
Syahnaz terbangun dari tidur. Di sampingnya, Jendra masih terlelap dalam kamar kecil yang ia tempati. Dari semalam, lelaki itu tidak mau kunjung pergi. Mereka bercinta sepanjang malam dan akhirnya terhenti setelah mengantuk.
Syahnaz merasa seluruh tubuhnya remuk. Bekas kemerahan tersebar di sekujur tubuh akibat ulah lelaki itu. Dengan segenap tenaga yang tersisa, ia turun dari ranjang menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat.
Kucuran air dingin yang keluar melalui shower menyegarkan tubuhnya. Rasa lelah seakan ikut luruh ketika air membasahi badan. Ia tak berlama-lama mandi karena masih terlalu pagi dan cukup dingin.
Ia kembali masuk ke dalam kamar mengenakan pakaian. Tidak lupa ia mengeringkan rambutnya agar tidak ada banyak pertanyaan jika ada yang melihat wanita keramas pagi-pagi.
Ingin rasanya ia membangunkan Jendra sebelum hari semakin pagi dan orang-orang mulai beraktivitas. Ia takut Elisa akan tahu. Namun, saat melihat wajah Jendra yang tampak kelelahan, ia menjadi tidak tega. Lelaki itu sudah terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengurusi Elisa.
Akhirnya, ia membiarkan Jendra tetap tertidur di kamarnya. Sementara, Syahnaz keluar kamar untuk memulai aktivitas paginya di rumah itu.
"Selamat pagi, Mamita," sapa Syahnaz kala ia sampai di area dapur. Di sana hanya ada Mamita yang tengah mempersiapkan masakan untuk pagi ini.
"Oh, kamu sudah bangun," balas Mamita setelah menoleh sekilas ke arah Syahnaz. Ia tetap fokus pada pekerjaannya mengiris daging yang akan diolah.
Syahnaz turut berdiri di samping Mamita. Ia berinisiatif mengupas bawang dan bumbu lain yang akan digunakan.
"Apa Tuan masih ada di kamarmu?" tanya Mamita.
Syahnaz terdiam sejenak. Mamita memang tidak mungkin tidak tahu apa yang terjadi di rumah itu. Sebenarnya dia sangat malu, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Iya, Tuan masih tidur," jawab Syahnaz lirih.
Mamita menghentikan pekerjaannya. Ia tampak menghela napas. "Tolong kamu lanjutkan pekerjaanku, aku lupa untuk mengecek stok bahan makanan pagi ini," pintanya seraya meninggalkan area dapur secepatnya.
"Oh, baiklah," jawab Syahnaz yang kebingungan dengan tindakan Mamita yang tiba-tiba. Ia meninggalkan pekerjaan mengupas bawang dan beralih mengiris daging yang tadinya dilakukan oleh Mamita.
Syahnaz melihat ke sekeliling, beberapa pelayan tampak tengah sibuk membersihkan area rumah yang begitu luas itu. Biasanya yang membantu di dapur ada dirinya, Ida, dan Lana. Namun, kedua rekannya itu belum juga muncul.
"Selamat pagi," sapa seseorang dengan suara lembut.
Syahnaz sedikit kaget mendengar sapaan yang tiba-tiba muncul. Ternyata Elisa. Masih mengenakan gaun tidur panjangnya, nyonya rumah itu berjalan menghampiri.
__ADS_1
"Kamu sedang apa?" tanyanya penasaran.
Syahnaz merasa kikuk dengan kehadiran Elisa. "Ah, saya sedang mengiris daging yang akan dimasak menjadi rendang," jawabnya.
"Oh, rendang ... Aku suka sekali rendang. Biar aku bantu, ya!" kata Elisa bersemangat.
"Jangan, Nyonya! Ini tugas saya! Biar saya saja yang melakukannya! Anda juga tidak boleh kelelahan," tolak Syahnaz. Ia terkejut nyonya rumah menawarkan diri untuk membantu.
"Tidak apa-apa, mengupas bawang saja aku bisa. Kalau tidur-tiduran terus, aku bosan," kata Elisa kekeh. Ia berdiri mensejajari Syahnaz dan mulai mengupasi bawang yang sudah dipersiapkan di sana.
Keberadaan Elisa di sampingnya, membuat Syahnaz semakin tidak nyaman. Rasanya ia tidak bisa berkonsentrasi kerja. Apalagi ia juga merasa bersalah karena semalam sudah mengijinkan Jendra tidur di kamarnya.
"Gelangmu bagus, ya," kata Elisa tiba-tiba.
Syahnaz langsung terperanjat kaget. Ia lupa dengan gelang pemberian Jendra semalam. Jantungnya berdebar kencang saking takutnya ketahuan.
