Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Perhatian Elisa


__ADS_3

"Apa maksudmu bilang seperti itu kepada wanita tadi! Kami kan sudah bercerai dengan istrimu!"


Sonya marah-marah. Ia memukuli dada Aditya dengan kesal. Setiap kali ia ingin bicara, Aditya selalu membungkam mulutnya di hadapan Elisa.


"Tenang dulu, dengarkan penjelasanku," kata Aditya. Ia meraih tangan Sonya agar berhenti memukulinya.


"Kamu sudah janji mau menikahiku, Aditya!" seru Sonya.


"Iya, iya ... Aku ini lelaki yang tepat janji, Sonya. Kamu jangan khawatir, aku pasti akan menikahimu. Tapi, menikah juga butuh biaya. Aku akan mendapatkan uang lagi dengan memanfaatkan Syahnaz," ucap Aditya sembari menyeringai.


"Maksudmu bagaimana?" tanya Sonya penasaran.


"Dengar ya, Sayang. Aku yakin istri Jendra itu belum tahu kalau Syahnaz adalah simpanan suaminya. Aku akan memeras Jendra dengan menggunakan hal itu untuk mendapatkan uang. Setelah itu, aku akan menikahimu," kata Aditya dengan liciknya.


***


Setelah pertemuannya dengan Aditya waktu itu, Elisa menjadi kasihan setiap kali melihat Syahnaz bekerja. Apalagi kondisinya sedang hamil. Ia bahkan memerintahkan Mamita untuk memberi pekerjaan yang ringan kepada wanita itu agar tidak kelelahan.


Ia sudah mencoba berbicara kepada Jendra untuk memberikan cuti saja pada Syahnaz. Mereka bisa tetap membayar separuh gajinya selama cuti, sehingga Syahnaz bisa fokus pada kehamilannya. Namun, entah mengapa Jendra menolak dan menginginkan Syahnaz untuk tetap bekerja di sana.


"Hai, lagi siram bunga, ya?" Elisa mendekati Syahnaz yang tengah menyemprotkan air ke tanaman di kebun samping.


"Ah, Nyonya Muda ... Iya, saya sedang menyirami tanaman. Seharian baru diberi pekerjaan ini saja oleh Mamita," kata Syahnaz dengan sungkan.


Semenjak ia hamil dan keluar dari rumah sakit, Mamita tidak lagi memberikan banyak pekerjaan kepadanya. Ia hanya diberikan pekerjaan yang ringan dan santai.


"Perutmu masih belum kelihatan membesar." Elisa fokus memandangi perut Syahnaz.


"Kandungan saya baru memasuki usia kehamilan 16 minggu, jadi belum terlalu kelihatan."

__ADS_1


Syahnaz mengusap perutnya sendiri. Kehamilan ternyata menghadirkan perasaan bahagia dalam dirinya. Ia yang awalnya ingin hamil hanya agar bisa segera terlepas dari Jendra, kini sangat mencintai bayi di dalam kandungannya.


"Pasti berat ya, rasanya hamil jauh dari suami. Apalagi kamu harus tetap bekerja begini. Padahal aku sudah bilang pada Jendra untuk memberimu cuti agar kamu bisa tinggal bersama suamimu selama hamil," kata Elisa.


Senyuman di wajah Syahnaz pudar. Ia lupa jika Elisa menganggap dirinya masih istri Aditya. Padahal ia suka berada di sana karena ayah dari bayinya bisa dekat dengannya. Jendra menjadi lebih perhatian selama ia hamil.


"Ah, itu tidak perlu. Saya lebih suka bekerja untuk mengisi waktu," kilah Syahnaz.


Elisa menatap Syahnaz dalam-dalam. "Apa kamu sudah memberitahu suamimu tentang kehamilanmu ini?" pancingnya.


"Tentu saja sudah, Nyonya," jawab Syahnaz dengan kikuk. Ia semakin tidak nyaman berbicara dengan Elisa membahas hal-hal pribadinya.


Elisa mengerutkan dahi. "Lalu, bagaimana respon suamimu mendengar kabar kalau kamu hamil?" tanyanya lagi.


"Tentu saja dia sangat senang, Nyonya. Mana ada suami yang tidak senang mendengar istrinya hamil," kilah Syahnaz. Ia kembali menyemprotkan air dari selang pada tanaman untuk mengurangi ketegangan.


Syahnaz mulai kelimpungan untuk.mencari alasan. "Ah, tidak apa-apa, mungkin suami saya masih sibuk. Yang penting saya dan anaknya sehat dia akan senang," kilahnya.


"Bagus kalau sibuk bekerja, takutnya malah dia sibuk dengan wanita lain selama kamu tidak ada," kata Elisa.


Syahnaz tersenyum," Saya mempercayainya, Nyonya," jawabnya singkat.


Elisa merasa menyerah untuk memberi kode kepada Syahnaz. Ia takut jika memberitahu apa yang diketahuinya akan membuat Syahnaz syok dan berpengaruh pada kehamilan wanita itu.


"Baiklah, kalau begitu, teruskan pekerjaanmu. Aku mau pergi ke luar sebentar untuk berbelanja. Apa kamu mau ikut?" tanya Elisa.


"Tidak, Nyonya. Saya ingin menyelesaikan pekerjaan ini dulu." Syahnaz menolak dengan nada lembut.


"Ya sudah, aku pergi dulu," pamit Elisa. Ia brrbalik badan dan berjalan meninggalkan Syahnaz.

__ADS_1


"Syahnaz, pergi ke ruang kerja sekarang. Tuan menunggumu!"


Tak berselang lama dari kepergian Elisa, Mamita datang memberitahukan hal itu. Syahnaz segera menyudahi pekerjaannya dan menuju rumah utama untuk menemui Jendra.


"Sini, sini, ... Bumilku," panggil Jendra agar Syahnaz duduk di sofa sebelahnya.


Syahnaz mengembangkan senyum. Ia mendekat dan duduk di sebelah lelaki itu dalam posisi bergelayut manja. Jendra memberikan pelukannya.


"Seharian ini kamu ngapain aja?" tanya Jendra.


"Tidak banyak. Aku hanya malas-malasan di kamar. Tadi sedang menyiram bunga," jawabnya.


Jendra mengelus perut Syahnaz yang mulai sedikit membuncit meskipun tidak terlalu kelihatan. Rutinitas itu seakan sudah menjadi kebiasaan untuknya setelah tahu Syahnaz hamil.


"Sehat-sehat ya, jagoanku!" katanya.


"Mas, belum tentu anak kita laki-laki, loh! Kata dokter, untuk lebih memastikannya menunggu 18 minggu usia kandungan," tepis Syahnaz.


"Hm, tapi aku yakin kalau anakku ini cowok," kata Jendra kekeh. Ia terus mengelus perut Syahnaz dengan bahagia.


"Mas, tadi Elisa membahas tentang suamiku. Dia kira aku masih istrinya Aditya," lapor Syahnaz.


Jendra tidak terlihat senang mendengar hal itu.


"Dia sepertinya khawatir pada kondisiku yang sedang hamil dan ingin aku dekat dengan suamiku," kata Syahnaz.


Jendra mendekapnya dengan lembut. "Kamu di sini sudah tepat, karena kamu bisa dekat denganku, ayah dari anak yang sedang kamu kandung," tuturnya.


Perkataan Jendra sedikit membuat Syahnaz senang. Namun, ia seakan berharap lebih seandainya saja Jendra juga menjadi suaminya, bukan sekedar ayah biologis anaknya.

__ADS_1


__ADS_2