
"Temanmu mana? Katanya ke toilet tapi kok nggak balik-balik?" tanya Arum.
Liana sampai lupa kalau Syahnaz belum juga kembali. Padahal ia sudah ngobrol banyak hal dengan Arum, teman kuliahnya.
"Ah, iya. Aku juga tidak tahu. Apa dia tersesat, ya?" tebak Liana.
Menurutnya, letak toilet seharusnya tidak terlalu sulit untuk ditemukan karena berada persis di belakang tempat acara itu.
"Coba kamu hubungi dia, jangan-jangan memang iya dia tersesat," saran Arum.
"Tasnya aku pegang," kata Liana seraya memperlihatkan tas Syahnaz yang sejak tadi ia pegang.
Arum menepuk dahinya. "Dia kan orang baru, aku rasa masih bingung dengan tempat ini."
"Iya, seharusnya tadi aku menemaninya saja," ujar Liana.
"Sayang, ayo kita pulang!"
Regi berjalan berdampingan bersama Jendra menghampiri mereka. Kehadirannya membuat Liana kaget, apalagi Syahnaz masih belum kembali.
"Syahnaz mana?" tanya Jendra yang tidak bisa menemukan keberadaan wanita itu di sana.
"Em, itu ... Tadi Syahnaz pamit mau ke toilet sebentar. Tapi, dia belum kembali, Jendra. Ini tasnya." Liana memberikan tas Syahnaz kepada Jendra.
***
"Mas, lepaskan aku! Aku tidak mau!"
Syahnaz berusaha melepaskan tangan Aditya darinya. Lelaki itu memaksa dirinya untuk ikut ke suatu tempat. Aditya tidak terima ia menolak kemauan lelaki itu untuk tidur bersama.
"Kalau kamu masih mencintaiku, berhentilah melawan, Syahnaz! Apa kamu tidak peduli dengan aku lagi?" bentak Aditya.
Wajahnya terlihat kesal. Ia memaksa Syahnaz untuk ikut dengannya ke salah satu kamar hotel yang sudah dipesannya. Ia sangat ingin tidur dengan istrinya. Ia tidak bisa menunggu waktu lebih lama lagi untuk melampiaskan hasratnya.
__ADS_1
"Kita bisa kena masalah kalau Pak Jendra tahu, Mas!" Syahnaz masih berusaha untuk mengingatkan perjanjian yang pernah mereka sepakati.
"Kalau begitu, jaga rahasia ini jangan sampai dia tahu! Mau aku buat enak juga protes terus. Diam!" gerutu Aditya menimpali.
Ada sisi lain Aditya yang terlihat di mata Syahnaz. Sebelumnya, lelaki itu tak pernah sekalipun kasar kepadanya. Entah mengapa Aditya yang sekarang menjadi sangat arogan dan pemaksa.
Syahnaz dibawa ke sebuah kamar hotel. Aditya mengunci pintu kamar itu dari dalam. Dengan kasar lelaki itu menghempaskannya ke atas ranjang.
"Rugi sekali aku menikahimu tapi tidak bisa menyentuhmu!" kata Aditya dengan raut wajah kesal.
Ia melepaskan jas yang dikenakannya dengan kasar lalu melemparkannya sembarang. Ia juga melepaskan satu persatu kancing kemejanya dengan tidak sabaran.
Syahnaz merasa takut. Meskipun lelaki yang dihadapi adalah suaminya sendiri, namun ia merasa tengah berhadapan dengan orang jahat. Aditya seperti orang yang sedang kesurupan dan sudah hilang akal.
"Apa kamu tidak tahu sudah berapa banyak uang yang sudah aku habiskan untuk membiayai kuliahmu? Hanya karena uang 50 juta kamu berani marah-marah dan kesal padaku!" gerutu Aditya.
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Mas. Aku hanya ingin meminta penjelasan saja."
"Iya, Mas. Aku minta maaf sudah salah paham," kata Syahnaz mengalah.