"Apa itu dibelikan oleh suamimu?" tanya Elisa yang terlihat penasaran dengan gelang yang Syahnaz kenakan.
Ia mengakhiri pekerjaannya mengiris daging. Ia beralih ke depan kompor memindahkan potongan daging iris itu ke dalam panci untuk direbus agar lebih empuk bersama bumbu yang sudah dibuat sebelumnya.
"Sepertinya suamimu membeli itu di tempat yang sama di mall kemarin," kata Elisa.
"Benarkah?" Syahnaz tersenyum kecut. Sepertinya Jendra memang benar-benar membelinya kemarin bersamaan dengan saat mengantar Elisa ke mall.
"Iya, aku masih ingat persis bentuknya sama seperti yang Jendra pegang kemarin. Dia menawarkan gelang seperti itu padaku, tapi menurutku bentuknya tidak bagus. Aku lebih memilih bentuk lain."
Syahnaz menjadi penasaran kenapa Jendra membelikan benda yang sudah ditolak Elisa kepadanya.
"Bukan berarti itu jelek, ya. Kamu jangan kesal dulu, selera orang pasti berbeda," sambung Elisa.
Syahnaz mengulaskan senyumannya. "Iya, tidak apa-apa. Kalau prinsip saya memang menerima apa saja yang diberikan. Menurut saya, semua perhiasan itu bagus," katanya.
"Ya, semua perhiasan memang bagus. Siapa yang tidak suka dengan perhiasan," ujar Elisa sambil meneruskan pekerjaannya.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, apa pekerjaan suamimu? Aku jadi penasaran sampai dia bisa memberikanmu hadiah perhiasan yang harganya tidak bisa dibilang murah," telisik Elisa.
Syahnaz mulai merasa Elisa tengah mencurigainya. Memang, sebuah perhiasan dari brand ternama pastilah memiliki harga puluhan juta meskipun bentuknya sederhana. Seorang pelayan sepertinya butuh waktu satu tahun untuk mengumpulkan gaji demi bisa memakai gelang seperti itu.
"Pekerjaan suamiku tidak tentu, dia seorang freelancer. Tapi, dia sangat pandai menabung. Hanya untuk membeli benda seperti ini, baginya bukan hal besar, apalagi untuk istrinya sendiri," kilah Syahnaz.
Elisa mangguk-mangguk. "Oh, bertanggung jawab sekalu suamimu. Seharusnya dia tidak membiarkanmu jadi seorang pelayan di rumah orang, apalagi kamu secantik ini tidak pantas menjadi pelayan."
"Apa saya juga harus menjadi nyonya di rumah ini?" tanya Syahnaz.
Raut wajah Elisa langsung syok. "Apa?"
Syahnaz tertawa kecil. "Anda jangan serius begitu, Nyonya. Saya hanya bercanda," katanya.
Hampir saja jantung Elisa hampir copot. Ia kira Syahnaz akan mengatakan sesuatu yang membuatnya terkejut, ternyata hanya bercanda.
"Siapa peduli dengan paras, Nyonya. Kalau tidak bekerja, mana bisa punya uang? Lalu untuk makan juga perlu biaya," tepis Syahnaz.
"Nyonya Elisa! Kenapa Anda di sini! Biarkan itu pekerjaan untuk Syahnaz saja!"
Mamita yang baru kembali terkejut melihat majikan kesayangannya ada di sana. Apalagi Elisa terlihat sedang bekerja.
"Kamu ini kenapa, Mamita? Jangan berlebihan begitu, aku hanya mengiris bawang," ucap Elisa sambil terkekeh mendengar kekhawatiran pelayan paruh baya itu.
"Sudah, Nyonya! Hentikan! Anda tidak boleh seperti ini!" Mamita merebut paksa pisau yang Elisa pegang. Ia menjauhkan bahan makanan dari jangkauan sang nyonya.
"Nyonya, lebih baik Anda kembali ke kamar atau menunggu di ruang tengah. Nanti, setelah menu sarapan selesai, saya akan memanggil Anda kembali."
"Ah, aku bosan, Mamita ... Jendra tidak ada. Aku tidak tahu dia kemana, waktu bangun dia sudah pergi dari kamar," keluh Elisa dengan nada sedikit bermanja.
"Tuan ada di belakang sedang mengecek kolam ikan yang sudah lama tidak dibersihkan. Nanti biar saya panggilkan, Anda tunggu saja di ruang tamu, Nyonya," pinta Mamita.
Ia membawa Elisa menuju ke ruang tengah. Sekilas ia menoleh ke belakang memandang Syahnaz seolah ingin memperingatkannya. Syahnaz tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga melakukan apa yang memang Jendra kehendaki.
__ADS_1