Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

Jendra baru saja menyelesaikan ritual mandi setelah perjalanan ke tempat wisata. Ia mengenakan handuk kimono untuk menutupi tubuhnya yang masih basah.


Ketika memasuki area kamar, terlihat Syahnaz tengah berdiri menatap ke luar kamar lewat jendela. Perlahan Jendra berjalan mendekat lalu mendekap lembut tubuh wanita itu. Ia membuat Syahnaz kaget.


"Oh, Mas, kamu sudah selesai mandi?" tanya Syahnaz yang terkejut dengan kehadiran Jendra secara tiba-tiba.


Ia sudah mandi sebelum Jendra. Ia tengah menikmati suasana malam, melihat bulan purnama dari jendela lantai dua sebuah penginapan tradisional. Tempat yang mereka datangi kali ini terkenal dengan pemandian air hangatnya yang biasa disebut onsen.


Jendra menciumi aroma leher Syahnaz yang selalu menggodanya. "Mau, nggak?" lirihnya.


Syahnaz menoleh ke belakang hingga mata mereka saling memandang. "Apa aku boleh menolak?" tanyanya.


Jendra mengembangkan senyuman. "Tentu saja tidak," katanya.


Ia menutup jendela yang ada di depan mereka. Dengan romantis, ia menggendong wanitanya ala bridal style menuju ke arah futon yang telah tertata di tengah ruangan. Penginapan tradisional itu memang tidak memiliki ranjang. Setiap tamu yang menginap bisa beristirahat malam di atas kasur lantai ala Jepang tersebut.


Perlahan Jendra menurunkan Syahnaz. Ia berada di atas wanita itu sembari menatap dengan penuh cinta. Ia membelai wajah cantik sang wanita, lalu tangan nakalnya menarik tali kimono tidur yang Syahnaz kenakan. Bentuk pakaian yang mereka kenakan sangat memudahkan untuk saling memadu kasih.


"Kenapa kamu sangat menggoda. Aku tidak bisa menahan diri setiap melihatmu seperti ini," gumam Jendra mengagumi tubuh wanita di bawahnya.


Jendra mendekatkan bibirnya, memagut bibir mungil Syahnaz dengan lembut. Keduanya saling mencumbu dan menggigit satu sama lain hingga situasi mulai terasa panas. Pakaian yang mereka kenakan sudah terlepas dengan cepatnya.


Momen liburan di Jepang menjadi momen yang paling banyak mereka habiskan untuk bercinta. Setiap kota yang mereka datangi menjadi saksi panasnya gairah hasrat mereka.


Saat percintaan mulai mencapai puncaknya dan Jendra hampir menggila saking nikmatnya, aktivitas mereka terusik oleh suara ponsel yang datang dari milik Jendra. Lelaki itu lupa mematikan ponselnya.


"Mas, angkat dulu, siapa tahu penting," ucap Syahnaz yang terlentang pasrah di bawah lelaki itu.


"Nanti saja."


Jendra yang sudah terlanjur memanas justru kesal mendengarnya. Ia tak ingin melepaskan wanita itu darinya. Apalagi suara erangan dan desa han napas Syahnaz justru membuatnya kian bersemangat bercinta.

__ADS_1


"Mas, itu bunyi terus," ucap Syahnaz yang turut terganggu dengan suara ponsel Jendra yang terus-terusan berbunyi.


Jendra mendengus kesal. Akhirnya ia bangkit dari atas futon sembari mengangkat Syahnaz dan menggendongnya.


"Mas!" seru Syahnaz saat tubuhnya tiba-tiba terangkat, reflek ia mengalungkan tangan ke leher dan berpegangan erat.


"Katanya aku harus mengangkat telepon, kan? Tapi aku tidak mau melepaskanmu," ujar Jendra dengan senyumannya yang penuh makna.


Ia membawa wanitanya berjalan menghampiri arah nakas dimana ponselnya berada. Ia mendudukkan Syahnaz di atas meja sementara sebelah tangannya meraih ponsel.


"Telepon dari siapa, Mas?" tanya Syahnaz.


Jendra mengernyitkan dahi. "Dari Mamita," katanya. Ia heran kepala pelayan rumah tiba-tiba menelepon.


"Halo," Jendra mengangkat telepon tersebut.


"Maaf, Tuan, jika saya mengganggu Anda."


