
"Tuan Jendra! Lepaskan aku!" teriak Syahnaz. Ia terus berusaha untuk melawan agar bisa turun dari gendongan lelaki itu. Ia masih belum tuntas menyelesaikan masalahnya dengan Aditya.
Aditya hendak mendekat, namun dihalangi oleh kedua bodyguard Jendra.
"Syahnaz, hati-hati dengan lelaki itu! Dia sangat licik! Tanpa kamu harus menggugat cerai, sebenarnya kita juga sudah bercerai. Kamu tahu siapa yang mengurusnya? Itu perbuatan lelaki itu. Dia diam-diam sudah memaksaku untuk menceraikanmu!" ucap Aditya dengan nada setengah berteriak.
Syahnaz terkejut mendengar perkataan Aditya. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya Jendra inginkan darinya.
"Lepas! Lepas!"
Syahnaz kembali memukuli punggung Jendra agar mau menurunkannya. Namun, lelaki itu tak menggubris sama sekali. Orang-orang menatap penasaran saat mereka lewat. Keduanya menjadi pusat perhatian.
Sesampainya di tempat parkiran, Jendra memasukkan paksa Syahnaz ke dalam mobil. Ia turut masuk lalu menyuruh bodyguardnya untuk langsung melajukan mobilnya.
Syahnaz terlihat sangat emosi. Satu lelaki baru saja membuatnya murka, kini bertambah lagi lelaki lain yang tidak kalah membuatnya marah dan kecewa.
"Harus berapa kali aku mengingatkan kalau kamu tidak boleh menemuinya?" tanya Jendra.
Lelaki itu juga memasang wajah muram. Ia kesal karena Syahnaz pergi tanpa pamit. Seharian ia kebingungan mencari keberadaan wanita itu di mall bersama kedua bodyguardnya. Ia sampai harus mengeluarkan banyak uang untuk mengecek CCTV.
Ia tidak menyangka akan menemukan wanita itu di klab malam sedang menemui Aditya, lelaki yang sangat tidak ingin ditemuinya.
"Memangnya kamu akan mengijinkan jika aku pamit?" tanya Syahnaz.
"Tidak!" Jendra menjawabnya dengan tegas.
Syahnaz tidak tahu lagi harus berkata apa tentang lelaki itu. Ia mengalihkan pandangan ke arah kaca jendela memperhatikan lalu lalang kendaraan di malam hari.
"Apa benar ucapan Aditya tadi?" tanya Syahnaz.
"Benar."
Syahnaz menoleh ke arah Jendra dengan tatapan bencinya. Dadanya terasa sesak menahan amarah yang ingin diluapkan. Ia menjadi janda tanpa tahu kalau dirinya sudah janda dan itu adalah perbuatan Jendra.
"Apa maumu sebenarnya? Kenapa kamu melakukannya?" tanya Syahnaz.
__ADS_1
Kebenciannya terhadap lelaki itu semakin bertambah.
"Karena kamu bodoh! Sudah tahu dia orang seperti itu dan kamu masih mengharapkannya?"
Jendra turut kesal. Kedua mata mereka saling beradu seakan sama-sama ingin berperang.
"Itu bukan urusanmu. Kamu tidak berhak ikut campur!" tukas Syahnaz.
Jendra sampai ingin tertawa. "Seharusnya kamu berterima kasih, aku sudah membantumu lepas dari lelaki seperti dia. Kamu tahu berapa yang harus aku habiskan untuk membebaskanmu? Dia minta 10 milyar demi surat perceraian itu."
Jendra berbicara dengan tatapan sungguh-sunggu sampai membuat Syahnaz tertegun.
"Banyak bukan jumlahnya? Padahal di perjanjian aku hanya akan membayarmu 3 milyar setelah melahirkan anakku."
Syahnaz terdiam. Ia menurunkan pandangannya. Ia tidak habis pikir jika Aditya masih saja memanfaatkan dirinya.
Mobil terus melaju melewati jalanan yang cukup padat dengan kendaraan. Selah satu jam, akhirnya mereka sampai di pelataran rumah.
Jendra keluar lebih dulu dari dalam mobil sementara Syahnaz membuntutinya dari belakang. Ia pergi sejak siang dan kembali saat telah malam.
Ia membatalkan niatnya memenuhi kemauan Jendra. Ia kembali membuntuti lelaki itu sampai ke dalam kamar.
Jendra menariknya ke arah kamar mandi. Dengan cekatan ia membantu melepaskan pakaian yang seharian Syahnaz kenakan lalu menyuruh wanita itu berdiri di bawah guyuran air shower.
