
"Bagaimana kabarmu?" tanya Sumi sembari menggenggam erat tangan putrinya.
Syahnaz merebahkan kepala di atas ranjang, sambil tatapannya mengarah pada wajah keriput sang ibu di hadapannya.
"Aku baik-baik saja, Bu," jawabnya.
"Sebenarnya hubunganmu dengan Aditya bagaimana? Kalian tidak pernah datang berdua ke sini."
Syahnaz terdiam sejenak. Tak ada yang bisa dia ungkapkan tentang hubungannya dengan Aditya. Ia juga tidak tahu karena Jendra melarangnya pergi-pergi sembarangan tanpa pengawalan.
"Dia sibuk, Bu," kilah Syahnaz.
"Sesibuk apapun seharusnya masih bisa menyempatkan waktu untuk menjenguk ibu. Aditya itu aneh, baik hanya sebelum kalian menikah," gerutu Sumi.
Dulu, Aditya memang seorang memantu idaman bagi Sumi. Lelaki muda yang rajin bekerja dan baik hati itu mau membiayai kuliah putrinya. Makanya ia senang saat Aditya berniat untuk menikahi Syahnaz.
"Oh, iya. Katanya ibu sudah boleh pulang, ya?" tanya Syahnaz mengalihkan pembicaraan.
Ibunya memang sudah cukup lama dirawat di sana dan kondisinya semakin membaik. Ia sangat berterima kasih kepada Jendra yang sudah menanggung semua pembiayaan ibunya selama di sana bahkan tanpa mengurangi jatah bayarannya.
"Kata dokter tunggu tiga hari ke depan. Kalau memang kondisinya tetap stabil, ibu boleh pulang."
Syahnaz menghela napas lega. "Syukurlah, aku senang sekali ibu bisa sehat lagi," ucapnya seraya mencium tangan sang ibunda.
Tok tok tok
Pintu ruangan diketuk. Dua orang petugas kebersihan masuk ke dalam.
"Permisi, Ibu. Kami mau membersihan kamar ini dulu," ijin salah satu dari mereka.
Sumi dan Syahnaz mempersilakan mereka masuk. Kedua petugas kebersihan itu membagi tugas ada yang membersihkan bagian kamar mandi dan ruang perawatan.
"Bu, setelah ini aku pulang, ya. Soalnya sudah sore," kata Syahnaz.
"Iya, pulanglah. Salam untuk Aditya nanti."
Syahnaz hanya mengangguk mengiyakan permintaan ibunya.
"Kalau bisa nanti kamu mampir sebentar ke rumah, ya! Suruh orang membersihkannya, supaya nanti kalau ibu pulang bisa langsung ditempati."
__ADS_1
Syahnaz sampai lupa kalau ia masih punya rumah. Semenjak ibunya di rumah sakit dan ia tinggal di rumah Jendra, ia tak pernah mengunjungi rumahnya. Setahu ibunya, ia tinggal di rumah Aditya setelah menikah.
"Iya, Bu. Nanti aku mampir ke sana."
Brak!
"Aduh, maaf!" pinta salah satu petugas kebersihan yang tidak sengaja menjatuhkan tas milik Syahnaz ke lantai saat tengah berbenah. Isi tas tersebut ikut keluar karena tas dalam kondisi terbuka.
Buru-buru petugas kebersihan itu memunguti benda yang tercecer, ada bedak, lipstik, dan dompet. Untung saja tidak ada yang pecah.
"Maaf ya, saya tidak sengaja," ucap petugas kebersihan itu dengan wajah takut dan cemas. Ia menyerahkan tas itu kembali pada Syahnaz.
"Iya, tidak apa-apa," kata Syahnaz dengan santai.
"Ah, tunggu! Sepertinya ada yang ketinggalan!" kata petugas kebersihan itu. Ia berjongkok dan mengambil sesuatu dari bawah ranjang perawatan.
Petugas kebersihan itu memandangi botol berisi kapsul di dalamnya. Ia seakan penasaran obat semacam apa yang ada di dalamnya.
"Itu punyaku," kata Syahnaz karena orang yang memungut obatnya seperti sedang meneliti barang miliknya.
"Ah, iya, ini!" kata pelayan itu segera menyerahkan kembali pada Syahnaz.
"Kalau boleh tahu, anak Mba sudah berapa?" tanya petugas kebersihan itu tiba-tiba.
Syahnaz mengeryitkan dahi. "Anak? Aku belum punya anak," gumamnya heran.
"Iya, putriku belum memiliki anak. Dia baru menikah beberapa bulan," imbuh Sumi.
