
Elisa terduduk di atas ranjangnya dengan wajah yang sembab. Ia masih syok dengan kejadian yang menimpanya. Jendra ada di sana, menyusul Elisa untuk mendapatkan maaf. Namun, agaknya sang istri masih belum bisa memaafkan kesalahannya.
"Sayang, bicaralah padaku. Jangan mendiamkan aku seperti ini," bujuk Jendra.
Selepas dari kamar sebelah, Elisa keluar dari kamar itu dan kembali ke kamarnya. Jendra menyusulnya setelah mengenakan kembali pakaiannya.
"Kamu berharap aku bagaimana? Menganggap hari ini tidak pernah ada, hm?" Elisa tak bisa lagi memandang ke arah Jendra.
"Silakan marah padaku sepuasmu, Elisa. Setelah itu, dengarkan aku bicara," pinta Jendra.
Elisa tampak menghela napas. Ia sangat sedih sekali, perasaannya hancur dan merasa terkhianati.
"Apa setelah aku mendengarkan semuanya kamu berharap aku akan memaafkanmu? Tega sekali kamu melakukan ini kepadaku." Elisa kembali menitihkan air matanya. Sebagai seorang wanita, ia merasa bodoh selama ini tidak tahu apa yang suaminya lakukan dengan pelayan itu.
"Aku tidak ingin membela diri, Sayang. Aku memang bersalah." Jendra hanya pasrah berdiri di hadapan Elisa.
"Tega sekali kamu ... Kalau memang aku sudah tidak berguna, kenapa kamu tidak buang saja aku. Kenapa kamu melakukan hal ini kepadaku." Elisa terisak.
Jendra mendekat dan bersimpuh di hadapan Elisa. Hatinya turut hancur melihat wanita yang ia cinta bersedih hati akibat perbuatannya.
"Sayang, jangan menangis," bujuknya sembari menggenggam tangan lembut sang istri.
"Kita bercerai saja!" tegas Elisa.
Jendra terkejut mendengar ucapan Elisa. Ia merasa tidak terima.
"Tidak ... Tidak. Aku tidak mau berpisah denganmu, Sayang. Maafkan aku. Jangan meminta hal seperti itu kepadaku." nada suara Jendra terdengar gemetar. Ia sangat takut kehilangan.
Elisa tersenyum getir di sela-sela tangisannya. "Apa kamu ingin menyiksaku? Apa menurutmu aku ini robot yang tidak punya perasaan saat melihat suaminya sendiri bermesraan dengan seorang pelayan? Aku tahu kamu lelaki normal yang tidak bisa menahan gairah. Dan aku hanyalah seorang wanita tidak berguna yang gagal memenuhi keinginanmu. Jadi, tolong lepaskan aku."
Jendra menggeleng. Ia memeluk pinggang Elisa seraya merebahkan kepala di pangkuan sang istri.
"Jangan tinggalkan aku, Elisa. Aku tidak sanggup untuk kehilanganmu dua kali."
Elisa tak bisa menahan air matanya yang terus mengalir. Ingin rasanya ia memahami situasi Jendra, namun ia tidak bisa.
__ADS_1
"Aku tidak bisa berbagi cinta, Jendra," kata Elisa lirih.
"Hanya kamu wanita yang aku cintai, Elisa. Aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku!" Jendra terus merengek agar Elisa tak meninggalkannya.
Elisa tertawa kecil. "Kamu sedang bercanda atau bagaimana? Kalau memang kamu tidak mencintai wanita lain, kenapa kamu bisa tidur dengan pelayan itu?"
Jendra mengangkat kepalanya, menatap wajah sendu yang masih Elisa perlihatkan. "Sayang, aku membawanya demi mempertahankanmu di sisiku. Itu kemauan Mama."
Elisa akhirnya mau menatap lelaki yang masih bersimpuh di bawahnya itu. Ia keheranan saat Jendra melibatkan ibu mertuanya.
"Kamu pasti tahu beratnya berada di posisiku, seorang anak tunggal yang harus mewarisi bisnis keluarga dalam usia muda. Apalagi kamu, yang baru saja menjadi istriku saat itu mengalami kecelakaan tak lama setelah kita menikah. Lalu, kamu koma selama tiga tahun." Jendra mulai bercerita.
"Mama dan keluarga besar terus mendesakku untuk menikah lagi dan meninggalkanmu. Aku menentang kemauan mereka karena yakin suatu saat kamu pasti akan kembali sadar."
