
Siang yang terik tak menyurutkan Syahnaz menjemur lembaran tirai yang baru saja selesai di cuci. Seperti biasa, setiap bulan tirai-tirai yang ada di rumah utama akan diganti dan tirai lama akan dicuci. Kali ini ia kebagian untuk menjemur, sementara yang lain ada yang mencuci.
Ponsel di kantongnya tiba-tiba bergetar. Ia berhenti sejenak dan mengambil ponselnya. Ternyata telepon dari Rania, ibunya Jendra. Ia tampak terkejut mendapat telepon tersebut.
"Halo," sapanya dengan nada yang terdengar sedikit kaku. Sudah lama rasanya ia tidak bertemu dan berbicara dengan Rania.
"Halo, Syahnaz, apa kabar?" tanya Rania dari seberang telepon.
"Saya ... Saya baik-baik saja," jawabnya dengan nada yang masih kikuk.
"Kamu biasa saja bicara denganku, tidak perlu seperti ini." pinta Rania.
Syahnaz agak ragu. Dulu memang ia dekat dengan Rania sampai memanggilnya mama. Tapi, ketika menantu sebenarnya sudah muncul, ia merasa tidak pantas lagi berbicara seenaknya kepada Rania.
"Maaf, Nyonya ... Saya sepertinya tidak bisa," kata Syahnaz. Ia hanya ingin menjadi orang yang tahu posisi.
"Aku sudah tahu semuanya. Jendra sudah mengatakan kalau Elisa sudah sembuh. Aku sangat bersyukur untuk itu. Jadi, Jendra masih mempertahankanmu di sana?"
"Iya," jawab Syahnaz dengan nada lirih. Tidak mungkin juga Rania tidak tahu apa-apa tentang kehidupan di rumah itu.
"Hah ... Aku tidak paham apa yang anak itu inginkan. Pasti sulit untukmu, Syahnaz. Kalau kamu mau pergi, seharusnya pergi saja, tak perlu selalu menuruti Jendra. Sementara ini aku tidak bisa pulang karena kondisiku yang sulit. Keponakanku kecelakaan dan kakakku terkena struk separuh badan. Aku tidak bisa meninggalkan mereka. Aku harap kamu bisa bertahan di sana."
Syahnaz tidak menyangka jika Rania tetap baik kepadanya. Sejak awal kedatangan Syahnaz ke rumah itu, Rania tidak pernah protes atau marah padanya. Ia kira Rania ingin menyuruhnya pergi dari rumah itu.
"Iya, saya akan berusaha untuk kuat dan bertahan," ucap Syahnaz.
"Aku tegaskan sekali lagi, Syahnaz. Kamu tidak perlu selalu mengikuti kemauan Jendra. Turuti saja kata hatimu," nasihat Rania.
"Baik, Nyonya. Akan saya ingat."
"Hm, padahal sudah aku suruh seperti biasa saja, panggil aku Mama. Kenapa kamu terus seperti itu?"
Syahnaz terdiam. Ia benar-benar merasa tidak pantas memanggil Rania dengan sebutan itu.
"Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Ada dokter datang," pamit Rania.
"Iya,"
__ADS_1
Syahnaz mengakhiri panggilan telepon dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Ia menghela napas, lalu melanjutkan pekerjaannya.
Matahari terasa semakin terik sementara pekerjaannya masih cukup banyak dan harus dilakukan sendiri. Beberapa kali ia mengusap keringat yang menetes di wajahnya.
"Apa pekerjaanmu belum selesai?" tanya Mamita dengan raut wajah datar seperti biasa.
"Eh, Mamita ... Belum, ini masih banyak," jawab Syahnaz.
"Sudah, tinggalkan saja pekerjaannya!" perintah Mamita.
Syahnaz melebarkan mata. "Tapi ini belum selesai," ujarnya.
"Biar yang lain saja meneruskannya. Kamu dipanggil Tuan Jendra ke ruang kerjanya sekarang juga," kata Mamita dengan ekspresi yang masih datar.
"Ah, iya," kata Syahnaz seraya meninggalkan sisa pekerjaannya. Ia melepaskan apron yang digunakan untuk melindungi pakaiannya lalu berjalan menuju ke rumah utama.
Entah apa yang Jendra mau sampai berani memanggilnya datang. Di rumah utama para pelayan sibuk melakukan pekerjaannya masing-masing. Sekilas ia lihat beberapa pelayan sempat melirik ke arahnya lalu membuang pandangamnya.
