
"Sayang, aku pergi ke kantor dulu, ya!" pamit Jendra seraya mencium kening Elisa.
Elisa mengantar kepergian suaminya ke kantor sampai pintu depan. Ia tetap berada di tempatnya sampai mobil yang membawa suaminya itu keluar dari area gerbang rumah.
Akhir-akhir ini rasanya sangat sepi. Elisa juga tidak tahu kenapa bisa terjadi. Mungkin karena sudah beberapa hari ini Syahnaz tidak berada di rumah itu. Syahnaz masih dirawat di rumah sakit dan Ida masih ditugaskan menemaninya di sana.
Dua orang pelayan yang biasanya paling sering menemani Elisa itu tidak ada. Padahal ia paling dekat dengan keduanya.
"Nyonya, apa Anda mau meneruskan sarapan?" tanya Mamita.
Saat mengantar Jendra pergi, Elisa memang tengah menikmati sarapannya. Jendra tampak terburu-buru ke kantor sehingga tidak sempat sarapan.
"Tidak, Mamita, aku sudah kenyang," tolak Elisa.
"Antar aku ke kamar Syahnaz saja sekarang!" pinta Elisa.
Mamita terperanjat mendengar permintaan nyonyanya. "Apa? Untuk apa Anda mau ke sana?" tanyanya dengan nada gugup.
"Tidak apa-apa, aku hanya mau lihat-lihat saja," kata Elisa.
Tanpa menunggu jawaban dari Mamita, Elisa sudah lebih dulu berjalan menuju ke arah paviliun belakang. Mau tidak mau Mamita mengikutinya meskipun dengan perasaan yang gundah. Ia takut Elisa akan menemukan sesuatu di sana.
Kedatangan Elisa sontak membuat para pelayan yang melihat ikut bertanya-tanya dan merasa khawatir. Bagaimanapun juga, selama ini mereka sudah berusaha menyembunyikan hubungan terlarang tuannya.
"Mamita, buka pintunya!" perintah Elisa ketika telah sampai di depan kamar yang menjadi tempat tinggal Syahnaz.
Mamita meraih kunci cadangan yang selalu ia bawa di saku. Ia lantas membukakan pintu kamar itu untuk Elisa.
Saat Elisa memasuki kamar itu, Mamita membantu menyalakan lampu. Tampak Elisa melayangkan pandangan ke segala penjuru mengamati kamar berukuran kecil itu.
"Apa dia akan nyaman ya, tinggal di kamar ini selama hamil? Sepertinya kamar ini kurang mendapat akses cahaya," ujar Elisa setelah menilai secara pengamatan kasat mata.
__ADS_1
"Kenapa Anda begitu peduli kepada para pelayan itu, Nyonya Muda. Syahnaz hanyalah seorang pelayan," kata Mamita. Sebenarnya ia sudah sangat kesal dengan situasi yang ada. Ia menyesal tidak segera mengusir Syahnaz dari sana dan sekarang wanita itu sudah hamil, ia semakin sulit untuk menggeser posisinya.
"Kamu ini bicara apa, Mamita. Semua orang di sini adalah keluarga, termasuk Syahnaz. Kalau Mamita sakit, aku juga akan ikut khawatir. Apalagi sekarang Syahnaz sedang hamil, kamu jangan memberikan banyak pekerjaan dulu kepadanya, ya!" pinta Elisa.
Mamita menghela napas. Elisa terlalu baik tanpa tahu apa-apa. Selain Elisa, Jendra juga mengungkapkan hal yang sama padanya agar tidak memforsir Syahnaz. Namun, Mamita memang sengaja memberi banyak pekerjaan kepada Syahnaz agar kelelahan dan menyerah. Tentunya ia tidak tahu jika wanita itu tengah hamil.
Elisa berjalan melihat-lihat lagi seisi kamar itu. Ia mengintip ke arah kamar mandi yang tampak kecil dan sederhana. Ia juga membuka-buka laci meja yang ada di kamar itu.
Tanpa sengaja, sudut mata Mamita mendapati sesuatu yang aneh. Setelah berfokus beberapa saat, ia baru tahu kalau ada dalaman milik Jendra yang tertinggal dan terselip di pojokan ranjang. Cepat-cepat Mamita mengambil dan mengamankannya tanpa ketahuan Elisa.
"Oh, ini buku nikahnya, ya?" tanya Elisa.
