Penghangat Ranjang Suami Orang

Penghangat Ranjang Suami Orang
Di Antara Dua Wanita


__ADS_3

Jendra dan Adrian masih duduk berhadap-hadapan di ruangan pribadi milik Adrian. Sejak tadi mereka terus membahas tentang Syahnaz dan sikap yang akan Jendra ambil kedepannya.


"Sebenarnya bagaimana perasaanmu terhadap Syahnaz?" tanya Adrian. Ia menanggalkan sejenak profesinya sebagai seorang dokter untuk mengajak bicara Jendra yang merupakan sahabat baiknya dari hati ke hati.


"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa tidak bisa melepaskannya. Dia sudah menjadi bagian penting untukku," jawab Jendra dengan wajah yang terlihat bimbang.


Sekilas Adrian menunjukkan senyum seringainya. "Jadi, kamu sudah jatuh cinta padanya?"


Jendra tidak bisa menjawab. Ia memilih diam. Setiap kali dihadapkan dengan pertanyaan tentang perasaannya terhadap Syahnaz ia selalu merasa bingung. Entah apa yang sebenarnya ia rasakan terhadap wanita itu.


"Hm. Aku rasa kamu memang sudah mencintainya. Lalu, bagaimana dengan Elisa? Apa kamu sudah tidak ada rasa kepadanya?" pancing Adrian.


Jendra menegakkan kepala menatap Adrian dengan serius. "Kamu ini bicara apa? Aku sangat mencintai istriku!" tegasnya.


"Kalau kamu sangat mencintai Elisa, bagaimana dengan Syahnaz? Apa kamu hanya menganggapnya sebagai wanita pemuas hasratmu saja? Kamu tidak punya perasaan yang mendalam kepadanya? Lalu, anak yang dia kandung bagaimana? Apa kamu akan mengakuinya sebagai anakmu? Kamu akan memberitahu Elisa tentang hal ini?"


Adrian terus mencecar dengan pertanyaan yang membuat Jendra pusing. Ia sampai memegangi kepalanya sendiri yang terasa mau pecah.


"Berhenti kamu bertanya Adrian, aku jadi pusing," protes Jendra.


"Ini sangat penting untuk langkah kalian ke depannya. Masa kamu tidak mau punya gambaran seperti apa nanti? Aku tidak mau ikut campur dengan keputusanmu, tapi, jadilah orang yang tegas dalam bersikap. Pertanggung jawabkan pilihan hidupmu!" kata Adrian.


"Aku juga masih memikirkannya. Kamu pikir ini mudah?"


"Dulu aku sudah bilang tidak usah terburu-buru mengambil keputusan untuk mencari wanita lain. Begini akibatnya kamu rasakan sendiri!" kata Adrian menyindir Jendra.

__ADS_1


"Kalau bukan karena terpaksa, aku juga tidak akan melakukannya. Mama memintaku untuk meninggalkan Elisa yang dikira tidak akan terbangun lagi. Aku juga dituntut untuk punya keturunan, jadi aku bisa apa?"


Adrian tertawa mendengar alasan Jendra. "Lalu, siapa yang minta obat untuk menunda kehamilan? Bukankah yang kamu inginkan sebenarnya hanya tubuh wanita itu saja, bukan keturunan yang utama untukmu! Kamu hanya ingin menyalurkan hasratmu saja! Kamu egois!"


"Terserah kamu mau bilang apa! Tidak mudah menjadi seorang lelaki yang ditinggal istri bertahun-tahun. Kamu tidak akan mengerti!" Jendra kukuh pada pendiriannya bahwa ia tidak salah mengambil keputusan.


"Kalau begitu, katakan semua kepada Elisa secara jantan! Jangan pengecut seperti sekarang!" bentak Adrian.


Pintu ruangan tiba-tiba diketuk, membuat emosi keduanya yang hampir memuncak akhirnya kembali mereda. Seorang perawat masuk menghampiri Adrian.


"Dok, pasien Ibu Syahnaz sudah sadar," katanya.


