
Happy reading ;)
.
.
.
...****************...
Mereka sedang menunggu dokter keluar dari ruangan zhifa sekitar 30 menit dokter keluar dengan wajah seperti seneng. Heh ini raka sedang khawatir kenapa dokter nya malah senyum² apakah dia seneng jika sakit? Itu pikir raka ia sangat kesal dengan ekspresi dokter di hadapan nya ini,ingin rasanya ia berteriak tapi sayang nya dia di rumah sakit.
"Dok bagaimana keadaan istri saya?" raka raka tak sabaran.
"Sabar ya pak,buk zhifa sedang istirahat di dalam saya sudah memberi obat tidur supaya buk zhifa lebih tenang" ujar dokter windi ,bukan itu yang raka mau dengan ia mau mendengar jika istri nya baik- baik aja.
"Dokter apa kita boleh melihat nya" tanya bunda arum meminta izin dengan ramah.
"Oh tentu saja buk mari kita bicarakan di dalam tetapi tidak smua ya"
"Kami akan pulang dahulu besok pagi kita akan menjenguk zhifa lagi, mengingat ini sudah malam si kembar akan sekolah besok" pamit della kepada arum dan raka.
Raka menggangguk " hati hati ma,pa"
"Mbak kita juga pulang kalau ada apa apa mbak telpon kami ya" ucap lisa sebenarnya ia malu menampakan wajah nya di deoan arum dan zhifa karna ulah risa yang membuat ia kehilangan wajah nya di depan mereka.
"Hm" bunda arum hanya melirik lalu masuk kedalam menyusul dokter yang terlebih dahulu masuk tadi.
"Tania ikut masuk" tiba tiba tania nyelonong masuk begitu saja meninggalkan raka yang menatap nya tajam karna suara tania akan mengganggu pasien lain.
"Gimana dok"
"Begini pak buk, saat ini kondisi buk zhifa sedikit lemah untung saja dia sangat kuat di sana, tensi nya begitu tinggi saya sarankan agar kalian smua tidak membuat nya kepikiran,stres,dan kelelahan"
"Maksud dokter apa? Dia? Kuat disana? " ujar raka bingung mengkerutkan kening nya.
"Bapak tidak tau.. Padahal bapak kan suami nya buk zhifa"
"Dokter yang cantik to the point dong gak liat apa muka kaka ipar saya merah gini udah nahan emosi" tania berucap dengan nada mengejek kaka ipar nya.raka hanya melirik tajam tania ,begitulah mereka tania yang selalu menguji kesabaran raka terkadamg raka berpikir tania ini kembaran istri nya atau bukan sifat nyaa saja sudah jauh beda.
Dokter windi terkekeu geli " iya selamat ya pak raka sebentar lagi bapak menjadi papa,em tunggu Sekitar 8 bulan lagi"
"Maksud dokter zhifa hamil?" tanya tania kaget sekaligus senang.
"Iya usia kandungan buk zhifa sudah 6 minggu itu sangat rentan sering sekali terjadi hal yang tidak kita ingin kan jadi saya sarankan kalian menjaga nya, saya tau ini adalah anak pertama beliau"
"Dokter cenayang ya" tanya tania bodoh langsung di hadiahkan cubitan sayang dari sang bunda.
"Awss bun sakit ih" rengek tania cemberut.
"Dia itu dokter jadi wajar dia tau kamu nih hidup 22 tahun masa gak tau" kesal bunda zhifa melihat tingkah aneh putri nya ini.
"Kalau begitu saya permisi pak,buk,dek" lalu dokter itu keluar dari ruangan menyisakan mereka.
Raka tak bergerak di tempat ia mash tak percaya kaki nya kaku hati nya berdetak kencang,ia masih belum mengerti kenapa smua ini,bayi nya ada di perut zhifa itu pasti adalah anak nya,dia akan menjadi papa yang sebenarnya nya.
"Raka!" panggil bunda arum
Raka yang tersadar dari lamunan nya langsung menoleh ke ibu mertua ny " eh ya bun" jawab raka sedikit linglung.
"Kamu kenapa diem aja dari tadi?"
"Raka masih gak percaya bun kalau raka akan menjadi papa sungguhan dari anak raka"
"Jaga dia ya nak mungkin dia masih memikirkan za, bunda percaya sama kamu karna za sudah di tangan papa kandung nya itu pasti membuat zhifa tak bisa menemui nya" nasihat bunda arum menepuk pundah raka pelan.
"Iya bun insyaallah raka janji akan selalu jaga zhifa" ucap raka mantap.
"Aaa gue mau jad onty lagi kali ini gue bisa usilin tuh bayi dari lahir,pokok nya dia harus jadi babu gue" batin tania senyum- senyum sendiri menatap perut zhifa yang memang sedikit buncit,licik memqng belum lahir aja udah di booking mau di jadiin babu memang onty minus akhlak sih.
"Bunda pamit ya gak papa kan bsk pagi bunda kesini lagi... Tania ikut pulang sama bunda kan?"
