Perjalanan Kisah Cinta Zhifa

Perjalanan Kisah Cinta Zhifa
72.Kedatangan


__ADS_3

hallo assalamualaikum'..


kali ini aku up lagi rasanya setelah lama hiatus baru up lagi vibes nya agak lain. hehe


Happy reading


...****************...


Tania datang dari arah tangga untuk menghampiri arum yang sedang bersantai.“Bun tania mau ngomong sesuatu” bunda arum yang asik menonton pun mengalihlan pandangan nya ke arah tania yang duduk di samping nya.


“Eh mau ngomong nak”


“Anu bun kalau nanti keluarga deon mau ke sini” cicit tania menundukan kepala takut sekaligus gugup berbicara bahwa deon akan kerumah bersama keluarga nya.


“keluarga deon? Mau main ya yaudah gak papa nanti bunda masakin, kamu mau bantu bunda gak?”


Bunda arum berdiri tapi tangan nya di cekal oleh tania “ bukan bun tapi dia mau—“


“Mau apa? Atau dia mau nuntut zhifa karna za?” tebak nya membuat tania menggeleng cepat.


“lalu apa” bingung bunda arum.


“jadi gini bun—“ tania menceritakan bahqa keluarga deon sudah mengetahui bahwa deon memiliki anak tetapi yang keluarga deon tau tania lah ibu dari za bukan risa.


“jadi maksud kamu, kamu ngakuin kesalahan yang bukan kamu buat? Tania ya allah sadar nak jika kamu begitu bukan orang tua deon saja tetapi semua orang yang tidak tau pun kamu bohongin” nasehat bunda arum memijat pangkal hidung nya tiba tiba kepalanya berdenyut mendenger cerita tania.


“Tania ngelakuin ini demi zhifa dan za bun, tania gak mau mereka jauh jika deon bersama risa pasti mereka akan pergi jauh dan gak biarin zhifa bertemu tetapi jika dengan tania zhifa bakal bisa bertemu sesuka hatinya”


“tidak dengan cara itu tania pasti keluarga menganggap yang tidak tidak kepada mu”


“mereka baik bun , tania udah bicara tapi tania mohon sama bunda jangan bilang kalau tania bukan ibu kandung za” mohon tania penuh harap memegang tangan arum.


“kalau keluarga risa tau?”


“itu urusan deon dia akan mengurus itu” bunda arum hanya menggangguk dia tidak bisa bertindak jauh sekarang karna anak nya sudah besar dan memilih jalan sendiri biarkan tania mandiri, ia tidak mau ikut campur urusan percintaan anaknya.


.


.


.


Zhifa dan raka turun dari mobil mereka memakirkan mobilnya di parkiran taman. Za di gendong oleh raka tetapi balita itu memberontak ingin turun untuk saja zhifa sudah memakaikan nya sepatu.


“Uyun” ucap za menggoyangkan kaki nya dan mendorong raka dengan tangan mungil nya.


“anak papa mau turun hm! Oke “ raka menurunkan zat dan menggandeng nya. Usia za yang sangat aktif mampu membuat orang dewasa kewalahan.


“za mau kemana nih” tanya zhifa kepada balita itu dan menggandeng tangn nya.


“Ain tuu mam-ma”


“gak boleh” tolak raka menggoda za tetapi mata anak itu langsung berkaca kaca dan melepas kan tangan nya yang di genggam raka dan memeluk kaki zhifa


“hua mam-ma apa jaat huaaaa” tangis za mengeratkan pelukan nya di kaki zhifa. Zhifa melotot garang menatap suaminya yang senang sekali menggoda za.


“anak cantik ga boleh nangis, itu kita kesana bermain bersama teman mau?” bujuk zhifa menghapus jejak air mata za di sudut matanya.


“Auu” za menggangguk lucu membuat zhifa gemas dan mencium pipi anaknya membuat za yang tadi menangis tertawa karna geli.


“Papa juga mau dong di cium” rajuk raka ikut berjongkok di samping za.


“ndak emen apa” lalu za berjalan diikutin zhifa di belakang nya.


“Sabar yang mas” ejek zhifa mengelus lengam suaminya jangan lupalan wajah nya yang terkesan menyebalkan.

__ADS_1


Raka mengcebikan bibirnya kesal “makanya jangan jahil ama anaknya”


setelah puas bermain kini mereka bertiga berniat meninggalkan taman dan ingin pulang.


“za seneng gak” tanya zhifa di anggukin za dengan semangat.


“eneng”


“za mau es krim?” tawar raka melihat tukang es krim yang tak jauh dari pandangan mereka.


“Auu”


“cium papa dulu dong” raka langsung menggendong tubuh mungil za.


Cup


Za mencium pipi kiri raka dengan cepat. “oke papa beliin tapi za gak boleh ngambek sma papa lagi oke?”


“ote apa” pekik za senang.


Zhifa hanya tersenyum melihat interaksi suaminya dan za yang mana membuat hatinya menghangat.


“main nya nyogok yakan za” ucap zhifa tetapi balita itu tidak paham apa yang dikatakan zhifa ia hanya mengerjabkan matanya imut.


“Gak ya” kilah raka tak terima meskipun kenyataan nya begitu.


“Bun tania mau ke taman belakang bunda ikut gak?” teriak tania dari dalam rumah berjalan ke arah bunda nya yang sedang mengiram tanaman miliknya.


“Teriak teros ga sopan kamu” omel arum menatap garang anaknya.


“hehe maap bun”


“kamu aja sana bunda mau benerin banyak yang rusak karna ayam” tania menggangguk lalu berlari kedalam. Rencana nya ia akan menonton di belakang sambil menikmati udara sore yang segar karna di belakang rumah tak kalah banyak bunganya dan lebih hijau-hijau daripada bunga di depan rumah.