"Permisi," kata Syahnaz saat membuka pintu ruang kerja yang terletak di lantai bawah dekat dengan ruang tengah itu.
Tampak lelaki itu tampak sedang duduk di area meja kerjanya sembari menghisap rokok.
"Tuan butuh apa sampai memanggil saya?" tanya Syahnaz sembari menundukkan pandangannya.
"Mandilah! Aku ingin kamu!" kata Jendra tanpa basa-basi.
Syahnaz tertegun di tempat. Kedua tangannya dikepalkan.
"Tunggu apa lagi? Aku tidak punya banyak waktu karena harus kembali ke kantor lagi. Apa perlu aku bantu mandikan supaya lebih cepat?" tanya Jendra.
"Tidak perlu! Saya mandi sendiri saja!"
Syahnaz langsung berlari pergi menuju ke arah kamar mandi. Ia buru-buru melepaskan pakaiannya supaya bisa segera mandi dan menyelesaikan tugasnya.
"Siang ini sangat panas. Aku juga jadi mau mandi."
Ucapan Jendra membuat Syahnaz terperanjat. Ia sama sekali tidak mengira lelaki itu akan menyusulnya ke kamar mandi. Reflek ia menutupi bagian tubuhnya yang sudah terlanjur terbuka.
__ADS_1
Tanpa malu-malu, Jendra melepaskan seluruh pakaiannya. Ia berjalan menghampiri Syahnaz dan memeluknya. Adegan panas di bawah guyuran air shower pun akhirnya terjadi. Seakan ada gelora yang membara serta dinetralkan dengan kesegaran air yang mengalir.
Percintaan mereka tak berhenti sampai di sana. Jendra masih mengulanginya saat membawanya ke atas ranjang.
***
"Aku akan keluar lebih dulu. Kamu menyusul setelah 15 menit. Kenakan pakaianmu lagi dengan baik!"
Pesan Jendra masih Syahnaz ingat. Ia bertahan lebih lama menunggu Jendra keluar lebih dulu dari sana. Tujuannya sudah jelas, Jendra tidak ingin Elisa tahu apa yang sudah mereka lakukan.
Syahnaz kembali mengenakan pakaiannya. Tak lupa ia mengeringkan rambutnya yang basah dan menatanya kembali dengan rapi. Jendra pulang hanya untuk meminta jatah darinya. Meskipun kurang dari satu jam, tubuhnya terasa remuk, lelah tak berdaya.
Usai memastikan dandanannya telah kembali rapi, ia melangkah keluar dari ruang kerja Jendra dan berniat kembali ke kamarnya di paviliun belakang.
"Kamu kenapa, Syahnaz? Kenapa cara jalanmu aneh begitu?"
Syahnaz terkejut mendengar suara Elisa di dekat pintu ruangan itu.
Elisa memandang heran kepadanya. "Kamu ... Habis dari dalam ruang kerja Jendra?" tanyanya memastikan.
"Ah, iya, Nyonya. Saya baru saja selesai membersihkannya. Tadi saya tidak sengaja tersandung sesuatu," kilah Syahnaz.
"Benarkah? Memang kamu tersandung apa sampai seperti itu? Apa perlu aku panggilkan dikter?" tanya Elisa.
"Tidak perlu, Nyonya. Saya yakin nanti akan sembuh sendiri," tolak Syahnaz.
Elisa agaknya masih penasaran. Namun, alasannya seperti bisa diterima sehingga ia mangguk-mangguk.
"Kenapa sepertinya hanya kamu pelayan yang paling rajin di sini? Apapun pekerjaannya, kamu terus yang disuruh, padahal ada banyak pelayan di sini," telisik Elisa yang mulai curiga.
"Maaf, Nyonya. Mungkin itu hanya kebetulan saja. Pelayan yang lain juga sibuk bekerja. Rumah ini sangat luas jadi semuanya sibuk mengurus urusan masing-masing," kilah Syahnaz.
"Hm, mungkin memang aku yang kurang paham dengan rumah ini. Ya sudah, kamu kembali saja bekerja!" perintah Elisa menyudahi rasa penasarannya.
Syahnaz pamit kembali ke belakang. Cara jalannya yang tidak biasa membuat Elisa kembali memperhatikannya. Entah mengapa Syahnaz berjalan seperti sembari menahan sakit.
"Apa benar dia hanya tersandung? Kenapa seperti orang yang baru ...." Elisa mencoba menepis pikirannya yang tidak-tidak.
__ADS_1