Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Ingin Membunuh Aditya


__ADS_3

"Tolong kalian bawa ini semua ke mobil, ya. Aku mau ke toilet sebentar," kata Syahnaz.


Ia memberikan beberapa tas tenteng yang berisi barang-barang belanjaannya kepada kedua bodyguard suruhan Jendra. Hari ini ia belanja sangat banyak barang berhubung Jendra sedang berbaik hati agar ia membeli apapun yang disuka.


Tak menyia-nyiakan kesempatan, Syahnaz membeli beberapa perhiasan dan tentunya barang-barang bermerk dengan harga mahal. Ia sudah tidak memikirkan lagi apa yang namanya wanita murahan dan materialistik. Terkadang lelaki juga bisa sangat kejam dan terlalu merendahkan wanita.


Di balik sikapnya yang terlihat tenang dan penurut, ia tengah mempersiapkan rencana untuk kebahagiaannya sendiri.


"Aku masuk dulu, ya!" pamit Syahnaz bergegas masuk ke dalam toilet.


Kedua bodyguard yang Jendra tugaskan saling berpandangan. Tangan mereka sudah penuh dengan barang belanjaan dan masih ada lagi yang baru saja diserahkan oleh Syahnaz sampai tangan mereka tidak muat membawa lagi.


"Banyak banget ya, belanjaannya," guman si bodyguard bertubuh kekar dan tinggi yang bernama Sajal.


"Iya. Biasanya tidak seperti ini, kan?" balas bodyguard lainnya yang bertubuh lebih kecil, namanya Deno.


"Ya sudahlah, kita bawa sebagian dulu saja. Sopir juga sudah menunggu di depan pintu masuk," ajak Sajal.


"Oke. Sisanya kita tinggal sebentar di sini. Pasti aman, kan?"


"Iya, aman kok."


Akhirnya, Sajal dan Deno pergi lebih dulu membawa sebagian barang ke arah pintu keluar.


Tanpa sepengetahuan mereka, sejak tadi Syahnaz sudah mengamati diam-diam dari arah toilet. Ia kembali keluar setelah kedua bodyguard itu pergi. Segera ia pergi tanpa pamit dari sana. Tujuannya berpura-pura mau ke toilet memang karena ingin kabur dari mereka.


"Taksi!" seru Syahnaz.


Ketika sebuah taksi berhenti di hadapannya, ia buru-buru masuk sebelum ketahuan.

__ADS_1


"Pak, antar aku ke alamat ini!" pinta Syahnaz seraya menunjukkan kartu nama kepada sang sopir.


Merasa mengerti tujuan yang dimaksud, sang sopir kembali mengemudikan mobilnya. Syahnaz memperhatikan kedua bodyguard yang tengah sibuk menaikkan barang-barang ke dalam mobil.


Jendra tak pernah membiarkan Syahnaz pergi sendiri. Akan ada bodyguard yang menyertai. Itu sebabnya ia kesulitan untuk pergi-pergi. Apalagi mereka pasti akan melaporkan apapun kegiatannya di luaran sana.


Taksi berhenti tepat di depan sebuah perusahaan baru yang dipimpin oleh Aditya. Syahnaz sampai harus mendongakkan kepala agar bisa melihat gedung tinggi itu dengan sempurna. Ia tidak menyangka jika Aditya bisa secepat itu menjadi orang yang sukses.


"Permisi, bisa saya bertemu dengan Pak Aditya."


Syahnaz menemui seorang resepsionis yang ada di area lobi perusahaan. Ia menanyakan keberadaan Aditya di perusahaan itu.


"Maaf, kalau boleh tahu, apa Anda sudah membuat janji dengan Beliau?" tanya sang resepsionis dengan ramah.


"Em, saya belum membuat janji. Tapi, tolong sampaikan kepadanya kalau Syahnaz menunggunya untuk bertemu. Dia pasti akan mengenali saja," kata Syahnaz.


