
Syahnaz masuk ke dalam kamar Elisa membawa sebuah bak air dengan handuk kecil. Seperti biasa, ia akan membantu membersihkan tubuh Elisa. Setiap kali perawat yang mengurusnya ijim cuti, maka ia yang akan menggantikan. Selain dia, tidak ada pelayan yang mau kecuali Mamita.
"Apa ya, rasanya jadi kamu terbaring seperti ini sepanjang waktu," gumam Syahnaz sembari menyeka wajah Elisa.
Ia memang kerap mengajak Elisa berkomunikasi meskipun tidak ada respon. Ia juga terkadang merasa kesepian di rumah itu karena tidak ada pelayan lain yang mau dekat dengannya. Syahnaz merasa terasingkan.
"Mungkin menjadi seperti kamu itu enak, ya. Tidak harus memikirkan banyak hal. Punya masalah itu melelahkan, apalagi kalau tidak ada orang yang bisa diajak bicara. Kalau tidak kuat, bisa-bisa jadi gila atau memilih bunuh diri."
Syahnaz menghela napasnya dengan berat. Ada banyak beban di dalam pikirannya yang ingin ia keluarkan, namun tak tahu kepada siapa ia bisa berbagi. Suami yang diharapkan mau mengerti bahkan seenaknya sendiri menjual rumah satu-satunya peninggalan ayahnya.
"Seumur hidup, pasti kamu tidak pernah merasakan susah, ya? Aku dengar kamu juga dari keluarga kaya. Bahkan sakit seperti ini saja bisa tetap mendapat perawatan terbaik dan kamu masih cantik. Ah, sepertinya aku sedang iri padamu."
Syahnaz mengulaskan senyum. Ingin rasanya ia menertawakan dirinya sendiri.
"Beda sekali denganku. Sejak kecil keluargaku tergolong tidak mampu. Kalau bukan karena kebaikan Mas Aditya, aku juga tidak mungkin bisa merasakan yang namanya kuliah. Hidup saja saking susahnya apalagi memikirkan biaya kuliah."
"Tapi, suamiku itu yang awalnya selalu bersikap baik, akhir-akhir ini jadi mengecewakan. Dia bahkan berani menjual rumah ibuku."
"Tapi, untung saja Tuan Jendra berbaik hati memberikanku rumah baru. Bukan aku yang meminta, tapi dia sendiri yang ingin memberikannya. Jadi, jangan anggap aku sebagai wanita matre, ya!"
"Aku akan pergi dari sini setelah melahirkan anak Tuan Jendra. Aku harap kalian nanti bisa merawatnya dengan baik."
Syahnaz terus mengajak Elisa bercerita sembari melaksanakan tugasnya. Ia menyeka seluruh tubuh, mengganti pakaian, sampai menyisir rambutnya.
"Elisa, kamu sudah cantik," katanya sembari tersenyum. "Aku mau keluar dulu, ya! Hari ini ibuku pulang dari rumah sakit. Dia tidak punya keluarga lagi selain aku. Jadi, aku akan menjemputnya."
Syahnaz membawa bak bekas air untuk menyeka Elisa dan pakaian kotornya keluar dari kamar. Ia akan membawanya dan menyerahkan tugas selanjutnya ke bagian laundry.
***
__ADS_1
"Dokter, terima kasih selama ini sudah merawat ibuku dengan sangat baik," ucap Syahnaz.
Hari ini ia mendatangi rumah sakit untuk menjemput ibunya. Ia menemui Dokter Rafa yang memang dipercaya sejak awal untuk menangani ibunya.
"Iya, sama-sama. Jangan lupa untuk lebih memperhatikan kesehatan lagi. Semoga bisa lekas pulih seperti sedia kala."
"Terima kasih doanya, Dok. Kami permisi dulu," pamit Sumi.
Syahnaz mendorong kursi roda yang dinaiki Sumi untuk keluar dari ruangan unit perawatan menuju ke area lobi depan. Tujuannya agar sang ibu tidak kelelahan berjalan.
Setibanya di area luar rumah sakit, sopir pribadi Syahnaz dengan sigap membantu memindahkan Sumi ke dalam mobil jok belakang. Syahnaz turut duduk menemani ibunya. Sementara, bagian depan ditempati sopir dan bodyguard.
"Mereka siapa?" tanya Sumi setengah berbisik. Ia sangat penasaran melihat anaknya datang diantar sopir dengan mobil mewah.