"Benarkah? Ayo kita lihat kondisinya sekarang!" kata Adrian semangat. Ia senang mendengar Syahnaz sudah sadar. Ia mengambil jas dokternya dan mengenakannya.


Jendra turut lega mendengar ucapan perawat. Iamembuntuti Adrian di belakang.


Adrian menyapa sebentar Elisa lalu segera berjalan masuk ke dalam ruang perawatan Syahnaz.


Jendra memperlambat langkahnya. Rasa antusias untuk menemui Syahnaz seketika sirna, berganti rasa sungkan untuk berhadapan dengan istrinya. Apalagi melihat raut wajah Elisa yang tampak murung.


Ia berjalan mendekat lalu memeluk wanita itu. "Sayang, maaf, ya, tadi aku meninggalkanmu," ucapnya.


Ia mengusap kepala Elisa dan menggandeng tangannya. "Kata Adrian, kondisi Syahnaz sangat mengkhawatirkan. Untung saja kami membawanya cepat sampai di rumah sakit. Kalau tidak, mungkin akan terjadi hal yang sangat buruk."


"Apa kamu sudah menghubungi suaminya?" tanya Elisa.

__ADS_1


Jendra tertegun mendengar pertanyaan dari istrinya.


"Kondisinya seperti ini dan katanya dia sedang hamil, kan? Aku rasa suaminya juga perlu tahu."


Jendra tidak menyangka jika secepat itu Elisa tahu tentang kondisi Syahnaz.


"Kamu tahu dari mana kalau Syahnaz sedang hamil?" tanyanya penasaran.


"Perawat tadi yang bilang. Katanya bayinya juga hampir keguguran karena pendarahan."


Elisa awalnya merasakan kecemburuan yang besar. Wanita mana yang akan rela melihat suaminya menggendong wanita lain di depan matanya sendiri. bahkan dengan ekspresi wajah yang tampak sangat khawatir.


Namun, setelah mendengarkan penjelasan detil dari perawat tentang kondisi Syahnaz, ia jadi kasihan. Tanpa ada orang yang tahu, ternyata wanita itu tengah hamil muda dan harus tetap bekerja.


Elisa tahu persis betapa rajinnya Syahnaz bekerja. Bahkan ia seperti pelayan yang dibebani banyak tugas macam-macam. Sampai harus menemaninya liburan di pantai juga.


"Ah, iya. Memang begitu. Aku dan Adrian juga sudah mencoba menghubungi suaminya. Memang agak sulit karena suaminya bekerja pindah-pindah di luar kota. Mungkin juga masih sibuk. Nanti aku akan menghubunginya lagi," kata Jendra.


Ia kembali menjadi orang yang takut ketika berhadapan dengan Elisa. Ia tidak sampai hati untuk menyakiti perasaannya jika sampai tahu kalau anak yang kini tengah dikandung oleh Syahnaz adalah darah dagingnya.


Semula ia hanya berkeinginan untuk main-main saja, menjadikan Syahnaz sebagai alat bersenang-senang. Ia sudah tidak lagi memikirkan tentang anak apalagi setelah Elisa sembuh.


Ia hanya merasa belum bosan dengan Syahnaz. Setelah bosan, ia juga akan membiarkannya pergi. Namun, kenyataannya, hari demi hari bukannya bertambah bosan, ia semakin terobsesi dengan wanitanya. Bahkan ia tidak rela jika membayangkan Syahnaz akan dimiliki lelaki lain ketika ia melepaskannya.


"Aku kan sudah bilang, sepertinya dia kelelahan akhir-akhir ini. Jalannya juga aneh seperti menahan sakit. Tapi, kamu selalu memintanya untuk ikut kemanapun kita pergi," gerutu Elisa kesal.

__ADS_1


"Iya, Sayang, iya."


Jendra hanya mangguk-mangguk. Ia juga merasa bersalah dengan kondisi Syahnaz saat ini. Ia sudah memforsir wanita itu melakukan hal yang dia mau siang malam tanpa henti. Bahkan masih menyuruhnya untuk melakukan pekerjaan sebagai pelayan rumah.


__ADS_2