
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Syahnaz saat melihat Jendra tengah merapikan diri di depan cermin. Semalam, lelaki itu tidur di kamar yang sama dengannya karena Elisa tidak mau diganggu.
"Aku mau ke kamar Elisa dulu, siapa tahu emosinya sudah mereda," jawab Jendra.
Ia mendekat ke arah Syahnaz, mengusap lembut kepala wanita itu, juga mengelus perut buncit yang berisi calon putranya.
Situasi mereka serba salah. Baik Syahnaz maupun Jendra sama-sama bingung dengan apa yang akan dilakukan untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Mas, mungkin lebih baik aku pergi saja siapa tahu hati Elisa bisa melunak jika sudah tidak ada aku," ucap Syahnaz yang turut merasa bersalah atas keretakan hubungan suami istri itu.
"Jangan gegabah, aku akan bicarakan lagi dengan Elisa. Semua sudah terjadi, seharusnya dia bisa bersikap bijak dengan semua ini," kata Jendra menenangkan.
"Aku akan menyerahkan bayi ini setelah lahir. Kalau memang Elisa tidak mau menerimanya, biar aku yang membesarkannya," ucap Syahnaz.
"Sudahlah, jangan berkata seperti itu lagi. Aku ke kamar Elisa dulu," pamit Jendra.
Sebelum kakinya melangkah meninggalkan kamar itu, gawai yang ada di atas nakas berdering. Ada panggilan telepon masuk untuk Jendra. Dengan sigap ia mengambil gawainya. Telepon dari asistennya.
"Halo, kenapa?" sapa Jendra yang tidak sabaran untuk mendengar informasi dari asistennya. Ia sudah mengatakan jika selama liburan ia tidak mau diganggu dengan urusan pekerjaan. Sehingga panggilan telepon itu cukup membuatnya kesal.
"Maaf mengganggu waktu Anda, Pak. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan." terdengar suara dari seberang telepon.
"Iya, katakan saja!" desak Jendra tidak sabaran.
Syahnaz memperhatikan Jendra dengan penuh rasa ingin tahunya.
"Baru saja datang dokumen perceraian ke kantor, Pak. Diserahkan sendiri oleh pengacara istri Anda."
Suara petir menggelegar seakan menyambar ketika Jendra mendengarkan informasi dari asistennya. Ia benar-benar terkejut mendengarnya.
"Kamu jangan mengada-ada!" kata Jendra yang masih tidak percaya.
"Benar, Pak. Saya sudah membacanya isinya sendiri. Ibu Elisa mengajukan gugatan cerai terhadap Anda."
Jendra mengakhiri teleponnya begitu saja. Ia panik. Dengan cepat ia berlari keluar dari kamar menuju ke kamar sebelah. Syahnaz yang kebingingan turut membuntuti dengan menahan perut besarnya saat berjalan setengah berlari.
__ADS_1
"Elisa ... Elisa ... Kamu dimana? Kita harus bicara!"
Jendra mencari-cari Elisa seperti orang gila. Setiap sudut ruangan di kamar itu ia cari berharap bisa menemukan sang istri. Sayangnya, Elisa tidak ada dimana-mana. Perasaannya semakin panik.
"Elisa ... Elisa!"
Jendra terus memanggil-manggil nama wanita yang sangat dicintainya. Ia sampai menangis saking tertekannya tidak bisa menemukan Elisa. Apalagi ia menyadari koper dan barang-barang milik pribadi sang istri sudah tidak ada lagi di sana.
Jendra terduduk di atas ranjang sembari menutupi wajahnya yang menyedihkan. Ini kali kedua ia menangis karena Elisa.
"Apa yang terjadi, Mas?" tanya Syahnaz dengan nada yang lembut. Ia duduk di samping Jendra dengan perasaan khawatir.
"Elisa sudah pergi dari sini," lirih Jendra.
Syahnaz turut kaget mengetahuinya.
"Jangan terlalu cemas, Mas. Bagaimana kalau kita pulang ke rumah? Siapa tahu Elisa sudah pulang lebih dulu," usul Syahnaz.
