
Hari yang indah. Cuaca sedang cerah. Membuat suasana hari terasa bersemangat. Aku berjalan menuju kelas.
" Tiva." Aku melihat Tiva yang berdiri di depan pintu kelas.
" Hai." Tiva tersenyum membuat wajahnya yang cantik semakin cantik.
" Kok kamu kayak menerima tamu undangan sih di situ." Aku bergurau dengan Tiva.
" Malas ah di dalam." Tiva menunjuk ke dalam kelas.
Aku mengintip ke dalam kelas.
"Ninda." Aku melihat Ninda yang duduk di kursinya dengan muka datar.
" Iya, makanya aku malas berada di kelas." Tiva memutar kepalanya.
" Owh." Aku mengangguk.
" Aku masuk dulu yah." Aku berjalan masuk ke kelas.
Aku berjalan ke kursiku untuk meletakkan tasku.
" Kok Haru tau aku dan Tiva ada di sana kemarin." Ninda bicara dengan ekspresi wajah datar.
"Dia udah capek nyari kamu semana mana, trus dia nanya aku yah aku tunjukan di mana aku ngeliat kamu." Aku duduk di kursi ku.
__ADS_1
" Hah, harusnya kamu nggak ngasih tau dia." Ninda memutar tubuhnya menghadap diriku.
" Yah dia nanya aku jawablah, lagian aku juga gak ngerti masalah kalian." Aku mengangkat bahuku.
" Sekarang Haru gak mau ngomong sepatah katapun, karena aku membuat dia kesal selama dua minggu ini." Ninda terlihat sedih.
" Kalo aja dia ngak liat aku bertengkar kemarin dia gak bakalan semarah ini." Ninda menatapku.
"Maaf ni yah, tapi itu bukan urusan ku, itu urusanmu dengan kakakmu, aku gak mau ikut campur." Aku tersenyum canggung.
Ninda keluar dengan ekspresi wajah datar. Sepertinya dia begitu sedih jika kakaknya tidak mau bicara padanya. Lagian ada apa sih antara Ninda dengan Tiva. Aku keluar dari kelas mencari Tiva. Dan dia ternyata dengan setia berada di depan pintu kelas.
" Tiva." Aku menghampirinya.
" Aku boleh nanya gak?" Aku menatap Tiva agak serius.
" Apa emang." Tiva menatapku.
" Gak disini." Aku menatap sekeliling.
"Ke Kelas yuk." Aku menarik Tiva masuk ke kelas.
" Ada apa Vi ?" Tiva berhenti.
"Kalo boleh tau, kamu dan Ninda kenapa bertengkar ?" Aku menatap Tiva agak canggung.
__ADS_1
" Yang kemarin ?" Tiva bertanya.
" Iya." Aku tersenyum canggung.
" Kami bertengkar karena aku sudah sangat kesal padanya." Tiva duduk di sebuah kursi.
" Selama ini aku dan Ninda sahabat dekat, kemana mana kami selalu bersama. Selama ini gak ada yang mau temenan sama aku. Hanya Ninda yang selalu ada buat aku." Tiva menarik nafas.
" Tapi, ternyata selama ini gak ada yang temenan sama aku karena pengaruh Ninda. Ninda bicara buruk tentang diriku jika aku tidak ada. Selama ini dia hanya memandang pengaruh ku sebagai anak orang yang sangat kaya raya. Dia gak nganggap aku sebagai sahabat. Baginya aku hanya mesin atm berjalan baginya. Dan audisi tempo hari yang gagal aku ikuti karena tanda pengenal yang jatuh. Dia rekayasa sebagai kegagalanku karena aku sangat payah dalam audisi tersebut." Tiva hampir menangis.
" Dia bicara buruk tentang diriku di belakangku,membuat tidak ada yang mau berteman dengan ku. Dia bertingkah seakan aku tidak bisa hidup tanpa dirinya, seakan dia begitu penting untukku." Tiva mulai berkaca kaca.
" Sekarang tidak lagi, aku tidak ingin berteman dengan penghianat seperti Ninda." Tiva menarik nafas.
" Maukah aku berteman dengan ku ?" Tiva menatapku.
" Tentu." Aku tersenyum.
"Terima kasih Vira." Tiva tersenyum senang.
" Aku akan meluaskan pergaulanku yang sebelumnya sangat tertutup." Tiva bertekad.
" Meluaskan pergaulan yah, bukan membebaskan pergaulan." Aku tertawa.
" Siap bos." Tiva tertawa kecil.
__ADS_1