Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Rasa Penasaran Elisa


__ADS_3

Elisa membuka matanya, menggeliatkan badan saat terbangun di pagi hari. Seperti biasa, di sampingnya sudah tidak ada Jendra. Ia heran kenapa lelaki itu selalu bangun lebih awal darinya.


Di atas meja sudah tersedia secangkir teh yang masih hangat, terlihat dari kepulan asap yang keluar dari dalamnya.


Segera Elisa beranjak dari atas ranjang meraih cangkir teh kesukaannya. Sudah menjadi kebiasaannya menikmati teh saat bangun tidur.


Ia mengecek area kamar mandi, berharap bisa menemukan suaminya di sana. Ternyata tidak ada tanda-tanda apapun. Suaminya tidak ada.


Elisa membawa cangkir tehnya menuju ke arah jendela, menikmati kehangatan minuman itu sambil memandang taman samping rumah. Terlihat pelayan yang sedang bersih-bersih di sana.


Ia memperhatikan pelayan itu secara seksama, ternyata Syahnaz. Dari cara jalannya terlihat aneh. Beberapa kali ia memergoki pelayan itu berjalan seperti menahan sakit. Paling sering ia lihat Syahnaz keluar dari ruang kerja suaminya dengan cara jalan seperti itu.


"Kenapa dia sebenarnya? Masa setiap hari kesandung," gumam Elisa heran sembari menikmati tehnya.


Selama berada di sana, ia memang tak pernah melihat Syahnaz bersikap aneh. Pelayan itu bersikap biasa saja, hanya sesekali saja ia merasa cara jalannya aneh.


"Oh, Sayang, kamu sudah bangun?"


Sapaan Jendra mengagetkan Elisa. Wanita itu tersenyum melihat kedatangan suaminya. Ia meletakkan minumannya di sisi jendela.


"Kamu sedang apa?" tanya Jendra seraya mendekat dan memeluk istrinya.


"Aku hanya sedang menikmati teh saja," jawab Elisa dengan senang ketika dipeluk oleh suaminya. Ia merasakan kenyamanan dalam dekapan lelaki itu.


Jendra melirikkan matanya ke arah jendela, menatap Syahnaz yang tampak di sana. Semalam lagi-lagi ia menghabiskan waktu di kamar kecil paviliun belakang tempat wanita itu tinggal. Ia masih saja belum bisa melepaskan wanita itu darinya. Syahnaz sudah menjadi bagian yang cukup penting untuknya meskipun Elisa sudah kembali pulih.


"Sayang, aku mau jalan-jalan ke pantai hari ini," rengek Elisa.


Setiap akhir pekan, ia ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan Jendra yang selalu sibuk bekerja.


"Apa tidak sebaiknya kita istirahat saja di rumah? Aku bisa menemanimu berenang," ucap Jendra.


Elisa melepaskan pelukannya. Ia memasang wajah memelas dengan bibir yang sengaja dimanyunkan. "Aku bisa mati kebosanan kalau di rumah terus ... Aku sudah cukup sehat untuk pergi ke luar."

__ADS_1


Melihat rengekkan Elisa membuat Jendra luluh. Ia menepuk-nepuk kepala wanita itu. "Baiklah, nanti kita pergi ke laut. Aku akan menyuruh Mamita untuk memberitahu Syahnaz dan Ida supaya ikut."


Elisa mengernyitkan dahi. "Kenapa harus mereka? Sepertinya setiap kali kita pergi mereka yag selalu ikut. Apa tidak ada pelayan lain yang bisa diajak?" gumamnya heran.


"Mereka pelayan yang paling muda di sini, belum dibebani dengan anak. Mereka juga paling tahu apa yang harus dilakukan. Lagi pula, Syahnaz salah satu pelayan yang sangat perhatian menjagamu selama sakit. Mungkin kamu tidak tahu," ucap Jendra.


"Benarkah?" tanya Elisa memastikan. Ia memang tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya selama tiga tahun koma.


Jendra mengangguk. "Dia yang selalu menggantikan perawat untuk merawatmu. Kalau tidak percaya, tanyakan saja pada Mamita," kata Jendra.


Elisa merenung sejenak. Rasanya ia merasa bersalah telah curiga kepada Syahnaz. Ia juga tahu Syahnaz selama ini selalu bersikap baik kepadanya, tidak ada hal menjengkelkan yang pernah dilakukan. Hanya saja, entah mengapa ia seperti ada sesuatu pada pelayan itu.


"Tapi, aku kasihan kepadanya. Sepertinya dia tidak terlalu sehat akhir-akhir ini," kata Elisa.


"Tidak terlalu sehat? Apa maksudmu?" tanya Jendra heran. Menurutnya, tidak ada yang aneh dengan Syahnaz, dia selalu terlihat sehat dan baik-baik saja.


