
Seperti yang Jendra janjikan, ia mengajak Syahnaz mengunjungi Negeri Sakura, Jepang. Mereka hanya pergi berdua, tanpa pengawal yang menyertai. Hari pertama mereka berjalan-jalan di sekitar Shibuya Crossing yang ikonik, di mana ribuan orang bergegas menyeberang setiap kali lampu merah menyala.
Jendra mengajak Syahnaz duduk di lantai atas coffe shop untuk mendapatkan pemandangan yang indah melihat lautan manusia yang berjalan menyebrangi jalanan di sana.
Shibuya Crossing sudah lama dikenal sebagai tempat penyeberangan pejalan kaki paling sibuk di Jepang, bahkan di dunia. Total, per harinya, simpang lima yang berada di dekat Stasiun Shibuya ini diseberangi tak kurang dari dua juta orang.
"Orang Jepang sangat suka jalan kaki, ya! Pantas mereka terkenal bisa hidup berumur panjang," guman Syahnaz sembari menikmati kopi hangatnya dan sepotong waffle.
Jendra yang tengah memotong waffle dan menyuapkan ke dalam mulutnya mengarahkan pandangan kepada wanita di hadapannya. "Aku rasa mereka melakukannya karena terpaksa," ujarnya.
Syahnaz mengerutkan dahi. Ia melihat sekeliling, berharap tidak ada yang tahu tentang pembicaraan mereka. "Kenapa kamu bilang terpaksa?" tanyanya heran.
"Iya, terpaksa karena aturan pemerintah, juga faktor iklim dan cuaca. Biaya kepengurusan surat ijin berkendara itu tidak mudah dan tidak murah. Biaya parkir dan perawatan kendaraan juga tidak murah. Kalau pakai sepeda atau sepeda motor, kendalanya adalah cuaca. Musim panas sangat panas, musim dingin sangat dingin. Lagi pula fasilitas umum bagi pejalan kaki juga sudah terpenuhi."
Hari berikutnya, mereka mengunjungi Kuil Senso-ji di Asakusa. Mereka mengagumi pagoda yang megah dan memasuki gerbang gerbang Kaminarimon yang megah. Senso-ji adalah kuil tertua di Tokyo yang terletak di pusat Asakusa. Kuil ini mempunyai sejarah panjang sekitar 1,400 tahun dan dikenal sebagai simbol Shitamachi, area pusat kota di Tokyo.
Mereka menaiki jinkirisha, semacam kereta yang ditarik oleh manusia untuk berkeliling di sekitar tempat wisata. Jepang dan peninggalan budayanya selalu mengagumkan saat dikunjungi.
"Mas, aku kasihan sama orang itu. Takutnya dia keberatan membawa kita berdua," kata Syahnaz sembari berbisik dengan suara lirih di telinga Jendra.
Jendra tersenyum-senyum menahan tawanya saat Syahnaz mengatakan hal itu. "Sayang, lebih kasihan lagi kalau kita tidak naik, dia jadi tidak dapat uang," jawab Jendra.
Selama berada di sana, mereka menyempatkan diri mengunjungi pusat oleh-oleh di Nakamise Street yang didominasi oleh pedagang pernak-pernik. Jendra memesan piring dan gelas yang diukir dengan nama mereka berdua dalam huruf kanji.
__ADS_1
"Apa menurutmu aku orang yang romantis? Aku membelikan benda couple untuk kita. Supaya kamu ingat kalau kamu hanya milikku," ucap Jendra.
Syahnaz hanya tersenyum mendengar ucapan Jendra. Lelaki itu terlihat bahagia selama perjalanan liburan mereka. Jendra juga memperlakukannya dengan lembut seperti seorang lelaki terhadap pasangannya. Terkadang Syahnaz sampai lupa kalau dirinya hanyalah wanita pelampiasan hasrat bagi Jendra.
"Kita bisa menggunakan ini untuk makan berdua saat pulang ke rumah nanti," sambung Jendra dengan antusiasnya.
Syahnaz hanya membiarkan saja antusiasme Jendra membeli peralatan makan couple. Lelaki itu bahkan menambah untuk membeli kaos couple untuk mereka. Rasanya baru kali ini melihat sisi lain seorang Jendra.