Aditya tak menghentikan perbuatannya. Ia melepaskan celana terakhir yang melekat di tubuhnya. Syahnaz sampai mengalihkan pandangan ke arah lain karena malu dengan kelakuan lelaki itu yang nekad tel anjang di hadapannya.
"Kenapa? Ini bukan kali pertama kamu melihat lelaki tanpa pakaian, kan? Aku ini masih suamimu, ingat itu!" tegas Aditya.
Tubuh Syahnaz tiba-tiba gemetar. Ia benar-benar ketakutan. Lelaki di hadapannya tidak seperti Aditya.
"Jangan, Mas. Aku mohon jangan!" pinta Syahnaz sembari menahan tangan Aditya yang hendak melepaskan pakaiannya.
"Sudahlah, nurut saja. Anggap kamu memberikan jatah kepada suamimu sendiri. Lelaki lain saja kamu layani masa suamimu sendiri mau kamu tolak?" rayu Aditya.
"Bukan masalah itu, Mas. Kalau ketahuan ...."
"Ssstt!" Aditya memotong ucapan Syahnaz. "Kamu diam saja, jangan banyak komentar!" perintahnya.
__ADS_1
Seketika Syahnaz terdiam. Ia hanya bisa pasrah saat Aditya dengan seenaknya melepaskan pakaian yang dikenakannya.
"Sialan sekali Pak Jendra itu. Dia sudah menikmati tubuh yang seharusnya jadi milikku. Aku jadi kesal membayangkan kalian bermesraan!" ujar Aditya kesal.
Matanya terpaku pada tubuh molek wanita yang tampak malu-malu di hadapannya. Syahnaz memiliki tubuh yang segar seperti yang selama ini dibayangkan. Ia semakin tidak sabar untuk merengkuhnya.
Syahnaz membuang muka. Ia sudah tidak sanggup lagi melawan keegoisan lelaki itu. Ia menahan malu dipandangi oleh mata liar suaminya sendiri.
Brak!
Sebuah suara keras mengagetkan keduanya. Pintu kamar terbuka secara paksa dengan begitu keras dari arah luar. Jendra berdiri di depan pintu dengan tatapan nyalangnya. Lelaki itu tampak murka melihat pemandangan yang tidak senonoh di hadapannya.
"Aaahhh ....!"
Syahnaz berteriak kencang seraya mendorong Aditya menjauh dari atasnya. Tanpa disadari, ia mengeluarkan tenaga yang begitu besar hingga Aditya jatuh terguling ke bawah. Syahnaz menutupi tubuhnya dengan selimut.
Jendra berjalan mendekat. Ia langsung menyasar Aditya dan memberikan pukulan tanpa ampun dengan murka.
"Bang sat! Beraninya kamu menyentuh sesuatu yang sudah menjadi milikku!" maki Jendra sembari terus memukuli Aditya.
"Hahaha ... Bagaimanapun juga dia masih istriku, Pak Jendra. Apa kita tidak bisa berbagi?" Aditya masih bisa berbicara meskipun wajahnya babak belur.
Jendra terlihat semakin murka. Pukulan keras kembali ia layangkan bertubi-tubi.
"Jendra, hentikan!" seru Regi yang kemudian datang.
Hampir saja ia menginjak bagian vital Aditya saking kesalnya. Namun, Regi memeganginya agar menyudahi perbuatannya.
"Tahan dirimu, Jendra. Kita sedang ada di acara penting. Bagaimana kalau banyak orang yang tahu? Lebih baik kamu cepat urusi Syahnaz dan bawa dia pergi dari sini. Aku akan berjaga di depan pintu," kata Regi.
Jedra menurut. Ia meninggalkan Aditya yang telah terkapar di lantai. Ia menghampiri Syahnaz yang sedang ketakutan di atas ranjang.
"Cepat kenakan pakaianmu!" perintah Jendra seraya melemparkan pakaian milik Syahnaz yang tercecer di lantai.
__ADS_1