"Mereka pegawai dari kantorku, Bu. Tujuannya supaya aku tidak repot karena mau menjemput ibu. Apa ibu suka mobilnya?" tanya Syahnaz sembari bergelayut manja di lengan ibunya.
"Memangnya siapa yang tidak suka naik mobil? Ibu tentu senang, ya! Apalagi mobilnya bagus begini. Kalau bisa kita juga bisa punya mobil sendiri," gumam Sumi seraya memperhatikan secara mendetail mobil yang tengah melaju itu.
"Nanti kalau aku punya banyak uang, kita beli satu mobil ya, untuk Ibu jalan-jalan," kata Syahnaz.
Sumi menepuk lembut pundak putrinya. "Halah, ibu kan hanya bercanda. Tahu kalau kamu bahagia saja, itu sudah cukup untuk ibu," ucapnya.
Syahnaz hanya tersenyum. Ia tak bisa membayangkan bagaimana perasaan ibunya jika sampai tahu sebenarnya dia telah menjual diri kepada seseorang. Apalagi yang membantunya juga Aditya, suaminya sendiri.
Belum lagi masalah rumah yang sudah dijual secara diam-diam. Ia tidak sanggup melihat kesedihan yang akan ibunya tunjukkan. Ia juga khawatir penyakit jantung ibunya akan kembali kambuh. Ia hanya bisa menyimpan masalahnya sendiri dan memjalani kesulitan hidupnya tanpa bantuan siapapun.
Sesampainya di depan rumah yang dituju, Sumi tercengang dan tertegun melihat tumah yang ada di badapannya. Rumah itu tampak jauh berbeda dengan rumah mereka.
"Ini rumah siapa?" tanya Sumi penasaran.
__ADS_1
Syahnaz merangkul ibunya. "Ini rumah baru kita, Bu. Bagus nggak?" tanyanya.
"Ya, memang bagus, sih. Tapi, untuk apa kamu beli rumah baru? Rumah lama juga masih bisa ditempati, kan?"
"Sebaiknya kita masuk dulu, Bu!" ajak Syahnaz.
Ia menuntun ibunya memasuki rumah yang kemarin baru dibelikan Jendra. Rumah itu jauh lebih bagus dari rumah sebelumnya. Bahkan segala perabot sudah lengkap di dalamnya. Mereka tinggal menempati saja.
Sumi terlihat bahagia melihat rumah itu. Baginya, ia bangga anaknya sudah mencapai kesuksesan sampai memiliki rumah yang bagus itu.
"Ibu, ada yang ingin aku katakan. Tapi, aku mohon jangan marah, ya!" kata Syahnaz dengan raut wajah yang cemas.
Sumi mengernyitkan dahi. Putrinya seperti ada hal yang ingin disampaikan. "Katakan saja," ucapnya.
Syahnaz menggamit bibirnya. Ia menghela napas sebelum berbicara. "Sebenarnya aku sudah menjual rumah lama kita, Bu."
Sumi terkejut mendengarnya.
"Saat ibu koma, aku bingung untuk membayar biaya rumah sakit. Terpaksa aku jual dulu rumah itu. Tapi, syukur aku bisa membeli rumah yang baru untuk ibu."
Syahnaz terpaksa berbohong. Ia tidak mau ibunya kembali terkena serangan jantung jika sampai tahu yang sebenarnya.
Sumi terlihat kecewa. Syahnaz meraih tangan ibunya dengan tatapan memelas. "Maaf ya, Bu. Aku tahu rumah itu penuh kenangan. Tapi, mau bagaimana lagi? Aku tak punya pilihan," katanya.
Sebenarnya Sumi ingin marah dan kecewa. Seperti apapun kondisi rumah lama, kenangan yang ada di dalamnya sangat berharga. Apalagi rumah lama merupakan saksi perjuangan dia dan suaminya yang telah meninggal. Susah senang mereka lalui di sana.
"Ya sudah, Nak. Toh sudah terlanjur juga kamu jual. Tidak apa-apa," katanya pasrah.
"Nanti aku pindahkan barang-barang dari rumah lama ke sini ya, Bu." ucap Syahnaz seraya memeluknya.
__ADS_1
Meskipun ibunya tak tahu apapun tentang masalahnya, berada di samping wanita lemah lembut itu membuatnya nyaman dan merasa bisa menghadapi apapun di dunia ini.