
"Kenapa sih kita tidak mendatangi dia langsung saja ke perusahaan?" tanya Sonya sembari menghisap rokoknya.
Siang ini, ia menemani Aditya pergi untuk menemui Jendra. Mereka menunggu di gang sebuah restoran yang tak jauh dari kantor Jendra. Sonya menyandarkan punggungnya pada dinding sambil menikmati rokoknya. Aditya melakukan hal yang sama di sampingnya.
"Aku tidak mau timbul kecurigaan oleh orang-orang. Pasti sudah banyak yang tahu kalau sekarang ini aku pengangguran gara-gara Jarwis sialan itu!" kata Aditnya dengan sedikit mengumpat.
"Lagian, kamu bisa-bisanya percaya dengan mudah pada orang seperti dia. Sudah banyak hal kamu lakukan, tapi dia menendangmu begitu saja," kesal Sonya.
Ia masih ingat betapa pontang-pantingnya Aditya dalam upaya menjaga perusahaan yang dirintis bersama Jarwis. Ketika perusahaan kekurangan modal, Aditya yang bersusah payah mencari suntikan dana.
"Mau bagaimana lagi? Awalnya Jarwis memang sangat bermulut manis." Aditya menyesap rokoknya dalam-dalam, berusaha menenangkan stres yang dialaminya.
"Tuh, Jendra sepertinya sudah keluar dari perusahaan mau ke restoran," kata Sonya sembari memberi kode pada Aditya.
Aditnya membuang sisa rokoknya, lalu menginjak puntungnya. Ia merasa senang bisa melihat Jendra keluar dari perusahaan.
"Tunggu di sini, aku akan menemuinya dulu," kata Aditya dengan seulas senyuman yang mengembang di bibir.
"Aku ikut," rengek Sonya.
"Jangan, nanti urusannya tambah repot," ujar Aditya menolak kemauan Sonya.
Ia berjalan sendirian meninggalkan Sonya di sana. Aditya mengikuti arah Jendra yang ia tebak akan menuju ke restoran seperti biasa.
Aditya memperhatikan penampilannya yang tampak cukup rapi. Ia tidak bisa berpenampilan gembel untuk menemui Jendra apalagi masuk restoran yang cukup terkenal itu.
Seperti biasa, Jendra menuju ke ruangan khusus untuk menikmati makan siang didampingi oleh asistennya.
"Jendra!" seru Aditya sebelum pelayan menutup pintu ruangan yang akan dimasuki Jendra.
Jendra menoleh. Raut wajahnya terlihat kesal ketika melihat keberadaan Aditya di sana.
Sementara, Aditya tampak kegirangan. Dengan semangat ia mempercepat langkah menghampiri Jendra. Asisten Jendra mencegahnya karena dianggap mengganggu.
"Ada hal penting yang ingin aku sampaikan padanya," kata Aditya mencari alasan.
__ADS_1
"Katakan saja cepat! Jangan membuang waktuku!" pinta Jendra yang tidak suka berhadapan dengan lelaki itu.
Aditya menyeringai. "Aku tidak bisa sembarang berbicara di sini. Ini menyangkut istrimu, Elisa," ucapnya.
Kini giliran Jendra yang terkejut. Ia tidak menyangka Aditya akan tahu tentang istrinya.
"Beri aku waktu sebentar saja untuk bicara denganmu. Bagaimana, apa kamu setuju? Soalnya kalau tidak, kamu akan menyesal," ucap Aditya dengan penuh percaya diri.
Jendra merasa tidak ada pilihan. Ia terpaksa mengiyakan kemauan Aditya. Ia memberi isyarat kepada asisten dan pelayan untuk meninggalkan mereka berdua dulu.
"Wah, enak sekali hidupmu. Setiap hari menikmati makanan mewah seperti ini," ujar Aditya. Dengan tidak malunya, ia mencicipi hidangan makan siang yang akan dinikmati Jendra.
Jendra hanya bisa menahan keheranannya melihat kelakuan tidak sopan semacam itu. Sejak lama memang Aditya suka meremehkannya.
"Katakan saja apa yang mau kamu katakan, jangan berbasa-basi. Aku tidak suka menyia-nyiakan waktuku," kata Jendra.
Mulut Aditya masih penuh oleh daging steak yang empuk dan berair. Ia mengunyahnya dengan penuh kenikmatan lalu menelannya.
"Aku tahu kalau Syahnaz sedang hamil," ucapnya.
"Tapi, aku rasa istrimu belum tahu kalau Syahnaz itu wanita simpananmu. Ternyata istrimu juga sangat cantik dan terlihat lugu," ucap Aditya sembari menikmati daging cincang yang nikmat di meja makan.