"Tubuhmu harus dibersihkan dari kotoran," ucap Jendra.
Ia sendiri turut melepaskan pakaiannya dan bergabung dengan Syahnaz di bawah kucuran Shower. Ia sangat menikmati kehangatan saat tubuh mereka saling bersentuhan ketika berpelukan.
Amarahnya yang sempat menggebu-gebu seakan luruh setelah merengkuhnya. Awalnya ia ingin bersikap kasar kepada wanita yang telah berani kabur darinya. Namun, melihat kesedihan di wajahnya, ia menjadi tidak tega.
Sementara, Shahnaz hanya terdiam tak menolak apa yang lelaki itu lakukan kepadanya.
"Sudahlah, berhenti memikirkannya. Kamu tinggal bersikap manis di sampingku dan aku akan memenuhi semua keinginanmu. Kamu akan bahagia jika menurut padaku," kata Jendra sembari mengeratkan pelukannya.
Jendra memang membelai tubuhnya dengan lembut. Lelaki itu melakukannya dengan penuh perhatian. Akan tetapi, Syahnaz sudah terlanjur menganggap semua yang dilakukan lelaki itu sekedar untuk menyalurkan na fsu.
__ADS_1
Masih ia ingat ucapan Jendra yang tak sengaja ia dengar. Lelaki itu hanya ingin memiliki tubuhnya lebih lama sampai tidak mengijinkannya hamil. Kali ini, ia tidak akan menyerah. Ia biarkan benih lelaki itu masuk ke dalam dirinya. Ia yakin satu dari sekian juta yang selalu masuk ke dalamnya, akan menjadi seorang bayi kelak.
Syahnaz bertingkah sebagai seorang wanita yang patuh. Apa yang lelaki itu inginkan, ia turuti demi memuaskannya. Ia hanya tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan rencananya.
"Ah, aku rasa mulai sekarang kamu tidur di kamar ini saja lagi," kata Jendra setelah puas menuntaskan hasratnya.
Ia memeluk tubuh polos wanita yang berada di bawah selimut yang sama dengannya. Perasaannya menjadi lebih baik setelah bercinta. Apalagi kini Syahnaz sudah menyadari dirinya menjadi seorang janda.
"Aku kembalikan lagi posisimu sebagai wanitaku. Jadi, panggil aku 'Mas Jendra' seperti biasa. Berhenti memanggilku Tuan," imbuh Jendra aeraya mengecup kening wanitanya.
"Bukankah kamu lebih menyukai aku sebagai pelayan? Kamu kelihatan menikmati untuk meledekku," ujar Syahnaz.
"Ah, benarkah?" Jendra berusaha mengingat kelakuannya saat tega menjadikan wanita itu sebagai pelayan.
"Maafkan aku. Waktu itu aku hanya ingin memberikan hukuman padamu. Aku tidak suka kamu terus peduli kepada lelaki breng sek seperti Aditya," kilah Jendra.
Syahnaz menaikkan sedikit ujung bibirnya. Menurutnya, lelaki yang baru saja bicara itu sama saja. Bahkan lebih parah karena hanya ingin menidurinya. Ia hanya dianggap sebagai tempat untuk memuaskan hasratnya.
"Apa kamu masih marah padaku, hm?" tanya Jendra.
Syahnaz terdiam. Wanita mana yang tidak marah saat diperlakukan semena-mena. Terkadang Jendra bahkan kasar dan memaksa.
"Apa aku harus memberikan hadiah supaya wanita cantik ini tidak marah lagi? Bagaimana kalau liburan ke luar negeri? Apa kamu mau?"
Syahnaz menaikkan pandangannya menatap Jendra. Luar negeri ... Bahkan luar kota saja ia belum pernah merasakan pergi ke luar kota, apalagi pergi ke luar begeri.
"Bagaimana kalau kita pergi ke Jepang? Kamu belum pernah naik pesawat, kan?" tanya Jendra.
Syahnaz menggeleng.
Jendra mengulaskan senyum. Ia seakan senang bisa memberikan apa yang belum pernah Syahnaz dapatkan sebelumnya.
"Kalau begitu, akhir pekan ini ayo kita pergi liburan ke Jepang. Aku akan mengajakmu kw banyak tempat yang indah di sana," ajak Jendra.
Syahnaz tidak terlalu antusias akan hadiah liburan itu. Namun, ia sangat penasaran tentang berpergian ke luar negeri.
__ADS_1