Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Masa Depan yang Samar


__ADS_3

Syahnaz berdiri di depan jendela kaca memandangi bulan purnama yang sangat indah malam itu. Di tangannya ada segelas teh hangat yang menemaninya malam ini.


Ia mengelus perutnya yang kini semakin membesar. Usia kandungannya telah memasuki delapan bulan. Sesekali ia merasakan gerakan bayi itu di dalam rahimnya.


Kebersamaan selama berbulan-bulan bersama calon anaknya, menumbuhkan rasa cinta. Ia yang sebenarnya tak terlalu mengharapkan kehadiran anak itu, kini diterpa kebimbangan. Ia teringat niatnya sendiri saat itu. Syahnaz ingin cepat melahirkan anak agar bisa terlepas dari Jendra.


Semula ia merasa jika mengandung dan melahirkan adalah suatu pekerjaan yang mudah. Ia cukup menghabiskan waktunya selama sembilan bulan, melahirkannya, lalu pergi selamanya dari kehidupan Jendra.


Nyatanya, angan-angan itu sangat jauh dari realita. Ia merasa tidak sanggup untuk berpisah dengan anak itu kelak. Masih dalam kandungan saja ia sudah mencintai anak itu. Ingin rasanya ia membawa kabur bayi itu bersamanya. Namun, ia tahu Jendra tidak akan pernah melepaskannya.


Bertahan di sisi Jendra sangat menyakitkan. Selain dirinya yang terluka, ia juga tahu jika akan melukai Elisa. Jendra semakin menunjukkan sikap posesif terhadap dirinya. Sampai liburan kali ini, Jendra diam-diam membawanya ke pegunungan, menginap di hotel yang sama dengan Elisa.


Semakin lama ia mendapatkan curahan kasih sayang dari Jendra, ia semakin merasa khawatir jika dirinya akan terhanyut pada perasaannya. Ia takut jatuh cinta kepada lelaki yang telah menanamkan benih dalam rahimnya.


Klek!


Terdengar suara pintu terbuka. Seperti biasa, Jendra datang ke dalam kamarnya setelah memastikan Elisa tidur.


"Kamu belum tidur?" tanya Jendra sembari berjalan mendekat ke arah Syahnaz.


"Aku belum mengantuk," jawab Syahnaz.


Jendra memeluk wanita itu, menciumnya, lalu mengelus perut Syahnaz yang semakin membuncit itu.


"Sehat-sehat kamu di dalam ya, jagoanku. Jangan menyusahkan ibumu," ucap Jendra seraya mencium perut Syahnaz.


"Apa Elisa sudah tidur?" tanya Syahnaz.


"Iya, sudah. Seperti biasa, ia akan tertidur setelah meminum obatnya."

__ADS_1


Jendra kembali memeluk Syahnaz dengan erat. Ia menciumi tengkuk leher wanitanya yang selalu ia rindukan aromanya.


Syahnaz hanya pasrah menerima perlakuan lelaki itu seperti biasa. Selain menjadi rahim bayaran, ia juga menjadi pelampiasan hasrat lelaki itu. Selama hamil, tugasnya memuaskan Jendra masih berlanjut. Apalagi ketika Dokter Adrian menyampaikan bahwa kondisi kehamilannya cukup kuat untuk bercinta selama masih dalam batas normal.


"Bagaimana kalau setelah liburan kali ini, kita membeli perlengkapan bayi untuk anak kita?" tanya Jendra.


"Apa hanya kita berdua?" tanya Syahnaz memastikan.


Jendra mengerutkan dahinya. "Tentu saja. Memangnya kamu mau mengajak siapa?"


"Elisa?" tanya Syahnaz.


Jendra terdiam sesaat. "Aku sedang mempertimbangkan untuk menyiapkan tempat tinggal sampai kamu melahirkan nanti. Jadi, kamu bisa fokus merawat bayi kita nanti."


Ingin rasanya Syahnaz tertawa mendengar perkataan itu. "Bayi kita, Mas? Apa kamu lupa kalau ada istrimu, Elisa?" sindirnya.


Raut wajah Jendra langsung berubah muram. "Bisa tidak kamu tidak membahas sesuatu yang menjengkelkan? Harus berapa kali aku bilang, kalau itu adalah urusan yang berbeda?" tanyanya dengan nada kesal.


Syahnaz berusaha realistis. Ia merasa tidak akan pernah bisa memiliki Jendra. Ia tahu betapa besar cinta yang Jendra miliki terhadap Elisa meskipun kini ada dirinya.