"Ada apa, Mamita? Katakan saja," kata Jendra sambil terus menggerakkan pinggulnya hingga membuat Syahnaz susah payah menahan suaranya.


"Tuan .... Nyonya Muda ... Nyonya Elisa sudah sadar."


Prak!


Jendra reflek menjatuhkan ponsel saat mendengar kabar dari Mamita. Ia tertegun di tempat seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Hasrat yang semula menggebu-gebu seketika lenyap. Ia melepaskan dirinya dari Syahnaz dan bersimpuh di lantai.


"Mas, ada apa?" tanya Syahnaz heran.


Ia turun dan menghampiri Jendra yang tampak syok setelah menerima telepon. Lelaki itu belum bisa merespon pertanyaan yang Syahnaz berikan.


"Syahnaz ayo kita berkemas-kemas sekarang dan pulang!" pinta Jendra tiba-tiba.

__ADS_1


"Pulang? Tapi kenapa?" tanya Syahnaz penasaran.


Liburan mereka yang dijadwalkan memakan waktu dua minggu masih tersisa beberapa hari. Ia heran lelaki itu sangat cepat berubah pikiran. Biasanya Jendra tak akan mengakhiri percintaan sebelum menuntaskan hasratnya. Kali ini, lelaki itu bahkan hilang hasrat dalam sekejap.


Jendra mengangkat kepalanya, menatap mata polos Syahnaz dengan lekat-lekat. "Elisa sudah sadar dari komanya. Aku harus pulang sekarang," ucapnya.


Kini, giliran Syahnaz yang mematung di tempatnya. Perasaannya menjadi tidak karuan mendengar kesembuhan Elisa. Dia bukannya tidak senang dengan kabar itu, hanya saja ia sangat merasa bersalah selama ini menjadi wanita kedua yang menghangatkan ranjang lelaki beristri.


"Syahnaz, kenakan pakaianmu dan kemasi barang-barang!" tegur Jendra. Ia sudah mulai mengenakan pakaiannya sendiri dengan cepat.


Tanpa banyak bicara, Syahnaz menuruti kemauan Jendra. Ia memakai pakaiannya dan membantu Jendra mengemasi barang-barang. Terlihat Jendra juga sibuk dengan ponselnya, menelepon beberapa orang.


Setelah selesai berkemas-kemas, tak berselang lama, datang beberapa orang yang membantu membawakan barang bawaan mereka ke luar penginapan.


"Mereka akan mengantar kita ke bandara," kata Jendra dengan raut wajahnya yang masih tampak tegang.


Syahnaz melirik ke lelaki di sampingnya. Jendra langsung berubah dingin dan bahkan seakan tak mau meliriknya. Jendra lebih suka mengalihkan pandangan ke arah jendela.


Entah bagaimana caranya, sesampainya di bandara, mereka juga kembali disambut oleh petugas khusus bandara, lalu diarahkan ke ruangan VIP untuk menuju ke pesawat yang akan dinaiki. Syahnaz terkadang lupa jika Jendra sangat kaya. Apapun di dunia ini, jika ingin segalanya mudah memang butuh uang.


"Mas, aku harus bagaimana? Apa aku pulang saja ke rumah ibuku?" tanya Syahnaz khawatir ketika mereka telah duduk di area first class penerbangan pesawat.


Sebagai seorang wanita, ia tentu saja tidak tega melihat wanita lain menderita karenanya. Elisa yang baru bangun dari koma tentunya tidak tahu apa-apa tentang hubungan mereka.


"Kamu akan tetap pulang ke rumahmu karena kamu milikku," jawab Jendra.


"Tapi, Mas ... Bagaimana dengan Elisa?" tanya Syahnaz lagi. Ia merasa sangat tidak nyaman jika berkaitan dengan istri sah Jendra.


Jendra menengok ke arah Syahnaz yang duduk di sampingnya. "Itu urusanku. Kamu lakukan saja seperti biasa sebagai wanitaku yang penurut. Selama di sana, sementara kamu tinggal lagi di paviliun belakang."


Syahnaz terkejut mendengar keputusan Jendra. Itu artinya, ia akan kembali dijadikan sebagai pelayan di rumah itu. Ia tidak menyangka Jendra seserakah itu ingin memiliki semuanya. Ia tak bisa berkata-kata. Jendra pasti akan marah jika ia membantah.

__ADS_1


__ADS_2