Jendra dengan baik," pesan Rania sebelum pergi ke bandara.


Pagi-pagi sekali Rania membangunkannya karena wanita itu akan pergi ke luar negeri dengan penerbangan pagi. Rania juga mencari Jendra. Lelaki itu semalam tidak tidur sekamar dengan Syahnaz. Untuk mentupi permasalahan di antara mereka, Syahnaz berkilah bahwa Jendra masih mandi di kamar mandi.


Setelah dibeli oleh Jendra, semalam adalah pertama kalinya lelaki itu tidak menyentuhnya. Dua bulan berturut-turut, mereka selalu tidur bersama dan melakukan kegiatan bercinta setiap malam tanpa jeda. Bahkan sering kali Jendra mengulangnya beberapa kali seperti seekor serigala yang kelaparan.


Hanya Syahnaz yang mengantar kepergian Rania sampai halaman depan. Wanita itu akan diantar oleh sopir menuju bandara. Syahnaz melambaikan tangannya melepas kepergian Rania.


"Nona, bisa ikut saya sekarang?"


Mamita, pelayan senior di rumah itu telah berdiri tepat di belakang Syahnaz. Pelayan itu berbicara dengan nada yang sopan.


Syahnaz sudah tahu kenapa Mamita memanggilnya. Pastilah ada hubungannya dengan ancaman Jendra semalam. Ia hanya mengangguk setuju lalu berjalan mengikuti pelayan tersebut.


Mamita mengajak Syahnaz ke area belakang. Di sana ada bangunan terpisah dari rumah utama, tempat tinggal para pelayan. Mereka memandang heran saat Syahnaz berjalan melewati tempat tinggal mereka.


Tepat di bagian paling ujung belakang, Mamita mengeluarkan sebuah kunci lalu membukakan pintu ruangan tersebut untuk Syahnaz.


"Saya minta maaf, Nona. Tapi ini perintah dari Tuan Jendra agar mempersiapkan kamar ini untuk Anda tempati. Kami sudah membersihkannya sebaik mungkin, meskipun pasti sangat jauh tidak nyaman jika dibandingkan dengan kamar Anda di rumah utama," kata Mamita.


Syahnaz menyunggingkan senyum. "Iya, tidak apa-apa. Lakukan saja apa yang Pak Jendra minta," ucapnya.


Syahnaz melebarkan bukaan pintu itu hingga terlihat isi di dalamnya. Di sana sudah ada sebuah ranjang kecil dengan lemari dan meja. Juga ada kamar mandi dalam. Menurutnya, masih lebih baik dibandingkan dengan penjara.


"Barang-barang yang Anda butuhkan sudah ada di dalam, termasuk pakaian. Tuan Jendra sendiri yang memilihkannya," kata Mamita.


Syahnaz melangkahkan kakinya masuk ke dalam, disusul kemudian oleh Mamita. Ia penasaran melihat sebuah pakaian seragam pelayan yang tergeletak di atas ranjang. Ia mengambil dan memandanginya, terlihat sama seperti yang para pelayan kenakan.

__ADS_1


"Em, Tuan Jendra menyuruh Anda memakainya dan Anda disuruh ikut bekerja dengan kami." Mamita mengucapkannya dengan perasaan tak enak hati. Awal ia menyambut Syahnaz di rumah itu, Jendra menyuruhnya untuk memperlakukan wanita itu dengan baik. Akan tetapi, tiba-tiba Jendra menyuruh Syahnaz menjadi pembantu.


"Mamita tidak perlu sungkan. Aku akan melakukan apapun yang Pak Jendra minta," ucap Syahnaz. Ia tahu pelayan paruh baya itu sungkan terhadapnya.


"Baiklah kalau begitu, silakan Nona mengganti pakaian lebih dulu. Saya akan menunggu di dapur. Sebentar lagi waktunya menyiapkan sarapan untuk Tuan Jendra," kata Mamita.


Syahnaz tersenyum dan mengangguk. Mamita lantas keluar dari kamar itu.


Syahnaz lantas melepaskan pakaiannya dan mengganti dengan seragam pelayan yang telah disiapkan untuknya. Ia terlihat tegar, melakukan kemauan Jendra dengan tanpa protes. Ia rapikan rambutnya membentuk cepolan di atas kepala lalu mengikatnya dengan pita. Penampilannya sekarang sudah seperti pelayan lainnya mengenakan pakaian berwarna putih hitam itu.


