
Pertandingan dua kelas dari kelas 9 itu begitu riuh. Hampir seluruh kelas berada di pinggir lapangan basket. Aku menghabiskan waktu Istirahat untuk menonton pertandingan sampai bel berbunyi.
Dan yang apesnya. Aku lupa kalau akan ada ulangan sebentar. Aduh aku belum belajar lagi. Gimana dong ? Ini gara gara aku kepo banget dengan pertandingan basket.
"Lah Yum, masih belajar ?" Aku menatap Jay-yum yang masih berada di tempat dia berada saat aku pergi dan aku kembali.
"Hahh, yah begitulah."
"Aku belum belajar." Aku duduk di bangku ku sambil membaca baca buku ku.
"Gimana pertandingannya ? Seru gak ?"
"Yah begitulah. Saking serunya aku lupa ada ulangan sebentar. Apes sekali." Aku tersenyum kecut.
"Huhumm. Yang sabar yah. Lain kali gak usah ikut ikutan. Kita penerima beasiswa. Jika nilai anjlok kan repot." Jay-yum bicara sambil membaca.
"Yah, ini terakhir kalinya aku begini. Entahlah biasanya ketika akan ulangan aku akan belajar. Tapi entah kenapa hari ini aku tiba tiba saja malas untuk belajar setelah mendengar kata basket."
"Jangan begitu yah lain kali."
"Iya kubilang ini yang terakhir kalinya."
"Selamat siang anak anak." Ibu Zahra masuk kedalam kelas.
"Selamat siang Bu !" Ucap kami serentak.
"Jadi anak anak apa kalian sudah bersiap untuk ulangan sebentar." Ibu Zahra menatap kami bergiliran.
__ADS_1
"Jangan bilang belum belajar, lupa belajar atau sebagainya. Karena ibu tidak mau terima alasan apapun. Jadi jangan macam macam dengan ibu. Karena ibu sudah memperingatkan kalian pada pertemuan yang lalu. Jadi siap tidak siap kalian harus ikut ulangan." Ucap ibu Zahra.
Ibu Zahra membagikan selembar kertas kosong dan sebuah soal ulangan. Aku mengambil kertas tersebut dan mulai mengerjakan soal tersebut.
Ada apa ini kenapa ibu Zahra memberi soal yang lumayan mudah. Tapi untung saja soal ini begitu mudah sehingga aku tidak terlalu kesulitan untuk menjawabnya.
"Anak anak, tidak usah menyontek. Ibu tidak ingin melihat tingginya nilai kalian. Ibu hanya ingin menguji sampai di mana kemampuan dan pemahaman kalian. Dengan begitu ibu bisa menjelaskan ulang materi tersebut. Jangan terlalu takut ini hanya ulangan harian. Tapi meski begitu. Ibu ingin kalian mengeluarkan kemampuan kalian." Ucap ibu Zahra.
"Dan juga sedikit bocoran. Ulangan ulangan harian tidak jauh berbeda dengan ulangan semester." Ucap ibu Zahra.
Tak terasa waktu ulangan sudah berjalan 30 menit. Soal demi soal sudah aku kerjakan. Huhh, jika saja soalnya susah aku tentu akan kesulitan mengisinya karena tidak belajar.
"Vira !"bisik seseorang. Aku menoleh kulihat seorang anak laki laki di sampingku mengajukan jari telunjuknya.
" Nomor satu." Bisiknya.
"Aku belum selesai." Ucapku berbohong.
'Enak saja kau siapa berani beraninya ingin menyontek punyaku. Tidak akan aku biarkan.'
"Ayolah." Desaknya.
"Belum !" Ucapku penuh penegasan.
"VIRA! DAVIN !" Panggil ibu Zahra yang membuatku terkejut.
"Davin apa kau mau menyontek ?" Ucap ibu penuh penegasan.
__ADS_1
"Tidak bu. Aku hanya-"
"Hanya apa Davin Alhar Divandra ?" Ibu mendatangi kami.
"Hanya ingin menyontek dari Nadia Vira Qanita?" Ucap ibu Zahra sambil menunjukku.
" Davin. Bukankah sudah ibu katakan untuk tidak menyontek. Tolong ! Percayalah pada kemampuan kalian."
"Ibu percaya kalian punya kemampuan selama kalian mengasahnya. Jangan hanya berpatok pada orang tua kalian. Orang tua kalian menyekolahkan kalian dengan harapan dapat meneruskan hal yang mereka sudah bangun atau dapat mengembangkan apa yang sudah mereka capai. Ada juga yang masih harus merintis dari nol. Tapi intinya tetap saja. Mereka ingin kalian jadi orang yang sukses dan dapat berguna bagi keluarga, masyarakat dan negaranya. Perusahaan misalnya. Ibu tau sebagian dari siswa di kelas ini adalah anak dari pemilik perusahaan perusahaan besar. Siapa yang akan menggantikan orang tua kalian jika kalian tidak bersekolah. Bagaimana nasib perusahaan jika kalian tidak jujur. Bagaimana nasib negri ini jika para penerus bangsanya sudah ahli dalam siasat kecurangan ?"
"Jadi tolong jangan bentuk diri kalian menjadi pribadi yang tidak baik." Ucap ibu Zahra.
" Apakah sudah jelas ?"
"Iya Bu." Ucap kami serentak.
"Baiklah anak anak silahkan kumpulkan jawaban kalian. Soalnya bisa kalian bawa pulang untuk di pelajari." Ucap ibu Zahra setelah melirik jam tangannya.
"Dan untuk kamu Davin ini terakhir kalinya kau berbuat begini."
"Baik Bu." Ucap lirih Davin.
"Ayo di kumpulkan."
"Baik Bu." Ucap kami serentak.
Aku maju dan mengumpulkan lembar jawabanku bersama dengan lembar jawaban yang lain.
__ADS_1
Entah bagaimana nilaiku nanti ?