Jendra melebarkan mata. Tangannya menggenggam erat menahan amarahnya. Ia merasa ada hal tidak baik dengan lelaki itu.
"Namanya Elisa, kan?" tanya Aditya memastikan.
"Beberapa waktu lalu, dia datang menemuiku. Dia kira aku masih belum bercerai dengan Syahnaz. Dia memarahiku karena main perempuan sementara Syahnaz hamil. Bagaimana kalau sampai dia tahu kalau Syahnaz justru hamil oleh kamu? Pasti akan sangat seru. Hahaha ...."
Aditya tertawa sambil memandang dengan tatapan mengejek ke arah Jendra.
Amarah Jendra memuncak. Ia berjalan mendekat dan meraih kerah leher Aditya lalu mencengkeramnya dengan kasar. "Maumu apa?" tanyanya dengan tatapan nyalang. Ia merasa Aditya sedang berusaha memojokkan dan mengancamnya.
"Oh, tenanglah, aku orang yang sangat menyukai kedamaian. Jangan emosi seperti ini. Mari bicarakan baik-baik," usul Aditya.
Jendra melepaskan cengkramannya.
__ADS_1
"Orang hidup bukankah harus saling tolong menolong? Aku tahu kamu sedang kesusahan dan aku siap membantumu. Sebagai gantinya, kamu juga harus membantuku yang sedang kesusahan juga." Aditya mulai mengeluarkan rayuannya.
Jendra masih tertegun. Ia tentu saja merasa panik mengetahui Elisa sampai bergerak sendiri mencari tahu tentang Syahnaz. Ia begitu takut istrinya itu akan syok mengetahui hal yang bahkan ia sendiri belum siap untuk mengatakannya secara jujur.
"Tenang saja, aku tidak akan membocorkan rahasiamu kepada istrimu kalau kamu bersedia membantuku. Kamu bahkan boleh menjadikan aku tameng kehamilan Syahnaz untuk menyembunyikan perbuatanmu. Lagi pula, aku juga masih mau menerima Syahnaz dengan lapang hati meskipun sudah kamu nikmati."
Jendra tersenyum kesal dengan perkataan Aditya. Ia tidak rela Syahnaz kembali pada lelaki gila seperti Aditya.
"Terserah kamu mau minta apa, yang penting jangan sampai Elisa tahu. Dan kamu jangan coba macam-macam untuk bisa dekat dengan Syahnaz lagi. Aku akan mengawasimu!" kata Jendra sungguh-sungguh.
Aditya tertawa kecil. "Ternyata kamu memang orang yang sangat serakah, Jendra. Kamu masih menginginkan semuanya, termasuk Syahnaz."
Jendra tidak peduli dengan penilaian Aditya. Ia akan tetap dengan pendiriannya. Ia memang tak mau kehilangan baik Syahnaz maupun Elisa.
"Baiklah, terserah padamu saja. Itu juga bukan urusanku. Yang penting, kamu berikan uang 10 milyar, maka aku akan memutup rapat mulutku," kata Aditya.
"Apa?" Jendra tidak percaya dengan nominal uang yang Aditya minta. Sebelumnya ia juga sudah memberikan uang kepada lelaki itu. Sekarang, Aditya kembali meminta uang.
"Kamu pasti sudah dengar kalau aku baru saja ditendang keluar perusahaan oleh Jarwiz. Aku butuh uang," kata Aditya terus terang.
"Hah! Itulah akibat kalau tidak menggunakan etika bisnis yang baik. Sebelumnya kamu juga mengkhianati Regi," sindir Jendra.
"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi. Aku hanya datang ke sini demi uang. Jadi, apa kamu akan memberikannya?" tanya Aditya yang tidak mau berbasa-basi lagi.
Jendra mengeluarkan selembar cek dan pulpen dari saku jasnya. Ia menuliskan nominal yang Aditya minta lalu menandatanganinya.
"Ambillah! Jangan ganggu lagi kehidupan keluargaku! Kalau sampai hal buruk terjadi, aku tidak akan melepaskanmu!" tegas Jendra. Ia memberian cek itu kepada Aditya dengan kasar.
Aditya mengembangkan senyuman melihat lembaran cek itu. Ia merasa sangat bahagia. "Terima kasih, Jendra. Semoga hari-harimu menyenangkan. Selamat menikmati makan siang," pamitnya seraya keluar dari ruangan itu.
Jendra menghela napas. Ia terduduk merasakan tubuhnya yang menjadi lemas. Ia memijit keningnya sendiri yang terasa pening.
"Tuan, apa ada masalah?" tanya sang asisten yang terlihat khawatir. Apalagi ia sangat tahu masalah antara atasannya dengan lelaki yang beru keluar dari ruangan itu.
"Tidak ada, ayo kita makan siang sekarang!" kilah Jendra.
__ADS_1