Ia menemukan sebuah buku nikah di salah satu laci kamar itu bersama dokumen yang lain.
Mamita tampak terkejut karena memang tidak tahu jika Syahnaz masih menyimpan buku nikahnya. Setahu dirinya dari Jendra, Syahnaz katanya sudah menjadi janda.
Elisa membuka buku nikah itu. "Aditya Saputra? Ini nama suaminya, ya? Orangnya sepertinya baik," ujarnya setelah melihat foto yang ada di buku kecil tersebut.
"Belum pernah, Nona," jawab Mamita singkat.
"Jadi, kamu tidak punya nomor kontak atau alamat rumahnya?" tanya Elisa lagi.
Mamita menggeleng.
Elisa mendengus kasar. "Kenapa semua orang bilang tidak tahu? Kasihan Syahnaz, sampai sekarang belum dijenguk suaminya. Masa kerja di luar kota sampai tidak ada kabarnya? Ayahnya akan punya anak pasti juga belum tahu!" gerutunya. Ia kesal setiap bertanya kepada semua orang pasti jawabannya sama, tidak tahu, termasuk juga Jendra.
Mamita menunduk. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi terhadap Nyonya Muda.
***
Di tempat yang berbeda, Jendra baru sampai di ruang perawatan Syahnaz. Ia membawa sebuah buket bunga mawar merah yang indah. Ia memberikan kode kepada Ida agar meninggalkan mereka berdua di sana.
__ADS_1
Syahnaz tampak membuang muka. Ia kesal melihat kedatangan Jendra, apalagi selama tiga hari di sana, lelaki itu baru menjenguknya.
"Selamat pagi," sapa Jendra dengan penuh kelembutan. Ia tetap mencium kening Syahnaz meski wanita itu tampak enggan. Ia meletakkan bunganya di meja samping ranjang perawatan.
"Apa kamu sudah makan?" tanya Jendra seraya berusaha merayu wanita itu agar berhenti kesal.
Syahnaz hanya menjawabnya dengan menggeleng.
Jendra memeluk wanita itu. "Ah, aku sudah sengaja datang untuk menemuimu, tapi kenapa responnya seperti ini?" protesnya.
"Lalu, saya harus bagaimana memikirkan nasib anak ini selanjutnya?" keluh Syahnaz. Ia merasa hidupnya penuh dengan dilema sejak bertemu dengan lelaki itu.
Jendra melepaskan pelukannya. Ia mengangkat dagu Syahnaz agar tatapan mereka bertemu. "Kenapa kamu bingung? Aku ayahnya, ayahnya ada di sini," katanya meyakinkan.
Syahnaz masih terlihat belum puas. "Lalu, bagaimana dengan Nyonya Muda? Apa dia juga akan menerima anak ini dan juga hubungan kita?" tanyanya. Syahnaz sangat ingin mendapatkan kejelasan.
"Sabar sebentar, ya ... Elisa butuh waktu untuk mengetahui hal ini. Tapi, yang jelas, anak itu tetaplah anakku. Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya terhadap anak itu dan dirimu," ucap Jendra dengan yakin.
Jendra kembali memeluk wanitanya. Ia membiarkan Syahnaz bersandar di bahunya lalu ia mengelus-elus perut wanita itu seperti seorang ayah yang menantikan kelahiran anaknya.
"Aku sampai lupa menanyakan ini. Kira-kira, anak dalam kandunganmu cowok atau cewek?" tanya Jendra penasaran.
"Anda maunya anak cowok atau cewek?" tanya Syahnaz baik.
Jendra mengulaskan senyum. "Anak cowok atau cewek, bagiku tidak masalah asalkan sehat."
"Kata Dokter Adrian, anak ini kemungkinan laki-laki," ucap Syahnaz.
Jendra menunjukkan mata yang berbinar-binar, ia tampak sangat bahagia. Reflek ia menciumi wajah Syahnaz berkali-kali. "Terima kasih, Sayang. Kamu akan memberikanku seorang anak laki-laki," ucapnya girang.
Sebenarnya Jendra termasuk santai untuk mendapatkan keturunan. Namun, ketika mengetahui Syahnaz hamil anak laki-laki, ia sangat senang.
__ADS_1
"Mama pasti akan sangat bahagia mendengarnya, Sayang!" kata Jendra dengan semangat yang masih menggebu-gebu. Sementara, Elisa hanya bisa tersenyum kikuk.