"Cara jalannya itu aneh, Sayang. Seperti menahan sakit. Waktu aku tanya sih katanya karena tersandung sesuatu."


Jendra menelan ludah mendengar ucapan istrinya. Ia merasa harus lebih berhati-hati. Apa yang terjadi dengan Syahnaz pastilah karena perbuatannya.


Saat ia pulang siang dari kantor, ia beralasan ada pekerjaan penting. Elisa tahu persis ia tidak bisa diganggu saat fokus kerja. Elisa tidak akan berani masuk ke ruang kerjanya. Lalu, ia suruh Syahnaz tetap di sana sampai beberapa waktu setelah ia keluar dengan alasan untuk membersihkan ruangannya. Ia tidak menyangka istrinya mulai mencurigai Syanaz.


"Mungkin dia memang benar tersandung," kilah Jendra.


"Masa tersandung setiap hari, Sayang ...." Elisa masih merasa aneh akan hal itu.


"Sudahlah, kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal itu. Lagi pula, dia masih kelihatan baik-baik saja. Lebih baik ayo bersiap-siap ke pantai. Aku akan berbicara dengan Mamita dulu," kata Jendra seraya mencium kening istrinya lalu kembali pergi keluar dari kamar.


Elisa menghela napas panjang. Ia kembali memandang ke arah jendela, memperhatikan Syahnaz yang masih menyapu di belakang. Sosok wanita itu masih saja membuatnya penasaran.


***


"Aku dan Elisa mau pergi ke pantai hari ini," kata Jendra kepada Mamita di area paviliun belakang.

__ADS_1


"Baik, Tuan. Saya akan menyiapkan semuanya dan memberitahu Lana dan Ida untuk menemani," kata Mamita.


"Tidak. Biarkan Syahnaz dan Ida yang ikut!" tegas Jendra.


Mamita terdiam dan melebarkan matanya. "Tapi, Tuan, Syahnaz masih sibuk melakukan pekerjaan," kilahnya. Sebenarnya Mamita juga sudah bosan menuruti kemauan Jendra untuk mengikutkan Syahnaz. Ia ingin sesekali Jendra pergi berdua saja dengan Elisa dan fokus kepada istri.


"Kalau begitu, suruh pelayan lain untuk menggantikan dan biarkan Syahnaz bersiap-siap ikut ke pantai!" Ketika Jendra sudah memiliki kemauan, semuanya harus dilaksanakan sesuai dengan keinginannya.


"Ah, Syahnaz!" panggil Mamita.


Kebetulan Syahnaz melintas tengah membawa tempat sampah berisi dedaunan kering. Mendengar panggilan Mamita ia langsung berjalan mendekat. Sosok Jendra yang turut berada di sana membuat ia menundukkan kepala. Apalagi Jendra menatapnya dengan fokus membuatnya canggung meskipun semalam mereka baru menghabiskan waktu bersama.


"Ada apa, Mamita?" tanya Syahnaz.


"Hari ini Tuan dan Nyonya Muda mau pergi jalan-jalan ke pantai. Kamu bersiap-siaplah dan beritahu Ida untuk ikut. Aku akan menyuruh pelayan lain mempersiapkan bekal."


"Tapi, pekerjaan saya belum selesai, Mamita," kata Syahnaz.


"Tinggalkan saja, biar orang lain yang melanjutkannya," kata Mamita.


Syahnaz tak bisa menolak. Ia mengangguk setuju dan berjalan pergi menuju kamarnya.


"Apa kamu senang jalan-jalan ke laut?" tanya Jendra.


Tidak disangka lelaki itu masih mengikutinya.


"Saya hanya melaksanakan tugas, Tuan, bukan berarti suka atau tidak suka," jawab Syahnaz dengan nada sedikit ketus. Ingin sekali ia rasanya mengusir lelaki yang seenak hati melakukan apapun kepadanya.


"Aku harap kamu bisa ikut bersenang-senang di sana," kata Jendra.


Syahnaz menghela napas, berusaha bersabar menghadapi lelaki itu. "Tuan, saya mau masuk dan siap-siap dulu," katanya ketika telah mencapai pintu kamar.


Jendra menahan tangannya. "Aku sedang berusaha menyenangkanmu, Syahnaz. Kenapa kamu bersikap dingin begini? Waktu aku membelikan perhiasan untuk Elisa, aku juga membelikan perhiasan untukmu. Aku juga ingin mengajak kalian berdua jalan-jalan ke tempat yang sama."

__ADS_1


"Kalau bisa, Anda tidak perlu melakukannya, Tuan. Itu justru semakin membebani saya," ucap Syahnaz. Gara-gara kelakuan Jendra, gelang yang selalu dipakainya itu mengundang kecurigaan Elisa terhadapnya.


__ADS_2