Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Adu Mulut


__ADS_3

Dada Syahnaz terasa terbakar saat melihat adegan mesra antara Aditya dan Sonya. Tanpa risih, keduanya bahkan berciuman bibir di hadapan semua orang. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mata Syahnaz memerah, menahan bendungan air mata yang hendak keluar.


"Apa aku bilang, mereka memang selalu begitu setiap kali bertemu," ujar Bian.


Syahnaz hanya tertegun di tempat menyaksikan adegan itu. Perasaan cintanya terhadap Aditya benar-benar telah telah lenyap berganti dengan kebencian yang mendalam. Segala kebaikan yang Aditya pernah lakukan, tertutup oleh keburukan-keburukan terhadapnya.


Seharusnya saat lelaki itu punya ide gila untuk menjualnya kepada Jendra, ia sudah bisa membaca kebusukkannya. Saat itu, ia dengan polosnya hanya menganggap bahwa memang tak ada cara lain untuk mengatasi permasalahan selain jual diri. Ternyata, semua yang ia perbuat hanya sia-sia.


"Hei, kamu tidak apa-apa?" tanya Bian khawatir melihat Syahnaz menitihkan air mata.


"Aduh, kenapa kamu harus menangisi lelaki seperti itu? Bersyukurlah kamu sudah tahu keburukannya lebih dulu," ujar Bian menasihati.


Syahnaz menyeka air matanya. Ia menyadari bahwa menangis memang tidak ada gunanya. "Terima kasih untuk minumannya. Aku pergi dulu," katanya seraya meletakkan gelas di atas meja bartender.


Syahnaz tidak bisa tinggal diam. Ia berjalan cepat mengikuti Sonya dan Aditya yang pergi menuju ke lantai atas sembari berpelukan.


Brak!


Syahnaz mendorong keras pintu ruangan yang mereka masuki. Terlihat jelas Aditya tengah menindih Sonya di bawahnya sambil bercumbu bibir.


Melihat kehadiran Syahnaz di sana, Aditya panik bukan kepalang. Ia buru-buru menyingkir dari atas Sonya dan bergegas lari menghampiri Syahnaz.


"Naz, kamu ada di sini?" tanya Aditya yang masih berusaha mengatur napasnya. Ia benar-benar terkejut melihat Syahnaz ada di sana.


Mata Syahnaz berkaca-kaca. Ingin rasanya ia menusukkan pisau berkali-kali ke dada lelaki itu. "Tega kamu, Mas!" bentaknya dengan nada emosi.


Aditya kebingungan. Ia berusaha untuk menggenggam tangan Syahnaz, namun ditepis dengan cepat. "Sayang, aku bisa jelaskan semuanya."

__ADS_1


"Penjelasan apa lagi yang mau kamu katakan, hah? Katakan saja kalau kamu sedang asyik menyus u pada wanita itu!" teriak Syahnaz.


Sonya yang mendengarnya langsung melihat dirinya sendiri. Ternyata kemben yang ia kenakan memang sudah melorot sampai salah satu balonnya mencuat keluar.


Ia terdiam dan hanya menyaksikan pertengkaran kedua orang itu saja.


Aditya menggaruk kasar kepalanya yang hampir pecah. Ia kebingungan untuk memberi penjelasan yang masuk akal. Baru kali ini belangnya akhirnya diketahui oleh Syahnaz.


"Oke, aku mengaku kalau aku khilaf," kata Aditya membenarkan. Ia merasa percuma berbohong kepada wanita itu.


"Kamu pasti tidak tahu kan, betapa kesepiannya diriku tanpa kamu? Waktu itu kamu juga sudah menolakku untuk tidur bersama. Bagaimanapun juga, aku lelaki normal, Naz. Aku punya kebutuhan biologis yang tidak bisa kamu penuhi. Sedangkan kamu justru harus melayani lelaki lain. Aku harap kamu bisa memaklumi," bujuk Aditya.


Syahnaz tertawa kecil mengejek ucapan Aditya. "Apa sekarang kamu mau menyalahkan aku? Bukannya kamu sendiri yang sudah menjualku pada lelaki lain, Mas?" ia membalikkan kata-kata Aditya.