"Apa masalahnya kalau aku mencintai Elisa? Aku juga ingin membahagiakan wanita yang akan melahirkan anakku," kilah Jendra. Lelaki itu memang sangat keras kepala.


"Mas, kamu pasti ingat kalau perjanjian kita hanya sampai aku melahirkan anak ini. Aku akan pergi dari kehidupanmu," kata Syahnaz dengan berani.


Ia sudah memiliki banyak pertimbangan. Ia sudah mengumpulkan banyak uang yang sekiranya cukup untuk melanjutkan hidup dirinya dan ibunya.


Jendra menatap mata Syahnaz dengan tajam dan penuh rasa tidak suka. "Apa kamu bisa meninggalkan anak kita kelak?" ia berusaha mengintimidasi.


Kini, giliran Syahnaz yang terdiam. Ia tak bisa menjawab pertanyaan itu.

__ADS_1


Jendra mengusap wajah Elisa, menyibakkan helaian rambut yang tergerai menutupi wajah. "Aku akan bertanggung jawab dengan hidupmu dan anak kita. Kamu tidak akan kesusahan selamanya. Kamu bisa bersama dengan anak yang akan kamu lahirkan setiap hari. Kamu tetap bisa menjadi ibunya. Dan sesekali aku akan mengajak kalian jalan-jalan sebagai seorang ayah. Tapi, jika kamu pergi, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa bertemu dengannya lagi," ancamnya.


"Apa kamu tidak sadar sudah bersikap kejam padaku, Mas? Sebenarnya bagaimana perasaanmu kepadaku? Apa selamanya aku akan menjadi pemuas hasratmu saja? Aku juga ingin menjadi seorang istri dan memiliki suami yang baik," ucap Syahnaz dengan mata berkaca-kaca.


Perasaannya begitu tertekan. Ia seakan menanggung beban mental itu sendirian tanpa ada yang peduli. Sementara, Jendra membisu.


"Kalau kamu seperti ini terus, kamu akan menyakiti semua orang. Aku dan Elisa sama-sama wanita, kenapa kamu tega bersikap seperti ini kepada kami!" air mata Syahnaz akhirnya luruh.


"Syahnaz, memangnya semua yang aku lakukan kamu pikir tidak ada? Aku berusaha adil kepada kalian. Sampai liburan, aku juga mengajakmu," kilah Jendra. Ia selalu merasa perbuatannya sudah benar.


Syahnaz tersenyum miris. "Kalau memang ingin adil, katakan semuanya kepada Elisa. Aku tidak mau terus bersembunyi. Jika dia memang mau menerima hubungan kita, aku akan mau melanjutkan hubungan ini."


Jendra menghela napas. "Aku sudah mengatakan bukan, aku pasti akan menjelaskannya secara pelan-pelan."


"Selama ini kamu belum pernah melakukan tindakan apapun, Mas!" timpal Syahnaz.


"Aku pasti akan mengatakannya! Kamu tahu kan, kalau aku selalu memegang kata-kataku?" Jendra berkata dengan serius.


Syahnaz terdiam.


"Kamu hanya perlu mematuhiku. Aku pasti akan berusaha untuk membuat Elisa bisa menerima semua ini. Kamu akan tetap tinggal bersamaku!" kata Jendra menunjukkan sikap posesifnya.


Syahnaz mengalah. Ia berusaha untuk percaya pada Jendra. Jika memang Elisa mau menerimanya, ia juga akan menerima sebagai wanita kedua Jendra. Ia tidak ada niatan untuk kembali pada lelaki semacam Aditya yang lebih parah dari Jendra. Ia bahkan tidak bisa membayangkan seperti apa lelaki yang sempurna untuknya. Ia hanya ingin bertahan karena anak yang tidak bisa ia tinggalkan.


"Ayo kita tidur, kamu harus cukup istirahat," ajak Jendra.


"Aku belum mengantuk," kilah Syahnaz. Meskipun hari telah larut dan memasuki tengah malam, rasa kantuk belum juga menghinggapi dirinya.


Jendra mencium pipi Syahnaz dengan gemas."Kalau begitu, aku akan membuatmu mengantuk. Ayo, bumil! Kita harus tidur!" ajaknya.

__ADS_1


"Ah!" Syahnaz menjerit ketika Jendra tiba-tiba menggendongnya seperti seorang putri.


Memandangi senyuman manis lelaki tampan yang hampir setiap malam menemaninya tidur itu, membuatnya senang. Itulah yang membuatnya khawatir karena semakin lama ia semakin jatuh cinta.


__ADS_2