"Iya bun besok pagi tania kesini lagi ya"
"Bye kakak ipar bae bae ada suster kayang ntar di pojokan" ledek tania langsung di geret oleh bunda nya.
"Dasar tania sehari aja gak usil kek nya gak afdhol" gumam raka geleng geleng setelah pintu ruangan di tutup ia duduk di samping brankar tempat zhifa.
Raka duduk menggenggam tangan zhifa laly mencium nya berkali kali.
"Makasih sayang makasih"
__ADS_1
"Hallo anak papa kamu sehat sehat di sana ya baby kita ketemu nanti kalau udah waktu nya ya" raka mengusap perut istri nya dengan kasih sayang.karna pukul menunjukan jam 1 dini hari jadi memilih tidur di sofa untuk mengistirahatkan badan nya sebentar.
.
.
.
Jam 5 raka terbangun ia mengerjap ngerjapkan mata nya mengumpulkan nyawa nya ia menatap keranjang di sana ada zhifa yang sudah terbangun menatap langit langit rumah sakit dengan tatapan kosong, lalu raka berdiri melihat ada selimut di atas tubuh nya menyingkirman selimut itu lalu berjalan ke arah zhifa.
"Pagi sayang kamu udah bangun? Gimana ada yang sakit?" sapa raka mendekati zhifa dan duduk di kursi.
Zhifa menoleh " pagi mas, gak ada kok tapi kenapa bawa kerumah sakit sih lebay banget" ucap nya tersenyum ke arah raka.
"Aku khawatir sama kamu, em aku mau sholat subuh dulu ya sekalian beli sarapan kamu mau aku beliin atau mau makan masakan rumah sakit?"
"Aku mau bubur kacang ijo dong mas boleh?" pinta zhifa sedikit memelas.
"Boleh dong nanti aku beliin ya kamu tidur aja " zhifa menggangguk saja sebenernya ia malas tidur ntah kenapa ia tak ngantuk padahal zhifa terbangun dari jam 3 dan hanya menatap langit langit saja.
Raka keluar dari ruangam zhifa ia berjalan menuju musholla rumah sakit .
"Hallo my twins " pekikan menggelegar dari titsan mak lampir siapa lagi jika bukan tania yang masuk kedalam ruangan zhifa tanpa berpikir 2x sebelum berteriak.
"Tania!" bunda arum mempelototin tania tang berada di sebelah nua sedangkan sang empu yang di pkototin hanya cengengesan.
"Assalamualaikum pagi anak bunda" salam bunda arum berjalan dahulu ke arah zhifa yang sedang bermain ponsel.
"Waalaikumsalam pagi juga bunda" zhifa membalas sapaan bunda ia menaruh ponsel itu di atas meja.
"Gue yang nyapa tapi kagak di bales" kesal tania
"Bun ada yang ngomong tapi gak ada wujud" canda zhifa
"Ih zhifa" rengek tania seperti anak kecil yang bergelayut di tangan ibu nya.
"Tuh bun siapa sih liat nih tangan zhifa gerak² sendiri"
"Hiss gak like gue sama lo" tania menghempaskan tangan zhifa pelan dan duduk di sofa dengan cemberut.
"Haha gitu aja ngambek sih tan baperan banget lo"
"Lo sejak kapan jadi ngeselin gini sih zhif"
"Loh suami kamu mana zhif?" tanya bunda arum
"Oh mas raka tadi katanya mau sholat habis tuh beli bubur kacang ijo" jawab zhifa membuak paper bag yang di sodorkan bunda nya ternyata isi nya bolu.
"Bubur kacang ijo emng ada yang udah buka jam segini" heran bunda arum sedangkan ia saja lewat jalan masih terasa sepi karna memang ini masih terlalu pagi dan pedagang belum pda buka.
"Gak tau bun zhifa lagi pengen itu hehe"
"Ngidam lo aneh bet dah zhif kasian noh lakik loh nanti keliling kota nyari bubur doang" sahut tania yang asik berselancar di dunia maya nya.
"Ngidam apaan sih org pengen juga lagian zhifa gak hamil"
Bunda arum dan tania saling pandang.dan yah mungkin raka belum sempat memberi tau zhifa soal ini mungkin mereka akan diam dan biarkan raka yang memberi tau sendiri pada zhifa.
"Yasudah kamu habisin gih bolu nya"
"bunda mau sarapan di kantin kamu sendiri gak papa kan?
"gak papa kok bun"
lalu bunda dan tania keluar dari ruangan zhifa karna memang mereka belum semoat sarapan dan sekarang jam sudah pukul 6 pagi.
...----------------...
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam eh mas udah nyampek bubur aku mana"
Raka langsung menyodorkan tupperware ke arah zhifa.
"Loh kok tempat nya ini mas?" inikan tupperware di rumah nya kenapa bisa disini atau memang penjual bubur sekarang mengunakan tupperware.
"Oh itu tadi aku nyari di kantin gak ada jadi aku telpon bi ningsih suruh buat bubur kacang ijo untuk kami "
Zhifa manggut manggut langsung melahap bubur yang masih anget itu,padahal zhifa sudah mengahabiskan 1 bulo berbentuk persegi panjang.