Hari ketiga, mereka pergi ke Kyoto menaiki kereta Shinkanse untuk mengunjungi Kiyomizu-dera, kuil kayu yang terletak di atas bukit. Mereka sampai menyewa kimono dan berdandan seperti warga lokal untuk menikmati suasana era Zaman Edo.
"Pemandangan kota ini sangat indah," ujar Syahnaz sambil menatap jauh.
"Tapi tidak seindah kamu," sahut Jendra sambil menggenggam tangan Syahnaz.
Lagi-lagi lelaki itu mengucapkan sesuatu yang membuat Syahnaz meleleh. Ingin rasanya ia menyadarkan lekaki itu yang sudah memiliki istri dan sedang sakit di rumah. Liburannya diliputi rasa senang sekaligus perasaan bersalah setiap kali mengingat Elisa.
"Kenapa bambu-bambu di sini bisa tumbuh lurus dan rapi satu-satu, ya? Dilihat jadi bagus," ucap Syahnaz mengagumi pemandangan yang dilihatnya. Pohon bambu yang biasa ia lihat biasanya tumbuh bergerombol dan tidak rapi seperti si sana. Warnanya juga kusam, tidak mengkilap seperti di hutan bambu ini.
"Mungkin sesuai kepribadian orang Jepang yang suka hidup mandiri, berbeda dengan negara kita, memang orang-orangnya suka kumpul. Bahkan satu rumah bisa dihuni oleh banyak anggota keluarga," jawab Jendra.
"Bisa juga begitu. Seperti kamu yang menempatkan dua wanita dalam satu rumah, ya?" sindir Syahnaz.
Mendengar ucapan itu, Jendra langsung menatapnya dengan tajam. Syahnaz tak berani meneruskan candaannya.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda, lupakan saja!" ucapnya mengakhiri topik pembahasan.
Melanjutkan liburan, mereka singgah sebentar di Taman Nara untuk melihat lebih dekat ribuan ekor rusa yang berkeliaran secara bebas di sekitar Todaiji. Rusa merupakan hewan yang dianggap suci bagi penganut kepercayaan Shinto.
"Mereka sangat ramah, ya? Minta makan saja sambil membungkuk," ujar Syahnaz sambil memberi makan sebatang biskuit pada rusa-rusa itu.
"Seperti kamu," jawab Jendra sambil mencubit pipi Syahnaz lembut.
Jendra mendekatkan mulutnya pada telinga Syahnaz. "Kamu juga begitu saat memakan milikku," bisiknya nakal.
Syahnaz sampai mematung, membulatkan matanya mendengar Jendra mengucapkan kalimat nakal semacam itu yang membuatnya sangat malu meskipun tidak ada yang tahu.
"Mas Jendra!" kesal Syahnaz yang reflek memukul keras lengan lelaki itu.
Bukannya merasa kesakita, Jendra malah tertawa-tawa melihat wajah Syahnaz yang memerah karena ucapannya.
"Kenapa harus malu? Itu kan kenyataan. Aku jadi tidak sabar ingin segera kembali ke kamar hotel," goda Jendra.
Syahnaz geleng-geleng kepala. "Kamu sudah mengurungku di kamar setiap malam. Bisa tidak jangan bahas hal semacam itu saat di luar? Aku juga ingin menikmati liburan," protesnya sambil memanyunkan bibir.
Selama liburan, memang Jendra selalu mengajak jalan-jalan ke berbagai tempat. Namun, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di hotel. Setiap hari, bagi Syahnaz, tiada hari tanpa keramas. Lelaki itu sangat rajin untuk membuatnya mandi saat pagi, siang, sore, maupun malam.
"Menikmati liburan bukan hanya di luar, di tempat wisata seperti ini. Di dalam kamar juga harus nikmat supaya seimbang. Bukannya kamu senang? Aku memuaskan, kan?" kata Jendra sambil tersenyum-senyum.
__ADS_1
Syahnaz memalingkan wajah berpura-pura menatap ke arah lain saking malunya. Jendra di Jepang memang menjadi tipe manusia yang sepertinya tidak tahu malu, berbeda dengan saat di negara mereka sendiri.
"Ayo, Sayang. Kita kembali ke hotel sekarang," ajak Jendra dengan semangat. Ia menggandeng mesra tangan Syahnaz dan mengajaknya melangkah bersama.