"Tahun pertama, kedua, bisa aku lalui meskipun berat. Ucapan semua orang tentang istri baru atau anak tidak pernah aku pedulikan. Sampai akhirnya di tahun ketiga, mama bilang setidaknya aku bisa punya anak, darah dagingmu sendiri jika tidak mau meninggalkanmu yang tetap terbaring koma selama tiga tahun."
"Akhirnya aku menyetujui persyaratan yang mama berikan. Aku mencari seorang wanita yang layak untuk melahirkan darah dagingku, agar mama dan keluarga besar tidak lagi bertanya-tanya. Itulah mengapa Syahnaz ada di rumah kita. Dia tengah mengandung anakku."
Napas Elisa terasa tercekat mendengar cerita itu. Hatinya semakin teriris mengetahui bayi yang tengah pelayannya kandung ternyata benih dari suaminya sendiri.
"Apa aku harus mempercayai ucapanmu? Bukankah kamu tetap menidurinya meskipun dia telah hamil? Kamu juga sepertinya sangat menikmati hubungan kalian," tepis Elisa.
"Katakan terus terang, Jendra. Kamu mencintainya, kan? Kamu mencintai pelayan itu?" tanya Elisa sembari berderai air mata.
"Elisa .... "
Elisa menepis pegangan tangan Jendra darinya. "Ayo kita bercerai saja supaya kamu bisa terus bersamanya!"
Jendra menggeleng. Ia tidak mau menuruti kemauan istrinya. "Apa yang harus aku lakukan supaya kamu tidak meninggalkanku?" tanyanya.
Elisa terkekeh. Rasanya ia hampir gila dengan sikap keras kepala sang suami.
"Panggilkan Syahnaz ke sini. Aku mau bicara berdua saja dengannya," pinta Elisa.
"Sayang ...."
__ADS_1
"Panggilkan dia!" pinta Elisa sekali lagi dengan nada tegasnya.
Jendra mengalah. Ia bangkit dan keluar dari kamar itu untuk memanggil Syahnaz.
Tak berselang lama, Jendra kembali membawa Syahnaz yang tampak serba salah di sana. Sebenarnya ia belum siap untuk berhadapan langsung dengan Elisa.
"Jendra, kamu keluar dulu! Aku hanya ingin bicara berdua dengan dia!" pinta Elisa lagi.
Syahnaz semakin merasa cemas. Jendra meyakinkan tidak akan terjadi apapun terhadapnya. Jendra meninggalkan kamar, membiarkan kedua wanita itu berhadapan.
"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan suamiku?" tanya Elisa dengan wajah kesalnya.
Syahnaz menggigit bibir. Tangannya sejak tadi sibuk ia kepal-kepalkan untuk mengurangi kepanikan.
"Saya ... Sekitar setahun lebih, Nyonya," jawab Syahnaz dengan nada suara bergetar.
Elisa tersenyum getir. Selama itu ia tidak menyadari hubungan mereka.
"Kamu tidak perlu lagi berpura-pura memanggilku nyonya. Panggil saja Elisa," ucap Elisa dengan tegar.
"Maafkan saya," lirih Syahnaz.
Elisa hanya bisa tersenyum getir menerima permintaan maaf itu. "Jadi, apa benar itu anak suamiku?" tanyanya memastikan.
Syahnaz menganngguk.
"Aku sungguh tidak menyangka ketika pulih akan dikhianati seperti ini. Sebagai seorang wanita, aku rasa kamu tahu itu." Elisa masih berderai air mata.
"Sejak awal aku tidak pernah bermaksud untuk menghancurkan keluargamu. Aku hanya melakukannya karena membutuhkan uang sesuai kesepakatan yang telah suamiku lakukan," kata Syahnaz.
"Apa?" Elisa bertanya-tanya.
Syahnaz tampak ragu untuk mengatakannya. "Mungkin kamu tidak akan percaya dengan ceritaku ini. Sebenarnya, suamiku telah menjualku kepada Tuan Jendra demi melunasi hutang. Aku diminta untuk melahirkan anak Tuan Jendra sebagai gantinya. Setelah anak ini lahir, aku akan pergi."
Elisa sungguh tidak bisa percaya dengan cerita semacam itu. "Apa kalian sudah gila? Kesepakatan macam apa yang telah kalian lakukan?"
__ADS_1
Syahnaz terdiam. Ia juga tidak mengerti seberat itu jalan hidup yang harus dijalani. "Maafkan aku," ucapnya dengan penuh penyesalan.
"Kamu kira maafmu bisa memperbaiki keadaan? Kamu sama jahatnya dengan Jendra!" kata Elisa.