"Baik, Bu. Tunggu sebentar. Saya akan mengeceknya dulu."


Syahnaz benar-benar perlu berbicara dengan Aditya. Ada banyak hal yang lelaki itu lakukan tanpa sepengetahuannya. Ia harap Aditya bisa memberikan penjelasan dengan masuk akal atas perbuatannya. Bagaimanapun juga, kesabaran Syahnaz ada batasnya.


"Maaf sekali, ternyata Pak Aditya sedang tidak berada di tempat. Mungkin ibu bisa kembali lagi lain kali atau ada pesan yang ingin disampaikan?" kata sang resepsionis.


Syahnaz merasa kecewa. Harapannya untuk bertemu dengan Aditya pupus sudah. Padahal ia sudah mengusahakan untuk kabur demi bisa ke sana.


"Ya sudah kalau begitu, saya datang lain kali saja," ucap Syahnaz seraya pamit dari sana.


Kini, ia bingung harus pergi kemana. Pulang ke rumah Jendra pasti ia akan mendapat hukuman karena berani keluar rumah tanpa berpamitan. Ia berharap bisa menuntaskan masalahnya dengan Aditya secepatnya.


"Baru kali ini aku bekerja di kantor yang CEO nya sangat santai."

__ADS_1


"Iya, aku juga kaget. Kenapa Pak Jarwis menjadikan Pak Aditya sebagai CEO, ya?"


Saat berjalan di area depan restoran yang terletak di samping perusahaan, tanpa sengaja Syahnaz mendengarkan obrolan wanita muda yang sepertinya merupakan karyawan perusahaan.


Mendengar nama Aditya disebut, ia jadi penasaran. Langkah kakinya terhenti dan ia memutuskan untuk duduk di meja tak jauh dari mereka. Syahnaz juga memesan minuman dan makanan ringan untuk menemaninya di sana.


"Entahlah, mungkin Pak Jarwis khilaf. Aku perhatikan kerjaan Pak Aditya tidak ada yang pernah beres. Hobinya main judi online di ruangannya."


"Apa? Benarkah?"


"Benar, aku pernah memergokinya sekali. Karyawan lain juga banyak yang sudah tahu kelakuan Pak Aditya. Bahkan teman kita, Rangga, yang setipe dengan dia juga jadi akrab dengan Pak Aditya karena sama-sama hobi judi."


"Waduh, aku jadi takut kalau perusahaan langsung bangkrut kalau terus dipimpin dia. Rangga juga sudah punya banyak utang sama teman-teman kantor."


"Bukan cuma itu saja, dia juga sudah terjerat hutang sama beberapa pinjaman online! Tapi Rangga masih bisa santai kan, di kantor?"


"Iya, itu orang memang punya muka badak. Ditagih juga nggak bakal balikin saking kebanyakan hutang."


"Aku takutnya Pak Aditya juga mengalami hal yang sama. Bagaimana kalau diam-diam dia menggunakan uang perusahaan untuk berjudi?"


"Bukan cuma itu saja. Pak Aditya juga hobi clubbing. Dia suka main perempuan di klab malam."


"Serius?"


"Sumpah, deh, aku pernah melihatnya beberapa kali masuk ke Blue Ocean (salah satu nama klab malam yang terkenal di kota itu)."


"Ya, mungkin dia joget sama minum-minum biasa."


"Nggak, dia bawa wanita se ksi dari dalam sana. Bahkan mereka sampai masuk hotel."

__ADS_1


"Hm, kayaknya kita harus mulai mencari lagi lowongan pekerjaan sebelum perusahaan ini bangkrut! CEO kita terlalu bermasalah."


Syahnaz hanya bisa mematung mendengarkan omongan mereka tentang Aditya. Tidak pernah ada salam benaknya pikiran macam-macam bahwa Aditya akan mengecewakannya. Ingin rasanya ia menghunuskan pisau tepat ke jantung Aditya.


__ADS_2