Jendra menghela napas. Ia mengusap air mata yang mengalir di wajahnya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun.
"Itu tidak mungkin. Elisa sudah mengajukan gugatan cerai kepadaku. Artinya dia benar-benar mau pergi dariku," kata Jendra dengan nada yang pasrah.
"Tidak mungkin Elisa secepat itu mengambil keputusan, Mas." Syahnaz tertegun. Seharusnya ia benar-benar pergi sebelum merusak rumah tangga mereka. Kini, nasi telah menjadi bubur. Rasa bersalah juga tak akan mampu mengubah keadaan. Elisa sudah pasti sangat membenci dirinya.
"Bagaimana kalau kita pergi ke rumahnya? Aku akan berlutut di hadapannya supaya tidak meminta perceraian. Antarkan aku ke sana," pinta Syahnaz.
"Elisa tidak punya rumah di sini. Dia tidak punya keluarga selain aku. Saudara-saudaranya jauh di luar negeri. Hubungan mereka juga tidak terlalu baik."
Jendra terlihat pasrah. Ia kemudian teringat dengan anak buahnya yang bisa diandalkan. Tomo, bodyguard kesayangannya pasti bisa membantu.
Jendra mengangkat ponselnya, mencari nomor kontak Tomo dan menghubunginya. Sayang, nomor yang ia hubungi tidak bisa tersambung.
"Ah!" kesal Jendra. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Tomo, namun gagal.
"Syahnaz, ayo kita pulang sekarang!" ajak Jendra.
__ADS_1
Syahnaz mengangguk menuruti kemauan lelaki itu.
Jendra memanggil staf pelayan hotel lewat sambungan telepon yang tersedia di kamar itu. Tak berselang lama, beberapa orang pegawai hotel pria datang. Jendra menyuruh mereka untuk membereskan barang-barang yang ada di kamar itu dan di kamar sebelah.
Syahnaz hanya memandangi kesibukan Jendra memerintah para staf hotel tersebut. Ia dilarang untuk membantu melihat kondisi kehamilannya yang menyusahkan.
"Ayo!" ajak Jendra setelah barang-barang mereka selesai dikemasi.
Kali ini Syahnaz menaiki mobil yang dikemudikan sendiri oleh Jendra.
Selama perjalanan, Jendra hanya terdiam sembari fokus dengan kemudinya. Syahnaz terus memperhatikan lelaki itu. Ia tahu persis bahwa perasaan Jendra saat ini pasti sedang kalut dengan kepergian Elisa.
Sesampainya di rumah, Mamita telah menyambut kehadiran mereka di depan pintu.
"Apa Elisa pulang?" tanya Jendra.
Mamita menggeleng. Raut wajahnya terlihat sedih. Jendra sudah bisa membacanya.
"Apa berita itu benar, Tuan?" Mamita memberanikan diri untuk bertanya.
"Mamita pasti sudah tahu," ucap Jendra lirih.
Mamita terlihat bersedih.
"Tolong antarkan Syahnaz ke kamarnya. Aku mau ke kamar atas dulu," pinta Jendra.
"Baik, Tuan," ucap Mamita.
Jendra berjalan lebih dulu menuju ke kamar atas. Sementara, Syahnaz berjalan menuju kamarnya di temani oleh Mamita.
"Aku minta maaf," kata Syahnaz.
"Kenapa kamu meminta maaf?" tanya Mamita dengan raut wajah datarnya.
"Aku tahu Mamita pasti sangat kesal padaku karena Elisa akhirnya memilih pergi," ucap Syahnaz yang terus merasa bersalah sepanjang hari.
__ADS_1
"Apa aku berhak kesal atau kecewa? Semua sudah keputusan Tuan, aku tidak bisa berbuat apa-apa," kata Mamita. Ia begitu menyayangi Elisa dan bersedih mengetahui kabar tentang kepergian majikan wanitanya itu.
"Kalau bisa mengulang waktu, aku juga tidak ingin masalah seperti ini terjadi," tutur Syahnaz.