Aditya tertegun dengan balasan yang Syahnaz ucapkan. "Ah, aku tidak sedang membahasnya, Naz. Kita sama-sama tahu kalau itu terpaksa. Aku hanya ingin kamu memaklumi kondisiku."


Syahnaz tersenyum getir. "Luar biasa kamu, Mas! Demi tidur dengan pel acur, kamu jadikan istrimu sendiri sebagai pel acur!" sindirnya.


Aditya memegangi tangan Syahnaz dan memaksanya untuk ikut. Namun, Syahnaz sekuat tenaga menolak. Ia berkelit dan melepaskan tangan Aditya darinya. Matanya menatap nyalang kepada lelaki itu.


"Kita selesaikan di sini saja! Kebetulan aku ada banyak pertanyaan yang harus kamu jawab!" katanya dengan nada ketus.


"Mana bisa bicara seperti ini? Kamu sedang cemburu buta, tenangkan dulu pikiranmu, baru kita bisa bicara," bujuk Aditya.


"Aku sama sekali tidak cemburu padamu!" balas Syahnaz dengan tegas. Tatapan mata tajam menyiratkan kesungguhannya.


"Kamu ... Kenapa kamu jual rumah ibu? Kenapa kamu melepaskannya pada para rentenir itu?" tanya Syahnaz.

__ADS_1


Aditya kaget akhirnya Syahnaz tahu tentang hal itu. "Jangan salah paham dulu, Nas. Aku memang sengaja melepaskan rumah itu pada mereka. Tapi, aku sudah membelikan rumah yang jauh lebih bagus dari rumah itu. Letaknya di pusat kota, punya tiga lantai, dan ada kolam renangnya," ucapnya.


"Kamu pikir ibuku butuh semua yang kamu sebutkan itu? Ibuku hanya perlu rumah lamanya beserta kenangannya."


"Ya maaf, Naz. Niatnya aku hanya mau memberi kejutan. Kamu juga nanti akan bangga melihatku sukses. Sekarang aku juga sudah jadi CEO. Kalau kamu memang mau marah padaku, ingat lagi kalau biaya kuliahmu dulu aku yang menanggungnya."


Aditya terus berusaha mengelak, ia tak ingin disalahkan.


"Kalau aku tahu akan jadi begini, aku tidak mau menerima niatmu itu. Aku juga tidak mau menikah denganmu! Tega sekali kamu menyusahkan hidupku! Kenapa kamu lakukan semua itu!"


Amarah Syahnaz telah meledak. Sembari menangis, ia memukul-mukul dada Aditya dengan keras. Ia sungguh sangat ingin membunuhnya.


"Syahnaz, apa yang sedang kamu lakukan di sini?"


Suara Jendra menghentikan perbuatannya. Syahnaz menoleh ke arah asal suara, di sana ada Jendra bersama kedua bodyguard yang tadi siang mengantarnya belanja.


"Kamu jangan curiga dulu. Dia yang pertama mendekatiku," kilah Aditya melihat sorot mata Jendra yang mengisyaratkan kebencian kepadanya.


"Cepat kesini!" perintah Jendra kepada Syahnaz.


"Bisa kamu tunggu sebentar? Aku masih perlu berbicara dengannya sekarang juga," pinta Syahnaz.


"Untuk apa kamu bicara padanya? Tidak ada yang perlu dibicarakan! Aku tidak suka kamu dekat dengan lelaki lain. Ingat, kamu ini milikku!" tegas Jendra.


Syahnaz tahu Jendra pasti akan menghukumnya. Tapi, ia belum sepenuhnya puas meluapkan kekesalan kepada Aditya.


"Lebih baik kita bercerai, Aditya! Aku akan menggugatmu!" ancam Syahnaz.

__ADS_1


Merasa tidak didengarkan kata-katanya, Jendra nekad maju dan memarik paksa tangan Syahnaz. Ia menaikkan wanita itu ke atas pundaknya.


"Ah! Turunkan aku" teriak Syahnaz kaget. Ia tidak mengira Jendra akan melakukan hal itu kepadanya.


__ADS_2