Selesai bersiap-siap, ia lantas keluar kamar. Lagi-lagi ia harus melewati tempat tinggal para pelayan. Mereka memperhatikannya dengan aneh. Syahnaz terus berjalan dengan menunduk. Ia kembali melangkah menuju ke rumah utama.


Di area dapur, Mamita sudah disibukkan dengan aktivitasnya memasak. Ia dibantu oleh dua pelayan lainnya. Dengan kedatangan Syahnaz, kini mereka bekerja berempat.


"Nona, apa Anda bisa membantu saya mengiris wortel ini?" Mamita menawarkan pekerjaan kepada Syahnaz.


Syahnaz kembali tersenyum ramah. "Tidak perlu bicara formal denganku, Mamita. Panggil saja aku Syahnaz dan kita bicara biasa saja," pintanya.


Syahnaz mengambil pisau yang tergeletak di atas talenan. Ia mulai mengiris wortel menjadi bentuk bulat sesuai instruksi Mamita.


Memasak bukanlah hal yang sangat sulit untuk Syahnaz. Di rumah, ia sudah biasa membantu ibunya memasak. Hanya sejak bersama Jendra ia tidak lagi bisa melakukan kebiasaannya. Ia dijadikan ratu oleh Jendra selama di rumah itu. Namun, jabatan ratu rasanya sekarang sudah berakhir. Ia kini hanyalah upik abu.


Mamita memberikan pujian kepada Syahnaz yang bisa bekerja dengan cekatan. Ia tidak menyangka jika wanita yang dibawa Tuannya itu pandai memasak.


"Syahnaz, tolong bantu bawakan masakan ini ke meja makan dan tata dengan rapi," pinta Mamita.


"Baiklah," jawab Syahnaz.

__ADS_1


Ia mengambil piring berisi lauk yang sudah selesai dimasak untuk diletakkan di atas meja makan.


Biasanya ia hanya menyantap makanan di sana. Kali ini, ia yang menyiapkan sarapan itu bersama pelayan yang lain.


Saat Syahnaz sibuk menata makanan, Jendra turun dari lantai atas sudah rapi mengenakan pakaian kerjanya. Mata mereka sempat bertemu, namun Jendra menatapnya dengan sinis.


Syahnaz menundukkan wajahnya dan menyingkir dari area ruang makan.


Seperti yang dilakukan pelayan lainnya, ia ikut berdiri sementara Jendra duduk kursinya menghadapi hidangan lezat yang baru saja selesai dimasak. Mamita membantu Jendra mengambilkan sarapan ke dalam piringnya.


"Sudah, Cukup," kata Jendra memberi isyarat agar Mamita tidak lagi menambahkan makanan di piringnya.


Jendra menikmati sarapannya dengan tenang, terlihat ia mengunyahnya dengan santai.


"Tumben masakanmu hari ini lebih terasa bumbunya, Mamita. Biasanya masakanmu sedikit hambar," ujar Jendra.


"Ah, benarkah demikian, Tuan? Mungkin karena Nona ... Ah! Maksud saya, Syahnaz banyak membantu membuat sarapan untuk pagi ini," kata Mamita.


Jendra sedikit terganggu mendengar pujian yang diberikan kepada wanita yang dibencinya. Namun, ia akui bahwa masakannya memang enak, lebih enak dari buatan Mamita yang biasa ia santap setiap hari.


"Mamita, jangan lupa nanti cek kondisi Elisa. Jangan lupa juga untuk memandikannya dan mengganti pakaiannya. Perawat yang biasanya minta ijin katanya baru bisa kembali besok," pinta Jendra.


"Baik, Tuan. Akan saya lakukan nanti."


Jendra kembali menikmati sarapannya. Meskipun masih kesal dengan Syahnaz, makanan seenak itu tidak bisa ia abaikan. Ia benar-benar menikmatinya.


Sesekali ia melirik ke arah para pelayan, memperhatikan Syahnaz yang masih terlihat cantik walaupun mengenakan pakaian pelayan itu.

__ADS_1


"Ah, sial!" umpatnya lirih.


Semalam, ia tidur di ruang kerjanya. Tapi, ia sama sekali tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya resah. Ia sudah terbiasa tidur dengan seseorang yang dipeluknya. Namun, ia sendiri yang menginginkan untuk tidak tidur bersama wanita itu. Akhirnya, ia hanya bisa tidur selama beberapa jam saja.


__ADS_2