 


“Assalamualaikum permisi” ucap wanita paruh baya berdiri tepat di belakang arum.


Arum kaget langsung menoleh dan berdiri “ eh walaikumsalam, siapa ya?”


“saya devi ibunya deon” ibu deon mengulurkan tangan nya beeniat menjabat tangan dengan arum.


“ya ampun maaf ya buk, bukanya ga mau tangan saya kotor” bunda mengatupkan tangan nya tak enak karna tak menerima uluran tangan ibu dari deon.


Devi hanya terkekeh “ tidak masalah buk”


“mari masuk kita bicara di dalam saja” bunda arum mempersilahkan kedua paruh baya yang ia tebak orang tua deon. Mungkin ingin bicara tentang za seperti apa kata tania.


“Sepi ya pa kemana semua orang ya” tanya devi kepada suaminya. Mereka duduk di sofa menatap sekeliling rumah sepi dan senyi tidak ada keributan apapun.


“Maaf ya pak buk, hanya ada ini silahkan di minum”


“jadi ngerepotin buk”


“enggak kok minum dulu ayo mumpung masih anget” suruh arum  dan di anggukin oleh mereka berdua menggangguk kaku.


Dandi berdehem terlebih dahulu sebelum memulai berbjcara.” Jadi begini buk kedatangan kami kemarin ingin membicarakan soal anak kami dengan anak buk arum yaitu tania...”


“.....sebelum saya minta maaf apa yang telah di perbuat anak saya kepasa anak ibu, saya sebegai orang tua merasa gagal mendidik nya”jelas dandi menatap arum yang terdiam memikirkan sesuatu.


“itu sudah berlalu biarkan saja, mungkin memang sudah takdir itu terjadi di sini tidak ada yang benar atau pun yang salah karna mereka berdua adalah korban” arum menanggapi dengan senyuman dia juga tak tau persis kejadian nya seperti apa jadilah dia tidak membela siapa siapa disini..


“Maafkan anak saya ya buk, saya rasa deon terlalu brengsek dan tak mau bertanggung jawab”


“Saya sudah memaafkan nya semua tergantung dengan tania nya, kalian ingin bagaimana?” tanya arum serius

__ADS_1


“menikah”


Arum menggangguk “ baiklah kalian bisa bicara dengan kedua belah pihak yaitu deon dan tania saya sebagai orang tua tidak mau mengambil keputusan sendiri”


“lalu dimana tania?”


“ada di belakang mari kita kesana saja jika di panggil juga gak bakal datang anaknya”


Arum berdiri di ikutin oleh devi dan dandi di belakangnya.


“Stts pa?” panggil devi berbisik ke telinga ssuaminya


Dandi menaikan alis nya pertanda bilang apa.


“kek ada yang kurang ya pa? Kita kek nya ngelupain sesuatu” ucapan devi seraya berpikir seperti ada yang ketinggalan dan yang ia lupakan tapi ia lupa apa itu.


“perasaan mama aja kali “ bingung dandi.


“Tania ini ada--- loh”


Arum menggantung ucapan saat tania sedang lari mengejar deon? Sejak kapan laki laki itu ada di belakang bersama tania.


“Deon balikin gak “ teriak tania yang masih mengejar deon bahkan keringat sudah bercucuran di kening gadis itu.


“Kejer gue dasar lelet” ledek Deon menggantung apa yang tania minta ya itu earphone milik tania yang deon ambil untuk menjahili gadis itu.


“deon sialan balikin atau awss--- “


Bruk


“Tuh kan pa bener kita ngelupain deon pantesan dia ga ikut masuk ternyata sama tania disini” dandi menggeleng kan tak percaya ia juga kenapa bisa lupa bahwa mereka databg bersama deon tetapi laki laki itu tak ikut masuk dan malah berasik asikan berduaan di tamana belakang.


“atau apa hm?” tania terdiam ia jatuh tapi tak sakit karna ia jatuh berada di atas tubuh deon. Tania mematung menatap kebawah hidung nya bertubrukan dengan hidung mancung deon. Tania menarik nafas nya kaget.


“atau gue akan--- “


“atau bunda akan nikahkan kalian sekarang juga” tania dan deon menatap kekanan disana ada bunda arum yang menatap tajam dengan berkacak pinggang. Mama devi menatap mereka dengan senyum geli dan papa dandi menatap mereka datar.


Tania melotot langsung bangun dan berdiri dan tak lupa membersihkan debu yang ada pada baju nya.


“kalian bukan mahrom kenapa malah berduaan disini dan apa.tadi posisi kalian sangat tak sopan” bunda arum menjewer telingan tania dan juga deon. Masa bodo jika ada orang tua deon disini toh mereka gak marah .


“Bukan tania bun auhh itu semua salah deon” ringis tanja memegang telinga nya yang memerah.


“Kita cepat kan saja pernikahan buk, kek nya ada yang gak sabar mau berduaan terus”


Bunda arum menggangguk setuju “ oke bunda berubah pikiran kalian akan nikah minggu depan “ putus bunda arum membuat tania melotot kaget dan deon tersenyum tipis.


“Bunda itu terlalu cepat” rengek tania memegang tangan bunda nya.


“Bukan kah itu mau hm lalu kenapa”


“ya jangan minggu depan dong kan tania belum siap”


“Lebih cepat lebih baik nak” Mama devi mendekat dan merangkul tania dari samping.


Tania terdiam sekejab dan menggangguk “ baiklah, demi za” ucapan tania tetapi di kata terakhir dia mengucapkan di dalam hati ia belum siap jika itu di dengan orang tua deon dan mereka bertanya bingung.


 


...----------------...


 jangan lupa vote dan komen..


karna itu sangat berharga untuk saya hehe

__ADS_1


 


__ADS_2