"Oh, begitu, ya, Bu. Mungkin putri Anda mau menikmati masa pengantin baru ya, jadi memutuskan untuk menunda punya anak dulu."
Sumi dan Syahnaz sama-sama terkejut dan heran mendengarnya. Mereka saling bertatapan.
"Syahnaz, kamu benar menunda kehamilan dengan Aditya?" tanya Sumi penasaran. Ia memang sangat ingin bertanya apakah putrinya sudah hamil atau belum.
"Nggak, Bu," kilah Syahnaz.
Syahnaz bingung sendiri. Ia bahkan sangat berharap bisa segera hamil dengan Jendra agar bisa lepas dari lelaki itu. Obat yang selalu ia minum juga bertujuan untuk kesuburannya agar cepat hamil.
"Tapi, obat itu gunanya untuk menunda kehamilan. Bisa dibilang itu pil K B kualitas terbaik yang bahkan bisa menghentikan hai d tanpa membuat gemuk. Atau mungkin itu punya orang lain, ya?" kata petugas kebersihan itu.
__ADS_1
Melihat respon lawan bicaranya yang seperti bingung, ia menjadi kikuk dan takut salah bicara. Sepertinya memang perkataannya membuat situasi di sana menjadi runyam.
Syahnaz tertegun sejenak mendengar ucapan orang itu. Rasanya ia tidak percaya, apalagi Jendra jelas-jelas mengatakan itu untuk kesuburannya. Juga Jendra membayarnya memang untuk memiliki anak. Tidak mungkin Jendra justru berniat membuatnya tidak bisa hamil.
"Syahnaz ...." panggil Sumi.
"Ah, iya, Bu! Obat ini titipan temanku, anaknya sudah tiga, jadi dia mau menunda supaya tidak hamil lagi," kilah Syahnaz.
"Oh, begitu. Ibu kira kamu yang menunda kehamilan. Jangan lakukan itu, takutnya nanti kamu malah jadi susah hamil. Punya anak dulu satu, baru kamu boleh pakai obat semacam itu," nasihat Sumi.
"Iya, Ibu. Aku akan melakukannya. Jangan khawatir," ucap Syahnaz mencoba menenangkan ibunya.
"Ibu juga sudah tua, ibu butuh cucu," kata Sumi.
Syahnaz hanya tersenyum. "Aku pulang dulu ya, Bu. Nanti kalau ada kabar dari dokter aku ke sini lagi," pamitnya.
"Hati-hati di jalan, Nak."
Syahnaz berjalan keluar meninggalkan ruang perawatan ibunya. Kini di dalam pikirannya dipenuhi dengan tanda tanya akibat ucapan pegawai rumah sakit itu.
Syahnaz mengeluarkan botol obat pemberian Jendra. Masih ada beberapa kapsul yang belum ia minum di dalammya. Ia tidak ingin percaya, namun kenyataannya selama ini ia tidak pernah haid semenjak mengkonsumsi obat itu. Badannya juga tidak melar seperti kebanyakan orang yang mengkonsumsi pil K B.
Ia memberanikan diri membawa obat tersebut ke apotek yang ada di rumah sakit setempat. Didekatinya salah seorang petugas yang terlihat tidak sibuk di depan apotek.
"Permisi, bisa aku tanya sebentar?" sapa Syahnaz dengan sopan.
Pegawai wanita itu mengulaskan senyum ramahnya. "Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
"Kalau boleh tahu, ini obat untuk apa, ya?" tanya Syahnaz seraya menunjukkan botol obat yang dibawanya.
Petugas bagian farmasi tersebut mengamati obat yang Syahnas maksud. "Oh, ini obat untuk menunda kehamilan, tapi harus dengan resep dokter," katanya.
Syahnaz kembali tertegun sesaat. "Jadi, obat ini tidak bisa didapatkan secara bebas, ya?" tanyanya memastikan.
"Tidak bisa, Ibu. Harus ada surat dari dokter kalau mau mendapatkannya. Dan setiap dokter belum tentu merekomendasikan obat itu kepada pasiennya. Harganya lumayan mahal, tapi terbukti ampuh untuk menunda kehamilan.
Syahnaz hanya mengangguk saja. Tubuhnya rasanya langsung lemas. "Kalau begitu, terima kasih untuk penjelasannya. Saya permisi dulu," pamitnya.
"Oh, iya. Senang bisa membantu Anda."
__ADS_1
Syahnaz berjalan lunglai keluar dari rumah sakit. Ia tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana. Rasanya tidak bisa dipercaya Jendra melakukan hal seperti itu terhadapnya. Ia tidak bisa membaca apa tujuan Jendra yang sebenarnya.