"Ini bekas apa yang?" raka mengangkat bekas bolu yang ada di atas meja.
__ADS_1
"Itu tadi bunda yang bawa tapi udah habis"
"Kamu habiskan sendiri?" tanya raka du anggukin zhifa dengan semangat.
Raka melotot kaget bolu ini bisa di bilang cukup besar dan porsi nya bisa untuk beberapa orang tetapi zhifa menghabiskan nya sendiri dan sekarang bubur kacanag ijo itu di lahap seperti orang yang kelaparan. Biasany zhifa sangat anti makanan yang banyak karna ia bilang ingin diet tapi di rasa kata diet itu sudah hilang. Raka pun ingat bahwa di dalam sana ada janin nya yang ikut makan juga.
"Kamu gak makan mas?"
"Udah kok tadi di rumah makan masakan bi ningsih"
Zhifa sudah menghabiskan bubur nya,raka yang melihat itu pun tersenyum sambil mengelus kepala zhifa. "Pintar banget istri siapa sih ini" gemas raka melihat zhifa yang sedikit berisi.
"mas zaraka yang tampan" jawab zhifa
"Mas"
"Iya"
"Aku kok gemukan ya"
"Gak kok "
"Tapi mas liat nih perut aku buncit apa karna makan bolu sama bubur tadi" ujar zhifa menunjuk perut nya yang buncit karna kekenyangan.
"Haha itu karna di sini ada baby kita sayang " raka beralih mengelus perut zhifa.
"Ma-maksud kamu di sin-i ada baby ki-ta" ucap zhifa kaget sekaligus bahagia.
"Iya sayang iya disini ada baby kita..kamu hamil dan usia nya udah 6 minggu" jelas raka
Zhifa menitikan air mata nya dan memegang perut nya sendiri " hah ini beneran "
Zhifa langsung memeluk raka erat dan memangis haru ia jadi keingat za putri nya sebrnarnya zhifa ingin menangis dari tadi tapi ia takut menumpahkan segala nya kepada yang lain.makanya ia memilih membuat kesibukan sendiri
"Udah dong masa nangis sih nanti baby nya ikut sedih loh" raka berusaha menenangkan zhifa ia mengusap air mata yang ada di pipi zhifa dengan lembut.
"Mas za pasti seneng denger nya kalau dia punya adik"
"Hey sayang denger ya za pasti seneng tapi dia gak mungkin ke sini karna deon melarang dan menjaga za sangat ketat"
"Mas aku mau ketemu za" cicit zhifa menunduk sambil memejamkan mata nya berusaha menahan air mata nya agar tak jatuh.
"Iya besok mas akan berusaha nemuin kamu sama za ya" ucap raka lembut memeluk istri nya dan mengusap usap punggung zhifa.
"Hadehh ya peluk² an pagi pagi gini enak banget dah..bucin banget kalian berdua" cibir tania sambil mengipas kisap tangan nya di udara mengipasi wajah nya.
"Jomblo diem!" tania hampir kaget dengan suara serempak sepasang suami istri itu. Tania melotot tak terima di katain jomblo ya walau kenyataan nya memang.haha
"Haha ia tania itu iri kalau iri artinya tanda tak mampu " ledek sang bunda
"Ih bunda bukan nua belain anak nya juga malah ngatain jomblo" rngek tania
"Makanya nikah jangan jadi beban" ujar raka meledek tania.
"Astagfirullah awas aja kalau gue nikah kalian berdua harus bayarin honeymoon gue ke negara sakura"
"Oke kita bayarin tapi ntah kapan tuh" kekeh zhifa
"Wah songong bener nih bumil.. Oke pokoknya gue nikah dalam waktu 3 bulan ini nanti kalau lewat baru bunda yang jodohin" tantang tania tanpa sadar apa yang dia ucapkan.
"Kamu kira nyari cwok dalam waktu 3 bulan bisa,nyari suami kok kek nyari bubur"
"Beneran nih nanti bunda boleh jodohin kamu?" tanya bunda arum menaik turunkan alis nya.
"Eh upss" tania menutup mulut nya setelah ia sadar.
"Anjir banget sih nih mukut asal jeplak aja aduhh 3 bulan emng ada cwok ma gue arkkhhh tania khilaf gimana dong" batin tania menjerit
"A ya lah ia apasih yang gak buat bunda" berusaha menutupi kegugupan nya tania mejawab dengan santai padahal jantung nya ketar ketir.
"Asikk"
"Jodohin aja bun sama yang tua bangka bau tanah kayak nya rekan bisnis ayah angga banyak tuh yang duda" goda raka
"GAK MAU!" pekik tania tak terima
"Enak aja sama duda tapi kalau ganteng gakpapa sih bun biar aku jadiin sugar daddy"
"Kamu ini ada ada aj" lalu mereka smua tertawa lepas lalu mereka melanjutkan dengan meledek tania seakan tania di bully..
"Aaa tolong tania di bully" ringis tania meratapin kesendirian nya dan berujung di pojokan kqrna tak bisa uwuw² dan masih jomblo.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...